
π»Bersyukur adalah salah satu cara agar hidup lebih bahagiaπ»
.
.
.
.
Tak berselang lama limousine yang di tumpangi oleh Valeria tiba di landasan pribadinya di bandar udara Soekarno Hatta. Saat Valeria dan lainnya turun dari mobil tak berselang lama sebuah pesawat jet baru saja landing tak jauh dari mereka.
Tanpa Valeria tahu jika pesawat jet yang baru saja landing itu adalah milik Bagas. Ia yang hari ini ada meeting bersama RH Company di kantor pusat RH Company datang bersama Ahmad asistennya.
"Nyonya" ucap Ares saat sensor matanya menangkap keberadaan Bagas.
"Heemmmm"
"Tuan muda berada di dalam jet yang baru saja landing"
Langkah kaki Valeria seketika terhenti saat mendengar nama tuan muda yang berarti itu adalah Bagas. Karena selama ini Ares hanya menyebut nama tuan muda kepada Bagas tidak dengan Bryan atau Yorla.
Bryan, Riki, dan Yorla yang sudah lebih dulu masuk ke dalam jet tak tahu jika langkah Valeria terhenti di depan tangga jet. Raksa yang mengawal Valeria hanya diam tak berniat bertanya karena saat ini Valeria dan Ares sedang berbicara dengan serius.
"Ngapain kangmas kesini?" tanya Valeria dengan cepat.
"Tuan muda ada meeting di RH Company nyonya"
"Apa orang itu juga ikut" ucap Valeria dengan wajah dingin.
"Tidak nyonya"
"Heemmm! Awasi kangmas lindungi dia dari jauh Ares" ucap Valeria dengan wajah sendu.
"Baik nyonya"
Setelah itu Valeria segera masuk ke dalam jet di ikuti oleh Raksa dan pengawalnya. Bagas yang baru saja turun dari jet hanya menatap dengan tatapan dingin ke arah depan tak menggubris apapun yang berada di sampingnya.
Saat akan masuk ke mobil Bagas tak tahu jika Valeria menatapnya dengan tatapan sendu dari balik kaca matanya di pintu masuk jet. Saat mobil Bagas pergi ada perasaan sedih dan rindu yang membuncah dalam hati Valeria.
Valeria kangen banget sama kangmas, batin Valeria dengan sedih.
Beruntung ia memakai kaca mata hitam jadi para pengawalnya tak melihat wajah sendu seorang Valeria. Biasanya mereka hanya melihat wajah dingin dan datar Valeria tanpa ada ekspresi apapun.
Melihat mobil Bagas sudah tak kelihatan lagi Valeria segera masuk ke dalam jet untuk berangkat ke London.
Sedangkan di dalam mobil yang ditumpangi oleh Bagas ia melihat ke samping dengan wajah sedih memikirkan keberadaan sang adik.
Dek sebenarnya loe dimana kenapa kangmas sangat susah menemukan loe, batin Bagas dengan sedih dan ada perasaan kecewa di dalam hatinya.
Selama ini tanpa siapapun tahu ternyata Bagas menyalahkan dirinya atas kepergian Valeria. Ia merasa sangat bersalah tidak tahu tentang keadaan adiknya selama ini, apa lagi saat adiknya di rawat di rumah sakit karena alergi jamurnya kambuh.
Saat tahu hal itu Bagas sampai kehilangan kendali dan memarahi kedua orang tuanya yang sudah membohonginya. Bagas sudah tak perduli lagi menganggap Arinta dan Budi adalah sosok orang tua yang dulu ia sangat sayangi.
Bagas waktu itu ingin memutuskan hubungan dengan kedua orang tuanya tapi mengingat permintaan Valeria ia tak bisa melakukannya.
Sejak saat itu Bagas sudah tak pernah perduli lagi dengan kehidupan Arinta dan Budi meski mereka masih tinggal dalam satu mansion.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Ahmad apa sudah ada kabar dari detektif itu?" tanya Bagas dengan tatapan tajam.
"Belum tuan"
"Beritahu mereka jika mereka tak bisa membawa informasi terbaru dalam 1 minggu jangan harap mereka akan melihat dunia ini lagi" bentak Bagas dengan suara tinggi.
"Baik tua...n" ucap Ahmad dengan gugup.
Ia tahu jika apa yang diucapkan oleh Bagas tidak main-main.
Sedari dulu Ahmad sudah tahu jika Bagas bukanlah sosok yang baik karena pribadinya yang tertutup hanya Rendi saja yang bertahan berteman dengan sifat Bagas yang sangat arogan dan dingin.
Sampai di RH Company Bagas langsung di sambut Rio tangan kanan Riko Rahardian. Ketiganya lalu bergegas menuju ruang meeting untuk melakukan meeting yang sangat penting.
~ London, Britania Raya ~
Setelah menempuh perjalanan selama 12 jam dari waktu sebenarnya yang harusnya 14 jam 30 menit akhirnya jet pribadi Valeria berhasil mendarat di bandar udara internasional London Heathrow.
Setelah turun dari jet pribadi mereka langsung di sambut asisten Valeria yaitu Jeni Wiliam anak pak Dev yang sudah sembuh dari penyakitnya.
Ia sekarang bertugas menjadi asisten Valeria yang mengurus perusahaan cabang di London.
"Selamat datang nyonya" ucap Jeni dengan sopan.
"Heemmmm"
Valeria tak menanggapi sapaan Jeni dan segera masuk ke dalam limousine yang sudah terparkir di depannya. Bryan juga tak membalas sapaan Jeni hanya Raksa dan Yorla yang membalas sapaannya.
Setelah semuanya sudah masuk ke limousine Jeni segera memberi perintah kepada supir untuk menuju ke kota Oxford.
Meski memakan waktu selama 90 menit tapi Valeria sangat menikmati perjalanan kali ini karena ia ingin menikmati keindahan kota London.
"Nyonya apa anda ingin ke mansion atau apartemen" ucap Jeni.
"Mansion" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik nyonya"
"Apa semua yang gue minta semalam udah siap?" tanya Valeria dengan suara dingin.
"Semuanya sudah saya siapkan nyonya dan sesuai perintah nyonya kamar nyonya berada di lantai 3 seperti di mansion Indonesia"
"Hemmm! Bagaimana dengan perusahaan"
"Perusahaan berjalan dengan baik nyonya dan saat ini para investor berlomba-lomba ingin menanam saham di perusahaan kita setelah tahu itu adalah anak cabang perusahaan VA corp"
"Berikan semua berkas perusahaan yang ingin menanam saham mereka"
"Semuanya nyonya?" tanya Jeni dengan kaget pasalnya ada lebih dari 100 perusahaan yang memasukkan proposal.
"Heeeemmmm" deham Valeria sambil mengangguk kepala.
"Saya akan segera membawanya ke mansion nyonya"
"Waktu loe 2 jam"
"Ba..i..k nyo..ya" ucap Jeni dengan gelagapan karana Valeria memberinya waktu hanya 2 jam saja.
Melihat Jeni yang panik ia segera menyuruh Jeni untuk membawa semua berkas ke Oxford dengan helikopter. Jeni akhirnya bisa bernapas dengan lega karena tak perlu bolak-balik Oxford ke London.
3 Tahun kemudian
Selama 3 tahun perjuangan Valeria akhirnya membuahkan hasil karena dengan cepat ia bisa menyelesaikan studinya S1 dalam kurung waktu hanya 1,5 tahun saja dan S2 juga dalam kurun waktu 1,5 tahun.
Sedangkan Bryan, Riki, dan Yorla masih belum selesai menyelesaikan kuliah mereka. Yorla yang mengambil jurusan desainer, Bryan memilih jurusan bisnis manajemen seperti Valeria, dan Riki memilih jurusan kedokteran sesuai keinginan sang ibu.
~ University of Oxford ~
Saat ini Bryan, Yorla, dan Riki beserta pengawal mereka masing-masing sedang menunggu kedatangan Valeria di depan auditorium kampus. Tepat hari ini Valeria akan di wisudakan setelah ia berhasil menyelesaikan S2.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria yang dari semalam menginap di apartemen harus datang sendiri saja ke kampus untuk mengikuti acara wisuda.
Meski ia sangat malas untuk pergi tapi mau tak mau ia harus hadir karena ia harus menerima piagam sebagai mahasiswa termuda S2 yang berhasil menyelesaikan kuliahnya tahun ini.
"Kapan sih sister datang?" tanya Yorla sambil mondar-mandir.
"Hei banci jadi-jadian mending loe diam deh pusing gue liat loe kayak setrika rusak!" ucap Bryan dengan ketus.
"Ck! Dasar tukang pemarah" cibir Yorla dengan sinis.
"Mau gue congkel mata loe!" bentak Bryan.
"Dasar tua-tua pemarah!" balas Yorla dengan kesal.
"Wah minta di hajar nih bocah jadi-jadian"
"Loe berdua mending diam deh. Gue pusing dengarnya!" bentak Riki.
"Ka Riki yang ganteng! Ini tuh salahnya si kulkas berjalan itu dia yang gangguin eke terus ka" ucap Yorla dengan suara mendayu.
"Loe berdua ngak malu apa di lihatin semua orang" ucap Riki sambil memijit keningnya yang sakit.
"Biarin aja! Mereka itu lagi nikmati kecantikan eke" ucap Yorla dengan percaya diri.
Riki hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Yorla yang tak tahu malu. Ia tak membalas ucapan Yolra lagi karena tak mau berdebat dengan Yorla yang bisa bikin dia darah tinggi.
Tak berselang lama mobil sport jenis Lykan Hyper Sport berhenti tepat di depan ketiganya. Mereka belum mengetahui siapa yang memarkir di depan sana karena baru kali ini mereka melihat mobil sport seperti ini.
Seketika semua mata berdecak kagum melihat sosok yang baru saja turun dari mobil dengan menggunakan dres batik rancangan Yorla.
Bahkan Bryan dan lainnya tak menyangka jika yang baru saja turun dari mobil ternyata adalah Valeria.
"Oh emmmji!!! Baru kali ini eke lihat malaikat secantik ini! Apa lagi gaun rancangan eke yang di pakai" pekik Yorla dengan histeris.
"Valeria cantik banget" ucap Bryan dengan kagum.
"Wah master ngak ada tandingannya deh" ucap Riki.
Valeria berjalan dengan anggun menuju ketiganya meskipun ekspresi wajahnya hanya datar. Meksi selama 3 tahun Valeria tak mempunyai teman selama berkuliah tapi pesona kecantikannya yang alami membuat dia terkenal sebagai primadona kampus.
"Loe bertiga ngapain bengong disini?" tanya Valeria dengan suara dingin.
"Ya Tuhan sister you cantik banget kayak bidadari" puji Yorla dengan decak kagum.
"Heemmm"
"Val you look so gergous" (kamu sangat mempesona) ucap Bryan.
"Thank's"
"Master satu kata buat master yaitu sempurna" ucap Riki sambil mengangkat kedua jempolnya.
Valeria hanya menatap Riki dan mengangguk kepalanya tak membalas ucapan Riki. Mereka berempat lalu segera masuk ke dalam auditorium karena sebentar lagi acara akan dimulai.
Saat di dalam auditorium mereka langsung menjadi bahan gosip di antara para mahasiswa dan wisudawan.
Mereka berempat memang terkenal dengan kepintaran dan kekayaaan mereka meski mereka tak pernah tahu mereka berasal dari mana.
Selang 5 menit akhirnya acaranya pun dimulai dan tanpa diduga ternyata Valeria mendapat juara umum satu sebagai mahasiswi terbaik tahun ini. setelah mengambil piagam di atas panggung ia segera keluar beranjak pergi meski acaranya belum selesai.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bryan yang melihat kepergian Valeria segera mengejarnya dan mengajaknya untuk berfoto sebagai kenang-kenangan.
Hari itu juga Valeria memutuskan untuk pergi ke Dubai untuk menghendel perusahaannya yang selama ini ia tak pernah kunjungi.
Bryan, Riki, dan Yorla hanya diam tak bisa berkata apa-apa melihat kepergian Valeria ke Dubai. Yorla dan Bryan bertekad ingin segera menyelesaikan kuliah mereka dan menyusul Valeria ke Dubai.
Sedangkan Riki ia akan pulang kembali ke tanah air karena ibu dan adiknya menunggu disana. Valeria yang sudah berada di dalam helikopter melihat kota Oxford dengan tatapan datar dan tak ada ekspresi apapun.
"Loe bisa pulang ke Indonesia" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Maksudnya master?" tanya Raksa dengan bingung.
"Gue tahu loe udah kangen sama pacar loe"
Seketika wajah Raksa menjadi sangat merah karena Valeria tahu hubungannya dengan Rani adik Riki. Padahal ia sudah menyembunyikan hubungan mereka tapi dengan mudah Valeria bisa mengetahuinya.
"Gue saranin loe mending jujur sama Riki"
"Baik master"
"Ampe bandara loe bisa pulang ke Indonesia"
"Gue bakal antar master ke Dubai baru pulang ke Indonesia" ucap Raksa dengan tegas.
"Heeemmmm"
Valeria tak membantah dan membiarkan Raksa mengantarnya ke Dubai. Valeria sendiri memilih untuk menjalankan rencana pembalasannya saat tiba di Dubai.
Tunggu pembalasan gue Bianca, batin Valeria mengingat laporan yang di berikan Ares tentang kelakuan Bianca yang semakin menjadi-jadi.
Valeria sendiri tak habis pikir dengan sang ibu yang dengan mudah membiarkan Bianca ikut mengurus butik miliknya.
Padahal Bianca sendiri hanya sibuk dengan dunianya dan tak becus mengurus butik milik Arinta yang semakin hari semakin kurang pengunjung.
βββββ
To be continue.................
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€
Buat para reader author yg terkasih author cuma mau ngucapin
...Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443H...
...Mohon Maaf Lahir & Batin...
...ππππβ€...