
π»Sedewasa, sekuat, dan sesabar apapun kamu suatu saat kamu akan merasakan sakit dan membuatmu menangisπ»
.
.
.
.
Sampainya Thomas di bandara ia segera naik taksi dan pergi ke lokasi di hpnya. Beruntung jalanan malam itu tampak lengang jadi setelah 30 menit ia sampai di tempat yang dituju.
Thomas menatap mansion di depannya dengan kening berkerut. Ia tak tahu kenapa kekasihnya bisa berada disini, ia hanya dikirim pesan lokasi GPS dari Yorla dan menyuruhnya segera kesini.
Saat di pintu masuk mansion ia sudah mendengar suara tangisan dan teriakan. Ia berlari masuk ke dalam dan seketika tubuhnya menegang melihat sosok di depannya yang sedang mencabik-cabik isi pe**t seorang perempuan.
"Valeria" ucap Thomas dengan suara pelan.
Thomas tak memikirkan apa-apa lagi dan berlari memeluk tubuh kekasihnya. Saat Valeria menengok ke belakang ia sangat terkejut melihat mata merah Valeria.
"Kita pulang honey" ucap Thomas dengan suara lembut.
"Aku belum puas" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Dia sudah mati honey"
Valeria terdiam dan menatap tubuh Bianca yang sudah hancur di depannya. Beruntung Thomas seorang mafia jadi hal seperti itu sudah biasa untuknya.
"Dek......hiks hiks hiks......hentikan ini semua dek......hiks hiks" jerit Bagas dengan histeris.
Thomas menatap sekelilingnya dan melihat ada 2 mayat yang sudah tercabik-cabik di sampingnya. Bahkan bau anyir darah menyeruak di seluruh penjuru ruangan.
Melihat Valeria yang ingin kembali menusuk jasad di depannya dengan satu gerakan tubuhnya di angkat.
"Lepasin gue sialan! Lepas! Gue belum puas bangsat!" maki Valeria memberontak dalam gendongan Thomas.
Tak berkata apa-apa Thomas memeluk tubuh Valeria seperti koala dan berlalu pergi dari sana. Dia yang memakai hoodie dan masker membuat wajahnya tidak kelihatan jelas.
"Lepas an***g! Gue bilang lepasin gue bangsat!" teriak Valeria dengan emosi.
Bugh.............
Valeria seketika pingsan saat kendoknya di pukul Thomas, hanya itu satu-satunya cara agar Valeria tidak berontak lagi. Yorla dan Raksa lalu bergegas mengikuti keduanya yang sudah masuk ke dalam limousine.
"Kita pulang ke Jakarta" ucap Thomas dengan suara dingin.
"Oke. Biar eke suruh pilot siapin jet" ucap Yorla.
"Tidak perlu jetku sudah stand by di bandara" (siap) ucap Thomas dengan suara dingin.
"Oke ganteng"
"Dimana Ares? Kenapa dia tidak menjaga kekasihku!" bentak Thomas.
"Dia sedang menjalankan misi dari sister ganteng jadi you jangan marah-marah"
"Kamu hutang penjelasan tentang ini semua Yorla" desis Thomas dengan suara dingin.
"Sorry eke tidak bisa beritahu ganteng jadi tanya saja sama sister" ucap Yorla dengan cepat.
"Kamu" tunjuk Thomas dengan tatapan membunuh.
Yorla bergidik ngeri melihat tatapan Thomas tapi ia tidak akan pernah cerita dari pada dibunuh Valeria.
~ Mansion Kusumo ~
Sepeninggalnya Valeria dan anak buahnya suasana di mansion Kusumo terasa sangat mencekam. Arinta dan Putri sudah di bawa ke dalam kamar sejak tadi.
Sedangkan para laki-laki duduk di sofa melihat 3 jasad yang masih seperti tadi. Semuanya tak menyangka akan melihat kejadian seperti tadi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Gue ngak nyangka bisa melihat sosok sebenarnya adik sepupu gue" ucap Edo.
"Om apa ini rahasia turun-temurun dari darah Kusumo?" tanya Rendi yang sedari tadi diam.
"Heemmm" deham Budi sambil mengangguk kepala.
"Sial" ucap Rendi mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arya dengan tatapan tajam menatap menantunya Budi.
"Raden anda bisa melihat video di depan" ucap Dion menunjuk ke arah televisi.
Arya yang tadi datang terlambat menonton video dan beberapa foto di dalam tayangan tersebut. Ia kaget melihat video yang isinya membuktikan kalau Valeria selama ini tidak bersalah tapi ini semua ulah Bianca.
Plak............
Wajah Budi seketika menoleh kesamping karena tamparan keras dari Arya. Ia tak berkata apa-apa dan pasrah menerima tamparan itu karena memang ia pantas mendapatkan itu.
"Kamu lihat itu Budi. Ini semua karena kamu dan Arinta yang lebih percaya anak haram itu ketimbang darah daging kamu sendiri!" bentak Arya dengan emosi.
"Cukup eyang" teriak Bagas menggelegar di dalam sana.
Semuanya diam tak berkata apa-apa, suasana kembali menjadi sangat panas setelah Bagas berteriak kepada eyangnya sendiri.
"Jangan salahkan ayah karena waktu itu eyang juga ngak percaya sama adikku" ucap Bagas dengan emosi.
"Tapi setidaknya eyang ngak memperlakukan adikmu seperti ayahmu"
"Apa yang eyang bilang benar! Dan aku puas setidaknya ayahku akan menyesal seumur hidupnya"
Deg............
Jantung Budi seperti ditikam seribu pisau mendengar ucapan anaknya, air matanya mengalir dengan deras menyesali semua yang ia lakukan selama ini kepada putri kandungnya.
"Hiks hiks hiks hiks........maafkan ayah Valeria.....hiks hiks hiks" raung Budi dengan histeris.
"Ayah puas kan sudah membuat adikku berubah menjadi monster" teriak Bagas dengan tatapan penuh kebencian.
Budi menggelengkan kepalanya tak bisa menjawab ucapan putranya. Rendi dan Edo lalu memapah Bagas pergi ke kamarnya tak lupa menyuruh Dion membereskan 3 jasad itu.
Tak........tak...........tak...........
Saat hendak naik ke tangga mereka semua langsung menatap ke arah langkah kaki yang baru saja masuk. Mereka semua menatap seorang pria berwajah sangar di depan sana.
"Siapa kamu?" tanya Arya.
"Ada pesan dari master gue buat kalian semua" ucap Juan dengan suara dingin.
"Maaf tuan tapi siapa master yang anda maksud?" tanya Dion dengan sopan.
"Putri keluarga Kusumo yang dicoret dari daftar keluarga" ejek Juan dengan sinis.
"Valeria" ucap Bagas dengan cepat.
"Dimana putriku?" tanya Budi dengan cepat.
"Putri anda disana tuan Kusumo" tunjuk Juan ke arah mayat Bianca.
"Jangan main-main denganku! Dimana anakku Valeria" hardik Budi.
"Ckk!! Apa anda baru sadar kalau punya putri bernama Valeria tuan Kusumo" ketus Juan dengan emosi.
"Tidak usah dengarkan orang itu. Lebih baik katakan dimana adikku" ucap Bagas dengan suara tegas.
"Master berpesan kalau mulai detik ini jangan pernah mencarinya lagi karena kalian bukan keluarganya lagi" ucap Juan dengan lantang.
Duar............
Bagai disambar petir tubuh semuanya menegang mendengar ucapan Juan, melihat hal tersebut dengan cepat Juan berjalan keluar dari mansion tak ingin menjawab pertanyaan mereka lagi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Maafkan ayah nak.......hiks hiks hiks" teriak Budi sambil menangis meraung-raung.
Malam itu adalah malam yang tak akan pernah dilupakan mereka semua. Saat Arinta dan Putri sadar keduanya menangis histeris mengingat apa yang dilakukan oleh Valeria tadi.
Sampainya di Jakarta Thomas awalnya ingin membawa Valeria ke apartemen tapi Yorla menyuruhnya untuk ke mansion saja.
Sampai di mansion ternyata Ares dan dokter Lauren sudah stand by di sana. Thomas yang baru pertama kali datang ke mansion Valeria mengikuti Ares menuju lantai 3.
"Suruh pelayan membersihkan tubuh Valeria" ucap Thomas.
"Nyonya tidak suka pelayan menyentuh tubuhnya apa lagi masuk ke kamar pribadinya" ucap Ares.
"Lalu apa kekasihku harus tidur dengan pakaian penuh darah!" bentak Thomas.
"Dokter ganti pakaian nyonya dan periksa keadaannya" perintah Ares.
"Baik tuan" ucap dokter Lauren.
Thomas mendorong Ares keluar saat dokter Lauren menganti pakaian Valeria.
"Gimana keadaan Valeria?" tanya Thomas saat dokter Lauren keluar.
"Nyonya hanya pingsan tuan dan tidak ada luka apapun di tubuh nyonya"
"Heemmm"
Thomas segera masuk kembali ke dalam kamar Valeria bersama Ares. Sampai di dalam Thomas duduk di ranjang sambil mengelus kepala Valeria dengan lembut.
Apa yang terjadi sama kamu honey, batin Thomas.
"Ares sebenarnya apa yang terjadi tadi?" tanya Thomas.
"Anda bisa bertanya nanti di nyonya" ucap Ares dengan suara dingin.
"Ckk!! Kamu memang menjengkelkan Ares" dengus Thomas dengan kesal.
Ares tak menjawabnya dan hanya berdiri saja menatap keduanya dengan datar dan dingin. Melihat tatapan mata Ares sebenarnya Thomas merasa takut apa lagi saat ia menatap mata merahnya.
"Siapa kalian sebenarnya Ares dan kenapa mata kamu sama kayak punya Valeria tadi" ucap Thomas dengan penasaran.
"Orang yang banyak bertanya biasanya mati lebih cepat"
"Sialan kamu Ares! Mending kamu keluar!" bentak Thomas dengan emosi.
Ares tak mengatakan apa-apa dan bergegas keluar meninggalkan keduanya. Thomas hanya bisa mengumpat dan memaki Ares dalam hati.
Tak lama hp milik Thomas berbunyi panggilan masuk dari Kevin.
^^^"Hemmm"^^^
"Hay dude kamu dimana"
^^^"Aku di mansion pacarku"^^^
"Wah titip salam buat si cantik ya"
^^^"Kevin apa kamu sudah bosan hidup!" bentak Thomas dengan emosi.^^^
"Rileks dude! Aku cuman bercanda saja" ucap Kevin sambil terkekeh dari seberang.
^^^"Awas kamu Kevin jika aku pulang jangan harap kamu selamat" ucap Thomas penuh penekanan.^^^
"Ckk!! Aku cuma bercanda dude. Btw bos nyuruh kamu buat siap semuanya karena kita pulang 2 hari lagi"
^^^"Oke"^^^
Thomas segera mematikan panggilannya sepihak tak mendengar ucapan Kevin lagi. Besok ia akan melihat apa akan pulang lusa atau nanti saja soalnya ia sangat mencemaskan keadaan Valeria saat ini.
"Good night honey" ucap Thomas sambil mencium kening Valeria.
Ia lalu bergegas masuk ke dalam selimut dan memeluk Valeria dengan erat.
Tepat jam 04:00 dini hari Thomas yang sudah terlelap tak mengetahui jika Valeria saat ini tengah gelisah dalam tidurnya.
Matanya seketika terbuka menampilkan mata merah tajam dan dingin. Suara-suara bisikan Bunuh Bunuh Bunuh Bunuh terdengar jelas di telinganya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria keluar dari kamar dan berjalan menuju lift dan turun ke bawah. Sampainya di lantai satu mata merahnya menatap ke arah lorong menuju taman samping.
Suara des***n terdengar dengan jelas di telinganya. Mata merahnya menatap kedua orang di depannya yang sedang berc***a di pintu penghubung, ia berjalan dengan langkah pelan sambil mengambil pisau di atas meja makan.
...Bunuh Bunuh Bunuh Bunuh...
Arrrghhhh...........
Teriakan kesakitan seorang laki-laki saat punggungnya di tusuk dari belakang. Sedangkan wanita di depannya kaget bukan main melihat siapa yang di belakang laki-laki itu.
"N......yo......n.....ya" ucap wanita itu dengan terbata-bata.
Teriakan laki-laki itu membuat pak Dev yang memang bangun setiap jam 4 berlari masuk ke dalam mansion. Dengan cepat pak Dev menyalakan lampu dan kaget melihat Valeria sedang memegang pisau yang berlumuran darah.
Sret..........sret.........sret.........sret......
Valeria terus menikam laki-laki tadi dengan brutal sampai meninggal. Melihat korbannya sudah tak bernyawa Valeria lalu menatap wanita yang gemetaran di lantai dengan tubuh polos.
"Nyo......nya saya mo...hon am.....pu....n" pinta pelayan itu dengan gemetar ketakutan.
"Kematian mutlak untukmu" ucap Valeria dengan suara dingin.
Sret........sret.........sret.........sret.........
Aarrghhh..........
Jeritan kesakitan pelayan tadi saat per**nya di t***k berulang kali. Bahkan matanya melotot merasakan sakit yang amat luar biasa.
"Hentikan honey" teriak Thomas menggelegar.
Valeria tak perduli dengan teriakan Thomas dan kembali menusuk pisau dan mengoyak p***t pelayan itu. Thomas lalu menarik Valeria dan membawanya pergi dari sana.
Sret...........
Dengan cepat Valeria menusuk bahu Thomas dengan pisau. Thomas meringis merasa sakit di bahunya akibat tusukan Valeria.
"Sadar honey, lihat mataku" ucap Thomas berusaha menyadarkan Valeria saat melihat tatapan kosong Valeria.
"Bunuh Bunuh Bunuh" gumam Valeria.
"I love you honey" bisik Thomas sambil memeluk erat tubuh Valeria.
Seperti sihir saat mendengar ucapan Thomas barusan matanya berangsur-angsur kembali normal saat berada dalam dekapan hangat Thomas.
Thomas melepas pelukannya dan melihat jika kekasihnya kembali pingsan. Ia langsung mengangkat Valeria membawanya kembali ke kamar.
"Tuan bersihkan dulu luka anda" ucap pak Dev.
"Kamu ganti pakaian Valeria" ucap Thomas menunjuk dokter Lauren yang baru datang.
Dengan cepat dokter Lauren menganti gaun satin milik Valeria tak lupa ia juga memeriksa kondisi Valeria dimana tubuhnya kekurangan cairan dan harus diinfus.
"Tuan mari saya periksa luka tuan" ucap dokter Lauren.
Thomas tak berkata apa-apa dan duduk di ranjang membelakangi dokter Lauren yang membersihkan lukanya serta menjahit.
"Bagaimana keadaan Valeria?" tanya Thomas dengan cemas.
"Nyonya hanya kekurangan cairan dalam tubuh dan juga kelelahan tuan"
"Heemmm"
Dokter Lauren kaget saat menjahit luka Thomas yang sangat dalam tanpa menggunakan bius. Bahkan ia tidak meringis sakit saat lukanya dijahit.
Ini orang apa robot tidak merasa sakit saat dijahit, batin dokter Lauren penuh tanda tanya.
βββββ
To be continue......................