
π»Tabahnya seorang perempuan apabila dia masih tersenyum disaat dia tertekan, tabah saat dirinya dihina, dan tetap tertawa saat dirinya terlukaπ»
.
.
.
.
Thomas mondar-mandir di depan pintu penthouse merasa sangat cemas dan khawatir memikirkan istrinya. Sudah 1 jam kedua dokter itu berada di dalam sana belum keluar juga.
Arrrgghh...........
Teriak Thomas sambil mengusap wajahnya dengan kasar menerka apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.
"Aku memang suami paling bodoh" maki Thomas merutuk kebodohannya sendiri.
Ceklek..............
Lamunan Thomas buyar saat mendengar suara pintu yang terbuka. Dengan penasaran Thomas langsung memberondong dokter Lauren dan dokter Vivian dengan banyak pertanyaan.
"Istriku baik-baik saja kan dok? Apa yang terjadi dengan istriku? Apa kandungannya baik-baik saja? Tidak terjadi sesuatu kan dok?"
Dokter Lauren dan dokter Vivian saling melirik saat di beri pertanyaan yang begitu banyak dari Thomas.
"Nyonya baik-baik saja tuan" ucap dokter Lauren mewakili.
"Lalu kenapa kalian lama sekali didalam sana?" tanya Thomas yang masih tak puas.
"Nyonya hanya menanyakan beberapa pertanyaan mengenai kehamilannya tuan"
"Istri dan anakku baik-baik saja kan" pekik Thomas dengan cemas.
"Nyonya dan kandungannya baik-baik saja tuan. Tadi nyonya hanya berkonsultasi apa bisa berpergian dengan pesawat saat ini atau tidak tuan" ucap dokter Vivian.
Deg................
Jantung Thomas berdetak dengan cepat mendengar ucapan dokter Vivian. Tanpa membalas ucapan dokter Vivian ia langsung menerobos masuk ke dalam penthouse ingin menanyakan hal ini kepada istrinya.
"Honey" lirih Thomas dengan gemetaran di ruang tamu.
Valeria yang masih kesal dengan suaminya menatapnya dengan sinis. Melihat hal tersebut tanpa sadar air mata Thomas jatuh berpikir jika istrinya akan meninggalkannya.
Melihat suaminya menangis hati Valeria menjadi sangat sakit dan ada rasa tak tega di hatinya. Ia memberi isyarat lewat tangan agar suaminya mendekat.
Grep..............
Hiks..........hiks...........hiks.........hiks........
Thomas memeluk tubuh istrinya di sofa dengan erat sambil menangis histeris. Valeria memberi isyarat kepada Ares untuk meninggalkan mereka berdua.
"Maaf......hiks hiks hiks hiks" lirih Thomas dengan menyesal dalam pelukan istrinya.
"Kamu tahu Ares adalah orang pertama yang menemani aku setelah aku di usir honey" ucap Valeria dengan lembut sambil menyisir rambut Thomas dengan tangannya.
"Maafkan aku honey.........hiks hiks hiks.......maaf karena sifat aku yang posesif dan terlalu cemburuan"
"Heemmmm"
"Maaf honey.........hiks hiks hiks........maaf....hiks hiks"
Valeria mengelus kepala suaminya sambil mencium puncak kepalanya dengan penuh cinta.
"Apa sekarang kamu masih cemburu sama Ares honey?" tanya Valeria sambil mengulum senyum geli.
Thomas mengangkat wajahnya menatap sang istri dan menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Valeria.
"Jangan cemburu lagi honey. Ares tidak pantas kamu cemburui" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Aku tahu honey. Maafkan aku" jawab Thomas sambil tersenyum manis.
Cup.................
Valeria mencium bibir suaminya dengan lembut tak lupa menghapus air matanya di kedua pipi Thomas. Thomas kembali memeluk tubuh istrinya dengan erat sambil mengelus perut Valeria.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Honey kenapa kamu panggil dokter Lauren dan dokter Vivian kesini?" tanya Thomas yang ingat tujuannya masuk.
"Aku tahu kamu sudah mendengar penjelasan mereka honey" tebak Valeria.
"Heemmm"
"Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama honey. Ada ratusan ribu karyawan yang berada di pundakku honey! Phew" ucap Valeria sambil membuang napasnya dengan kasar.
Thomas diam tak mengatakan satu kata pun. Ia sudah tahu ke arah mana pembicaraan mereka dan ia juga tidak bisa egois karena istrinya bukan seorang karyawan kantoran biasa.
Apa aku bisa berjauhan dengan istri dan calon anakku, batin Thomas dengan bingung.
Valeria tersenyum getir membaca pikiran suaminya dan ia yakin saat ini suaminya pasti sedang gundah gulana memikirkan apa yang terbaik untuk rumah tangga mereka.
Maafkan aku honey jika membuatmu berada di posisi ini, batin Valeria dengan sedih.
Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing memikirkan jalan terbaik yang harus mereka ambil demi rumah tangga mereka.
2 Minggu kemudian
Sudah 2 minggu berlalu sejak pembicaraan mereka di sofa waktu itu. Valeria juga sudah memberitahu apa yang ia bicarakan dengan dokter Vivian dan dokter Lauren waktu itu.
Waktu menunjukkan pukul 21:00 malam dan Thomas baru saja tiba di penthouse. Saat masuk ke dalam penthouse langkahnya terhenti melihat sang istri yang sedang berdiri di balkon lantai dua memandang suasana malam kota California.
Thomas tahu istrinya sedang memikirkan pembicaraan waktu itu karena ia harus kembali ke Dubai.
Dan besok adalah hari keberangkatannya setelah kemarin memeriksa kandungannya dan sudah di perbolehkan bepergian jauh.
Sepertinya ini keputusan yang terbaik untuk rumah tanggaku, batin Thomas yang sudah mengambil keputusan.
Thomas tak menghampiri istrinya melainkan memilih ke ruang kerja Valeria. Sedangkan Valeria yang sedang melamun tak sadar jika suaminya sudah pulang.
Di ruang kerja istrinya berulang kali Thomas membuang napasnya dengan kasar melihat nama kontak yang tertera di layar hpnya.
"Halo" suara berat terdengar dari seberang.
"Katakan" ucap Xavier to the point.
^^^"Maafkan aku bos. Tapi ini sudah jadi keputusanku demi rumah tangga kami" ucap Thomas dengan suara tegas.^^^
Tak ada jawaban dari seberang membuat Thomas semakin panik memikirkan apa tanggapan Xavier.
"Pergilah. Aku, Albert, dan Kevin akan selalu ada buat kamu kapanpun" ucap Xavier dengan suara tegas.
^^^"Terima kasih bos" ucap Thomas dengan senang.^^^
"Jangan pernah main tangan dengan istrimu saat kamu sedang marah. Ingat istrimu itu adalah sosok yang akan menemani kamu seumur hidupmu"
^^^"Iya bos aku tidak akan berjanji tapi aku akan buktikan kalau aku akan membahagiakan keluarga kecilku"^^^
"Jadilah kepala keluarga yang baik untuk istri dan calon buat hati kalian"
^^^"Terima kasih bos untuk semuanya selama ini"^^^
"Kamu itu adalah keluargaku Thomas jangan pernah sungkan meminta bantuan ke kami"
^^^"Baik bos"^^^
Xavier lalu mematikan panggilannya sepihak, Thomas dengan langkah cepat keluar menghampiri istrinya yang masih berada di balkon.
Grep..............
Valeria tersentak saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk dari belakang. Ia mendongak ke belakang dan tersenyum manis melihat suaminya.
"Kamu sudah pulang honey" ucap Valeria dengan suara lembut sambil mengelus tangan suaminya di perutnya.
"Heemmm"
"Apa kamu mau makan honey?" tanya Valeria lagi.
"Aku ingin kamu honey" ucap Thomas dengan napas memburu.
"Aku milikmu honey"
Thomas langsung mengendong istrinya ke dalam kamar dan tak membuang waktu keduanya kembali bergulat panas di dalam sana.
"I Love you honey" bisik Thomas setelah mencapai pelepasan.
"Love you too honey" balas Valeria sambil mengelus rahang suaminya dengan napas satu-satu.
Cup..............
Thomas mencium kening istrinya lama menyalurkan perasaan cintanya. Ia lalu melepas penyatuan mereka dan berbaring di samping Valeria sambil memeluk istrinya dengan erat.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Besok suruh Ares siapkan semua barangku honey" ucap Thomas.
"Buat apa honey?" tanya Valeria dengan penasaran.
"Kita akan pindah dan tinggal di Dubai honey"
"Apa!" teriak Valeria dengan kaget.
"Aku akan ikut sama kamu honey. Aku mana bisa berjauhan dengan istri dan calon anak kita. Kita akan bangun keluarga kecil kita disana honey" Thomas tersenyum manis menatap istrinya yang berkaca-kaca tak menyangka suaminya mengambil keputusan ikut bersamanya.
"Hiks hiks hiks hiks..........terima kasih honey......hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis.
Thomas memeluk istrinya dengan erat sambil mengelus punggungnya yang masih polos menenangkan sang istri.
"Berarti sekarang aku suami pengangguran dong honey" ucap Thomas sambil terkekeh.
"Tidak apa-apa honey. Lagian istrimu itu seorang triliuner terkaya di dunia" ucap Valeria dengan sombong.
"Ya aku bersyukur atas hal itu honey. Tapi aku akan bekerja dari sana memantau perusahaan bos honey"
"Aku akan membantumu honey"
Valeria dan Thomas tidur sambil berpelukan dengan wajah bahagia karena sudah membereskan masalah yang beberapa hari ini menganggu pikiran keduanya.
~ Kastil Valeria ~
Setelah 14 jam penerbangan dari California ke Dubai akhirnya rombongan Valeria dan Thomas mendarat di bandara pribadi Valeria di samping kastilnya.
Beruntung selama perjalanan Valeria tidak mengalami mual atau apapun selama di dalam jet. Dokter Lauren yang menjadi dokter pribadi Valeria selalu stand by jika sesuatu terjadi kepada Valeria dan kandungannya.
Thomas yang baru pertama kali kesini menatap bingung bandara yang tak pernah ia lihat selama datang ke Dubai.
"Honey apa nama bandara ini. Kenapa beda dengan bandara yang biasa aku datang kalau ke Dubai?" tanya Thomas dengan penasaran.
"Ini bandara pribadiku honey"
Thomas tercengang mendengar penuturan istrinya tapi ia malas bertanya lebih lagi. Mereka lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka.
Selang 5 menit akhirnya mereka sampai di depan pintu masuk kastil. Dan saat Thomas keluar dari mobil mulutnya menganga lebar melihat bangunan kastil mewah di depannya yang berwarna silver perpaduan emas.
"Ini istana?" tunjuk Thomas seperti orang bodoh.
"Ini kastil aku honey tempat tinggal aku selama di Dubai"
"APA" pekik Thomas dengan kaget.
Thomas kaget bukan main tak menyangka seberapa kaya istrinya itu. Ia pikir mereka akan tinggal di mansion atau penthouse tak menyangka jika mereka akan tinggal di kastil yang seperti istana kerajaan.
Ini bukan mimpi kan, batin Thomas dengan tak percaya.
"Off course honey, this is not dream" (tentu sayang, ini bukan mimpi) ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.
Eehhhhh...................
Thomas melongo mendengar ucapan istrinya yang bisa menebak pemikirannya. Lama ia berpikir sampai matanya melotot menebak tentang istrinya.
"Tebakanmu benar honey" jawab Valeria dengan santai.
βββββ
To be continue.................