
π»Hati-hati menjaga hati karena suatu saat hati bisa membuatmu sakit hatiπ»
.
.
.
.
Prok.........prok..........prok...........
Riuh tepuk tangan seketika membahana di dalam aula jamuan keraton saat permainan piano Valeria berakhir. Meski hati dan tubuhnya tidak sejalan tapi Valeria tetap memberi senyuman terindah dari atas panggung.
"Woooww...........it's amazing sister" teriak Edo sambil bertepuk tangan.
Valeria tersenyum melihat tingkah kakak sepupunya yang tidak tahu tempat. Ia lalu membungkuk memberi hormat dan segera turun dari panggung.
Sandra lalu memeluk Valeria dengan erat saat tiba di meja tempat mereka. Semua sepupunya memberikan ucapan selamat karena permainan piano Valeria yang sangat bagus.
"Sumpah permainan loe bagus banget ampe bikin gue merinding" ucap Sandra dengan decak kagum.
"Segitu bagus ya?" tanya Valeria dengan tidak yakin.
"Bagus banget ka malahan kakak kayak pianis profesional" ucap Rafa.
"Ah..........bisa aja kamu Rafa" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Bener apa kata Rafa Val sumpah permainan piano loe udah bisa ngalahin pianis terkenal" ucap Sandra.
"Iya deh gue percaya sama omongan loe berdua" ucap Valeria.
Tak lama tante Iren dan eyang putri datang dan langsung memeluk Valeria sambil mengucap selamat. Mereka sangat bangga karena memiliki cucu yang sangat berbakat seperti Valeria.
"Apa itu putri anda tuan Kusumo" ucap salah satu tamu undangan.
"Iya betul sekali dia adalah putri saya" ucap Budi dengan bangga.
"Beruntung sekali tuan memiliki berlian yang sangat langka dalam keluarga anda tuan Kusumo" puji tamu yang satu.
"Ah! Anda bisa saja tuan" ucap Budi sambil tersenyum tipis.
"Keluarga Kusumo ternyata melahirkan bibit-bibit yang unggul" puji direktur Sanjaya.
"Terima kasih atas pujiannya tuan Sanjaya" ucap Budi membalas pujian rekan kerjanya.
"Sama-sama tuan Kusumo" ucap direktur Sanjaya.
Arinta yang juga menerima pujian dari para tamu akan bakat Valeria menjadi sangat bangga. Hal tersebut membuat api kebencian di hati Bianca semakin menjadi.
Kenapa sih thu anak selalu saja di puji di mana-mana, batin Bianca dengan kesal.
Malam itu Valeria sejenak melupakan kesedihannya beberapa hari lalu. Setelah acara natal selesai semua tamu undangan pamit undur diri begitu pula dengan keluarga Valeria.
Sepanjang jalan menuju ke mansion Valeria tidak mengatakan satu kata pun. Bianca yang cemburu kepada Valeria sejak masih di keraton juga tidak mengeluarkan satu kata pun.
~ Mansion Kusumo ~
Tepat pukul 23:00 kedua mobil mewah itu memasuki mansion Kusumo. Valeria yang sudah sangat capek segera beranjak masuk.
Arinta dan Budi yang baru keluar dari mobil melihat Valeria dengan tatapan bersalah. Karena sibuk dengan pekerjaan keduanya melupakan sang putri yang saat ini membutuhkan mereka.
"Mas" ucap Arinta dengan wajah sedih.
"Sudah besok baru kita bicara sama putri kita sayang"
"Baiklah mas"
Keduanya lalu masuk ke dalam mansion tidak perduli dengan keberadaan Bianca di samping mereka. Bianca mengepal tangannya karena dia tak dianggap ada oleh keduanya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Di dalam kamar Valeria segera membersihkan tubuhnya. saat hendak memakai cream malam pintu kamarnya tiba-tiba di ketuk.
"Masuk" ucap Valeria.
Setelah mendapat perintah masuk bi Susi segera membuka pintu dengan membawa nampan berisi teh hijau. Valeria melihat bi Susi dari balik cermin saat bi Susi masuk.
"Teh hijaunya non" ucap bi Susi sambil menaruh gelas di atas nakas.
"Terima kasih ya bi tahu aja apa yang Valeria mau" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Bibi udah hafal non kebiasaan non setiap malam sebelum tidur"
"Hehehehe...........iya bi"
"Non jangan lupa minum obat non ya" ucap bi Susi mengingatkan.
"Ah! Makasih ya bi hampir aja Valeria lupa" ucap Valeria sambil menepuk keningnya.
"Iya sama-sama non jangan lupa lagi ya non"
"Iya bi"
Bi Susi lalu pamit pergi dari kamar Valeria, melihat bi Susi sudah pergi ia segera mengambil obatnya dan meminumnya.
Sambil menunggu teh hijaunya dingin Valeria mulai menuliskan semua isi hatinya di dalam diary. Coretan tulisan indah sudah memenuhi halaman kertas diary tapi Valeria masih terus menulis semua isi hatinya.
Tes..........tes...........
Tak terasa air matanya jatuh saat menulis semua rasa sakit di hatinya. Valeria berharap agar rasa sakit ini cepat berlalu karena rasanya sangat sesak dalam dadanya.
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat. Pagi ini suasana natal masih sangat terasa di mansion Kusumo, tapi tidak dengan Valeria yang merasa natal tahun ini ia merasa kesepian.
Valeria, Bianca, dan kedua orang tuanya saat ini tengah menikmati sarapan. Sedari tadi Budi terus melirik ke Valeria memikirkan bagaimana untuk memulai percakapan.
"Eheehmmm" deham Budi agar tidak kelihatan gugup.
"Om kenapa?" tanya Bianca dengan wajah khawatir.
"Ngak apa-apa" ucap Budi.
"Bianca kira om sakit" ucap Bianca dengan wajah sedih.
"Om tidak sakit" ucap Budi.
Bianca menunduk kembali memakan sarapannya meski perasaannya hancur harus memanggil sang ayah dengan sebutan om. Valeria yang melihat wajah sedih Bianca tidak tahu harus berbuat apa.
"Valeria" ucap Budi membuyarkan lamunannya.
"Iya ayah" ucap Valeria dengan perasaan takut masih mengingat kejadian waktu itu.
"Apa kegiatanmu hari ini?" tanya Budi.
"Memangnya kenapa ayah?" ucap Valeria balik bertanya.
"Ayah ingin mengajak kamu ke kebun binatang" ucap Budi dengan santai.
Bianca yang mendengar ucapan sang ayah hatinya seperti di tusuk pisau. Valeria tahu jika saat ini pasti Bianca sangat sedih dengan ucapan sang ayah yang hanya mengajaknya.
"Aku tidak mau" ucap Valeria.
"Kenapa nak?" tanya Arinta.
"Tubuh Valeria masih sakit dan harus bed rest total karena sebentar lagi liburan sekolah Valeria selesai" ucap Valeria mencari alasan.
"Sayang ayolah inikan sehari aja lagian jarang loh ayah ada waktu luang" ucap Arinta membujuk Valeria.
Valeria menatap sang ibu dengan wajah kecewa, apa ibunya tidak bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Bianca saat mendengar ucapan ayah yang mengajaknya keluar tapi tidak dengannya.
Arinta kaget melihat tatapan sendu putrinya seakan membuat hatinya teriris. Arinta kemudian memilih tidak membujuk Valeria lagi.
"Aku sudah selesai" ucap Valeria segera beranjak pergi.
"Om tante Bianca juga sudah selesai" ucap Bianca sambil tersenyum manis.
Budi membuang napasnya dengan kasar melihat perubahan sikap Valeria. Seakan anaknya berubah menjadi sosok yang engan berkomunikasi dengan orang lain bahkan keluarganya sendiri.
"Mas mending kamu bicara empat mata sama Valeria di kamarnya" ucap Arinta memberi ide.
"Iya sayang" ucap Budi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Budi lalu beranjak menuju kamar Valeria di lantai dua. Melihat suaminya sudah pergi Arinta berharap semoga Valeria membuka hatinya dan memaafkan semua perbuatan Budi.
Tok.........tok.........tok...........
"Masuk" ucap Valeria dari dalam kamar.
Mendengar suara Valeria yang menyuruh masuk Budi segera membuka pintu kamar Valeria. Saat pintu di buka Valeria menaikkan alisnya melihat ayahnya yang datang.
Tumben ayah ngetuk pintu biasanya ayah langsung aja masuk, batin Valeria penuh tanda tanya.
"Ada apa ayah?" ucap Valeria melihat sang ayah hanya diam saja di depannya.
"Kita ke balkon saja yah"
"Heeemmm"
Setibanya di balkon kamar Valeria keduanya lalu duduk sambil melihat ke depan. Budi bingung harus bicara dari mana untuk membuka obrolan.
"Valeria" ucap Budi setelah memantapkan hatinya.
"Iya ayah"
"Maaf" ucap Budi dengan wajah sendu.
Melihat wajah sang ayah yang terlihat sendu membuat hati Valeria menjadi sakit. Ia akui luka yang ditorehkan sang ayah sangatlah besar tapi perasaan sayangnya kepada Budi lebih besar dari rasa sakitnya.
Grep............
Tubuh Budi menegang mendapat respon yang tak ia duga dari Valeria. Budi memeluk tubuh anaknya dengan erat dan mengelus punggung Valeria karena saat ini Valeria sedang menangis.
"Maafkan ayah nak" ucap Budi dengan tulus.
"Hiks hiks hiks..........Valeria udah maafin ayah dari dulu........hiks hiks" ucap Valeria berderai air mata.
Seketika air mata Budi jatuh mendengar ucapan anaknya. Setulus itukah hati Valeria sehingga memaafkan semua perbuatannya yang sudah menyakiti hati dan tubuh anaknya.
"Ayah minta maaf sayang"
"Iya ayah jangan minta maaf lagi karena Valeria udah maafin ayah"
"Terima kasih nak"
Valeria mengangguk kepalanya sambil mengelap air mata Budi yang jatuh. Arinta yang mendengar ucapan keduanya dari kamar Bagas meneteskan air mata.
Hati kamu sangat tulus sayang, batin Arinta dengan kagum.
Hari itu Valeria dan Budi menghabiskan waktu di dalam kamar Valeria. Bianca yang berada di dalam kamarnya menangis meluapkan semua rasa sakit dan emosi dalam hatinya.
1 Minggu kemudian
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tak terasa sudah memasuki tahun baru. Valeria dan Bianca saat ini sedang mempersiapkan keperluan sekolah mereka karena besok mereka sudah kembali bersekolah.
Saat sedang menyiapkan barang-barangnya tiba-tiba hp Valeria berbunyi. Ia melihat nama Rendi yang tertera di layar hpnya, Valeria lalu memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
^^^"Halo kak"^^^
"Halo Val kakak ganggu ngak"
^^^"Ngak kok emangnya ada apa ka"^^^
"Gini gue cuma mau ngabarin kalau mulai besok gue ngak bisa latih loe lagi di perguruan" ucap Rendi to the point.
^^^"Loh emang kenapa ka? Apa kakak udah ngak ngajar lagi disana?"^^^
"Gue masih ngajar disana tapi untuk 2 bulan ke depan gue ambil cuti"
^^^"Cuti buat apa kak"^^^
"Mulai besok gue harus turun magang jadi ngak ada waktu"
^^^"Oh kirain ka Rendi udah keluar dari sana"^^^
"Ngak kok cuman 2 bulan aja kok gue cuti"
^^^"Hemmm! Jadi selama 2 bulan gue ngak usah ke perguruan ya ka"^^^
"Menurut gue sih mending selama 2 bulan gue cuti, loe berlatih aja mua thay"
^^^"Ide bagus thu kak"^^^
"Ya udah nanti gue kabari teman gue untuk jadi pelatih loe"
^^^"Iya ka. Tapi gue boleh kasih saran ngak kak" ucap Valeria dengan cepat.^^^
"Apa"
^^^"Kalau bisa pelatihnya perempuan ya kak"^^^
"Lah emang pelatih yang gue pilih perempuan, bisa mati gue dari kakak posesif loe itu kalau tahu adiknya di latih oleh coach laki-laki"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Seketika tawa Valeria pecah mendengar ucapan Rendi barusan. Ia sangat tahu jika Bagas adalah kakak yang sangat posesif kepada adiknya.
^^^"Pengen lihat kangmas mukul ka Rendi" ucap Valeria sambil terkekeh.^^^
"Dasar murid edan loe" ucap Rendi dengan kesal dari seberang.
^^^"Maaf ka cuma bercanda aja"^^^
"Heemm! Gue tahu. Ya udah nanti kalau udah dapat pelatihnya gue segera kabari loe"
^^^"Iya ka semangat buat magangnya ya ka"^^^
"Iya makasih Val, bye"
^^^"Bye ka"^^^
Rendi lalu mematikan panggilannya, Valeria lalu menaruh hpnya di atas meja belajar dan kembali dengan kegiatannya tadi.
Di belahan dunia dengan waktu yang berbeda tepatnya di Inggris, Bagas tersenyum membaca pesan dari sahabatnya.
Rendi Wijaya
"Bro gue untuk 2 bulan ke depan ngak bisa ngajar adik loe, soalnya gue mulai besok turun magang tapi gue udah nyari pelatih mua thay buat adik loe and pastinya perempuan"
^^^"Thanks bro udah jaga adik gue selama gue ngak ada disana"^^^
"Santai aja bro lagian gue udah anggap Valeria adik gue sendiri kok"
^^^"Hemmm"^^^
Bagas hanya menjawab pesan Rendi dengan singkat, bisa di pastikan saat ini Rendi sedang mengumpatnya saat membaca pesannya.
Seperti dugaan Bagas Rendi terus memaki Bagas saat membaca pesan terakhir Bagas.
"Sabar Rendi dia itu sahabat kulkas loe jadi ngak usah pedulikan" ucap Rendi menarik napas dalam.
~ Raya Perguruan ~
3 hari berlalu dengan sangat cepat dan semalam Rendi sudah mengabarinya tentang pelatih baru. Valeria lalu memutuskan untuk berlatih besoknya setelah mendapat pesan Rendi.
Seperti saat ini Valeria sedang berhadapan dengan seorang perempuan berotot yang dipastikan umurnya lebih tua darinya dan Rendi.
"Hay kenalin gue Amel coach loe yang baru"
"Gue Valeria salam kenal kak"
"Panggil gue coach aja soalnya gue radar risih dengan panggilan kakak" ucap Amel.
"Oke" ucap Valeria singkat.
Amel yang melihat pembawaan diri Valeria sangat santai tersenyum mengejek. Ia pikir Valeria hanyalah anak SMP ingusan yang baru pertama kali berlatih.
"So kita mulai latihannya sekarang" uap Amel.
"Sure coach"
Amel dan Valeria lalu berlatih dengan latihan dasar. Tendangan dan pukulan Valeria kepada Amel bukan main-main, awalnya Amel kaget melihat pukulan dan tendangan Valeria yang sangat kuat dan cepat.
Ternyata dia bukan pemula seperti dugaan gue, batin Amel.
Bugh...........bugh..........bugh..........bugh..........
Pukulan dan tendangan Valeria yang sangat cepat dan tidak kenal lelah membuat Amel menjadi capek. Ia bertugas menjadi tameng menerima pukulan dan tendangan Valeria.
"Kita istirahat sebentar" ucap Amel dengan napas satu-satu.
"Kenapa coach baru juga 1,5 jam kita berlatih" ucap Valeria dengan bingung.
"Hah! Apa loe ngak capek"
"Ngak coach biasanya aku sama coach Rendi berlatih paling cepat 3 jam itu pun tanpa istirahat"
"Apa!" ucap Amel dengan kaget.
"Kenapa coach ada yang salah?" tanya Valeria dengan santai.
Amel menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan stamina Valeria. Ia tahu Rendi adalah cocah taekwondo paling hebat sekaligus beberapa bela diri tapi baru kali ini ia dapat murid yang sepadan dengan Rendi.
βββββ
To be continue.........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€