
π»Tak seharusnya kita cemas karena takdir karena sesungguhnya semua yang kita alami ini sudah diatur oleh Allahπ»
.
.
.
.
Bagai disambar petir Vanesa syok membaca tulisan Jeslyn mengenai Alin mommy kandungnya sendiri. Berbagai pikiran bermunculan di benaknya tak menyangka mommynya sendiri akan melakukan hal tersebut.
Mau mommy itu balas dendam karena kematian Clara atau ada hal lain yang mommy rencanakan, batin Vanesa.
Nona baik-baik saja
Vanesa menggelengkan kepalanya membaca pesan Jeslyn karena saat ini otaknya blank tidak bisa berpikir apa-apa.
Ingat tuan besar, nona besar, dan tuan muda di sana nona
Jeslyn terpaksa menulis tentang keluarganya karena ia tahu kelemahan Vanesa ada pada keluarganya karena sering diancam oleh sang nyonya.
Ya benar kata Jeslyn ini waktunya untuk memikirkan hal lain karena ada 3 orang yang harus aku lindungi di sana, batin Vanesa.
Apa rencana mommy yang sebenarnya
Tulisnya sambil menatap Jeslyn dengan tatapan tajam karena ia yakin mommy dan uncle Liam pasti merencanakan sesuatu.
"Kita akan membahas lagi proposal di hotel nanti nona" ucap Jeslyn sambil mengedipkan mata sebagai kode.
"Oke"
~ Atlantis The Palm ~
Atlantis the Palm adalah salah satu hotel termewah di Dubai yang banyak diminati oleh turis dari berbagai manca negara.
Hotel itulah yang menjadi pilihan Jeslyn untuk menginap disana karena view hotel yang langsung disuguhi pemandangan laut biru dengan banyaknya pohon palm di sekitar sana yang semakin indah.
Meski merogoh kocek tak sedikit untuk satu malam saja tidak membuat keduanya miskin. Setelah mengambil kunci kamar di bagian resepsionis keduanya segera berlalu menuju kamar mereka.
"Jeslyn kamu istirahat saja, nanti malam baru kita bahas lagi proposal" ucap Vanesa di depan pintu kamar.
"Baik nona"
Vanesa lalu membuka pintu kamar hotelnya dengan keycard. Baru saja ia duduk di ranjang hpnya seketika berdering tertera Mommy di layar.
Phew...........
^^^"Halo mommy" ucap Vanesa dengan suara lembut seperti biasa.^^^
"Apa kalian sudah sampai?" tanya Alin dengan cepat.
^^^"Baru saja aku sampai di hotel mommy"^^^
"Oh! Jangan lupa kamu pelajari lagi proposal yang mommy kasi ke Jeslyn"
^^^"Iya mommy rencananya nanti malam baru aku bahas dengan Jeslyn mom"^^^
"Bagus. Ingat jangan sampai gagal karena jika kita bekerja sama dengan perusahaan VA Corp maka itu akan membuat perusahaan kita semakin maju" ucap Alin dengan suara tegas dari seberang.
^^^"Iya mommy aku tahu"^^^
Alin lalu memutuskan panggilannya sepihak, Vanesa menghembuskan napasnya dengan kasar memijit keningnya yang seketika berdenyut sakit.
Malamnya Jeslyn mengetuk kamar Vanesa dan mengajaknya makan malam di restoran hotel. Selesai makan malam keduanya lalu kembali ke kamar Jeslyn mempelajari proposal yang akan mereka presentasikan besok.
"Semoga besok berjalan dengan lancar nona" ucap Jeslyn.
"Iya Jeslyn. Jam berapa kita ke perusahaan VA Corp?" tanya Vanesa sambil merapikan proposal yang baru saja mereka bahas.
"Jam 09:00 pagi nona"
"Heemmm"
Jeslyn lalu pamit kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Vanesa sebelum tidur ia kembali membaca proposal itu entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang ia lewatkan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Dengan teliti Vanesa kembali membaca proposal itu berulang kali dan setelah ia yakin tidak ada yang terlihat ganjil ia kembali menaruhnya.
~ Kastil Valeria ~
Saat ini Valeria tengah bersama Ares di ruang kerjanya di lantai 3. Keduanya sedang membahas proyek minyak bumi yang sedang mereka kerjakan saat ini.
"Pantau terus proyek itu jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik nyonya"
"Suruh Alfarezi temui utusan Aiden Corp"
"Sudah saya sampaikan nyonya"
"Setelah meeting selesai kamu temui keduanya"
"Baik nyonya"
"Suruh bagian keamanan periksa mereka sebelum masuk ke dalam perusahaan karena aku yakin mereka membawa alat perekam" ucap Valeria dengan tatapan tajam.
"Apa saya harus turun langsung sendiri nyonya?" tanya Ares.
"No" Valeria beranjak menuju kaca besar di belakang kursi kerjanya sambil tersenyum smirk.
"Aku ingin lihat apa yang ingin di sampaikan putri kedua Aiden. Apa dia akan membunuh mommy kandungnya sendiri?" tanya Valeria sambil terkekeh.
"Sepertinya iya nyonya"
"Kita lihat saja nanti"
Valeria terkekeh sudah tak sabar menanti besok melihat Vanesa yang memintanya untuk menghancurkan mommy kandungnya sendiri.
Ceklek.............
"Honey kenapa kamu sangat lama" kesal Thomas dengan wajah cemberut.
"Aku masih bahas keluarga cinta pertamamu itu" ketus Valeria dengan tatapan sinis.
"Jangan sebut nama ja**ng itu lagi honey" hardik Thomas dengan suara tinggi.
"Cih" decih Valeria.
"Hilangkan saja keluarganya jika mereka mencari masalah dengan kamu honey" ucap Thomas dengan santai sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Aku memang akan melakukannya honey"
"Heemmm"
Thomas sibuk mengecup leher istrinya hingga meninggalkan jejak keunguan disana tak memperdulikan Ares yang berada di sana.
"Ayok kita makan malam honey" ajak Thomas.
"Aku tidak napsu makan honey"
"Tapi aku benar-benar tidak ada selera honey"
"Lalu istriku mau apa! Heemmmm"
"Tiramisu dengan expresso"
"Jangan cemilan honey. Kamu butuh protein dan karbohidrat" tolak Thomas dengan cepat.
"Ya sudah kamu pikirkan saja honey tapi aku tidak mau daging" ucap Valeria dengan santai.
"Nanti aku suruh koki membuatnya honey"
"Heemmm"
Thomas melirik Ares sambil memberi isyarat untuk memberitahu koki. Thomas lalu mengajak istrinya untuk ke bawah bersantai di ruang keluarga.
"Dek bagaimana kandunganmu?" tanya Bagas.
"Baik kangmas"
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanya Camelia dengan cepat.
"Suamiku sudah menyiapkannya" ucap Valeria yang bermanja di pelukan suaminya.
"Oh"
Thomas lalu melirik Bagas untuk membawa istrinya pergi dari sana karena ia ingin memberikan waktu kepada Valeria dan kedua orang tuanya yang sejak mereka datang hanya diam saja.
"Aku cek koki dulu apa sudah selesai atau belum honey" ucap Thomas.
"Heeemmm"
"Sayang ayok ikut aku ke kamar sebentar ada yang ingin aku bicarakan " ajak Bagas.
"Iya mas" ucap Camelia tak membantah.
Setelah ketiganya pergi dari sana suasana terasa hening hanya ada Valeria dan kedua orang tuanya yang sejak tadi menunduk.
Valeria sebenarnya tahu apa yang keduanya pikirkan saat ini dan itu sukses membuat hatinya tak tenang.
Phew.........
Valeria membuang napasnya dengan kasar menatap keduanya dengan tajam seperti ingin menelan mereka saat ini juga.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Apa kalian berdua ngak ingin memelukku?" tanya Valeria.
Deg...........
Jantung keduanya seperti dihantam batu besar mendengar ucapan Valeria. Dengan cepat keduanya langsung menatap Valeria dengan tatapan penuh penyesalan bercampur rindu.
"Aku sudah memaafkan kalian" ucap Valeria dengan suara lembut.
"Va.....leria" lirih Arinta dengan mata berkaca-kaca.
Air matanya mengalir dengan deras mendengar ucapan Valeria barusan. Saat matanya menatap sang putri Valeria mengangguk kepala memberi tahu jika apa yang mereka dengar itu tak salah.
Grep.............
Hiks........hiks........hiks........hiks.......
Arinta memeluk tubuh putrinya dengan erat sambil menangis histeris. Ia tak menyangka akan tiba hari ini dimana ia bisa memeluk putrinya kembali.
"Maafkan ibu nak.......hiks hiks hiks.......maafkan ibu" ucap Arinta dengan penuh penyesalan.
"Aku udah maafin ibu.....hiks hiks hiks" ucap Valeria yang ikut menangis.
"Putriku.......hiks hiks hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis histeris.
Valeria memeluk tubuh ibunya yang terlihat kurus sekarang dengan erat, saat matanya menatap sang ayah ternyata Budi juga sedang menangis.
"Apa ayah ngak mau peluk Valeria?" tanya Valeria dengan sendu.
Arinta melepas pelukannya dan membiarkan suaminya memeluk putri mereka. Sama seperti istrinya Budi juga menangis saat memeluk Valeria dan tak lupa meminta maaf atas semua perbuatannya selama ini.
"Aku udah maafin ayah" ucap Valeria membuat hati Budi semakin bahagia tak menyangka putrinya akan memaafkan semua perbuatannya.
Bagas dan Camelia yang sedari tadi melihat ketiganya juga ikut menangis. Camelia sudah tahu tentang cerita keluarga suaminya jadi ia sangat senang jika mereka semua sudah bersatu kembali.
Sedangkan Thomas ia hanya diam saja menatap mereka tapi sebenarnya ia tak tahan melihat istrinya dipeluk sangat lama oleh Budi meski ia tahu itu ayah kandung sang istri.
Tahan Thomas hanya malam ini saja kamu biarkan istrimu memeluk laki-laki lain, batin Thomas.
Valeria yang mengetahui pikiran suaminya seketika menghentikan tangisnya tak menduga jika tingkat kecemburuan suaminya itu semakin menjadi-jadi.
"Apa kalian ngak mengajakku?" tanya Bagas sambil menghapus air matanya yang keluar terus menerus.
"Ayok sini kangmas" panggil Valeria.
Thomas melotot mendengar ucapan istrinya apa lagi saat Bagas memeluk tubuh istrinya juga dengan erat meski ada juga ibu mertuanya yang ikut memeluk istrinya tapi ia sangat cemburu.
Selang 10 menit ia sudah tidak bisa menahan rasa cemburu di hatinya lagi.
Eeehhmmm............
Thomas berdeham mengagetkan keempatnya yang masih berpelukan. Ia berdiri sambil menaruh kedua tangan di saku celana dengan wajah datar.
"Makan malam sudah siap" ucap Thomas dengan suara dingin.
"Honey" panggil Valeria setelah pelukan mereka terlepas.
"Heemmm"
"Ayok sini" panggil Valeria.
"Aku lapar" ketus Thomas merajuk
"Hey Thomas jangan bilang kamu cemburu sama kita" potong Bagas yang tahu sifat adik iparnya.
"Ckk!!" ketus Thomas berlalu pergi.
Valeria tahu suaminya sedang cemburu dan ia memutuskan mengikuti suaminya dari belakang.
"Aku ganti pakaianku dulu ya honey" bisik Valeria saat melihat suaminya sudah duduk di meja makan.
Cup..........
Valeria mengecup bibir suaminya sebelum pergi ke kamar mereka. Hati Thomas berbunga-bunga mendengar ucapan istrinya yang tahu apa yang ia rasakan saat ini.
Malam itu mereka makan malam dengan bahagia karena akhirnya Valeria memaafkan kedua orang tuanya.
Brugh.................
"HONEY" teriak Valeria menggema melihat suaminya tiba-tiba pingsan saat makan malam.
βββββ
To be continue................