
π»Orang yang tepat akan selalu membuatmu merasa bahagia, bahkan ketika dia tidak hadir secara fisik denganmu tapi kamu akan tetap merasakan kehadirannyaπ»
.
.
.
.
Sudah hampir 3 minggu sejak mimpi Thomas malam itu belum juga ia mendapat kabar tentang keberadaan kekasihnya.
Thomas sudah membajak hp Yorla dan Bryan tapi belum juga menemukan keberadaan Valeria, bahkan ia sampai mengancam Yorla atau Bryan untuk memberitahu dimana keberadaan Valeria tapi keduanya juga tidak tahu.
Ares yang tahu Thomas akan mencari keberadaan Valeria menutup semua informasi mengenai Valeria sesuai perintah Valeria jika ia dalam keadaan bahaya atau mengalami kecelakaan seperti ini.
"Arrrghhhh........Valeria" teriak Thomas sambil membanting laptopnya.
Ceklek................
"Sudah puas kamu hancurkan barang di ruangan ini" ucap Albert dengan suara dingin masuk ke ruangan Thomas.
"Pergi Albert" usir Thomas dengan tatapan tajam.
"Urus penjagaan untuk acara minggu depan" perintah Albert tak mau dibantah.
"Heemmm"
"Profesional Thomas jangan sampai bos tahu kinerjamu selama 2 minggu terakhir" ucap Albert memperingati.
"Aku tahu berengsek! Kamu keluar saja jangan menggangguku" hardik Thomas.
Albert tersenyum smirk dan berlalu keluar tak membalas ucapan Thomas yang sedang dilanda emosi entah apa yang terjadi dengannya hanya ia saja yang tahu.
~ Shadow Island ~
Tik.........tik...........tik........tik..........
Bunyi alat deteksi jantung bergema di dalam ruangan yang sangat luas berada di lantai 3. Sudah 2 minggu lebih belum juga ada tanda-tanda Valeria akan sadar.
"Bagaimana kondisi nyonya hari ini?" tanya Ares dengan suara dingin.
"Kondisi tubuh nyonya dalam keadaan baik tinggal menunggu kapan nyonya akan sadar" ucap dokter Lauren setelah mengecek tubuh Valeria.
Dokter Lauren segera pamit keluar meninggalkan Valeria dan Ares di dalam kamar pribadi Valeria, hanya dia saja yang di perkenankan masuk ke dalam kamar Valeria untuk memantau kondisi Valeria.
"Dokter bagaimana kondisi master?" tanya Juan saat dokter Lauren keluar dari lift.
"Phew.........masih sama seperti kemarin" ucap dokter Lauren sambil menghembuskan napas dengan kasar.
"Apa tidak ada cara agar master cepat sadar dok?" tanya Andre dengan wajah khawatir.
"Semua tergantung master" ucap dokter Lauren sambil menggelengkan kepala.
Semua yang tadi menunggu dokter Lauren seketika lemas tak bertenaga, suasana di markas utama Black Shadow tak seperti biasanya yang selalu hangat karena saat ini sumber kebahagian mereka sedang terbaring lemah.
Rehan memeluk dokter Lauren saat melihat kekasihnya yang meneteskan air mata mengingat kondisi Valeria yang tak kunjung bangun.
Semua disana hanya diam saja melihat keduanya karena sudah tahu mengenai hubungan antara Rehan dan dokter Lauren.
"Apa Bryan dan Yorla udah tahu tentang keadaan master?" tanya Wono.
"Ares larang ngak boleh beritahu keduanya" ucap Juan.
"Kenapa? Bukannya mereka berdua saudara angkat master dan mereka berhak tahu" ucap Wono dengan bingung.
"Kalau loe penasaran tanya aja sama Ares? Alasannya kenapa" sambar Andre.
"Berengsek loe! Mending gue penasaran ampe mati dari pada dapat tonjok dari manusia tak berperasaan itu" pekik Wono membayangkan wajah datar Ares apa lagi mata merahnya yang sangat mengerikan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Gue ngak nyangka ternyata Ares sama kejamnya kayak master" ucap Andre yang mendengar cerita Ari tentang kekejaman Ares waktu membunuh Dimitri.
"Ares masih kalah jauh dari master" tambah Juan.
"Gue jadi penasaran pengen lihat kekejaman master"
"Gue saranin loe siap mental kalau mau lihat kekejaman master" timpal Rehan.
"Segitu seramnya master ya" ucap Wono yang belum pernah melihat kekejaman Valeria.
"Gelar The Queen of Blood memang cocok untuk master! Tapi menurut gue lebih cocok The Queen of Monster" ucap Juan dengan merinding.
Glek.............
Andre dan Wono menelan saliva dengan susah mendengar ucapan Juan yang terdengar sangat mengerikan di telinga mereka.
Mereka tahu wujud The Queen of Blood tapi untuk The Queen of Monster keduanya belum pernah lihat secara langsung.
"Ngak ampe 10 menit master udah kalahin 70 orang hanya dengan katana" ucap Rehan mengingat kekejaman Valeria waktu itu.
"Sesadis itukah master?" tanya Andre bergidik ngeri.
"Heemmm" deham Rehan.
"Apa kalian tidak bekerja?" tanya suara dingin dan datar dari lantai 3 mengagetkan mereka semua.
Pandangan mereka langsung tertuju kepada orang yang menatap mereka dengan mata merahnya seakan ingin menghisap jiwa mereka.
Semuanya serentak bubar pergi dari sana karena tak ingin mendapat pukulan maut dari Ares.
Ares menatap mereka dengan wajah datar dan berlalu menuju kamarnya untuk mengisi daya karena sudah 2 hari ia belum mengisi daya sama sekali.
Duar...................
Bunyi kilat menyambar di langit disertai hujan lebat di Shadow island membuat malam ini semakin dingin bersamaan dengan terbukanya mata hitam dan tajam seorang perempuan di atas tempat tidur.
Perlahan-lahan mata indah dan tajam itu mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam matanya.
"A.....i......r" lirih Valeria dengan suara pelan tapi masih didengar oleh Ares yang duduk di sofa.
"Nyonya" ucap Ares sambil mengambil air dan membantu Valeria minum.
Ares lalu menelpon dokter Lauren untuk segera datang ke kamar Valeria karena ia baru saja sadar.
Tok.......tok........tok...............
Ares membuka pintu saat mendengar ketukan, sesaat mata dokter Lauren kaget melihat sosok yang selama ini mereka tunggu untuk sadar.
"Master........hiks hiks hiks" ucap dokter Lauren sambil menangis haru.
"Periksa nyonya dokter" ucap Area dengan suara dingin memerintah dokter Lauren.
Dokter Lauren segera memeriksa keadaan Valeria setelah ia sadar barusan. Ia sangat lega karena tak ada komplikasi atau apapun yang berbahaya setelah sadar.
"Master baik-baik saja hanya perlu berlatih untuk memperkuat otot-otot master"
"How long?" (Berapa lama) tanya Valeria.
"Nyonya sudah 2 minggu lebih tak sadar karena mengalami kondisi vegetatif pasca operasi" ucap Ares.
"Operasinya?" tanya Valeria dengan wajah dingin.
"Salah satu ginjal master harus diangkat karena terkena tembakan hingga menembus pinggang master" papar dokter Lauren.
"Cari ginjal yang cocok untuk gue" perintah Valeria dengan santai.
"Baik master"
Dokter Lauren segera berlalu keluar setelah melihat isyarat kepala Ares, sampai di luar ia langsung mengabarkan hal ini kepada semuanya tentang Valeria yang sudah sadar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah membersihkan tubuh di bantu Ares dan makan makanan lembek sesuai anjuran dokter Lauren tadi saat ini keduanya saling menatap di dalam kamar Valeria.
"Katakan" ucap Valeria meminta penjelasan mengenai semuanya saat ia koma.
Ares menjelaskan dari awal sampai saat ini dan apa saja yang ia lakukan. Bahkan ia juga memberitahu jika Bryan dan Yorla tidak mengetahui kondisinya saat ini.
"Dimana Thomas?" tanya Valeria mengingat satu nama yang selalu ia mimpikan selama tak sadar.
"Tuan sedang mempersiapkan acara anniversary Mr & Mrs Wesly nyonya"
"Suruh Yorla siapin baju gue. Gue bakal hadir di acara itu"
"Baik nyonya"
"Siapkan pelatih besok pagi untuk gue mulai berlatih"
"Baik nyonya"
"Ares jangan biarkan Thomas tahu keberadaan gue saat ini"
1 Minggu kemudian
Selama seminggu dalam 3 hari saja Valeria sudah bisa berjalan normal seperti biasa tapi jika mengangkat benda berat pinggangnya akan berdenyut sakit di bekas operasi.
Saat ini Valeria tengah memandang dirinya di cermin karena ia akan menghadiri acara anniversary Chloe dan Xavier ditemani Bryan dan Yorla yang juga diundang.
"Sister semuanya udah siap" ucap Yorla dengan antusias.
Valeria tak berkata apa-apa ia lalu mengambil tasnya dan berlalu keluar di ikuti oleh Yorla dari belakang.
~ XCX Hotel ~
Suasana ballroom tampak sangat ramai dengan dekorasi yang sangat menakjubkan, tak tanggung-tanggung Xavier mengeluarkan uang segitu banyak hanya untuk perayaan anniversary keduanya dan juga hotel ini adalah hadiah Xavier kepada istrinya.
"Selamat atas ulang tahun pernikahan kalian" ucap Valeria mengagetkan Chloe dan Xavier.
"Valeria" pekik Chloe dengan histeris.
Chloe langsung memeluk Valeria karena sudah lama tak bertemu, tatapan mata Valeria lalu berpindah ke Xander yang sudah hampir dua tahun.
"Hay boy" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Aunty Valeria" ucap Xander tak kalah dingin dengan wajah datar.
"Beri salam sama aunty dan uncle" ucap Chloe kepada sang anak.
"Thank's for the gift aunty" (terima kasih buat hadiahnya tante) ucap Xander dengan senyum tipis.
"Your welcome, wish you like that present" (sama-sama, semoga kamu suka dengan hadiahnya)
"Heemmm"
Chloe kaget saat anaknya mau digendong oleh Valeria dan ini baru pertama kali anaknya dekat dengan orang lain selain kedua orang tuanya.
"Uhhh.........gantengnya, sini sama aunty boy" ucap Yorla dengan suara gemulai.
"You are ugly" ketus Xander dengan tatapan tajam.
"Xander" ucap Chloe dengan mata melotot.
Hahahaha..............
Tawa Bryan seketika pecah mendengar ucapan Xander yang mengatai Yorla sedangkan Yorla wajahnya memberengut kesal karena di bilang jelek.
"Sister" adu Yorla.
"Anak kecil biasanya berbicara jujur" ucap Valeria dengan tatapan mengejek.
Jleb............
Yorla tak bisa berkata apa-apa lagi mendengar ucapan keduanya yang seperti pisau tajam menikam hingga menembus jantungnya.
"Chloe boleh aku memainkan piano" ucap Valeria saat melihat piano tak jauh dari mereka.
"Boleh kok Val" ucap Chloe dengan senyum manis.
Valeria lalu memberikan Xander ke Chloe dan berjalan dengan langkah pelan menuju piano yang tepat berada di sudut ruangan di paling depan.
Sebelum memainkan piano matanya melirik mencari keberadaan Thomas tapi tak menemukannya. Saat ia kembali melihat piano Thomas baru saja masuk setelah memberi perintah kepada anak buahnya di luar.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bunyi dentingan piano perlahan-lahan mulai terdengar membuat semua tamu undangan melihat ke arah suara bahkan lampu sorot juga ikut menyorot Valeria yang sedang memainkan piano dengan gerakan lincah dan bunyinya terdengar sangat merdu.
Perlahan suara merdu Valeria mulai mengalun indah di dalam sana membawakan lagu Aku Milikmu dari Pongki Barata membuat seseorang yang mengenali suara itu langsung berbalik ke arah suara.
"Valeria" ucap Chloe langsung berbalik menatap Bryan dan Yorla saat mendengar Valeria bernyanyi dengan bahasa Indonesia.
"Kami orang Indonesia" ucap Bryan dengan suara dingin menjawab tatapan Chloe.
Ku pikir kau sudah melupakan aku
Ternyata hatimu masih membara untukku
Waktu kan berlalu tetapi tidak cintaku
Dia mau menunggu untukmu untukmu
Aku milikmu malam ini
Kan memelukmu sampai pagi
Tapi nanti bila ku pergi
Tunggu aku di sini
Waktu kan berlalu tetapi tidak cintaku
Dia mau menunggu untukmu untukmu
Aku milikmu malam ini
Kan memelukmu sampai pagi
Tapi nanti bila ku pergi
Tunggu aku di sini
Aku milikmu malam ini
Kan memelukmu sampai pagi
Tapi nanti bila ku pergi
Tunggu aku di sini (aku milikmu)
Tunggu aku di sini (aku milikmu)
Tunggu aku di sini
Prok...........prok........prok.......prok........
Riuh tepuk tangan tamu undangan bergema setelah Valeria selesai bernyanyi, Valeria bangun sambil membungkuk hormat dan bergegas keluar dari sana karena tak suka dengan keramaian.
Grep.............
Tangan Valeria di tarik ke belakang hingga membentur dada bidang yang sangat keras di depannya. Dari parfumnya Valeria sudah tahu siapa yang menariknya.
"Sudah puas membuat aku seperti orang gila karena merindukanmu. Lalu sekarang kamu ingin pergi lagi!" bentak Thomas dengan suara tinggi dan tatapan tajam menatap perempuan yang sudah memporak-poranda hatinya.
"Thomas" lirih Valeria dengan suara lembut.
"Kamu ingin menghilang lagi dan meninggalkan aku seperti orang gila disini!" bentak Thomas dengan suara tinggi.
"Aku"
"Sudah puas kamu permainkan hati aku Valeria" hardik Thomas memotong ucapan Valeria.
"I am sorry and i love you"
Deg............
Semarah apapun Thomas kepada Valeria tapi hatinya tak akan pernah bisa memarahi perempuan yang dicintainya apa lagi sudah berkata seperti itu.
Cup............
Thomas mencium Valeria dengan kasar menyalurkan semua emosinya saat ini. Valeria pasrah saja saat bibirnya di gigit oleh Thomas hingga berdarah.
"Jangan pernah pikir untuk kabur lagi honey" ucap Thomas dengan suara dingin.
"Maaf"
Thomas mengelus bibir Valeria yang luka dengan lembut ia memeluk tubuh Valeria yang sangat ia rindukan selama ini.
"Tho......mas" panggil Valeria dengan suara terbata-bata.
Thomas menatap Valeria dan kaget melihat wajah kekasihnya yang pucat dan seperti sedang menahan sakit.
"Honey kamu kenapa?" tanya Thomas dengan cemas.
"Panggil dokter Lauren honey" lirih Valeria dengan suara lemah.
Dengan sekali gerakan Thomas mengendong Valeria menuju ke kamar hotelnya. Ares yang sedari tadi mengikuti Valeria segera menyuruh dokter Lauren menemuinya di kamar hotel milik Thomas di lantai 58 VIP 509.
Ceklek........
Thomas menatap Ares dengan wajah merah padam karena emosi melihat Ares yang berani masuk ke dalam kamarnya tanpa meminta ijin.
βββββ
To be continue..............