Love Struggle

Love Struggle
Chapter 31



🌻Jangan pernah menghapus rasa persaudaraan hanya karena sebuah kesalahan tapi hapuslah semua kesalahan demi keutuhan rasa persaudaraan🌻


.


.


.


.


Tamparan yang sangat kuat dan keras menggema di dalam mansion. Valeria hanya berdiri menerima tamparan dari sang ayah, karena ia tahu saat ini ayah dan ibunya sangat kecewa kepadanya.


Karena tamparan yang kuat kedua sudut bibir Valeria sampai robek. Hatinya sakit menahan rasa sakit akibat tamparan dan juga wajah kecewa orang tuanya apalagi mereka tidak mempercayainya.


"Kenapa kamu sampai mencuri Valeria" bentak Budi dengan suara tinggi menggelegar di dalam mansion.


Semua penghuni mansion hanya diam melihat kemarahan sang tuan saat ini. Bahkan tidak ada satu pun yang berniat untuk menolong Valeria dari amukan Budi.


"Apa uang yang selama ini ayah kasih tidak cukup! Hah!" hardik Budi dengan suara tinggi.


"Mas kontrol emosi kamu" ucap Arinta.


"Jawab Valeria jangan hanya diam saja" bentak Budi.


"Val...e...ria nga..k sa..l...ah ayah" ucap Valeria dengan tubuh gemetaran karena takut.


"Karena perbuatanmu itu kamu sudah mempermalukan nama ayah dan ibu di sana" hardik Budi.


"Tapi Valeria ngak mencuri ayah" ucap Valeria memberanikan diri menatap Budi.


Mendengar jawaban Valeria seketika emosi Budi yang di tahan akhirnya lepas juga. Ia langsung memukul Valeria tanpa ampun bahkan Budi juga menendang Valeria berkali-kali.


"Ayah..........hiks hiks........sakit ayah.........hiks hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis merasa sakit.


"Beraninya kamu permalukan ayah" ucap Budi dengan emosi.


"Ampun ayah.........hiks hiks........Valeria ngak salah..........hiks hiks" ucap Valeria sambil memohon.


"Bawakan cambuk" ucap Budi dengan suara dingin.


"Mas" teriak Arinta tak mau suaminya melakukan hal tersebut.


"Bawa cambukku cepat" teriak Budi tak merespon ucapan Arinta.


"Ayah jangan.........hiks hiks.......Valeria mohon jangan...........hiks hiks hiks hiks" ucap Valeria sambil mengatupkan kedua tangannya memohon dengan derai air mata.


"Kamu harus di beri pelajaran karena sudah buat malu nama keluarga" bentak Budi.


Tak lama Bi Susi datang sambil membawa cambuk milik Budi. Arinta berlari ingin mengambil cambuk di tangan bi Susi tapi ia kalah cepat dengan suaminya.


Crash...........crash...........crash.........


Aaarrghh........aaarrghhh...........arrghh.........


Bunyi cambukan dan teriakan kesakitan Valeria bergema menjadi satu di ruang keluarga. Air mata Arinta mengalir dengan deras melihat kekejaman suaminya yang sudah tak terkontrol.


Dion sendiri yang tahu bagaimana sifat sang tuan jika sudah emosi memilih memalingkan mukanya.


Tes.............


Air matanya jatuh mendengar tangisan pilu dan kesakitan dari Valeria.


Semua pelayan dan penjaga mansion yang ikut melihat kekejaman sang tuan merasa kasihan kepada Valeria. Ingin membantu tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Hahahaha............sangat menarik melihat kehancuran keluarga ini, batin Bianca sambil tertawa puas.


Sedari tadi ia hanya diam melihat kekejaman dari sang ayah. Tidak ada rasa belas kasih sedikit pun di hatinya melainkan hanya ada rasa puas dan senang.


"Mas sudah aku mohon hentikan mas.........hiks hiks hiks" pinta Arinta sambil berlutut di depan Budi.


"Minggir Arinta biar aku beri pelajaran kepada anak sial ini" ucap Budi.


Valeria yang merasa sakit di sekujur tubuhnya kembali merasakan sakit di hatinya. Ucapan Budi barusan seakan menusuk dan menghancurkan hatinya sampai hancur.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Segitu marahnya ayah sampai bilang Valeria anak sial, batin Valeria dengan sedih.


"Aku mohon hentikan mas! Sudah cukup mas!" teriak Arinta yang tak bisa membendung kesedihannya lagi.


"Arinta!" bentak Budi dengan emosi.


"Lihat mas dia anak kita darah daging kamu sendiri mas!" ucap Arinta sambil menunjuk Valeria.


Budi melihat Valeria yang sudah berlumuran darah di lantai seakan tidak perduli. Amarah menutupi hatinya membuat ia tak ada belas kasih sedikitpun.


"Kali ini aku maafkan tapi tidak untuk kedua kalinya" ucap Budi dengan suara dingin.


Arinta hanya mengangguk kepalanya menjawab ucapan suaminya. Budi lalu membuang cambuknya dan berlalu menuju kamar.


"Dion panggil dokter Suci cepat" titah Arinta.


"Baik nyonya" ucap Dion segera mengambil hpnya.


Arinta lalu menyuruh bi Susi dan beberapa pelayan untuk mengangkat Valeria ke kamarnya. Tak lupa ia juga menyuruh pelayan membawa air hangat untuk membersihkan luka Valeria.


Bianca yang melihat semuanya sudah pada pergi segera beranjak ke kamarnya. Sampai kamar ia lalu mengambil hpnya dan mengirim pesan ke tante Sisil.


Tante Sisil


^^^"Misi berhasil tante😊"^^^


"Yang benar kamu sayang, tante yakin ada kejadian seru di sana"


^^^"Seperti dugaan tante saat ini hubungan keluarga ayah sudah retak"^^^


"Berarti sedikit lagi rencana kita berhasil dong sayang"


^^^"Benar tante dan aku udah ngak sabar jadi nona muda di mansion ini tante"^^^


"Tante bakal bantu kamu mewujudkan itu semua sayang, kalau perlu kamu jadi anak perempuan satu-satunya keluarga Kusumo"


^^^"Makasih tante😘"^^^


"Sama-sama sayang"


Bianca hanya membaca pesan tante Sisil tanpa berniat membalasnya. Ia sudah tidak sabar membayangkan Valeria yang di usir keluar dari mansion keluarga Kusumo.


"Sepertinya gue harus buat lagi jebakan untuk Valeria" ucap Bianca sambil tersenyum penuh arti.


Di dalam kamar Valeria saat ini dokter Suci yang sebagai dokter keluarga Kusumo sudah berada di dalam kamar Valeria. Ia menutup mulut melihat tubuh Valeria yang penuh luka dan berlumuran darah.


"Arinta" ucap dokter Suci menatap temannya meminta jawaban.


"Entar aku ceritain. Kamu tolong obati anakku Suci" ucap Arinta dengan sedih.


Dokter Suci tak bertanya lagi dan segera menggunting baju Valeria untuk membersihkan dan mengobati lukanya. Valeria yang tak kuat menahan sakit sedari tadi akhirnya pingsan dan tak perlu diberi obat bius.


Selang 40 menit akhirnya tubuh bagian belakang Valeria sudah di perban. Wajah, kaki, dan tangannya yang penuh lebam juga di beri salep khusus untuk lebam dan memar.


Selesai dokter Suci lalu menulis resep untuk di tebus di apotek. Arinta lalu menyuruh bi Susi untuk menebus obat untuk Valeria sesuai anjuran dokter Suci.


"Apa yang sebenarnya terjadi Arinta?" tanya dokter Suci dengan penasaran.


"Panjang ceritanya Suci! Phew" ucap Arinta membuang napas dengan kasar.


"Ceritain semuanya ke aku" ucap dokter Suci dengan memaksa.


Arinta lalu menceritakan semuanya dari kejadian di mall sampai di mansion. Sepanjang cerita air mata Arinta dan dokter Suci mengalir dengan deras tanpa bisa di tahan.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Valeria masih sangat kecil untukvdi beri hukuman seperti itu Arinta dan juga Budi bisa masuk penjara karena hal ini" ucap dokter Suci dengan emosi.


"Aku udah berusaha membujuk suami aku Ci tapi kamu tahu sendiri bagaimana sifat mas Budi jika sudah emosi" ucap Arinta dengan wajah sedih.


Phew............


Dokter Suci membuang napasnya dengan kasar tak bisa berkata apa-apa. Ia sangat tahu bagaimana sifat suami dari temannya ini yang sangat egois dan kejam.


"Apa Bagas tahu?" tanya dokter Suci.


"Bagas ngak tahu. Jika dia tahu maka sudah pasti akan ada kekacauan besar di dalam rumah tangga aku"


"Tapi dia berhak tahu Arinta"


"Terserah kamu saja Arinta! Aku ngak tahu harus bilang apa lagi"


"Iya aku tahu"


Dokter Suci lalu pamit pulang karena harus kembali ke kliniknya. Arinta lalu berjalan masuk ke dalam kamar Valeria dan duduk di samping Valeria.


"Maafkan ibu yang ngak bisa belain kamu sayang. Ibu memang kecewa sama kamu nak tapi biar bagaimanapun kamu tetap anak ibu" ucap Arinta dengan tulus.


Cup..............


Arinta mencium kening Valeria dengan sangat lembut. Budi yang berdiri di depan pintu kamar Valeria meneteskan air matanya melihat pemandangan keduanya saat ini.


Maafkan ayah Valeria ayah minta maaf, batin Budi sambil menyesal.


~ Oxford, Inggris ~


Bagas saat ini sedang berada di tempat magang. Entah kenapa sedari tadi hatinya tidak tenang dan sangat kepikiran dengan Valeria.


"Apa Valeria baik-baik aja" gumam Bagas dengan suara pelan.


"Hey dude what happened" ucap teman magang Bagas yang bernama Riel.


Note : untuk percakapan di luar negeri author menggunakan bahasa Indonesia ya biar lebih mudah di baca


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing"


"Jangan terlalu larut dalam pekerjaanmu dude. Santai aja"


"Heemmm"


Bagas lalu melanjutkan pekerjaannya tak mau terlalu larut dalam pemikirannya. Tanpa Bagas sadari ternyata itu adalah petunjuk untuknya jika saat ini adik yang paling di sayanginya sedang di pukul oleh sang ayah tanpa belas kasih.


Mending entar baru gue hubungi Valeria pas jam makan siang, batin Bagas.


Tepat pas jam makan siang Bagas segera keluar menuju rooftop perusahaan untuk menghubungi Valeria. Bagas yang tahu jika saat ini belum terlalu malam segera menghubungi Valeria.


Sudah 3 kali Bagas menelpon Valeria tapi belum juga diangkat. Ia terus mencoba menghubungi Valeria hingga panggilan ke 5 tapi tetap sama panggilannya tidak di angkat.


"Setahu gue ini baru jam 19:00 di Solo kenapa Valeria ngak angkat ya" ucap Bagas dengan bingung.


Ia lalu mencoba menghubungi sang ibu untuk menanyakan Valeria. Pada dering ke tiga Arinta lalu menjawab panggilannya.


"Halo nak" ucap Arinta dari seberang.


^^^"Halo bu. Ibu apa kabar?" tanya Bagas.^^^


"Kabar ibu baik sayang, kamu gimana keadaannya di sana"


^^^"Bagas baik-baik aja di sini bu"^^^


"Syukurlah sayang"


^^^"Bu Bagas mau nanya Valeria kemana ya, dari tadi Bagas telpon kok ngak di angkat"^^^


"Oh adikmu lagi ngobrol sama teman sekelasnya di taman samping sayang"


^^^"Teman sekelasnya siapa bu?" tanya Bagas dengan cepat.^^^


"Namanya Sari dan Maya sayang, katanya mereka mau membahas acara pengalangan dana untuk natal kelas mereka"


^^^"Oh pantesan Valeria ngak angkat telpon aku bu"^^^


"Ntar baru ibu beritahu ke adikmu sayang"


^^^"Iya bu. Titip salam buat adik dan ayah ya bu"^^^


"Nanti ibu sampaikan ya nak"


^^^"Iya bu. Ya sudah bu Bagas matiin dulu mau lanjut magang"^^^


"Iya sayang jaga dirimu disana ya nak"


^^^"Iya bu. Bye"^^^


"Bye sayang"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Bagas lalu mematikan panggilannya dan bernapas dengan lega. Semua pemikirannya sedari tadi terjawab sudah dan ada perasaan lega di hatinya.


"Mungkin gue terlalu kepikiran aja sama Valeria" ucap Bagas.


Bagas lalu masuk kembali ke dalam ruangannya sebelum jam istirahat berakhir. Ia memilih tidak makan siang karena waktunya sudah tidak cukup.


~ Mansion Kusumo ~


Berbeda dengan Bagas saat ini Arinta sedang menatap taman samping mansion dari kaca. Ia terpaksa berbohong karena tak mau Bagas mengetahui kondisi Valeria saat ini.


"Maafkan ibu sudah berbohong sama kamu nak" ucap Arinta dengan sedih.


Tanpa Arinta sadari ternyata Budi mendengar semua percakapan mereka dari awal. Budi berjalan menghampiri istrinya dengan langkah sangat pelan.


Grep.............


Arinta yang kaget karena di peluk mengurungkan niatnya saat ingin berteriak ketika mencium bau parfum suaminya. Ia membiarkan suaminya memeluknya hingga puas.


"Maafkan aku sayang" ucap Budi dengan suara pelan.


"Aku ngak tahu harus bilang apa mas" ucap Arinta sambil meneteskan air mata.


Budi membalikkan tubuh sang istri saat mendengar ucapan Arinta. Ia menghapus air mata Arinta dengan lembut dan memeluk tubuh sang istri.


"Aku minta maaf sayang"


"Kasihan Valeria mas. Tubuhnya penuh luka cambuk...........hiks hiks hiks"


"Maaf mas ngak bisa nahan emosi mas" ucap Budi dengan penyesalan.


"Minta maaf sama anak kamu mas karena aku ngak mau keluarga kita terpecah belah karena hal ini"


"Iya mas akan minta maaf sama Valeria"


"Aku mohon jangan gunain kekerasaan lagi kepada anak kita mas"


"Mas ngak bisa janji dan kamu tahu alasannya" ucap Budi dengan suara tegas.


"Setidaknya untuk keluarga kita mas" pinta Arinta dengan memohon.


"Mas akan coba sayang" ucap Budi menuruti keinginan istrinya.


"Terima kasih mas"


"Hemmmm"


Hari berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa sudah seminggu berlalu sejak kejadian Valeria di cambuk. Budi yang awalnya ingin meminta maaf hingga sekarang belum juga meminta maaf.


Karena kesibukannya di perusahaan dan proyek-proyek baru sejenak ia melupakan janjinya untuk meminta maaf. Beruntung Valeria masih libur jadi tidak perlu ke sekolah.


Luka di punggung Valeria sudah mulai mengering dan tidak menggunakan perban lagi. Bahkan lebam dan memarnya juga sudah hilang.


Valeria yang sekarang berubah menjadi pribadi yang tidak suka berbaur seperti dulu dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Ia lebih memilih berdiam diri di kamar sambil menunggu luka-lukanya untuk sembuh.


Bianca sendiri sering mendekati Valeria tanpa rasa bersalah. Bianca bertingkah seolah-olah hanya dia yang perduli dengan keadaan Valeria.


"Ca makasih ya udah nemenin gue selama seminggu di dalam kamar" ucap Valeria dengan tulus.


"Kan kita saudara Val jadi sudah seharusnya gue temenin loe yang lagi sakit"


"Iya gue tahu. Tapi makasih ya udah ada buat gue dan buat gue ngak kesepian terus-terusan di kamar"


"Sama-sama Val" ucap Bianca sambil tersenyum lembut.


"Iya Ca"


Tanpa Valeria sadari ternyata selama ini Bianca hanya ingin membuat Valeria membenci kedua orang tuanya yang seakan tidak perduli dengannya lagi.


❄❄❄❄❄


To be continue...........


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀