Love Struggle

Love Struggle
Chapter 18



🌻Bukan kebahagian yang menjadikan kita bersyukur tapi bersyukur yang membuat kita bahagia🌻


.


.


.


.


Meski Valeria masih bingung bagaimana dompet itu bisa berada di tasnya, ia tetap mengikuti pak Gatot menuju ruang BP (Bimbingan Konseling) di sekolahnya.


Saat masuk ke dalam ruang BP Valeria melihat ada Bianca bersama 2 temannya yaitu Riri dan Kelly, juga ada ibu Santi sebagai guru BP SMP Kencana. Pak Gatot masuk bersama Satria anak kelas 3.1 yang menemukan dompet Kelly tadi.


"Ca loe ngapain disini?" tanya Bianca dengan wajah polos.


"Gue di suruh ikut sama pak Gatot kesini" ucap Valeria dengan santai.


"Buat apa?" tanya Bianca.


"Ngak tahu lihat aja nanti" ucap Valeria sambil beranjak duduk di salah satu kursi.


Bianca tersenyum licik karena tahu kenapa Valeria bisa di bawa ke ruang BP.


Selamat menikmati hari kesengsaraan anak sialan, batin Bianca.


"Kelly apa ini dompet kamu?" tanya pak Gatot sambil mengangkat dompet yang tadi mereka temukan.


"Iya benar pak itu dompet saya" ucap Kelly dengan cepat.


"Coba kamu periksa apa ada yang hilang" ucap pak Gatot sambil memberikan dompet itu ke Kelly.


Kelly lalu menerima dompet itu dan segera mengecek isi dompetnya. Kelly melihat tidak ada yang hilang bahkan uangnya masih utuh dan juga kalung pemberian sang mama masih ada.


"Semua lengkap pak, tapi bapak dapat dimana?" tanya Kelly penasaran.


"Dompet kamu bapak temukan di dalam tas milik Valeria" ucap pak Gatot.


"Apa" ucap Bianca dan Riri dengan kaget.


"Jadi loe yang udah nyuri dompet gue" bentak Kelly sambil menunjuk Valeria.


"Jaga ucapan loe. Bukan gue yang nyuri dompet loe" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Mana ada maling mau ngaku" cibir Riri.


"Kalau loe ngak nyuri terus gimana dompet gue bisa ada di dalam tas loe" ucap Kelly dengan emosi.


"Ya mana gue tahu orang gue aja ngak pernah lihat dompet itu apa lagi memegangnya" ucap Valeria membela diri.


"Dasar pencuri" maki Kelly dengan tatapan sinis.


"Jaga mulut loe ya" ucap Valeria sambil menatap tajam Kelly.


"Diam semuanya" bentak pak Gatot yang pusing dengan keributan mereka.


Semuanya seketika diam tidak ada yang berbicara lagi. Bu Santi yang sedari tadi memperhatikan mereka semua bisa menebak jika bukan Valeria pelakunya di lihat dari tatapan matanya.


"Ibu Santi apa anda bisa mengurusnya?" tanya pak Gatot.


"Bisa pak Gatot" ucap ibu Santi.


"Saya serahkan masalah ini kepada ibu" ucap pak Gatot.


"Iya pak" ucap bu Santi.


Pak Gatot segera keluar meninggalkan Valeria, Kelly, Bianca, dan Riri di dalam sana. Setelah melihat pak Gatot sudah pergi bu Santi lalu menatap keempat siswi di depannya dengan senyum manis.


"Jadi kapan kamu ngerasa dompet kamu hilang Kelly?" tanya bu Santi.


"Tadi sekitar jam 12 lewat bu" jawab Kelly.


"Valeria bisa kamu jelaskan bagaimana dompet Kelly bisa berada di tas kamu" ucap bu Santi.


"Saya ngak tahu bu. Sejak tadi saya bersama teman-teman saya lalu saya ke perpus di jam 10 karena guru matematika ngak masuk bu"


"Jujur aja kalau loe itu emang yang nyuri" hardik Kelly dengan sinis.


"Jangan fitnah gue ya" ucap Valeria.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Fitnah gimana orang dompet itu dapat di tas loe" ucap Riri dengan kesal.


"Ya mana gue tahu dompet itu ada dalam tas gue, orang bukan gue yang ambil" ucap Valeria membela diri.


"Cih! Mana ada maling mau ngaku kalau pun ada udah penuh noh di kantor polisi" ucap Kelly.


"Loe" ucap Valeria yang langsung di potong bu Sinta.


"Kalian bisa diam tidak. Tolong hargai saya sebagai guru di sini" ucap bu Sinta dengan suara tegas.


"Maaf bu" ucap Valeria.


Kelly, Riri, dan Bianca hanya diam tidak mengatakan satu kata pun.


Santi tenang jangan bawa emosi saat ini, batin bu Santi yang mulai emosi.


"Kelly jelaskan apa saja yang kamu lakukan hari ini di lanjutkan Valeria" ucap bu Santi.


Kelly lalu menjelaskan semua kegiatannya dari saat datang sekolah sampai ia melapor kehilangan. Setelah itu Valeria juga ikut menjelaskan semua kegiatannya hari.


Mendengar cerita dari keduanya bu Sinta tidak bisa mengambil keputusan karena masing-masing mempunyai alibi yang kuat. Bianca sedari tadi hanya diam menyimak karena ia tidak ingin sampai keceplosan.


"Dari pernyataan kalian berdua semuanya memiliki alibi yang kuat" ucap bu Santi.


"Tetap pelakunya Valeria bu dan saya ngak mau tahu saya akan lapor masalah ini ke orang tua saya" ucap Kelly dengan berapi-api.


"Kelly ibu mohon kamu tenang karena masalah ini bisa di selesaikan dengan damai" ucap bu Santi.


"Saya menolak bu! Saya minta kedua orang tua saya untuk hadir sekarang" tegas Kelly.


"Valeria apa ada yang mau kamu katakan?" tanya bu Santi.


"Panggil saja orang tua saya kesini bu. Lagian saya ngak bersalah" ucap Valeria dengan santai.


Semuanya bingung melihat sikap Valeria yang teramat santai dengan masalah ini. Padahal disini ia di tuduh sebagai pelaku karena barang bukti di temukan di dalam tasnya.


"Baiklah ibu akan menghubungi kedua orang tua kalian" ucap bu Santi.


"Iya bu" ucap Valeria dan Kelly serentak.


"Kalian berdua silahkan kembali ke kelas kalian" ucap bu Santi sambil melihat Bianca dan Riri.


"Tapi bu" ucap Riri yang langsung di potong Bianca.


"Baik bu kami akan pergi permisi bu" ucap Bianca sambil menarik Riri no pergi.


"Iya" ucap bu Santi.


Riri yang di tarik keluar terus menggerutu kesal tapi di acuhkan oleh Bianca. Keduanya lalu menuju ke kelas mereka untuk mengikuti pelajaran.


Bianca


"Rencana kita berjalan mulus, bu Santi sudah memanggil kedua orang tua mereka saat ini"


Rian tersenyum sinis membaca pesan masuk dari Bianca. Ia sudah tidak sabar untuk mempermalukan Valeria saat Valeria kembali ke dalam kelas.


~ Arinta Butik ~


Arinta saat ini sedang melayani kliennya yang memesan baju pesta untuk keluarganya. Setelah mencatat semua keinginan kliennya dan melakukan tanda kerja sama ia segera beranjak kembali ke ruangannya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Baru saja Arinta duduk tiba-tiba hpnya berbunyi ada panggilan masuk. Arinta melihat nomor baru yang menghubunginya, karena penasaran ia segera menjawab panggilan itu.


^^^"Halo"^^^


"Halo selamat siang. Apa betul ini dengan ibu Arinta Kusumo - Winata" tanya sang penelpon dari seberang.


^^^"Iya betul dengan saya sendiri"^^^


"Perkenalkan bu saya bu Santi guru bimbingan konseling dari SMP Kencana"


^^^"Iya ada perlu apa ya bu?" tanya Arinta dengan sopan.^^^


"Jadi begini bu anak ibu Valeria ada terlibat masalah di sekolah dan saat ini kami mohon kehadiran ibu sebagai orang tuanya"


^^^"Apa" ucap Arinta dengan kaget.^^^


"Saya mohon kehadiran ibu di sekolah sekarang"


^^^"Memangnya apa masalah yang di perbuat anak saya?" tanya Arinta.^^^


"Valeria kedapatan menyimpan dompet milik salah satu siswa yang hilang di dalam tasnya bu"


^^^"Itu tidak mungkin! Anak saya bukan seorang pencuri" tegas Arinta dengan suara tinggi.^^^


"Untuk lebih jelasnya kami mohon kehadiran ibu"


^^^"Baik saya akan ke sana sekarang"^^^


"Baik ibu selamat siang"


^^^"Selamat siang"^^^


Arinta segera mematikan panggilannya dan memanggil Ana sang asisten. Tak lama Ana segera masuk menghampiri Arinta yang sedang memasukkan barangnya ke dalam tas.


"Nyonya panggil saya"


"Kamu batalkan semua janji saya hari ini"


"Tapi nyonya sejam lagi kita akan meeting bersama dengan tim produksi dan tim pemasaran"


"Tunda meeting ke besok pagi dan kamu ikut saya ke sekolah Valeria"


"Baik nyonya"


Tak lama Budi keluar setelah Dion membukakan pintu untuknya. Arinta menunggu sang suami di depan pintu masuk.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Budi dengan suara lembut.


"Valeria ada dapat masalah di sekolahnya jadi aku mau ke sana mas" ucap Arinta dengan panik.


"Masalah apa"


"Ayok mas ikut aku nanti sampai dalam mobil baru aku ceritain"


"Heemmm"


"Ana saya pergi sama suami saya saja, kamu hendel butik selama saya tidak ada" ucap Arinta melihat ke belakang.


"Baik nyonya" ucap Ana dengan sopan.


"Meeting tetap jadi. Nanti kirim hasilnya ke email saya"


"Iya nyonya"


Arinta segera masuk ke dalam mobil sang suami diikuti Dion yang duduk di samping supir. Saat di dalam mobil Arinta segera menjelaskan secara garis besar masalah Valeria.


"Ngak mungkin Valeria kayak gitu" ucap Budi dengan emosi.


"Iya mas aku itu tahu siapa anak aku dan aku yakin Valeria pasti di jebak"


"Hemmmm"


~ SMP Kencana ~


Tak lama mobil Budi tiba di sekolah Valeria, Dion segera membuka pintu untuk nyonya dan tuannya. Saat sampai di lobby sekolah Pak Gatot langsung menyambut mereka karena ia tahu siapa Budi dan Arinta.


"Selamat siang tuan dan nyonya Kusumo silahkan ikut saya ke rungan bu Santi" ucap Pak Gatot.


"Baik pak terima kasih" ucap Arinta.


"Iya sama-sama nyonya" ucap pak Gatot.


Keempatnya segera menuju ruangan BP dimana di sana sudah ada Valeria, Kelly dan mama Kelly. Saat akan sampai di rungan BP Arinta bisa mendengar suara teriakan marah dari dalam.


"Dasar pencuri kalau maling thu ngaku aja jangan berlagak sok ngak nyuri" bentak Risti mama dari Kelly.


"Maaf bu Risti tapi saya mohon tenang bu" ucap bu Santi.


"Mana orang tua kamu suruh menghadap saya" ucap Risti dengan wajah angkuh.


"Siapa kamu berani bentak anak saya" ucap Arinta dengan suara tegas.


"Ibu" ucap Valeria dengan kaget.


Arinta, Budi, Dion, dan pak Gatot lalu masuk ke dalam ruangan bu Santi dan duduk di samping Valeria. Budi bisa melihat jika sang anak tenang-tenang saja menghadapi masalah ini.


Sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan putriku, batin Budi sambil tersenyum puas.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Budi sangat bersyukur karena istrinya mendidik kedua anaknya dengan keras sejak dini. Tak sia-sia didikan keras sang istri karena dengan begitu kedua anaknya tidak takut atau gentar menghadapi suatu masalah.


"Oh jadi kalian orang tua anak pencuri ini" tunjuk Risti dengan sinis.


Dion yang mendengar ucapan Risti kepada tuan dan nyonyanya menatap Risti dengan tatapan tidak suka. Sedangkan Budi hanya diam dan membiarkan sang istri yang mengurus masalah ini.


"Jadi apa saya bisa mendengar kronologinya bu Santi" ucap Arinta dengan suara tegas.


Bu Santi lalu menceritakan permasalahannya dan juga menjelaskan semua kegiatan Valeria dan Kelly sampai mereka di bawa ke rungan BP. Arinta sendiri dengan tenang menyimak semua penjelasan dari bu Santi.


"Valeria apa betul kamu yang mencuri dompet itu?" tanya Arinta sambil menatap tajam Valeria.


"Valeria ngak nyuri dompet itu bu, bahkan pegang aja ngak pernah bu" ucap Valeria dengan santai.


Arinta tersenyum mendengar jawaban sang anak yang santai bahkan ia tidak takut sekalipun.


Ini baru anak ibu, batin Arinta dengan bangga.


"Elah ngaku aja loe lagian dompet gue nemunya di tas loe" ucap Kelly dengan sinis.


"Buat apa anak saya ngambil dompet kamu bahkan dompet milik anak saya lebih mahal, dan juga isinya jauh lebih banyak dari punyamu" hardik Arinta dengan sinis.


Kelly seketika diam membetulkan ucapan Arinta, karena memang mereka tahu siapa itu Valeria dan pasti uang jajannya lebih banyak dari punyanya.


"Tapi dompet anak saya di temukan dalam tas anak anda. Jadi pencurinya dialah ngak mungkin kan dompet itu bisa jalan sendiri" ucap Risti membela sang anak.


"Maaf tante tapi apa yang diucapkan ibu saya benar dan lagi pula saya juga ngak tahu gimana dompet itu ada di tas saya, bahkan kelas kita berbeda" ucap Valeria.


"Maling mana ada yang mau ngaku, jika kamu tidak mengaku saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum" ucap Risti dengan angkuh.


"Silahkan bawa ke jalur hukum dan saya pastikan anak saya tidak bersalah" ucap Arinta sambil menatap tajam Risti.


"Maaf saya terlambat" ucap seorang pria paruh baya yang baru saja datang.


"Papa" ucap Kelly dengan wajah senang.


"Tuan Kusumo" ucap Hasan papa Kelly yang kaget melihat rekan bisnisnya ada di sini.


"Heemmm" ucap Budi hanya berdeham.


"Maaf apa anda papa dari Kelly?" tanya bu santi.


"Ya betul saya papa Kelly apa ada masalah dengan putri saya bu" ucap Hasan.


"Baguslah papa ada disini jadi kita bisa bawa masalah ini ke jalur hukum" ucap Risti dengan sinis menatap Arinta.


Bu Santi lalu menjelaskan semuanya kepada papanya Kelly. Mendengar ucapan bu Santi dan ocehan istrinya Hasan menunduk mengepal tangannya karena sang istri tidak tahu berhadapan dengan siapa saat ini.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Untuk masalah ini kami urus damai saja dan tidak di perpanjang lagi bu Santi" ucap Hasan dengan suara tegas.


"Papa" teriak Kelly dan mamanya serentak tak menerima keputusan Hasan.


"Kalau begitu masalah ini kami anggap selesai dan satu lagi saya tekankan anak saya bukan pencuri" tegas Arinta.


"Maafkan kelakuan anak dan istri saya tuan dan nyonya Kusumo" ucap Hasan dengan tulus.


"Iya pak Hasan, kalau begitu apa kami bisa pergi sekarang" ucap Arinta.


"Iya silahkan tuan dan nyonya" ucap bu Santi.


"Urus istrimu tuan Hasan karena sudah berani mengatai anak saya pencuri" ucap Budi dengan suara dingin.


"Baik tuan Kusumo sekali lagi maafkan keduanya" ucap Hasan.


"Hemmm"


Budi, Arinta, Valeria, dan Dion segera meninggalkan ruangan BP. Sedangkan Kelly dan mamanya masih menatap Hasan dengan tatapan tajam dan emosi.


"Ma ayo kita pulang" ucap Hasan.


"Kenapa papa bela anak pencuri itu dari pada anak papa" bentak Risti.


"Ma jangan ribut disini malu sama gurunya Kelly" tegur Hasan dengan malu.


"Papa tuh ya Valeria udah nyuri dompet Kelly malah di lepas aja gitu" ucap Kelly dengan kesal.


"Kelly isi dompet kamu ngak berkurang kan, jadi jangan besarkan masalah ini lagi" ucap Hasan dengan suara tegas.


"Mas kamu ini apa-apaan sih" bentak Risti.


"Ma pulang sekarang jangan buat papa marah disini" bentak Hasan dengan suara tinggi.


Kelly dan Risti seketika kaget mendapat bentakan dari Hasan. Keduanya sangat tahu sifat Hasan jika sudah sangat emosi akan seperti apa, keduanya lalu segera keluar tak pamit dengan bu Santi dan pak Gatot.


"Mohon maaf akan kelakuan anak dan istri saya pak, bu" ucap Hasan dengan sopan.


"Iya pak Hasan kami mengerti" ucap bu Santi.


"Kalau begitu saya permisi pak, bu"


"Iya silahkan pak" ucap keduanya dengan serentak.


Hasan lalu keluar dengan langkah tegap menyusul sang istri yang sudah keluar lebih dulu. Sampai di dalam mobil ia langsung mengeluarkan semua emosinya tadi.


Plak.....


Bunyi tamparan bergema di dalam mobil orang tua Kelly, Risti tak menyangka jika suaminya akan menamparnya saat ini. Risti menatap suaminya dengan tatapan tajam dan membunuh.


"Kamu tahu tuan Kusumo itu klien penting kita di perusahaan. Jika tadi dia membatalkan kerja sama dengan kita maka kita akan jadi gelandangan saat ini juga" bentak Hasan pada sang istri.


"Jadi tadi itu direktur Kusumo group"


"Lain kali ingat untuk mencari tahu informasi bisnis jangan hanya shopping aja yang kamu pikirkan"


"Maafkan mama pa"


"Ini peringatan terakhir buat kamu ma, jangan permalukan namaku di depan rekan bisnisku" ucap Hasan dengan suara tinggi.


"Iya pa"


Sedangkan di dalam kelas Valeria ia yang baru datang langsung di sambut bisik-bisik teman sekelasnya. Rian yang melihat hal tersebut tersenyum dengan sinis.


"Kalian semua mending mulai sekarang simpan barang berharga kalian dengan baik soalnya udah ada maling di kelas kita" ucap Rian sambil menatap Valeria dengan sinis.


"Gue ngak bersalah dan buat yang udah taruh dompet Kelly di tas gue, gue cuman mau bilang kalau loe itu seorang pecundang" ucap Valeria menekan kata-katanya.


Senyuman Rian seketika hilang dan hanya ada tatapan emosi dan benci. Melihat hal tersebut Valeria tersenyum mengejek karena ia sudah tahu siapa yang menaruh dompet itu dalam tasnya.


"Akhirnya gue bisa lihat wajah asli loe Rian Saputra" gumam Valeria dengan suara sangat pelan.


❄❄❄❄❄


To be continue..............


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀