Love Struggle

Love Struggle
Chapter 82



🌻Jangan pernah merasa caramu yang paling benar, karena bisa jadi orang lain juga benar tapi dengan cara yang berbeda🌻


.


.


.


.


Posisi Rehan saat ini sedang mengamati musuh mereka di bagian timur kerajaan Wizpet. Ia bersama anak buahnya yang berjumlah 50 orang di tugaskan Valeria untuk mengintai tempat ini.


"Bos jumlah musuh ada 20 orang" ucap Satria anak buah kepercayaan Rehan.


"Posisi mereka"


"7 orang berada di dalam gudang di tengah perkebunan, 2 orang sniper di pos jaga bagian timur dan utara, 6 orang sebagai patroli keliling, 3 orang di pos keamanan mengontrol cctv, sedangkan 2 orang lainnya sedang berci**a di lantai 2 bos" papar Satria menjelaskan.


"Ckk! Apa mereka ketua dan tangan kanannya yang sedang berci**a?" tanya Rehan dengan jijik.


"Iya bos" ucap Satria setelah melihat wajah orang yang di rekam saat menerbangkan drone.


"Tim 1 lumpuhkan sniper di bagian timur dan utara. Tim 2 bergerak ke pos keamanan lewat jalur selatan karena disana tidak di jangkau cctv" ucap Rehan.


"Siap bos" ucap tim 1 dan tim 2 serentak.


"Tunggu aba-aba dari gue baru kalian serang" ucap Rehan dengan suara tegas.


"Baik bos"


"Yang lainnya bersiap menyerang setelah tim 1 dan 2 selesai"


"Baik bos" ucap anak buah Rehan yang lain.


Setelah menjelaskan rencana penyerangan tim 1 dan 2 langsung bergegas menuju posisi mereka untuk menyerang. Mereka bersiap di posisi masing-masing menunggu perintah Valeria.


Satria yang baru kali ini melihat ladang ganja sebesar ini tak bisa menahan kekagetannya. Ia berpikir jika kerajaan Wizpet ternyata juga melakukan hal kotor untuk menunjang perekonomian kerajaan mereka.


"Gila berapa banyak uang yang di dapat raja Wizpet dari ladang ini" ucap Satria sambil menggelengkan kepalanya melihat luas ladang ganja.


"Meskipun uang yang di dapat banyak tapi itu tetap uang haram" ucap Rehan.


"Ya bos! Tapi gue penasaran seberapa banyak sih uang mereka"


"Yang pasti ngak lebih banyak dari master"


"Itu mah jangan disamakan kalah jauh mereka sama master" ucap Ihsan membayangkan kekayaaan Valeria


"Master itu kaya banget sampai perusahaan master aja sekarang berada di urutan nomor 3 di dunia" ucap Satria.


Semuanya mengangguk kepala membenarkan ucapan Satria karena memang kekayaan Valeria tidak bisa di hitung.


Apa lagi mereka selama ini belum melihat Valeria sejak ia pergi kuliah di London hanya ketua mereka yang bertemu dengan Valeria di perusahaan VA Corp.


Tak berselang lama hp milik Rehan bergetar ia mengambilnya dan melihat ada nama master di layar hp. Tak membuang waktu Rehan segera menjawab panggilan Valeria.


^^^"Halo master"^^^


"Hancurkan semuanya Rehan jangan tersisa apapun" ucap Valeria dengan suara dingin seperti orang emosi dari seberang.


Valeria segera mematikan panggilannya tanpa mendengar jawaban Rehan. Mendengar perintah Valeria, Rehan lalu mengangguk kepalanya untuk memulai aksi mereka.


Tim 1 dan tim 2 dengan cepat melumpuhkan sniper dan musuh di bagian ruang kontrol.


"Habisi mereka semua tapi tinggalkan 1 orang yaitu pemimpin mereka" ucap Rehan dengan seringai jahat


"Baik bos" ucap anak buah Rehan serentak.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Mereka lalu bergegas menghabisi anak buah raja Luigi yang sedang berpatroli berjaga di sekitar ladang.


Setelah itu mereka masuk mengagetkan 7 orang yang berada di dalam gudang sedang main kartu. Karena sedang asik main kartu mereka tidak menyangka akan di serang musuh.


"Siapa kalian" ucap salah satu musuh.


"Malaikat kematian kalian" ucap Rehan sambil tersenyum smirk.


"Berengsek kalian mau cari mat. Hah!" bentak yang lainnnya.


"Bunuh mereka semua" teriak Rehan.


Dor........dor.........dor..........dor..........dor..........


Bunyi tembakan bergema di dalam gudang hingga 7 orang tadi mati dengan mengenaskan. Rehan lalu menyuruh 4 anak buahnya untuk membawa ketua mereka kesini.


Brak.........


Pintu di tendang dengan kuat sampai terlempar dari engselnya membuat James yang sedang berpesta dengan ja***gnya kaget. Dengan cepat tubuhnya di ringkus anak buah Rehan tanpa memakai pakaian apapun.


"Siapa kaliam" tanya James dengan emosi.


"Bos bagaimana dengan perempuan-perempuan ini"


"Usir mereka pergi" ucap Rehan.


"Baik bos"


Kedua pel***r itu segera di usir dari sana karena mereka tidak ada sangkut paut dengan ladang ganja ini. Rehan lalu memukul James sampai pingsan tak lupa memberinya tanda di tubuhnya dengan goresan pisau miliknya.


Setelah itu mereka membakar seluruh ladang ganja milik kerajaan Wizpet beserta gudangnya hingga habis tak tersisa. Lalu mengikat James di pohon tepat di depan gerbang masuk ke ladang ganja itu.


^^^"Master misi selesai" ucap Rehan menelpon Valeria.^^^


"Paketnya"


^^^"Gue taruh di depan gerbang ladang mereka master"^^^


"Good. Kembali ke mansion"


^^^"Baik master"^^^


~ Mansion Valeria ~


Valeria membuang hpnya di atas tempat tidur setelah menerima telepon dari Rehan. Ares yang berdiri di depan pintu kamar hanya diam menunggu perintah Valeria.


Setelah sampai mansion tadi Valeria dan Ares segera masuk ke kamar Valeria tak mengatakan satu kata pun.


"Apa benar video itu Ares?" tanya Valeria dengan tatapan membunuh.


"Benar nyonya" ucap Ares dengan suara datar dan dinginnya.


"Gue pastiin Bryan akan menggila melihat video ini"


"Apa kita hancurkan mereka sekarang nyonya?" tanya Ares.


"Jangan kita bicarakan hal ini dengan Bryan lebih dulu"


"Baik nyonya"


"Suruh Yorla kemari sekarang"


"Baik nyonya"


Ares lalu mengirim pesan kepada Yorla untuk segera menyusul mereka kesini. Entah apa rencana Valeria yang pasti ia akan menggunakan Yorla untuk masuk ke dalam rencananya di kerajaan Wizpet.


"Suruh Bryan ke ruang kerja gue"


"Baik nyonya"


Ares segera keluar dan mencari Bryan di kamarnya di lantai 2. Kamar Valeria berada di lantai 3 sekalian ruang kerjanya sedangkan kamar Bryan, Yorla, dan Ares berada di lantai 2.


Semua pembagian kamar seperti itu dari mansion yang di Indonesia sampai setiap mansion yang berada di setiap negara. Valeria sangat tidak suka jika privasinya di ganggu meski itu orang terdekatnya sendiri.


Tok.........tok.........tok............


"Masuk" ucap Bryan dari dalam kamar.


"Anda di panggil nyonya ke ruang kerjanya" ucap Ares to the point.


Ares tak menjawab pertanyaan Bryan dan berlalu pergi melihat hal tersebut Bryan sangat kesal karena lagi-lagi Ares bersikap acuh dan tak perduli.


Tak mau membuat Valeria menunggu Bryan segera pergi ke lantai 3 sesuai perkataan Ares tadi.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Val ada apa?" tanya Bryan setelah masuk ke ruang kerja Valeria.


"Ares" ucap Valeria sambil memberi isyarat.


Bryan mengangkat alisnya sebelah bingung kenapa Ares yang di suruh bukannya ia yang tadi panggil kesini. Tak mau ambil pusing Bryan hanya diam menunggu apa yang akan Ares dan Valeria lakukan.


"Anda bisa duduk di sofa" ucap Ares.


"Hemmmm" deham Bryan sambil mengikuti perkataan Ares.


"Silahkan anda menonton video ini" ucap Ares sambil menaruh laptop di depan Bryan.


Tak berkata apa-apa Bryan langsung menonton video tersebut. Tak berapa lama wajahnya memerah menandakan ia sangat emosi bahkan urat-urat tangannya menegang ingin memukul sesuatu.


"Berengsek loe Luigi" teriak Bryan sambil membanting laptop di depannya.


Valeria dan Ares hanya diam saja melihat kemarahan Bryan karena mereka sudah menebak jika Bryan akan sangat emosi setelah melihat video tersebut. Bryan berteriak dan memaki nama raja Luigi tak perduli dia ayahnya sendiri.


"Dari mana loe dapat video itu Val" ucap Bryan dengan tatapan membunuh.


"Di pesta tadi. Ares yang ngambil video tersebut"


"Katakan di mana ibu gue di pasung berengsek!" teriak Bryan di depan wajah Ares.


"Tenangkan diri loe!" bentak Valeria.


"Gimana gue bisa tenang setelah lihat video itu Val. Sampai kapan pun loe ngak bakal ngerasain apa yang gue rasain saat ini" ucap Bryan dengan suara tinggi.


Seketika wajah Valeria menjadi sangat merah padam mendengar ucapan Bryan. Perkataan Bryan tadi membuat dia mengingat keburukan keluarganya dulu yang membuat dia trauma hingga sekarang.


"Loe bilang gue ngak ngerasain apa yang loe rasain saat ini" ucap Valeria dengan tatapan membunuh dan aura yang sangat mengintimidasi.


Bulu kuduk Bryan seketika merinding merasakan aura Valeria yang sangat mengintimidasi.


Mulutnya ingin berbicara tapi tak bisa, sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa sangat sakit seperti di tusuk pedang yang sangat tajam.


Brugh..........


Bryan terjatuh di lantai karena tak kuat menahan rasa sakit di tubuhnya. Tak di sangka Valeria saat ini sudah berdiri tepat di depannya dan duduk jongkok hingga tatapan keduanya bertemu.


"Jangan pernah ngomong kalau loe itu yang paling benar karena loe sendiri ngak tahu kehidupan gue yang dulu" ucap Valeria penuh penekanan.


"M....a....afin gu...e Va...l" ucap Bryan dengan napas satu-satu seperti tidak ada oksigen yang bisa ia hirup.


"Sekali lagi loe berulah gue pastiin itu hari terakhir loe bernapas" ucap Valeria dengan suara dingin.


"M...a....af V....al"


Valeria lalu berdiri dan menutup mata mengontrol emosinya, ia menarik dan membuang napasnya dengan kasar karena lagi-lagi emosinya terpancing. Ares yang melihat hal tersebut segera memberikan air kepada Valeria karena tahu Valeria butuh air dingin.


Uhhukkkk.......uhhhuuu........uhhuuukkk........


Bryan terbatuk setelah ia bisa bernapas dengan leluasa kembali, ia melihat Valeria yang membelakanginya dan berjanji untuk tidak memancing emosi Valeria lagi. Belum juga ia berdiri Ares sudah berdiri tepat di depannya.


Bugh.........bugh..........bugh...........


Brak..........


3 pukulan tepat di perut dan rahang Bryan dengan cepat tak memberikan Bryan untuk menangkis pukulannya.


Saking kuatnya pukulan Ares tubuh Bryan sampai terlempar ke samping dan membuat meja di sudut patah.


"Loe apa-apaan sih berengsek" ucap Bryan dengan emosi.


"Itu peringatan buat kamu. Jangan pernah memancing kemarahan nyonya" ucap Ares dengan tatapan dingin.


"Sial" gumam Bryan dengan suara pelan.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Bryan diam tak berbicara lagi karena tahu Ares bukan orang yang bisa diajak bicara. Valeria hanya melirik keduanya tak perduli apa yang mereka perbuat, pikirannya saat ini hanya diisi dengan rencana untuk menyelamatkan ibu Bryan.


"Besok pihak kerajaan Wizpet akan menghubungi kita" ucap Valeria.


"Apa maksud loe?" tanya Bryan dengan bingung.


"Rehan sudah membakar hasil produksi terbesar milik kerajaan Wizpet"


"Hah! Bagaimana bisa dan kapan itu terjadi"


"Tadi pas kita pulang dari tempat pesta" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.


"Jangan bilang ini salah satu rencana loe Val" tebak Bryan dengan mata memincing.


"Otak loe pintar juga"


"Val kalau kita ketahuan gimana" ucap Bryan dengan panik.


"Black Shadow bukan kumpulan orang lemah dan bodoh! Seharusnya loe tahu itu!" bentak Valeria.


"Tapi Val"


"Besok pagi Yorla akan tiba di mansion dan tugas loe berdua datang ke kerajaan Wizpet untuk mencari dimana letak ruang kontrol"


"Hah! Kenapa harus ruang kontrol Val? Kenapa ngak langsung menyelamatkan aja ibu gue?" tanya Bryan dengan bingung.


"Tubuh ibu loe ada alat pelacak yang hanya bisa dimatikan detonatornya"


"Kenapa kita ngak bedah tubuh ibu dan keluarin pelacaknya saja Val"


"Ares" ucap Valeria memberi isyarat untuk Ares berbicara karena ia sedang malas.


"Alat pelacak yang di taruh di tubuh ibu anda berbentuk cairan dan sudah menyatu dengan darahnya"


"Apa" pekik Bryan dengan kaget.


"Jadi untuk mematikan pelacak itu kita harus menemukan detonatornya yang di simpan di ruang kontrol"


"Kenapa harus ruang kontrol"


"Karena semua sistem keamanan kerajaan Wizpet yang rancang di simpan di satu server dan di simpan di ruang kontrol.


"Sialan loe Luigi!" teriak Bryan dengan emosi mengingat ibunya yang di pasung di ruang bawah tanah.


"Kali ini loe sendiri yang harus bergerak masuk ke dalam kerajaan Wizpet" ucap Valeria.


"Kenapa harus gue Val" ucap Bryan.


"Karena di ruang kontrol akan butuh scan retina dan darah DNA anggota keluarga kerajaan"


"Jadi karena itu Ares ngak bisa masuk ke sana" tebak Bryan.


"Hemmmm"


"Tapi gimana kalau mereka curiga sama gue Val"


"Makanya kita butuh Yorla sebagai pengalih dan Ares sebagai umpan saat loe masuk ke ruang kontrol"


"Tapi bagaimana dengan cctv di sana"


"Serahin itu ke gue. Loe urus bagian loe aja" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.


"Oke Val gue ngerti" ucap Bryan dengan suara tegas.


Mama tunggu Bryan besok dan Bryan pastikan mereka akan membayar semuanya, batin Bryan dengan dendam mengingat wajah dan tubuh sang ibu yang sangat lemah dan tak terawat di video tadi.


❄❄❄❄❄


To be continue................


Hay guys jangan lupa tinggalin jejak kalian yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀