
π»Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanyaπ»
.
.
.
.
Budi menatap Valeria anak yang sudah ia coret dari daftar keluarga dengan tajam. Tak lama Arinta dan Dion menyusul masuk.
Arinta yang tak mengetahui apa yang terjadi di mansion kaget bukan main saat melihat Valeria berada di sana. Matanya lalu menangkap keberadaan Bianca yang sepertinya pingsan di sofa.
"Apa yang kamu lakukan disini anak kurang ajar" teriak Arinta dengan emosi.
"Nenek tua bisa ngak jangan teriak kayak di hutan" ucap Yorla mencibir.
"Siapa yang kamu panggil nenek tua sialan!" bentak Arinta tak terima.
"Ya situlah. Memangnya perempuan yang paling tua disini siapa" ketus Yorla.
"Kamu!! Pergi dari mansionku sekarang" tunjuk Arinta sambil berteriak menggelegar.
"Kalau eke ngak mau gimana"
"Penjagaaa!! Penjagaaaa!" panggil Arinta dengan suara menggelegar.
Valeria hanya diam melihat keduanya yang berdebat tak memperdulikannya sama sekali. Matanya tetap menatap Budi dengan tatapan dingin dan datar.
Tak lama 2 orang penjaga masuk ke dalam dengan wajah datar. Dion dan Budi yang baru melihat kedua penjaga itu mengerutkan kening mereka.
"Kalian usir gadis sialan itu bersama banci itu" perintah Arinta.
Dua orang penjaga tadi hanya diam saja tak melakukan apapun, melihat hal tersebut Arinta semakin emosi dan membentak keduanya
"Kalian budeg apa! Hah! Cepat usir mereka dari mansion" hardik Arinta.
"Siapa kalian?" tanya Budi dengan suara tegas.
"Ehh! Apa maksudmu mas?" tanya Arinta dengan bingung.
"Siapa kalian!" hardik Budi dengan suara tinggi.
"My people" (orangku) balas Valeria dengan suara dingin.
"Nona muda jangan bilang orang yang diluar" tebak Dion.
"THEY ALL OF MY PEOPLE" (mereka semua orangku) ucap Valeria menekan setiap kata-katanya.
Deg...........
Ketiganya mematung tak menyangka jika penjaga dan pengawal di luar mansion adalah orang Valeria. Budi melihat ke penjuru mansion mencari keberadaan pelayan tapi tidak ada satu pun.
"Apa yang kamu lakukan kepada penjaga dan pelayan!" bentak Budi.
Prok.........prok.........prok.......prok.........
"Segitu khawatirnya tuan Budi Kusumo dengan pelayannya" cibir Valeria sambil bertepuk tangan.
"Kurang puas kamu tadi sudah mempermalukan nama keluargaku di pesta tadi" ucap Budi dengan suara dingin.
"Yorla apa loe puas?" tanya Valeria.
"No sister. Eke masih belum puas! Bukannya pesta tadi cuma pemanasan aja sister" ucap Yorla sambil tersenyum penuh arti.
"Otak loe ternyata pintar juga" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Yorla gituloh sister" ucap Yorla dengan sombong.
Rehan mendengus melihat kelakuan banci sialan di sampingnya dengan malas. Yorla sendiri menatap mereka semua dengan angkuh dan sombong.
Eughhh............
Bianca meringis merasa pusing saat matanya perlahan-lahan terbuka. Mendengar suara ringisan semua mata langsung tertuju kepada Bianca yang sudah sadar.
"Akhirnya Valak bangun juga" cibir Yorla.
Mendengar suara yang dikenalinya mata Bianca langsung melek. Pandangannya tertuju ke arah suara dan melihat Yorla yang berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum mengejek.
"Loe" tunjuk Bianca dengan mata melotot.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Grep..............Aaarrghhhh...........
Bianca berteriak kesakitan saat seseorang menjambak rambutnya dengan kuat. Matanya hampir keluar dari tempatnya melihat siapa yang menjambak rambutnya.
"Apa yang kamu lakukan!" bentak Budi.
"Lepasin gue ja***g!! Lepas!" teriak Bianca memberontak.
"Kalau gue ngak mau gimana" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Kamu itu memang gadis tidak tahu diri. Ngak punya sopan santun dan tata krama!" bentak Arinta.
"Wah anda mengenal saya dengan baik nenek tua" jawab Valeria sambil tersenyum menyeringai.
"Nona muda saya mohon lepas nona Bianca. Kita bisa bicara baik-baik" bujuk Dion.
"Kalau gue ngak mau gimana"
"Aarrghhh......sialan loe an***g. Lepasin rambut gue" teriak Bianca dengan emosi.
Plak.........plak...........plak..........plak..........
Valeria menampar Bianca berulang kali tak memperdulikan teriakan Arinta dan Budi yang menyuruhnya untuk berhenti.
"Dek hentikan" teriak Bagas yang baru saja datang bersama Edo, Rendi, dan Ahmad.
"Jangan ikut campur sialan!" bentak Valeria dengan tatapan membunuh.
"Dek kangmas mohon hentikan" bujuk Bagas mendekati Valeria.
"Sebaiknya loe jangan ikut campur" tahan Rehan.
"Minggir!! Loe siapa berani halangi gue! Hah" hardik Bagas.
Rehan tak menahan Bagas lagi membiarkannya mendekati Valeria yang sedang kesetanan menampar Bianca berulang kali.
"Dek cukup jangan seperti ini" bujuk Bagas.
Bugh............prang............
"BAGAS" teriak Arinta dengan cemas.
Tubuh Bagas terpental akibat tendangan Valeria yang sangat kuat. Saking kuatnya Bagas sampai menghancurkan lemari kaca di belakangnya.
Gila ini betul Valeria kan, batin Edo bergidik ngeri.
Udah gue peringati masih aja ngeyel, batin Rehan mencibir.
Apa ini betul Valeria, batin Rendi penuh tanda tanya.
"Hentikan" teriak Budi menggelegar di dalam mansion.
Valeria seketika berhenti menampar Bianca, wajah Bianca sudah bengkak dan penuh lebam akibat tamparan Valeria yang sangat kuat.
"Kenapa tuan Kusumo! Apa anda kasihan melihat putri haram anda" ejek Valeria.
"Siapa kamu berani masuk ke mansionku seperti pencuri!" bentak Budi.
"Jaga ucapan anda tuan Kusumo!" bentak Bagas.
"Diam kamu Bagas. Jangan pernah membela ja***g ini" hardik Budi.
Hahahaha.................
Tawa Valeria seketika pecah mendengar ucapan Budi tentang dirinya. Ia tak menyangka jika anggapan Budi masih sama seperti dulu tentang dirinya.
"Anda itu memang tua bangka yang sangat bodoh tuan Kusumo" ucap Valeria mencibir.
"Jaga ucapanmu sialan" hardik Arinta.
"Ternyata kalian berdua memang lebih membela anak haram kalian ketimbang darah daging kalian sendiri!" bentak Valeria dengan emosi.
"Setidaknya dia mengakui dengan apa yang dia lakukan bukan seperti kamu yang terus mengelak, padahal buktinya sudah didepan mata" ucap Arinta dengan suara dingin.
"Kalian berdua memang pasangan serasi dan paling bodoh yang pernah gue kenal" ejek Valeria.
"Tutup mulutmu perempuan su***l hina!" bentak Arinta.
"Jaga ucapan anda nenek tua" pekik Yorla dengan emosi.
"IBU" teriak Bagas dengan emosi.
"Bawa mereka masuk" ucap Valeria dengan suara dingin.
Tak lama Juan dan anak buahnya masuk sambil mendorong dua orang paruh baya yang sangat dikenali oleh Bianca. Tubuhnya menegang melihat kedua orang itu yang selama ini ia cari.
Brugh............brugh............
Keduanya di paksa berlutut di tengah-tengah mereka, Budi dan Arinta yang tak mengenali keduanya menatap mereka dengan bingung.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Ini" ucap Bagas dan Rendi serentak yang mengenali kedua orang yang selama ini mereka cari.
"Valeria apa maksud ini semua" ucap Edo dengan bingung.
Valeria memberi isyarat kepada Juan untuk memutar flash yang waktu itu Ares berikan. Semua mata langsung memandang ke arah televisi dengan penasaran.
Valeria memilih duduk di sofa ingin melihat reaksi mereka semua. Detik berganti menit membuat semua orang disana kaget bukan main, Arinta dan Budi syok melihat foto dan video di televisi tentang Bianca.
"In......i" ucap Arinta dengan terbata-bata.
Air matanya mengalir dengan deras melihat bukti tentang kejahatan Bianca, om Arya, tante Sisil, dan beberapa orang yang sudah menjebak Valeria saat itu.
"Dek.......hiks hiks hiks" ucap Bagas sambil memeluk Valeria dan menangis.
Valeria hanya diam saja tak membalas pelukan Bagas, matanya hanya tertuju kepada Arinta dan Budi yang syok saat ini berdiri mematung dengan pikiran kosong.
"Bagaimana tuan dan nyonya Kusumo yang terhormat" ucap Valeria.
"Sel.....ama i....ni" ucap Budi dengan terbata-bata.
"Karena dia kalian membuang darah daging kalian sendiri" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Ma.....afkan ibu Valeria.......hiks hiks hiks" pinta Arinta sambil menangis.
"Maaf anda bilang!! Bertahun-tahun gue hidup dengan luka fisik dan batin apa kalian tahu sialan" teriak Valeria dengan emosi.
"Ma....afkan ibu........hiks hiks hiks.......ibu menyesal....hiks hiks"
"Penyesalan anda sudah terlambat nyonya kusumo!" bentak Valeria dengan suara tinggi.
Semuanya diam tak berkata apa-apa hanya ada tangisan di dalam sana. Bahkan Budi yang dikenal dengan sosok tegas juga menangis karena melakukan kesalahan yang amat fatal.
"Maaf........hiks hiks hiks" ucap Budi dengan sangat menyesal.
"Maaf? Hahahahaha" tawa Valeria pecah mendengar kata maaf dari seorang Budi Kusumo.
"Kalian berdua tidak pantas mendapat maaf dari sister" hardik Yorla dengan emosi.
Aura di dalam ruang keluarga seketika berubah menjadi sangat mencekam. Mereka semua merinding merasakan aura kekuasaan yang kuat di dalam sana bahkan Putri dan Arya yang baru saja datang merinding ketakutan.
Bugh........bugh.........bugh.......bugh..........
Dengan emosi yang sudah tak bisa ditahan Valeria memukul Bianca, Om Arya, dan tante Sisil dengan brutal tak memberikan mereka waktu untuk berbicara.
Aarrrrghhhhh..............
Jeritan kesakitan bergema didalam sana membuat semuanya bergidik ngeri. Sementara yang lainnya hanya berdiri sambil menonton karena tak bisa mengerakkan tubuh mereka.
"Kalian nikmati saja pertunjukkan dari gue" ucap Valeria dengan aura membunuh.
Deg..........
Budi dan Bagas menegang melihat iris mata Valeria yang berubah menjadi merah menyala. Keduanya sangat tahu perubahan warna mata Valeria karena hanya darah Kusumo murni yang bisa seperti itu.
"Hentikan dek" teriak Bagas berusaha mengerakkan tubuhnya.
Bugh.......bugh.........bugh......prang......prang.....
Dengan brutal Valeria menendang dan memukul ketiganya hingga tubuh mereka terpental dan menghancurkan barang di dalam sana. Bagas dan Budi sekuat tenaga menggerakkan tubuh mereka dan akhirnya berhasil.
Grep..........
"Hentikan dek" ucap Bagas sambil memeluk Valeria dengan erat.
Tatapan mata Valeria menatap Bagas dengan tatapan membunuh membuat Bagas menelan salivanya dengan susah. Valeria lalu memukul Bagas dan Budi yang ingin menghentikannya.
Bugh...........bugh...............
2 pukulan di ulu hati membuat keduanya jatuh di lantai tak bisa bangun. Yorla yang melihat senyuman menyeringai dan mata Valeria yang sudah berubah warna menjadi merah seluruhnya bergidik ngeri.
Prang..........prang...........prang.............
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Seketika semua kaca jendela di mansion Kusumo pecah serentak. Membuat semuanya bergidik ketakutan, tubuh mereka bergetar hebat melihat sosok Valeria yang seperti monster berdarah dingin.
"Tolo.....ng am.....puni saya" pinta om Arya dengan memohon.
"Va.....***......ia" ucap Bianca dengan terbata-bata.
"Kematian mutlak untuk kalian bertiga" ucap Valeria dengan suara dingin yang sangat mengerikan.
Duar...........
Rehan dan Yorla bagai disambar petir mendengar ucapan Valeria. Itu adalah kata-kata dari sosok kejam seorang The Queen of Blood dari Black Shadow.
Ini sangat mengerikan, batin Yorla bergetar ketakutan.
Jadi ini sosok sebenarnya master, batin Juan bergidik ngeri.
Sret.........sret...........sret.........arrrggghh..........
Jeritan kesakitan menggema saat tubuh tante Sisil dan om Arya dicabik-cabik. Putri dan Arya tercengang melihat semua itu, apa lagi Arinta juga kaget karena baru pertama kali melihat sisi kejam putri yang sudah dibuangnya.
"Dek.......hiks hiks hiks.......kangmas mohon hentikan.....hiks hiks" teriak Bagas sambil menangis histeris.
"Valeria.......hiks hiks.....hentikan nak........hiks hiks" teriak Arinta sambil menangis histeris.
"Hiks hiks hiks.......aku gagal.....hiks hiks hiks" raung Budi penuh penyesalan.
"Arrgghhhh........hentikan Valeria" teriak Bianca dengan ketakutan.
Bagaimana tidak Valeria mencabik-cabik keduanya tepat di depan mata Bianca. Wajah dan tubuhnya penuh darah, bau anyir menguar di dalam sana membuat siapa saja yang menciumnya akan muntah.
"Loe takut ja***g?" tanya Valeria sambil tersenyum smirk.
"Am....pun. Gue mohon ja....ngan bun....uh gue" jerit Bianca ketakutan.
"Gue mohon pergi!! Pergi!"
"Hehehehe! Sayangnya gue ngak mau" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Jangan gue mohon jangan bunuh gue" pinta Bianca dengan tubuh bergetar ketakutan.
Sret.........sret............sret..........sret.........
Aarrggghhh...........
Jerit kesakitan Bianca bergema saat Valeria menusuk pipi Bianca dengan p***u kesayangannya. Tak sampai situ ia juga mengikat kedua tangan Bianca di sofa lalu mengukir kedua tangan Bianca dengan p***u miliknya.
Hehehehe................
Valeria tertawa seperti iblis melihat ukiran di kedua tangan Bianca apa lagi suara jeritan kesakitannya sangat merdu di telinga Valeria.
"Mata loe bagus. Gue pengen kasi ke Pita" ucap Valeria sambil terkekeh.
Yorla dan Rehan yang tahu siapa Pita bergidik ngeri, keduanya tak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan Valeria saat ini.
Crash..............Aarrgghhh........
Dengan santainya Valeria menc****el kedua mata Bianca dan kembali ia mengukir karyanya di paha dan perut Bianca. Jeritan kesakitan bercampur tawa Valeria menggema di dalam sana.
Sret............sret..........sret.........sret..........
Hoek......hoek.........
Valeria men***ik isi p***t Bianca membuat Rehan dan lainnya seketika muntah tak tahan melihat hal tersebut. Bahkan Arinta sampai pingsan tak sanggup lagi melihat hal tersebut.
"Hentikan Valeria........hiks hiks hiks hiks" teriak Bagas dengan histeris.
Tubuhnya sangat sakit sehingga ia tidak bisa bangun menahan perbuatan adiknya. Budi sendiri menangis melihat sosok iblis dalam tubuh putrinya, ia menyesal sudah membuat putrinya berubah menjadi monster seperti ini.
Grep..............
Tubuh Valeria di peluk oleh seseorang yang entah datang dari mana. Orang itu memeluk Valeria dengan erat tak perduli hoodie yang dipakainya penuh dengan darah.
Valeria menoleh ke belakang mencium aroma yang sangat ia kenali mata merahnya menatap orang tersebut sambil tersenyum menyeringai.
"Cukup honey" bisik Thomas yang baru saja datang.
βββββ
To be continue.................