
π»Jangan terpengaruh pada perkataan orang lain yang bisa membuatmu jatuh tetapi teruslah berkarya dengan kebaikanmuπ»
.
.
.
.
Tak terasa sudah seminggu berlalu sejak pameran busana milik Arinta. Valeria dan keluarganya melakukan aktifitas mereka seperti biasa, Bianca yang setiap hari hanya berdiam diri di mansion semakin membenci Valeria dan keluarganya.
Pagi ini Arinta bangun lebih dulu dari semuanya, Arinta mengedarkan pandangannya ke atas nakas melihat jam yang menunjukkan pukul 05:20 pagi.
Melihat suaminya masih tertidur pulas, ia bangun dengan pelan dan langsung menuju ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri Arinta keluar dari kamar untuk mengecek sarapan pagi ini.
"Selamat pagi nyonya" ucap bi Susi dengan sopan.
"Selamat pagi. Apa sarapannya udah di siapkan bi?" tanya Arinta.
"Sudah nyonya tinggal menatanya di atas meja"
"Hemmm! Bawakan minum pagiku ke taman belakang"
"Baik nyonya"
Arinta lalu menuju ke taman belakang untuk menikmati udara pagi disana. Sampai di sana Arinta mengedarkan pandangannya melihat tanaman bunga kesukaannya yang bermekar indah.
"Permisi nyonya ini minumannya" ucap bi Susi.
"Hemmm! Tinggalkan aku sendiri bi" ucap Arinta dengan suara lembut.
"Baik nyonya"
Bi Susi segera beranjak dari sana meninggalkan Arinta sendirian. Setelah puas menikmati udara pagi Arinta bergegas masuk ke dalam mansion untuk menyiapkan keperluan suaminya.
Saat masuk ke kamar Arinta tidak melihat Budi di atas ranjang dan hanya mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Arinta lalu membereskan tempat tidur mereka tak lupa menyiapkan baju kerja suaminya.
Ceklek......
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Budi yang keluar dengan menggunakan handuk sepinggang. Arinta seketika terpesona melihat pahatan indah tubuh suaminya.
"Apa kamu ingin menyentuhnya sayang" ucap Budi sambil menunjuk perut kotak-kotaknya.
"Ap...a jangan nga...co kamu mas" ucap Arinta gugup karena kepergok melihat tubuh suaminya.
Budi tersenyum bahagia melihat wajah istrinya yang memerah dan gugup. Meski sudah memiliki dua anak tapi Arinta masih belum membiasakan diri melihat tubuh polos suaminya.
Cup.......
Satu ciuman lembut berlabuh di bibir pink Arinta. Arinta membalas ciuman suaminya sambil memeluk leher Budi dengan erat.
"Morning kiss sayang" ucap Budi setelah melepaskan ciuman mereka.
"Iya sayang"
Arinta lalu membantu Budi mengeringkan rambutnya dengan Budi yang terus memeluk pinggang istrinya. Selesai membantu suaminya bersiap keduanya lalu keluar untuk sarapan.
"Selamat pagi ayah, ibu" ucap Valeria yang baru turun dari lantai dua.
"Pagi sayang" ucap keduanya serentak.
Ketiganya lalu menuju meja makan dimana sudah ada Bagas dan Bianca di sana. Melihat kehadiran Bianca membuat Arinta merasa sangat tidak suka.
Budi yang melihat tatapan istrinya menyentuh lembut tangan Arinta sambil tersenyum manis.
Sepertinya aku melupakan kehadiran anak jal**g itu, batin Arinta dengan kesal.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Selesai sarapan Valeria, Bagas, dan Budi segera pamit menuju ke lokasi kegiatan mereka masing-masing.
Arinta mengantar kepergian suami dan anak-anaknya di depan mansion. Bianca yang melihat keharmonisan keluarga Valeria semakin membuatnya membenci keluarga itu.
Gue bakal balas semua rasa sakit gue dan ibu, batin Bianca sambil mengepalkan tangannya.
Arinta lalu masuk ke dalam mansion dan memikirkan apa yang harus ia perbuat untuk Bianca. Meski Bianca anak selingkuhan suaminya tapi Arinta masih memiliki hati memikirkan masa depan Bianca.
Arinta lalu mengambil hpnya menghubungi Budi untuk membicarakan perihal Bianca. Pada dering kedua Budi segera menjawab panggilan istrinya.
"Halo sayang"
^^^"Halo mas"^^^
"Ada apa sayang?" tanya Budi dengan suara lembut dari seberang.
^^^"Aku mau bahas anak itu mas"^^^
"Hah! Terserah kamu mau atur anak itu bagaimana sayang aku tidak perduli" ucap Budi sambil menghela napasnya dengan kasar.
^^^"Baik mas kalau begitu aku akan urus anak itu. Tapi tidak dengan namanya yang menyandang nama keluarga kita mas" ucap Arinta dengan suara tegas.^^^
"Baiklah sayang aku ikut sesuai apa yang kamu mau"
^^^"Iya mas"^^^
"Love you my wife"
^^^"Love you too mas"^^^
Arinta lalu mematikan panggilannya dan mengirim pesan ke Ana asistennya untuk menyiapkan semua kebutuhan sekolah Bianca. Ia berpikir untuk menyekolahkan Bianca tapi tidak satu sekolah dengan Valeria.
~ SD Pelita Harapan ~
Saat ini Valeria sedang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Selang 10 menit bel berbunyi tanda waktu istirahat telah tiba.
"Val ke kantin yuk" ucap Sari.
"Gue ke perpus dulu balikin buku ini baru ke kantin"
"Oke deh. Gue sama anak-anak yang lain duluan ya ke kantin" ucap Sari.
"Oke" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Jangan lama-lama di perpus ya Valeria" ucap Tika.
"Tenang gue bakal cepat kok" ucap Valeria sambil cengesan.
Sari dan lainnya lalu pergi ke kantin berbeda dengan Valeria. Sepanjang jalan banyak siswa-siswi yang kagum dan terpesona akan kecantikan dan aura yang keluar dari tubuh Valeria.
Valeria menatap mereka dengan senyum manis dan tatapan berkarisma. Meski masih berumur 10 tahun tapi aura dan pesona Valeria membuat siapa saja tidak bisa memalingkan pandangannya.
"Permisi bu" ucap Valeria dengan sopan.
"Eeh.......nak Valeria mau balikin buku ya?" tanya ibu Ani petugas perpustakaan.
"Iya bu"
"Baiklah sini bukunya biar ibu catat dulu"
Valeria lalu memberikan buku yang di pinjamnya. Setelah selesai ia segera pergi ke kantin menyusul teman-temannya, selesai dari kantin mereka segera ke kelas untuk melanjutkan pelajaran hari ini.
Sepulang sekolah Valeria segera pergi ke tempat les khusus seni mengambar. Meski tidak suka tapi ia hanya mengikuti semua yang sudah diatur oleh sang ibu.
"Ah! Malas banget gue ikut les seni mengambar" gumam Valeria dengan kesal.
Bagas yang kebetulan satu tempat les dengan sang adik hanya tersenyum saja. Ia tahu jika sang adik sangat tidak suka dengan yang namanya art tapi ini semua karena sang ibu yang sudah mengaturnya.
"Coba bicara sama ibu kalau ngak suka dek" ucap Bagas sambil mengacak rambut panjang sang adik.
"Tapi Valeria takut di marahi ibu kangmas" ucap Valeria dengan ngeri membayangkan wajah marah sang ibu.
"Belum juga di coba kamu udah takut dek. Gimana mau kasi pendapatmu kalau begitu" ucap Bagas.
"Ihhhh......Kangmas bukannya bantuin cari solusinya malah tambah bikin pusing aja"
"Lah tadi kan kangmas udah ngasi solusinya dek"
"Tahu ahhh! Aku kesal sama kangmas" ucap Valeria mengerucutkan bibirnya.
Bagas terkekeh melihat wajah cemberut sang adik yang menurutnya sangat mengemaskan. Keduanya lalu masuk ke tempat les masing-masing untuk mengikuti les.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Kusumo ~
Berbeda dengan Valeria dan Bagas yang sedang berada di tempat les, saat ini suasana di ruang keluarga mansion Kusumo sangat mencekam.
Sudah 10 menit berlalu Arinta menatap Bianca yang duduk di depannya dengan tatapan tajam. Bianca gemetar merasakan tatapan tajam itu seakan menusuknya sampai ke tulang-tulangnya.
"Mulai saat ini aku ijinkan kamu tinggal di mansion ini" ucap Arinta dengan suara tegas.
"Terima kasih bu" ucap Bianca dengan suara pelan.
"Satu lagi aku tidak menyukaimu dan sangat membenci wajahmu yang seperti ibumu yang seorang wanita pengoda"
Tubuh Bianca menegang mendengar nama sang ibu yang di hina. Ada rasa marah dan benci dalam hatinya tapi ia sekuat tenaga menahan rasa itu yang ingin keluar.
Ia tahu ibunya salah tapi tidak seharusnya nama sang ibu terus di sebut dan di permalukan seperti ini.
Arinta yang melihat tubuh Bianca menegang tahu jika perkataannya tadi membuat anak kecil itu menjadi emosi.
Lebih baik kamu tahu siapa sebenarnya ibu kamu biar ke depan kamu tidak mengikuti jalan ibumu yang salah, batin Arinta.
Bukan tanpa alasan Arinta bersikap tegas kepada Bianca, ia hanya ingin anak kecil itu sedari kecil membenci pekerjaan sang ibu biar ke depannya ia tidak mengikuti jejak sang ibu dan menjadi pribadi yang lebih baik.
"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan ibu karena aku hanya memiliki dua anak" ucap Arinta dengan tegas.
"Ba...ik tan..te" ucap Bianca dengan gugup.
"Besok kamu akan mulai bersekolah"
Ia pikir dirinya tidak akan dibiarkan sekolah disini. Tapi ternyata pemikirannya salah ternyata ia akan kembali bersekolah.
"Namamu sudah terdaftar di sekolah baru kamu, jadi besok kamu sudah bisa bersekolah"
"Baik tante"
"Satu lagi jangan pernah bilang jika kamu adalah bagian keluarga Kusumo karena sampai kapanpun kamu tidak akan memakai nama itu"
Deg........deg........deg..........
Jantung Bianca berdetak dengan cepat mendengar ucapan Arinta barusan. Ia tak menyangka jika dia akan hidup di tengah keluarga Kusumo sebagai orang asing.
Valeria yang pulang lebih dulu berhenti di ruang tamu dan mendengar semua ucapan sang ibu. Ada perasaan iba dan sedih dalam hatinya memikirkan Bianca, meski mereka saudara tiri tapi darah mereka ada darah Kusumo juga.
"Loe yang kuat ya Bianca loe pasti bisa melewati semua ini" gumam Valeria dengan suara pelan.
Tak lagi mendengar suara dari ruang keluarga Valeria segera bergegas masuk. Valeria tersenyum hangat melihat sang ibu yang sedang duduk di ruang keluarga berhadapan dengan Bianca.
"Selamat sore ibu, Bianca" ucap Valeria dengan lembut.
"Kamu sudah pulang nak?" tanya Arinta.
"Iya bu tadi barengan sama kangmas tapi kangmas mau ngerjain tugas bareng teman-temannya dulu bu" ucap Valeria sambil mencium tangan sang ibu.
"Iya tadi kangmasmu sudah beritahu ibu" ucap Arinta dengan lembut.
"Ya udah sana kamu bersihkan tubuh kamu dan turun makan" tambahnya lagi.
"Entar aja bu Valeria masih kenyang" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Hemmm"
Arinta lalu bangun dan menuju ke kamarnya meninggalkan Valeria dan Bianca. Valeria lalu berjalan dan duduk di samping Bianca dengan pelan.
"Ibu orangnya memang keras dan tegas tapi sebenarnya ibu baik kok" ucap Valeria.
"Cih!"
"Jika loe butuh sesuatu loe jangan sungkan bilang sama gue"
"Gue ngak butuh di kasihani sama orang kayak loe" ucap Bianca dengan suara dingin sambil menatap Valeria tajam.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria bergidik ngeri melihat tatapan Bianca yang seperti itu, ia tak menyangka jika anak berumur 10 tahun bisa menatapnya dengan tatapan seperti seorang pembunuh.
"Jangan berpura-pura kasihan sama gue" ucap Bianca dengan emosi.
Dia segera pergi meninggalkan Valeria dengan perasaan bingung dan sedih. Ia tahu Bianca pasti sangat membenci keluarganya karena di anggap tidak memikirkan dirinya dan selalu di sudutkan akibat perbuatan sang ibu.
"Semoga kita bisa menjadi saudara yang rukun Bianca" ucap Valeria dengan tulus.
Bi Susi yang sempat mendengar ucapan keduanya tadi sangat salut dengan sifat nona muda mereka. Ia tahu di balik sifat tegas Valeria ada sifat lembut dan tulus yang mau menolong sesama tanpa memandang status mereka.
3 bulan kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, sudah 3 bulan berlalu sejak pembicaraan Valeria dan Bianca. Selama 3 bulan Valeria selalu mendekati Bianca dan mengajaknya berbicara tapi tidak di gubris oleh Bianca.
Bianca merasa Valeria hanya mendekatinya untuk mengejek dirinya. Belum lagi sikap sang ayah yang berubah drastis semenjak ia pertama kali di bawa ke mansion ini.
Seperti saat ini Bianca menatap emosi Valeria dan Bagas yang sedang bercanda gurau dengan Budi di taman belakang. Berhubung hari ini weekend Budi menyempatkan waktu untuk menikmati hari libur dengan keluarganya.
"Ayah cukup geli.......hahaha.....geli.....haha.......ayah" ucap Valeria sambil tertawa karena di gelitik sang ayah.
"Ayah ngak akan lepasin kamu sayang terima hukumannya" ucap Budi dengan semangat.
"Ayo yah terus jangan berhenti gelitik Valeria yah" seru Bagas menyemangati sang ayah.
"Ayah udah Valeria ngak kuat lagi.......hahaha" ucap Valeria tak kuasa menahan geli.
"Mas udah dong kasian kan Valeria ampe nangis gitu" ucap Arinta yang datang sambil membawa minuman dingin.
"Kali ini ayah lepasin kamu sayang" ucap Budi.
Valeria menetralkan napasnya yang ngos-ngosan karena terlalu banyak tertawa. Matanya lalu menangkap sosok Bianca yang sedang menatap mereka dari samping mansion.
"Bianca ayok gabung sama kita" panggil Valeria dengan suara cukup keras.
Bianca kaget mendengar panggilan Valeria, Budi dan lainnya langsung melihat ke arah Bianca yang di panggil. Karena merasa emosi Bianca lalu berbalik masuk ke dalam mansion tanpa menjawab panggilan Valeria.
"Bu kenapa Biancanya pergi?" tanya Valeria dengan polos.
"Ngak usah di pikirin sayang mungkin dia ada urusan" ucap Arinta.
"Tapi" ucap Valeria yang langsung di potong Bagas.
"Udah deh dek ngak usah mikiran anak itu lagi deh" ucap Bagas dengan kesal.
"Kangmas jangan gitu deh kan kasian Bianca mainnya sendiri" ucap Valeria dengan bijak.
"Udah-udah nih minum dulu" ucap Arinta sambil menyodorkan minuman ke mereka.
Budi melihat sang istri memikirkan ucapan Valeria barusan. Arinta menganggukkan kepala seakan tahu maksud tatapan suaminya, mereka akan membicarakannya sebentar saat anak-anak tidak ada.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bianca berlari menuju ke halaman depan mansion karena hatinya sakit melihat pemandangan keluarga itu. Tiba di depan ia yang berlari tak melihat ke depan sehingga menabrak wanita paruh baya yang baru saja turun dari mobil.
Bruugh........
Tubuh Bianca jatuh di tanah karena menabrak wanita paruh baya itu. Putri yang di tabrak langsung menunduk melihat Bianca yang jatuh di tanah.
"Kamu ngak kenapa-napa nak?" tanya Putri dengan suara lembut.
"Aku tidak apa-apa maaf nyonya" ucap Bianca.
"Nyonya besar" ucap bi Susi yang menyambut kedatangan Putri.
Putri menatap bi Susi sambil mengangkat tubuh Bianca. Bianca yang melihat senyuman tulus Putri membuatnya tersenyum dalam hati mendapat sebuah ide.
"Bi ini siapa?" tanya Putri sambil menunjuk Bianca.
"Uhmm.....itu nyonya besar saya tidak tahu nyonya besar"
Putri menatap bi Susi dengan intens seperti menyembunyikan sesuatu. Putri lalu mengajak Bianca untuk masuk ke dalam mansion karena ia penasaran siapa sebenarnya Bianca.
Di dalam mansion Putri duduk bersama dengan Bianca sambil menanyakan siapa namanya. Tak lama Budi sekeluarga muncul dari arah belakang setelah di beritahu bi Susi.
"Eyang putri" ucap Valeria dan Bagas serentak lalu memeluk Putri.
"Cucu kesayangan eyang" ucap Putri membalas pelukan kedua cucunya.
"Ibu" ucap Arinta dan Bagas sambil mencium tangan Putri.
"Kalian apa kabar?" tanya putri.
"Kami baik bu tumben ibu datang ngak ngabarin?" tanya Budi.
"Ibu tadi habis arisan di dekat sini jadi sekalian saja ibu mampir ingin lihat kalian" ucap Putri.
"Gimana kabar ibu sama ayah?" tanya Arinta.
"Ibu sama ayah baik-baik saja" ucap Putri.
"Baguslah bu" ucap Arinta.
"Oh ya, anak ini siapa?" tanya Putri sambil memeluk pundak Bianca.
Deg..........
Arinta menegang dengan pertanyaan sang ibu, ia bingung apa harus berkata jujur atau tidak.
Apa yang harus aku katakan kepada ibu mengenai Bianca, batin Arinta.
Budi memegang tangan Arinta dengan lembut sambil mengangguk kepala mengatakan untuk berbicara jujur. Arinta lalu menarik napasnya dalam karena harus mengatakan yang sebenarnya.
"Anak-anak kalian masuk ke kamar sekarang" ucap Arinta dengan suara tegas.
"Baik bu" ucap Valeria dan Bagas serentak.
Valeria, Bagas, dan Bianca segera masuk ke kamar mereka masing-masing. Melihat ketiga anak kecil itu sudah tidak kelihatan Arinta lalu menatap sang ibu dengan wajah sedih.
"Dia anak mas Budi bu" ucap Arinta.
"Apa maksudmu Arinta?" tanya Putri dengan kaget.
"Dia anak hasil perselingkuhan mas Budi bu" ucap Arinta dengan suara serak menahan tangis.
Plak............
Bunyi tamparan seketika mengema di ruang keluarga. Budi dan Arinta kaget melihat respon sang ibu saat mengetahui siapa sebenarnya Bianca.
"Beraninya kamu Budi" bentaj Putri dengan suara tinggi.
"Maafkan aku bu. Aku salah sudah mengkhianati istri dan anak-anakku" ucap Budi sambil menunduk.
"Ceraikan putriku!" ucap Putri dengan suara tegas.
Duar...........
Bagai di sambar petir tubuh Budi dan Arinta menegang mendengar ucapan sang ibu.
Budi seketika berlutut di depan kaki Putri meminta ampun, air mata Arinta mengalir deras melihat sang suami yang menurunkan egonya di depan sang ibu.
βββββ
To be continue.............
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyak ya guysπβ€