
π»Satu kesalahan bisa menghancurkan semua kebaikanmu selama iniπ»
.
.
.
.
Perlahan-lahan mata indah itu mulai terbuka menandakan ia baru saja bangun. Mata hitam yang tajam tapi teduh mulai melihat ke sekeliling ruangan.
Tak mengenali tempat dimana ia berada saat ini Valeria mulai berpikir sebenarnya ia berada di mana. Ia bangun dan duduk menahan rasa pening yang masih terasa di kepalanya.
Sesaat matanya seakan ingin keluar dari tempatnya mendapati tubuhnya yang polos. Ia lalu melihat ke sekeliling dan mendapati pakaiannya berhamburan di lantai.
"Apa yang terjadi sama gue" ucap Valeria mulai panik.
Valeria mulai mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mengingat kejadian semalam ia hanya ingat dimana ada seseorang yang membekap mulutnya.
"Bagaimana dengan Bianca apa dia baik-baik aja" ucap Valeria dengan khawatir.
Meski saat ini Valeria merasa bingung kenapa ia bisa berada di sini tapi nyatanya ia lebih memikirkan Bianca.
Valeria tak tahu jika orang yang ia khawatirkan ternyata akar dari semua yang ia alami malam tadi.
Valeria lalu mencari hpnya dan ternyata berada di atas meja. Ia mengambilnya dan berniat menghubungi Bianca tapi naas hpnya kehabisan baterai.
"Sial! Mana baterainya habis lagi" ucap Valeria dengan kesal.
Valeria lalu memutuskan kembali ke mansion karena ia yakin satu mansion pasti sedang mencarinya. Apa lagi semalam ia tidak pulang tanpa kabar.
Saat memakai pakaian Valeria sudah berpikir aneh-aneh tentang tubuhnya.
Tapi ia tepis semua itu karena setahunya jika ia sudah melakukan hubungan badan pasti ada bekas darah dan di bagin in*i tubuhnya pasti terasa sakit.
Gue yakin gue ngak kenapa-napa dan gue masih perawan, batin Valeria dengan yakin.
Selesai berpakaian Valeria segera keluar dari kamar hotel dan pergi dari sana. Baru saja Valeria keluar dari hotel bertepatan dengan kedatangan Dion dan anak buahnya.
Mereka lalu masuk ke dalam hotel dan langsung di sambut oleh manajer hotel yang sudah di beritahu. Dion langsung menanyakan perihal Valeria ke manajer hotel Rain.
"Silahkan ikut saya ke ruangan keamanan tuan Dion" ucap Rusli manajer hotel Rain.
"Iya tuan Rusli" ucap Dion dengan suara dingin.
Sampai di ruang keamanan Rusli lalu memerintahkan mereka untuk mengecek cctv. Sesaat mata Dion terbelak kaget melihat Valeria yang baru saja keluar dari hotel ini bertepatan dengan kedatangan mereka.
"Cari nona muda di sekitar hotel" titah Dion.
"Baik tuan" ucap anak buahnya serentak.
"Tuan Rusli apa tidak ada cctv di bagian area depan kamar hotel dan basement?" tanya Dion.
"Maaf tuan tapi hotel ini tidak memiliki cctv di kedua tempat tersebut karena tuan tahu sendiri bagaimana keadaan hotel ini" ucap Rusli.
"Heeemmmm"
Dion lalu mengambil video cctv Valeria saat keluar dari hotel dan menyuruh Rusli menghapus video aslinya.
Bahkan ia juga menyuruh Rusli untuk tak menyebar gosip tentang Valeria jika tidak nyawanya akan melayang.
"Kita ke mansion karena nona muda pasti ke sana" ucap Dion di dalam mobil.
"Baik tuan" ucap sang sopir.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Saat mobil Dion pergi bertepatan dengan Valeria yang baru saja muncul dari arah sebelah. Tadi ia berniat akan langsung pulang tapi melihat seorang nenek yang kesusahan membawa barangnya ia memutuskan membantu nenek tersebut.
"Kemana sih taksi pagi ini" ucap Valeria kesal karena tak ada taksi satu pun yang lewat.
Saat bingung mencari taksi tiba-tiba ada motor sport berwarna hitam berhenti di depannya.
"Ngapain loe pagi-pagi di sini kayak gembel aja?" tanya Rendi sambil membuka helm full face yang ia pakai.
"Ka Rendi" ucap Valeria dengan senang.
"Apa? Pasti loe mikir pangeran yang datang yah" ucap Rendi sambil terkekeh.
"Ngak thu"
"Ngapain loe di sini pagi-pagi? Loe tahu ngak semalam itu nama loe udah terkenal banget kayak artis"
"Maksud ka Rendi?" tanya Valeria dengan bingung.
"Udah naik aja loe. Ntar gue cerita di atas motor"
Valeria tak berkata apa-apa langsung naik ke atas motor Rendi. Entah kenapa perasaannya tidak tenang mendengar ucapan Rendi tadi.
"Maksud ka Rendi tadi itu apa?" tanya Valeria dengan suara agak sedikit kencang.
"Semalam ada yang posting foto loe di web sekolah"
"Foto apaan ka"
"Foto waktu loe di papah om-om ke dalam kamar hotel"
"Apa" ucap Valeria dengan kaget.
"Loe bukan gadis panggilankan Val?" tanya Rendi dengan cepat.
Bugh............
"Aduh Val sakit tahu belakang gue" ucap Rendi sambil menahan sakit karena di pukul Valeria barusan.
"Biarin siapa suruh ngatain gue kayak gitu" ketus Valeria.
"Lah kan gue cuman tanya aja Val"
"Heermmm"
"Semalam itu ada yang posting foto loe di web sekolah katanya loe itu cewek panggilan. Tapi postingan itu udah di hapus dan pihak sekolah udah klarifikasi juga kalau itu bukan loe" papar Rendi.
"Itu bukan gue ka dan sampai kapanpun gue bukan cewek kayak gitu" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Gue juga yakin kalau loe bukan cewek kayak gitu. Tapi sekarang masalahnya gosip itu udah tersebar dengan cepat"
Valeria tak menjawab pertanyaan Rendi dan memikirkan ucapan Rendi barusan. Ia lalu menghubungkan apa yang terjadi semalam dan berita yang baru saja ia dengar dari Rendi.
Kayaknya ada yang menjebak gue, batin Valeria.
~ Mansion Kusumo ~
Budi dan Arinta baru saja tiba di mansion dan bergegas masuk ke dalam.
Bi Susi yang menyapa keduanya langsung tahu jika ada sesuatu yang tidak beres dari raut wajah Budi yang sedang menahan emosi.
"Dimana Valeria?" tanya Budi dengan cepat.
"Maaf tuan tapi nona muda dari semalam belum pulang" ucap bi Susi.
"Apa maksud bibi? Bukannya semalam pak Udin yang jemput Valeria?" tanya Arinta dengan bingung.
"Maaf nyonya tapi semalam pak Udin pulangnya sendiri tidak bersama nona muda" ucap bi Susi.
"Panggil pak Udin ke sini sekarang" bentak Budi.
Semua yang disana kaget mendengar bentakan dari Budi. Arinta yang melihat wajah suaminya sudah merah padam karena menahan emosi juga hanya diam.
Sejak di resort pagi tadi Arinta tak bertanya apa yang terjadi. Ia yakin jika ada sesuatu yang sudah membuat suaminya seperti ini.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Tuan cari saya" ucap pak Udin dengan gugup.
"Mas biar aku yang tanya. Tenangkan diri kamu jangan terlalu emosi" ucap Arinta dengan suara lembut.
"Heeemmm"
"Pak Udin dimana Valeria? Bukannya semalam pak Udin yang jemput Valeria ya?" tanya Arinta.
"Iya betul nyonya. Tapi saat di tengah jalan nona muda minta berhenti di mini market. Setelah itu nona muda nyuruh saya pulang lebih dulu, katanya tuan muda Edo yang akan menjemput nona muda" papar pak Udin menjelaskan.
"Buat apa Edo jemput Valeria?" tanya Arinta dengan penasaran.
"Kata nona muda mereka ingin memberikan surprise ke tuan muda Rafa bersama nona Sandra nyonya" ucap pak Udin.
"Panggil Bianca kesini" ucap Budi.
"Aku di sini ayah" ucap Bianca yang sedari tadi sudah berada di sana sejak kedatangan keduanya.
"Telpon Edo sekarang" ucap Budi.
"Baik ayah" ucap Bianca.
"Pak Udin yakin semalam Valeria pergi dengan Edo?" tanya Arinta.
"Maaf nyonya tapi nona muda nyuruh saya pergi lebih dulu sebelum tuan muda Edo datang" ucap pak Udin.
"Kamu itu saya bayar untuk antar jemput anak saya bukan pergi begitu saja" bentak Budi dengan suara tinggi.
"M...aa..f t..uan" ucap pak Udin dengan gugup.
"Pak Udin boleh pergi" ucap Arinta.
"Baik nyonya" ucap pak Udin lalu beranjak keluar.
Bianca yang melihat kemarahan dan kepanikan di wajah ayah dan ibu tirinya tersenyum smirk. Ia sudah tak sabar melihat kelanjutannya.
"Halo" ucap Edo dengan suara serak dari seberang.
^^^"Halo selamat pagi ka Edo" ucap Bianca dengan suara lembut.^^^
"Ya pagi Bianca. Tumben loe nelpon gue pagi-pagi"
^^^"Uhmm.......maaf ka tapi gue di suruh ayah buat nelpon ka Edo"^^^
"Om Budi" ucap Edo dengan kaget dari seberang.
^^^"Iya ka. Gue cuma mau nanya apa semalam ka Edo jemput Valeria di mini market sama Sandra ngak"^^^
"Loh bukannya Valeria pulang sama pak Udin ya? Kan dia pulang lebih dulu dari kita"
^^^"Oh gitu ya ka. Jadi semalam kakak ngak jemput Valeria sama sekali"^^^
"Ya enggaklah! Semalam gue langsung pulang ke apartemen ngak sama Valeria"
^^^"Kalau gitu makasih ya ka informasinya. Sorry udah ganggu ka Edo pagi-pagi"^^^
"It's okay santai aja"
^^^"Iya ka. Bye"^^^
"Bye cantik"
Bianca langsung mematikan panggilannya sepihak. Budi dan Arinta yang mendengar semua pembicaraan mereka dari awal kaget bukan main.
"Mas dimana Valeria..........hiks hiks..........apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arinta sambil menangis.
Budi langsung memeluk Arinta karena tahu istrinya pasti sangat kepikiran dimana keberadaan anak mereka. Arinta terus menangis meminta penjelasan kepada suaminya tentang Valeria.
"Beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi mas" ucap Arinta.
Budi langsung mengambil hpnya dan menyodorkan ke Arinta. Seketika Arinta kaget bukan main melihat foto Valeria apa lagi saat melihat dres yang di pakai sang anak.
Ia tahu dres itu hanya satu saja di dunia ini karena itu adalah dres buatannya yang di buat khusus untuk Valeria. Arinta menutup mulutnya dan hampir jatuh ke lantai beruntung Budi menangkapnya dengan cepat.
"Ini bohong kan mas........hiks hiks hiks" ucap Arinta dengan tangis pilu.
"Kita tunggu kabar dari Dion ya sayang" ucap Budi.
"Ini pasti bohong mas aku tahu siapa Valeria dan dia ngak mungkin lakuin kayak gitu" ucap Arinta dengan wajah frustasi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tak lama Dion datang sambil membawa map coklat yang barusan ia terima dari satpam di depan. Arinta langsung bangun dan berjalan dengan cepat menuju Dion.
"Dimana Valeria? Dion dimana anakku?" teriak Arinta di depan Dion.
"Arinta tenangkan diri kamu" ucap Budi dengan suara tinggi.
"Katakan dimana anakku........hiks hiks hiks.......katakan semua yang ada di berita itu bohong" ucap Arinta dengan histeris.
Ia tak bisa menerima jika apa yang di berita itu ternyata benar. Apa lagi orang yang di foto itu benar-benar wajah Valeria bahkan **dres**nya pun sama dengan apa yang di pakai Valeria kemarin.
"Tuan" ucap Dion dengan ragu.
"Katakan apa yang terjadi" ucap Budi dengan suara tenang meski dalam hatinya sangat takut.
"Menurut info dari foto itu ternyata nona muda berada di hotel Rain dari semalam. Setelah saya mengecek ke sana ternyata benar tuan nyonya kalau semalam nona muda berada di sana" ucap Dion.
Deg...............
Brugh................
Arinta langsung jatuh di lantai mendengar ucapan Dion. Bahkan Budi berdiri mematung mendengar ucapan Dion yang membenarkan jika semalam Valeria berada di sana.
"Itu ngak mungkin pasti ngak mungkin" ucap Arinta tak menerima ucapan Dion barusan.
"Tuan" ucap Dion yang melihat tatapan kosong di mata tuannya.
"Dion informasi yang kamu bawa salahkan?" tanya Budi dengan raut wajah tak bisa di tebak.
"Semua informasi itu benar tuan" ucap Dion dengan sedih.
Ia tak bisa berbohong jika informasi yang ia dapat salah karena memang itulah kenyataannya. Dion juga sebenarnya tak yakin dengan ini semua tapi itu adalah kenyataan.
Ana yang baru datang dan mendengar semua penjelasan Dion kaget bukan main. Mau tidak percaya tapi bukti yang Dion bawa adalah asli dan bukan bukti palsu.
Aku yakin ada yang jebak nona muda, batin Ana dengan yakin.
"Maaf tuan tapi tadi ada kiriman paket untuk tuan dari satpam" ucap Dion sambil menyodorkan map coklat berukuran sedang.
Budi menerimanya dan melihat tak ada nama pengirim hanya ada namanya yang tertera disana. Karena penasaran Budi langsung membuka map tersebut.
Matanya seketika ingin keluar dari tempatnya melihat foto-foto di dalam map tersebut. Saking terkejutnya foto-foto itu terjatuh dari tangannya ke lantai.
Deg..........
Jantung Arinta, Dion, Ana, bi Susi yang berada di dekat Budi berdetak dengan cepat seakan ingin keluar dari tubuh mereka. Arinta mengambil foto tersebut dan seketika tangisnya pecah.
"Tidak ini tidak mungkin..........hiks hiks.......tidak" teriak Arinta sambil menangis histeris.
Ana dan Dion juga mengambil foto-foto itu dan melihat lebih jelas lagi dan ternyata itu adalah Valeria. Air mata Ana jatuh tak bisa di bendung melihat foto di tangannya.
"Mas ini bukan anak kita kan? Jawab mas!.........hiks hiks hiks" teriak Arinta dengan histeris.
Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan semuanya bercampur jadi satu. Bahkan bi Susi yang melihat foto nona mudanya ikut menangis.
"Ada apa ini" ucap suara yang sangat di kenali mereka semua dari pintu masuk.
Tatapan mata Budi seketika menghitam melihat anaknya yang baru saja datang. Valeria sendiri berdiri dengan bingung melihat mereka semua orang yang sedang menangis.
βββββ
To be continue...........
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€