Love Struggle

Love Struggle
Chapter 47



🌻Jika apa yang kamu pertahankan tidak ada kepastian maka lepaskanlah dari pada hanya membuatmu menjadi orang yang tidak punya pendirian🌻


.


.


.


.


Selesai makan Budi lalu menyuruh Dion untuk kembali ke perusahaan dan menghendel semua kerjaannya. Begitu pula dengan Arinta yang menyuruh Ana untuk kembali ke butik.


"Yang abang anterin ya sebelum kembali ke perusahaan" ucap Dion.


"Tapi arah kita beda bang" ucap Ana dengan bingung.


"Ngak apa-apa yang soalnya kita udah lama ngak jalan bareng lagi. Mumpung ada kesempatan"


"Iya deh Ana ikut abang aja"


"Nah gitu dong yang" ucap Dion dengan semangat.


Keduanya lalu naik ke mobil Budi dan keluar dari halaman rumah sakit. Dion memilih mengantar tunangannya agar mereka bisa mempunyai waktu berduaan.


Sedangkan di dalam ruang rawat Valeria ketiga orang yang sedang duduk di sofa tidak berbicara satu kata pun. Arinta yang memikirkan kondisi Valeria terus melihat ke arah putrinya.


Bianca yang melihat tatapan mata Arinta sedari tadi tertuju kepada Valeria hanya bisa menahan rasa kesal dalam hatinya. Budi sendiri sedang berpikir apakah dia harus memberitahu Bagas atau tidak.


Pasalnya jika Bagas di beritahu otomatis Bagas akan pulang detik ini juga dan pastinya skripsinya akan terhambat. Tetapi jika tidak di beritahu Budi yakin anaknya akan mengamuk.


Aku beritahu atau tidak kedua-duanya punya resiko masing-masing, batin Budi dengan bingung.


"Mas" panggil Arinta tanpa menatap Budi.


Budi yang masih berkelana dengan pemikirannya tidak menyadari jika Arinta sedari tadi memanggilnya. Merasa tak mendapat jawaban dari sang suami Arinta lalu melihat ke arah Budi.


Mas Budi lagi mikirin apa sih ampe segitu, batin Arinta.


Bianca yang juga penasaran kenapa ayahnya hanya diam saja ikut melihat ke arahnya. Ia bingung melihat sang ayah yang seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Mas" ucap Arinta sambil memegang tangan Budi.


Seketika Budi kaget dari lamunannya karena tangannya di pegang oleh sang istri. Ia menatap Arinta dan Bianca dengan kening berkerut karena mereka melihatnya dengan tatapan penasaran.


"Kenapa menatap mas kayak gitu sayang?" tanya Budi.


"Mas yang kenapa? Dari tadi aku panggil mas diam aja" ucap Arinta dengan bingung.


"Uhmm........itu mas sedang memikirkan sesuatu sayang"


"Apa yang mas pikirkan?" tanya Arinta dengan penasaran.


Budi menatap sang istri tanpa menjawab pertanyaannya, ia lalu melirik Bianca yang juga ikut menatapnya. Arinta yang paham maksud lirikan mata sang suami seketika mengerti.


"Bianca mending kamu pulang saja biar ayah dan ibu yang jaga Valeria" ucap Arinta.


"Tapi bu aku juga mau jaga Valeria" ucap Bianca dengan wajah sedih.


"Kamu pulang saja nanti besok pulang sekolah baru kamu kesini lagi"


"Baik bu" ucap Bianca mengiyakan ucapan Arinta.


Bianca lalu pamit kepada keduanya, melihat Bianca yang sudah pergi Arinta langsung berbalik menatap sang suami meminta penjelasan mengenai pertanyaannya tadi.


"Mas lagi mikirin Bagas! Phew" ucap Budi sambil membuang napasnya dengan kasar.


"Kita beritahu saja keadaan Valeria mas. Tapi jangan sampai Bagas tahu kalau alergi Valeria kambuh" ucap Arinta sambil menatap sang putri dengan sedih.


"Bagas pasti tidak akan mudah percaya gitu aja sayang"


"Tapi itu lebih baik dari pada kita sembunyikan hal ini dari Bagas mas"


"Hemmm! Ya sudah kita beritahu Bagas"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Budi memilih mengikuti saran sang istri karena memang itu pilihan yang tepat saat ini. Sebelum mereka menelpon Bagas tiba-tiba keduanya mendengar ringisan dari atas ranjang pasien.


"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Arinta dengan wajah khawatir.


Valeria yang masih merasa sedikit pusing kembali menutup mata menetralkan rasa pusing. Melihat sang anak yang kelihatan kesakitan Arinta segera menekan tombol darurat di atas ranjang Valeria.


Tak lama dokter Suci masuk bersama seorang suster ke dalam ruang rawat Valeria. Melihat Valeria yang sudah sadar ia segera mengecek kondisi tubuh Valeria.


"Apa ada yang sakit nona muda?" tanya dokter Susi.


"Kepala saya pusing dok" ucap Valeria dengan suara lemah.


"Itu karena nona muda baru sadar dan merasakan efek obat di dalam tubuh nona muda. Nanti saya akan suntikan obat pereda pusing biar mengurangi rasa pusing ya" ucap dokter Suai dengan lembut.


"Hemmmm"


"Suci gimana keadaan Valeria ngak ada yang berbahaya kan?" tanya Arinta dengan cemas.


"Nona muda baik-baik saja karena baru sadar jadi ia merasa pusing akibat efek obat tadi" ucap dokter Suci.


"Syukurlah" ucap Arinta dengan lega.


"Kalau begitu aku pergi dulu kalau ada apa-apa hubungi aku ya Arinta" ucap dokter Suci.


"Iya Suci. terima kasih ya"


"Iya sama-sama"


Dokter Suci lalu pergi bersama suster setelah memberi suntikan pereda pusing. Arinta lalu duduk di samping Valeria sambil memegang tangan sang anak.


"Kangmas" ucap Valeria dengan suara lemah.


"Sebentar lagi ayah akan hubungi kangmasmu jadi kamu istirahat ya biar cepat sembuh" ucap Budi dengan suara lembut.


Valeria hanya melihat sang ayah dan ibu dengan tatapan kecewa. Keduanya merasa sedih melihat tatapan sang anak yang terlihat kecewa dengan mereka.


Sejak perdebatan mereka waktu itu hubungan diantara ketiganya bagai ada penghalang. Berulang kali Arinta mencoba mendekati Valeria tapi Valeria terus saja menghindar.


Budi sendiri hubungannya dengan Valeria sudah renggang karena ulah anak kliennya. Ia ingin meminta maaf tapi karena ego yang tinggi membuat Budi tidak mau mengakui kesalahannya.


Budi lalu mengambil hpnya dan menghubungi Bagas. Pada panggilan pertama Bagas tidak mengangkatnya hingga panggilan ke tiga baru di jawab.


"Halo ayah" ucap Bagas dengan suara serak dari seberang.


^^^"Halo son apa kamu baru bangun" ucap Budi karena tahu disana sudah jam 10:00 pagi.^^^


"Iya ayah semalam Bagas bergadang ngerjain skripsi sampai pagi yah"


^^^"Jaga kesehatan kamu di sana son. Ayah dan ibu akan khawatir jika kamu kenapa-napa di sana" ucap Budi dengan suara lembut.^^^


"Iya yah Bagas tahu"


^^^"Hemmmm! Ayah cuma mau ngasih kabar ke kamu mengenai Valeria"^^^


"Ada apa dengan Valeria yah?" tanya Bagas dengan cepat setelah mendengar nama sang adik.


^^^"Ayah alihkan ke panggilan vidoe saja"^^^


"Hemmm"


Budi lalu mengalihkan panggilannya ke panggilan video. Ia berpikir lebih baik Bagas langsung melihat keadaan Valeria dari pada ia akan bertanya lebih banyak.


"Valeria" teriak Bagas kaget melihat Valeria yang terbaring di atas brankar dengan wajah pucat.


^^^"Kangmas........hiks hiks" ucap Valeria dengan lemah sambil menangis.^^^


"Ayah apa yang terjadi sama Valeria yah?" tanya Bagas dengan suara tinggi dari seberang.


Budi melihat Arinta dan menyuruhnya untuk berbicara dengan Bagas. Ia tidak bisa berbicara dengan Bagas karena dua-duanya memiliki sifat tempramental dan mudah marah.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Ibu apa yang terjadi sama Valeria"


^^^"Valeria baru saja di operasi nak"^^^


"Apa? Valeria sakit apa bu? Kenapa harus di operasi segala?" tanya Bagas beruntun dengan panik.


Valeria yang mendengar ucapan kakaknya hanya bisa menangis. Ia lalu memegang tangan Arinta dan berbicara tanpa suara untuk tak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Air mata Arinta jatuh melihat gerakan bibir Valeria entah terbuat dari apa hati anaknya itu. Seakan tahu jika kedua orang tuanya bingung harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Valeria.


"Ibu kenapa nangis? Sebenarnya apa yang terjadi sama Valeria bu?" tanya Bagas dengan tidak sabar.


^^^"Valeria barusan operasi usus buntu nak. Dari pagi adikmu terus kesakitan jadi saat di bawah ke rumah sakit ternyata adikmu memiliki usus buntu nak" papar Arinta berbohong.^^^


Valeria melihat Arinta dan menganggukkan kepalanya mengatakan tidak apa-apa. Melihat hal tersebut Arinta kembali meneteskan air mata.


"Kenapa Valeria bisa mengalami penyakit tersebut bu?" tanya Bagas dengan selidik.


^^^"Kata dokter karena ada infeksi bakteri di usus adikmu sayang"^^^


"Hemmm! Apa operasinya berjalan lancar bu"


^^^"Operasinya berjalan baik dan tinggal menunggu pemulihan saja nak"^^^


"Syukurlah bu" ucap Bagas dengan lega.


Tanpa ia tahu jika ketiga orang yang berada di dalam ruang rawat Valeria sedari tadi menahan rasa gugup. Ketiganya takut jika kebohongan mereka diketahui oleh Bagas.


"Aku akan pulang sekarang bu" ucap Bagas dengan suara tegas.


Valeria dan kedua orang tuanya kaget dengan apa yang baru saja di katakan oleh Bagas. Valeria lalu memberi isyarat kepada Arinta agar ia bisa berbicara dengan Bagas.


^^^"Kangmas" ucap Valeria dengan suara lemah.^^^


"Apa masih sakit dek"


^^^"Udah ngak lagi kangmas"^^^


"Kamu cepat sembuh ya dek kangmas sangat khawatir dengan keadaanmu"


^^^"Aku ngak apa-apa kangmas jadi Valeria mohon kangmas jangan ke sini. Lagian kangmas saat ini lagi sibuk ngurus skripsi"^^^


"Tapi dek"


^^^"Valeria mohon kangmas. Bukannya sebentar lagi kangmas akan balik" pinta Valeria sambil tersenyum manis.^^^


"Huuuhh! Baiklah" ucap Bagas dengan pasrah.


Ketiganya seketika bernapas dengan lega hari itu Bagas menemani Valeria sang adik sampai ia tertidur. Arinta dan Budi sangat bersyukur karena Valeria bisa membujuk Bagas agar tidak datang.


3 Hari kemudian


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan tepat hari ini Valeria sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik.


Valeria sedari tadi menunggu sang ibu yang berjanji akan menjemputnya tapi sudah 2 jam berlalu Arinta belum juga datang menjemputnya.


Karena kecewa Valeria langsung berjalan keluar dari ruang rawat. Beruntung kemarin Sandra yang datang menjenguknya membawa dompet dan hp Valeria.


Saat sampai di lobby tiba-tiba Valeria berbalik ke belakang saat namanya di panggil seseorang dan orang itu adalah Rendi coach sekaligus sahabat kakaknya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Valeria" panggil Rendi.


"Ka Rendi" ucap Valeria saat berbalik ke belakang.


"Loe ngapain disini?" tanya Rendi dengan bingung.


"Gue baru keluar dari rumah sakit ka"


"Apa" teriak Rendi dengan kencang.


"Ihhh........ka Rendi jangan teriak gitu dong buat malu aja" ketus Valeria dengan kesal.


"Memangnya loe sakit apa Val?" tanya Rendi tak menggubris ucapan Valeria barusan.


"Gue usus buntu ka. 3 hari yang lalu baru di operasi dan sekarang udah sembuh jadi gue mau pulang ka"


"Hah! Kok bisa sih"


"Yang namanya penyakit kan kita ngak tahu kapan datangnya ka"


"Hehehe.........benar juga ucapan loe" ucap Rendi sambil terkekeh.


"Heemmm"


"Loe pulang sama siapa?" tanya Rendi sambil melihat sekeliling mencari siapa yang menjemputnya.


"Naik taksi ka"


"Emang ngak ada yang jemput loe?" tanya Rendi dnegan kening berkerut.


"Tadi sih ibu nelpon bakal jemput tapi udah 2 jam gue nunggu ibu ngak datang-datang juga"


" Ya udah gue yang anterin loe pulang. Gue ngak mau loe kenapa-napa di jalan nanti"


"Oke ka"


Rendi lalu mengantar Valeria pulang ke mansion Kusumo. Ia tak mau jika Valeria pulang sendiri dan tidak ada yang menjaganya apa lagi ia baru saja sembuh dari operasi.


~ Mansion Kusumo ~


Selang 40 menit kemudian akhirnya mobil sport Rendi jenis Ferrari warna merah memasuki mansion Kusumo. Satpam yang sudah mengenali Rendi tidak bertanya lagi saat mobil itu tiba di mansion Kusumo.


"Kak makasih ya udah anterin gue pulang" ucap Valeria saat akan membuka pintu mobil.


"Sama-sama Val. Kan loe itu udah gue anggap adik gue jadi jangan pernah sungkan sama gue" ucap Rendi sambil tersenyum manis.


"Iya ka. Kakak mau masuk dulu atau langsung balik"


"Gue langsung balik aja soalnya gue masih harus ke perusahaan bokap dulu"


"Oh iya ka! Hati-hati di jalan ya ka"


"Oke val. Jaga kesehatan loe ya jangan sampai sakit lagi"


"Iya ka"


Rendi lalu melajukan mobilnya pergi dari mansion Kusumo. Melihat mobil Rendi sudah tidak kelihatan lagi Valeria langsung masuk ke dalam mansion.


Saat masuk ke dalam Valeria langsung di peluk bi Susi yang menyambut kedatangannya. Valeria membalas pelukan bi Susi karena sudah mengkhawatirkan dirinya.


"Syukurlah non udah sembuh" ucap bi Susi dengan tulus.


"Makasih ya bi udah nolongin Valeria waktu itu"


"Iya sama-sama non"


Setelah mengobrol bersama dengan bi Susi, Valeria segera pamit pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Ia sudah tak tahan karena selama di rumah sakit ia tidak bisa memanjakan dirinya.


Bianca yang tahu kepulangan Valeria merasa sangat was-was. Ia takut jika Valeria sudah buka mulut tentang siapa yang sudah membuat alergi Valeria kambuh.


"Meski Valeria tahu gue dalangnya tapi dia ngak punya bukti kalau gue dalang di balik ini semua" ucap Bianca.


Bianca yang menguatkan dirinya sendiri di dalam kamar tiba-tiba kaget saat pintu kamarnya di buka dengan kuat. Ia langsung melihat siapa yang sudah masuk ke kamarnya dan itu adalah Valeria.


Tatapan Valeria yang seperti ingin mengulutinya membuat tubuh Bianca gemetar. Tidak ada senyum di wajah Valeria hanya ada tatapan seperti pembunuh berdarah dingin.


Plak..........plak..........plak..........plak........


❄❄❄❄❄


To be continue...........


Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀