
π»Jadilah orang yang selalu bersabar dalam kesusahan dan tetap rendah hati saat berada di kejayaanπ»
.
.
.
.
Setelah berjalan 10 menit akhirnya Valeria menyetop taksi yang datang dari arah depan. Setelah memberi tahu alamat tujuannya sopir taksi segera melajukan mobilnya.
"Terima kasih pak" ucap Valeria sambil memberikan 2 lembar pecahan ratusan.
"Ini kebanyakan neng" ucap sang supir sambil menunjukkan argo taksi yang hanya Rp.85.000.
"Udah pak ambil aja hitung-hitung sebagai rejeki bapak" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Terima kasih banyak neng" ucap sopir taksi dengan senang.
"Sama-sama pak"
Valeria lalu turun dari taksi dan segera masuk ke dalam mansion. Saat melewati satpam tak lupa ia menyapa para satpam yang sedang berjaga dengan ramah.
"Nona muda meski sikapnya tegas tapi sangat ramah ya" ucap Ihsan.
"Iya benar kata kamu" ucap Ari.
"Baru kali ini aku lihat anak orang kaya mau menyapa kita dengan ramah"
"Beda banget sama tuan dan nyonya ya" ucap Ari membandingkan.
"Hemmm! Tapi tuan muda meski tegas tapi ia juga sopan kepada para pelayan. Ya meski ia sangat dingin kepada orang lain selain keluarganya"
"Iya benar kamu"
Keduanya lalu menghentikan pembicaraan tentang majikan mereka. Sedangkan Valeria yang sudah masuk ke dalam mansion langsung di sambut oleh para pelayan.
Ia hanya tersenyum tanpa membalas sapaan para pelayan dan berlalu ke dalam. Sampai di ruang keluarga ia melihat sang ibu yang sedang berbicara serius dengan Bianca.
"Selamat sore bu" ucap Valeria.
"Hemmm" ucap Arinta dengan singkat.
Melihat hal tersebut Valeria menjadi sedih karena sang ibu tidak seperti biasa. Bianca yang melihat hal tersebut tersenyum senang dalam hati.
"Udah pulang Val, bukannya tadi loe pulang lebih dulu ya?" tanya Bianca yang ingin mengompori Arinta.
Sesuai prediksinya Arinta langsung menatap tajam Valeria. Melihat hal tersebut ia yakin kalau Valeria akan kembali di marahi.
"Kelayapan kemana kamu?" tanya Arinta dengan suara dingin.
"Valeria tadi ke tempat biasa saat bersama dengan kangmas" ucap Valeria dengan tatapan datar.
"Ngapain kamu kesana"
"Valeria pergi buat nenangin diri sekalian melepas rindu dengan kangmas" ucap Valeria dengan wajah sendu.
Hati Arinta berdenyut melihat tatapan sedih dari putrinya, ia ingin minta maaf atas kejadian kemarin tapi sang suami melarangnya. Menurut Budi biar itu jadi pelajaran buat Valeria agar tidak berbohong lagi.
Valeria tersenyum getir melihat respon sang ibu yang seakan tidak bersalah. Ia segera berlalu menuju kamarnya karena air matanya ingin tumpah.
Benar saja sampai di dalam kamar Valeria langsung menangis di belakang pintu. Ia sangat sedih mengingat kejadian kemarin di tambah hari ini ia mendapat tatapan dingin dari sang ibu.
"Hiks.........kangmas..........hiks hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis.
Tak lama hpnya berbunyi tanda panggilan masuk. Melihat id pemanggil di layar seketika wajahnya tersenyum cerah.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
^^^"Kangmas" teriak Valeria dengan antusias karena mendapat video call dari Bagas.^^^
"Aduh dek kuping kangmas bisa budek dengar teriakanmu"
^^^"Hehehe........maaf kangmas"^^^
"Dek kamu nangis ya" ucap Bagas setelah melihat wajah sembab Valeria.
^^^"Ini semua karena kangmas"^^^
"Loh kok kangmas sih dek" tanya Bagas dengan bingung dari seberang.
^^^"Valeria kangen kangmas makanya dari semalam nangis terus" ucap Valeria dengan sedih.^^^
"Jangan nangis lagi ya dek kan adek bisa telpon kangmas kapan saja kalau kangen"
^^^"Iya kangmas" ucap Valeria sambil tersenyum manis.^^^
"Nah gitu dong kan cantik adeknya kangmas kalau lagi senyum"
^^^"Kangmas lagi dimana?" tanya Valeria.^^^
"Kangmas lagi di apartemen dek"
^^^"Emang berapa jam perjalanannya kangmas?" tanya Valeria.^^^
"16 jam 15 menit dek. Itupun tadi kangmas landing di bandar udara internasional Heathrow baru lanjut ke kota Oxford"
^^^"Lamanya kangmas"^^^
"Namanya juga ke luar negeri dek jadi ngak ada yang cepat" ucap Bagas sambil terkekeh.
^^^"Iya ya kangmas" ucap Valeria sambil memamerkan giginya.^^^
"Kamu jaga diri selama kangmas ngak ada ya dek"
^^^"Pasti kangmas"^^^
"Kalau ada apa-apa segera hubungi kangmas"
^^^"Siap kangmasku"^^^
"Ya udah kangmas istirahat dulu soalnya besok harus urus pendaftaran kangmas di kampus"
^^^"Kangmas jadi kuliah di Oxford"^^^
"Ya jadilah dek"
^^^"Kangmas milih jurusan bisnis ya"^^^
"Yup benar banget dek, kan habis kuliah kangmas harus bantu ayah di perusahaan dek"
^^^"Hemmm! Kalau begitu kangmas semangat ya disana jaga kesehatan dan jangan lupa makan"^^^
"Pasti adekku sayang"
^^^"Iya kangmas selamat beristirahat"^^^
"Bye dek"
^^^"Bye kangmas"^^^
Valeria segera mematikan panggilannya setelah puas mengobrol bersama Bagas. Ia memilih tidak memberitahu kejadian kemarin karena akan menganggu konsentrasi Bagas di sana.
Ia lalu bangun dan membersihkan tubuhnya. Selesai ia lalu berjalan ke balkon kamarnya melihat pemandangan belakang mansion yang langsung mengarah ke taman bunga.
Phew.......
Valeria membuang napasnya dengan kasar mengingat kejadian kemarin. Otaknya terus berpikir bagaimana mungkin tas dan sepatu yang tidak pernah dia beli ada dalam walk in closet miliknya.
"Siapa yang taruh tas dan sepatu itu ya" ucap Valeria dengan bingung.
Valeria lalu masuk ke dalam mencari tas dan sepatu itu ingin melihat tanggal pembelian. Saat melihat tanggal pembeliannya ia tambah bingung karena setahunya ia tidak kemana-mana hari itu.
"Bukannya waktu itu gue di rumah aja bareng kangmas ya" ucap Valeria mengingat kemana ia pergi di tanggal itu.
Setelah memikirkan semuanya ia mulai menghubungkan kejadian satu dengan kejadian yang lain. Valeria syok karena memikirkan seseorang yang di curigainya.
"Jangan bilang ini semua ulah Bianca" gumam Valeria dengan tidak percaya.
Ia ingat waktu itu hanya Bianca yang keluar, tapi saat pulang Bianca datang sambil menenteng paper bag sedang.
"Kayaknya gue harus selidiki Bianca mulai sekarang" ucap Valeria.
Di lantai bawah setelah menjelaskan tentang desain-desain Bianca yang di buatnya, Arinta lalu mengambil hpnya karena ada pesan masuk.
Bagas Anak Ibu
"Sore bu. Bagas cuman mau bilang tolong jaga Valeria ya bu, soalnya tadi Bagas vc sama adek dia masih terus sedih dengan kepergian Bagas bu"
^^^"Iya nanti ibu lebih perhatikan adekmu sayang, kamu jaga diri di sana ya nak"^^^
"Iya bu"
Arinta lalu menaruh hpnya kembali di atas meja. Ia bisa bernapas dengan lega karena Valeria tidak berbicara apapun mengenai kejadian kemarin.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Kusumo Group ~
Setelah menerima telpon dari sang anak, Budi kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai. Tak lama pintunya di ketuk dan setelah menyuruh masuk Dion segera masuk.
"Maaf tuan ini ada undangan makan malam dari direktur Sanjaya" ucap Dion sambil menyodorkan undangan.
"Hemmmm"
Budi lalu mengambil undangan tersebut dan segera membukanya. Ternyata itu adalah undangan jamuan makan malam dengan tema keluarga yang akan diadakan pada esok malam.
"Jadi harus hadir bersama istri dan anak"
"Benar tuan"
"Bagaimana menurutmu perusahaan mereka"
"Menurut saya perusahaan RS company adalah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan saat ini mereka baru saja membuka salah satu cabang hotel mereka di sini tuan"
"Apa ini sebagai peresmian pembukaan hotel mereka"
"Bisa jadi tuan karena semua pengusaha di kota ini di undang turut menghadiri jamuan makan malam ini tuan"
"Hemmm! Baiklah atur jadwalku besok agar aku bisa pergi ke acara tersebut"
"Baik tuan"
"Jam berapa meeting dengan tuan Rahardian?" tanya Budi.
"30 menit lagi tuan"
"Kita berangkat sekarang"
"Baik tuan"
Budi segera membereskan pekerjaannya dan memakai kembali jas mahalnya. Ia dan Dion segera beranjak menuju ke hotel Hilton tempat berlangsungnya meeting kali ini.
~ Hotel Hilton ~
Karena jarak perusahaannya yang dekat dengan hotel Hilton, tak membutuhkan waktu lama mobil mereka sudah memasuki pelataran hotel hilton.
Dion segera membukakan pintu untuk sang tuan dan segera berdiri di belakang tuannya. Budi turun lalu memperbaiki jas mahalnya setelah itu segera masuk ke dalam hotel hilton.
Keduanya lalu bergegas menuju lantai paling atas yaitu kamar president suit untuk melakukan meeting kali ini. Sampai di atas para penjaga memeriksa keduanya sebelum memasuki kamar milik tuannya.
"Selamat datang tuan Kusumo" ucap Rio tangan kanan Riko Rahardian dengan suara dingin.
"Iya tuan Rio" ucap Budi tak kalah dingin.
Keduanya lalu di persilahkan masuk ke dalam menuju sebuah meja bundar dimana sudah ada Riko Rahardian disana. Saat masuk Budi bisa merasakan aura yang sangat mengintimidasi dari orang di depannya.
"Selamat sore tuan Rahardian" ucap Budi.
"Hemmmm"
Budi yang tahu watak orang di depannya hanya diam dengan tatapan datarnya. Rio lalu mempersilahkan kedua tamu tuannya untuk mengambil bagian di kursi yang sudah di siapkan.
"Jadi tawaran apa yang ingin anda tawarkan ke perusahaan aku tuan Kusumo" ucap Riko dengan suara dingin tak lupa tatapan tajamnya.
"Dion" ucap Budi memberi isyarat.
Dion yang tahu maksud sang tuan segera mengambil proposal yang sudah di siapkan tadi. Ia memberikan proposal itu ke Rio lalu di berikan ke Riko.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Riko membaca proposal itu dengan teliti dan saksama. Ia tersenyum tipis saat membaca proposal itu yang sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak.
"Penawaran yang sangat menguntungkan untuk ke dua belah pihak tuan Kusumo" ucap Riko sambil tersenyum penuh arti.
"Saya melakukan ini demi kemajuan perusahaan saya terlebih ini bukan keuntungan sepihak saja tuan Rahardian"
"Aku suka dengan proposal anda tuan Kusumo"
"Terima kasih atas pujiannya tuan Rahardian"
"Jadi kapan saya bisa melihat bahan mentah batu bara tuan Kusumo"
"Jika anda berkenan anda bisa melihat dari video yang saya bawa, tapi lebih bagusnya anda bisa terjun langsung ke pabriknya tuan Rahardian"
"Perjalanan yang sangat jauh untuk ke pabriknya"
"Benar tuan karena perusahaan kami langsung menyediakan bahan mentahnya di tempat penggalian"
"Berapa nilai harga pasarannya?" tanya Riko.
"2500$ per ons tuan Rahardian" ucap Budi.
"Harga yang fantastik" ucap Riko sambil tersenyum penuh arti.
"Itu harga sesuai pasaran saat ini tuan Rahardian"
"Dengan bahan itu akan mempercantik hotel ku yang baru"
"Apa anda terjun juga ke bisnis perhotelan tuan Rahardian?" tanya Budi.
"Well kalau ada peluang kenapa tidak di ambil"
"Anda seorang yang sangat pekerja keras" puji Budi dengan tulus.
"Hemmmm! Ini untuk kebahagian keluargaku semata"
"Benar tuan. Semua yang kita lakukan saat ini semata-mata untuk kebahagian keluarga kita" ucap Budi sambil tersenyum tipis.
Riko menatap wajah Budi saat mengatakan keluarga, bisa ia lihat dari raut wajah Budi yang berseri-seri saat mengatakan tentang keluarganya.
Setelah berbincang panjang lebar dan menyetujui kerja sama ini mereka lalu berpisah. Budi segera menyuruh Dion untuk menyiapkan kontrak kerja sama agar besok mereka bisa menandatangani kontrak kerja sama sebelum Riko pulang ke Jakarta.
"Pulang ke mansion" ucap Budi.
"Baik tuan" ucap Dion.
Supir segera melajukan mobil menuju ke mansion. Sepanjang jalan Budi hanya memikirkan keluarganya tapi sampai wajah Valeria, ia merasa sagat sedih karena sudah menampar Valeria kemarin.
~ Mansion Kusumo ~
Sampai di mansion Budi segera masuk tak lupa menyuruh Dion untuk pulang. Arinta yang menunggu kepulangan suaminya segera beranjak menyambut Budi.
"Kamu udah pulang mas" ucap Arinta sambil mencium tangan Budi.
"Kamu belum tidur sayang?" tanya Budi sambil mencium kening Arinta.
"Aku nunggu suamiku pulang"
"Iya sayang"
"Apa kamu sudah makan sayang?" tanya Arinta.
"Sudah tadi bersama klien aku di hotel Hilton sayang"
"Perempuan atau laki-laki mas?" tanya Arinta dengan tatapan tajam.
"Laki-laki sayang" ucap Budi sambil tersenyum melihat istrinya yang posesif.
"Ya udah aku siapkan air mandi kamu ya mas"
"Temani mas mandi ya sayang"
"Iya mas" ucap Arinta dengan wajah memerah karena tahu maksud sang suami.
Keduanya lalu menghabiskan waktu di dalam kamar mandi sampai puas. Selesai keduanya lalu segera memakai baju tidur dan berbaring di ranjang.
"Besok kita pergi ke undangan jamuan makan malam klien aku ya sayang"
"Jam berapa mas"
"Jam 19:00 malam nanti beritahu Valeria juga karena ini undangan untuk keluarga"
"Iya mas"
Keduanya lalu segera tidur karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Di dalam kamar Valeria ia yang tak bisa tidur lalu bangun dan mengambil diary dari dalam laci.
Valeria menulis semua kejadian yang di alami dari kemarin hingga hari ini. Air matanya jatuh saat mengingat perbuatan sang ayah dan ibu yang tak memperdulikan tangisannya kemarin.
"Aku sayang ibu, ayah, dan kangmas" ucap Valeria sambil menuliskan kata tersebut di akhir curhatannya.
βββββ
To be continue..........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€