
π»Sebelum memulai rencana kita ada baiknya kita mengucap syukur kepada Allah karena Dialah semua rencana kita terwujudπ»
.
.
.
.
Suasana di mansion Valeria pagi ini sangat berbeda setelah Yorla keluar dari kamar. Semalam mereka tiba dini hari jadi tidak ada pelayan atau penjaga yang melihat kedatangan mereka hanya pak Dev yang tahu kedatangan mereka.
"Selamat pagi tuan muda" ucap pak Dev menyapa Yorla.
"Selamat pagi tuan.." ucap Yorla bingung ingin memanggil pak Dev dengan nama apa.
"Panggil saja pak Dev tuan muda"
"Oh iya pak Dev. Kalau begitu panggil eke Yorla aja jangan tuan muda ya" ucap Yorla dengan suara gemulai.
Pak Dev kaget bukan main mendengar cara bicara Yorla yang ternyata ia adalah waria. Melihat keterjutan pak Dev barusan Yorla sudah bisa menebak jika orang di depannya pasti kaget karena tahu ia adalah waria.
"Uhmm.......maaf tuan muda tapi anda di minta nyonya menemuinya di ruang santai"
"Valeria maksudnya?" tanya Yorla dengan bingung siapa itu nyonya.
"Benar tuan muda kalau begitu silahkan ikut saya"
"Heemmm! Baiklah pak Dev tapi jangan panggil eke tuan muda ya. Orang eke cantik kaya gini masa di panggil tuan muda sih" ucap Yorla dengan kesal.
Pak Dev tak menjawab ucapan Yorla karena ia risih memanggil Yorla dengan sebutan nona muda. Keduanya lalu bergegas menuju ruang santai di mana Valeria sudah menunggu mereka di sana.
"Valeria" ucap Yorla dengan senang.
Bryan yang juga berada di sana kaget saat mendengar cara bicara Yorla yang seperti perempuan. Matanya seakan ingin keluar dari tempatnya melihat sifat Yorla yang seperti perempuan berbeda dengan semalam yang ia lihat.
Dari mana manusia jadi-jadian ini, batin Bryan bergidik ngeri melihat cara bicara dan jalan Yorla.
"Duduk" ucap Valeria dengan suara dingin.
Mendengar suara Valeria yang sangat dingin seketika membuat bulu kuduk Yorla meremang. Baru kali ini ia merasakan aura yang sangat mengintimidasi dari seseorang apa lagi dia adalah orang yang sudah membelinya kemarin.
"Ada ap...a Va...l?" tanya Yorla dengan gugup.
"Gue mau beritahu loe kalau mulai hari ini loe itu jadi saudara angkat gue sama kayak Bryan"
"Bryan siapa?" tanya Yorla dengan bingung.
"Gue" ucap Bryan dengan wajah datar dan dingin.
"Oh my God ganteng banget cowok di depan eke ini. Uuuhhhh....... akhirnya eke bisa berduaan dengan cowok ganteng!!" pekik Yorla dengan histeris melihat wajah Bryan dengan saksama.
Bryan seketika bergidik ngeri dan langsung duduk di dekat Valeria karena takut dengan tatapan Yorla yang seperti predator lapar. Pak Dev yang melihat wajah takut Bryan mengulum senyumnya merasa lucu.
"Jangan ganggu dia karena dia saudara loe otomatis dia kakak loe" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.
"Uhmmm........iya Val" ucap Yorla dengan patuh.
"Gue udah tahu kehidupan loe sampai kemarin dan gue salut dengan kegigihan loe buat bertahan melawan mereka semua"
"Itu semua ngak gampang Val dan eke malah berterima kasih kepada mendiang nenek eke karena udah didik eke cara bertahan hidup di dunia yang penuh kemunafikan ini" papar Yorla dengan wajah sedih.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria tak bertanya lagi karena ia sudah membaca data diri mengenai Yorla dari Ares. Ia tahu perjuangan Yorla setelah kematian kedua orang tuanya bersama sang nenek.
Nenek Yorla terpaksa meminjam uang kepada rentenir yang tak lain adalah manajer kasino Deluxe waktu itu.
Karena tak mampu membayar bunga serta pinjamannya, nenek Yorla akhirnya meninggal karena depresi berat memikirkan utang-utangnya yang semakin hari semakin meningkat.
Setelah kematian sang nenek Yorla yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di bangku SMA di paksa ikut oleh rentenir untuk bekerja padanya.
Semua kerjaan haram pernah di lakukan oleh Yorla baik menjual narkoba, mencuri, menjadi pengantar senjata ilegal, bahkan sampai menjadi babu manajer kasino yang di perlakukan layaknya seperti binatang.
Mengingat semua informasi tentang Yorla membuat Valeria memutuskan untuk menjadikannya saudara angkat. Entah kenapa ada perasaan iba saat membaca informasi mengenai Yorla.
"Sejak kapan loe bisa bahasa Indonesia?" tanya Valeria mengalihkan pembicaraan.
"Sejak kecil. Soalnya mama eke orang asli Indonesia dari Medan" ucap Yorla.
"Hemmmm! Karena loe udah tamat SMA jadi gue mutusin loe ikut kuliah bareng kita di London"
"Hah! Yang benar loe?" tanya Yorla dengan kaget.
"Hemmm! Loe bisa kembangkan bakat loe disana"
"Ahhhh........terima kasih Valeria. Loe emang sister eke yang paling the best deh" ucap Yorla sambil berjingkrak-jingkrak.
"Bryan gue serahin Yorla ke loe. Latih dia sebelum kita berangkat" ucap Valeria dengan tatapan tajam.
"Hah! Kenapa musti gue sih Val? Gue ngak mau!" tolak Bryan dengan cepat.
"Gue ngak perduli loe mau atau ngak yang penting loe lakuin apa yang gue mau" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Oke Val" ucap Bryan dengan patuh.
Yorla melihat keduanya dengan kening berkerut tak tahu apa yang mereka bicarakan. Ia hanya sepintas saja mendengar namanya di sebut tapi tak tahu maksud pembicaraan keduanya.
Valeria lalu beranjak pergi meninggalkan Bryan dan Yorla, Bryan melihat Yorla dengan risih karena sedari tadi Yorla terus mengedipkan matanya menggoda Bryan.
"Perhatikan tingkah loe itu dihadapan gue. Jangan sampai gue congkel mata loe;" bentak Bryan.
"Sensi banget sih bang" cibir Yorla sambil terkekeh.
"Siapkan diri loe 1 jam lagi kita berangkat"
"Kemana?" tanya Yorla dengan penasaran.
"Ke tempat khusus neraka buat loe" ucap Bryan sambil terkekeh.
Glek.........
Yorla menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Bryan, entah kenapa ia merasa jika saat ini Bryan tengah memberitahunya bahwa kegiatan yang akan ia lakukan sangat sulit dan berat.
Yorla loe pasti bisa hadapi ini semua, batin Yorla menyemangati dirinya sendiri.
~ Markas Valeria ~
Kedatangan Bryan dan Yorla langsung menyita semua perhatian anak buah Valeria. Tak terkecuali Raksa yang sedang berbicara dengan Wono mengenai pengawal yang di minta tambah oleh Valeria untuk seseorang.
"Apa dia yang bakal dapat pengawal tambahan?" tanya Raksa.
"Sepertinya! Loe ngerasa ngak kalau cara jalan dia kayak gimana gitu" ucap Wono yang sedari tadi memperhatikan cara jalan Yorla.
"Jangan bilang dia" ucap Raksa dengan mata melotot.
"Waria" ucap Wono dengan kaget.
Keduanya seketika berdiri menegang melihat Yorla dan Bryan yang semakin mendekat ke arah mereka. Bryan melihat kedua temannya dengan bingung karena mereka sepertinya takut akan sesuatu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Loe berdua kenapa?" tanya Bryan setelah tiba di depan keduanya.
"Bocah di samping loe bukan laki-laki jadian kan" ucap Wono yang merasa risih dengan tatapan Yorla yang nakal.
"Hay ganteng kenalin eke Yorla" ucap Yorla dengan suara menggoda.
"Oh ****" ucap keduanya dengan serentak.
Ternyata pemikiran mereka sedari tadi benar kalau Yorla itu seorang banci. Raksa dan Wono seketika berdiri agak menjauh dari Yorla karena keduanya sangat tahu sifat seorang banci yang melihat laki-laki tampan.
"Loe berdua kenapa sih" ucap Bryan dengan kesal melihat Raksa dan Wono yang menjauh darinya.
"Gue normal bocah dan gue tahu gimana sifat waria kalau ketemu cowok tampan seperti gue" ucap Raksa dengan percaya diri.
"Ckk! Yorla ngak akan ngapa-ngapain loe kalau loe ngak lebih dulu apain dia" decak Bryan dengan ketus.
"Loe kesini mau ngapain?" tanya Wono mengalihkan pembicaraan.
"Mau rubah dia jadi laki-laki tulen" ucap Bryan dengan malas.
"Eitts!! Jangan coba-coba ya brother merubah tubuh eke yang aduhai ini jadi papan tripleks kayak you pada!" ucap Yorla dengan ketus.
"Diam loe mending siapin diri loe ikut gue"" ucap Bryan dengan ketus.
Keduanya segera menuju ruangan latihan untuk berlatih sampai di sana Yorla kaget bukan main karena ia di suruh berlatih bela diri.
Hari ini menjadi hari yang paling menyusahkan buat Bryan karena memberi Yorla pelatihan dengan kesal.
Yorla terus mengeluh dan mengeluh saat di ajar oleh Bryan. Ia sampai membuat Bryan harus ekstra sabar mengajarinya, Valeria yang melihat latihan keduanya
bisa menebak jika Yorla tidak bisa belajar diri .
Menjelang sore Bryan yang sudah selesai melatih Yorla sedang duduk di ruang kumpul bersama dengan Raksa, Agung, Wono, Rehan, Andre, dan Yorla.
Tiba-tiba anak buah Raksa mengabari jika Valeria baru saja datang.
"Kemana loe?" tanya wono.
"Jemput master di depan" ucap Raksa beranjak pergi.
Mendengar ucapan Raksa semuanya langsung bergegas menuju ke depan menemui Valeria. Sampai di sana mereka kaget melihat Valeria berjalan dengan seseorang dengan tubuh sekitar 189 cm dan tubuh kekar.
"Uhhhhh.......rahim eke bergetar lihat bening kayak gitu" ucap Yorla dengan alay.
"Dasar bencong gatel" cibir Wono dengan suara pelan.
"Siapa itu yang bersama master" ucap Rehan penasaran.
"Sepertinya dia orang yang akan bertanggung jawab selama master pergi" ucap Agung yang mengingat ucapan Valeria waktu itu.
"Dia kayaknya bule kayak loe bocah" ucap Wono.
"Heemmm" deham Bryan.
Saat Valeria sampai di depan mereka semuanya langsung memberi salam dan hormat kepada Valeria. Valeria lalu menyuruh Raksa untuk mengumpulkan semua anggotanya di aula.
"Val dia siapa?" tanya Bryan.
"Sebentar loe bakal tahu" jawab Valeria dengan suara dingin.
Bryan tak bertanya lagi dan segera menuju ke aula bersama Valeria dan lainnya. Sampai di sana Valeria duduk di kursi kebesarannya di temani oleh Ares, Bryan, dan Yorla.
"Master semuanya sudah berada di sini" ucap Agung.
"Heeemmm"
Valeria melihat wajah satu persatu anak buahnya yang sudah bertambah jumlahnya dari sebelumnya. Semua anak buah Valeria berdiri dengan gugup merasakan aura yang sangat dingin di seluruh ruangan tersebut.
"Ares arah jam 3" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.
Dor.........dor..........dor........dor.......
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
4 Tembakan tepat di kepala 4 anak buah Valeria mengagetkan semuanya yang di sana. Ares sendiri berdiri dengan santai sambil memegang pistol jenis desert eagle miliknya dengan acuh seakan tak terjadi apapun.
"Kenali dulu lawanmu sebelum berkhianat" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Maaf master tapi apa yang terjadi" ucap Rehan merasa bingung karena 4 anak buahnya di tembak.
"Beraninya mereka ingin membunuh ku demi 50.000$" ucap Valeria dengan sinis.
(50.000$ setara dengan Rp.722.477.500)
"Apa" ucap semuanya dengan kaget.
"Agung periksa kembali anak buah kita jika ada yang janggal singkirkan semuanya!" bentak Valeria.
"Baik master" ucap Agung.
"Ares perkenalkan diri loe"
Ares berdiri dengan tegap sambil melepas kaca mata hitamnya yang sedari tadi bertengger di hidung mancungnya. Seketika semuanya kaget melihat wajah dingin dan menyeramkan milik Ares apa lagi matanya yang berwarna merah.
"Apa dia iblis kenapa matanya berwarna merah" ucap Raksa dengan kaget.
"Ganteng sih tapi seperti iblis" ucap Yorla mendadak takut melihat wajah keseluruhan Ares.
"Nama saya Ares tanpa nama belakang dan saya hanya mematuhi perintah dari nyonya tidak ada yang lain" ucap Ares dengan singkat dan padat.
Semuanya diam tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Ares yang sangat mirip dengan Valeria. Apa lagi wajahnya yang datar tanpa ekspresi apapun yang tak bisa ditebak oleh siapa saja.
"Urusan markas dan mansion selama gue pergi bakal di urus oleh Agung dan selanjutnya ke Ares karena dia adalah orang kepercayaan gue" ucap Valeria dengan suara dingin dan tatapan tajam.
"Baik master" ucap semuanya dengan serentak.
"Kalian boleh bubar"
"Baik master"
Semua anak buah Valeria segera kembali ke posisi mereka masing-masing meninggalkan Valeria dan kepala tim kelompok markas. Setelah itu Valeria pergi bersama Ares menuju ruangan pribadinya yang hanya bisa di masuki oleh Valeria.
1 Bulan Kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan hari ini adalah hari keberangkatan Valeria, Bryan, Riki, dan Yorla ke London. Keempatnya akan melanjutkan kuliah di London tepatnya di Oxford tempat kuliah Bagas dulu.
Saat ini semua persiapan keberangkatan mereka sudah selesai dan sebentar lagi mereka akan bergegas menuju bandara. Ares yang bertugas mengawasi semuanya di Indonesia turut mengantar Valeria dan lainnya ke bandara.
"Ares loe tahu apa yang musti loe lakuin selama gue ngak ada kan" ucap Valeria di ruang kerjanya.
"Ya nyonya saya tahu"
"Awasi semuanya jangan sampai ada kesalahan"
"Baik nyonya"
Setelah itu keduanya segera turun dan masuk ke limousine yang akan mengantar mereka ke bandara. Sepanjang jalan menuju bandara semuanya diam dengan pemikiran masing-masing.
Riki duduk dengan matanya bengkak karena tadi menangis bersama ibu dan adiknya. Sedangkan Bryan sibuk dengan pemikirannya mengingat sang ibu yang masih di Italia dan belum pernah bertemu sejak ia di usir.
Bryan janji bakal jemput ibu suatu hari nanti, batin Bryan penuh tekad.
βββββ
To be continue............
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€