
π»Kadang kita hanya bisa merasakan tapi kita tidak bisa menjelaskan apa yang saat ini kita rasakanπ»
.
.
.
.
"Dek" lirih Bagas dengan tatapan penuh kerinduan.
Bagas melepas genggaman di pinggang istrinya dan berjalan dengan langkah lebar menuju Valeria dan Thomas yang berdiri di depan sana.
"Dek" panggilnya lagi sudah tak sabar ingin memeluk adiknya.
"Stop right there" (berhenti disitu) pekik Thomas menggelegar saat jarak Bagas dan mereka tinggal selangkah lagi.
"Apa maksud kamu Thomas?" tanya Bagas dengan bingung.
"Tidak boleh ada laki-laki lain yang boleh memeluk istriku selain aku" ucap Thomas dengan lantang.
Hah.............
Rahang Bagas seakan ingin lepas dari tempatnya mendengar ucapan Thomas barusan. Begitu pula dengan kedua orang tuanya dan istrinya yang masih berdiri di belakang sana.
"Apa kamu gila? Dia itu adik kandungku sendiri! ADIK KANDUNGKU!" hardik Bagas dengan menekan ucapannya di bagian akhir.
"Aku tidak perduli. Karena tetap kamu itu laki-laki" jawab Thomas dengan santai sambil menatap Bagas dengan sinis.
"Kamu itu keterlaluan Thomas. Dia adikku sendiri dan aku bukan orang lain" pekik Bagas dengan kesal.
"Honey" ucap Valeria menengahi keduanya sambil menatap suaminya dengan sendu.
"3 menit tidak lebih" ketus Thomas dengan gusar karena tak bisa melihat wajah sendu istrinya.
"Hei apa-apaan itu. Itu kurang" protes Bagas.
"3 menit atau tidak sama sekali" ucap Thomas dengan tegas tak mau dibantah.
"Cih!" decih Bagas.
Bagas segera memeluk adiknya dengan erat melepas kerinduannya ke Valeria sejak pertemuan mereka terakhir waktu di Indonesia.
Ibu merindukanmu nak, batin Arinta dengan sedih melihat keduanya berpelukan.
Maafkan ayah Valeria. Ayah sangat berdosa kepadamu nak, batin Budi dengan perasaan hancur.
"Waktunya habis" ucap Thomas memisahkan keduanya.
"Posesif" ketus Bagas menatap Thomas dengan sinis.
Thomas tak memperdulikan ucapan kakak iparnya karena memang apa yang dibilang Bagas benar adanya dia sekarang sangat posesif kepada istrinya.
"Dek apa mereka boleh menyapamu?" tanya Bagas hati-hati karena takut Valeria tak suka.
"Heeemmm"
Bagas menghela napas dengan lega mendengar jawaban sang adik, ia berbalik ke belakang dan tersenyum sambil mengangguk kepala untuk mendekat.
"Dek kenalin ini istri kangmas" ucap Bagas memegang tangan istri.
"Hay salam kenal. Aku Camelia istrinya mas Bagas" ucap Camelia dengan gugup sambil menunduk.
"Tatap lawan loe kalau lagi bicara" ucap Valeria dengan suara tegas.
Deg...............
Jantung Camelia berdetak dengan cepat mendengar suara Valeria yang terdengar seperti seorang jendral tentara yang sedang berbicara dengan tegas dan lantang.
"Maa...f" cicit Camelia dengan takut tapi ia memberanikan diri menatap Valeria meski hanya sesaat.
"Ckk! Lemah" ejek Valeria.
"Dek" ucap Bagas menggelengkan kepalanya untuk tak berkata kasar ke istrinya.
"Selamat datang tuan dan nyonya Kusumo. Semoga kalian betah di rumah sederhanaku" ucap Valeria sambil tersenyum menyeringai.
Deg.............
Jantung Budi dan Arinta seperti di pukul hamar mendengar ucapan putrinya yang memanggil mereka dengan sebutan tuan dan nyonya.
Camelia sendiri bingung melihat interaksi mereka karena yang ia tahu Valeria adalah adik kandung suaminya yang berarti anak kedua mertuanya, tapi kenapa Valeria memanggil mereka dengan sebutan tuan dan nyonya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Dek" lirih Bagas meminta untuk tak memulai perdebatan lagi.
"Kita ke ruang santai. Istriku tidak boleh terlalu capek" ucap Thomas menengahi mereka saat melihat suasana semakin panas.
Mereka lalu berjalan menuju ruang santai di belakang kastil yang langsung di suguhi pemandangan taman bunga milik Valeria.
Camelia yang baru pertama kali melihat bunga baby breath berwarna biru sebanyak ini menatapnya dengan kagum.
"Indah banget" gumam Camelia dengan suara pelan.
Mereka berenam duduk di sofa dengan santai meski tak ada satupun yang berbicara. Sedangkan Arinta sedari tadi melirik putrinya dengan penuh kerinduan dan penyesalan yang amat besar dalam hatinya.
Valeria tahu jika sedari tadi ia di perhatikan tapi ia acuh saja. Ia puas karena sudah membalas kedua mantan orang tuanya hancur hingga sedalam-dalamnya.
"Nyonya" ucap Ares dengan suara dingin sambil mengangguk kepala.
Apa dia setan, batin Camelia tersentak kaget menatap mata Ares yang baru saja muncul.
"Dia manusia bukan setan" ucap Valeria sambil terkekeh menatap Camelia.
Dia cenayang atau apa bisa baca pikiran gue, batin Camelia dengan kaget.
"Sebagai informasi gue juga bukan cenayang. Tapi semua terlihat jelas di wajah loe" ucap Valeria dengan tatapan mengejek.
Ehhh...........
Camelia yang polos sedari dulu dengan reflek memegang wajahnya membuat Bagas menepuk keningnya melihat kelakuan sang istri yang terlalu polos untuk dibodohi.
"Ckk! Kamu itu pembual profesional honey" bisik Thomas yang tahu kalau istrinya bisa membaca pikiran orang lain.
"Malam ini kamu tidur diluar" ketus Valeria dengan tatapan tajam.
"Apa! Jangan bercanda honey" pekik Thomas mengagetkan mereka semua.
"Well. Aku tidak bercanda honey dan ucapanku tadi tidak main-main" ucap Valeria dengan tegas.
"Aarrgghhh........aku tidak mau honey" teriak Thomas merengek manja.
Bagas tercengang melihat sifat Thomas yang tak sesuai dengan wajah sangarnya. Ia saat ini terlihat seperti anjing anak yang sangat mengemaskan.
"Ares" panggil Valeria.
"Jangan coba-coba mendekat berengsek" hardik Thomas dengan tatapan tajam.
Bagas menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Thomas yang berubah dengan cepat. Tadi ia seperti anak anjing yang sangat manis tapi sekarang ia seperti singa jantan yang kelaparan.
"Malam ini jangan biarkan suamiku masuk ke dalam kastil"
"Baik nyonya"
"Honey" pekik Thomas dengan merajuk.
"Kamu tidur di gazebo sana honey atau di hutan sana juga boleh" ucap Valeria dengan santai.
Thomas terus membujuk Valeria tapi sama sekali tak di pedulikannya. Dan mau tak mau malam ini dia harus tidur di luar karena membuat istrinya kesal.
~ Mansion Aiden ~
Alin senang bukan main saat menerima email balasan dari VA Corp yang ingin mendengarkan penjelasan proposal mereka secara langsung.
Meski syaratnya harus Vanesa sendiri yang mempresentasikan proposal tersebut tapi itu tidak masalah yang penting mereka sudah bisa bekerja sama dengan VA Corp.
"Iya mommy. Vanesa akan melakukan dengan sebaik mungkin" ucap Vanesa dengan percaya diri.
"Bagus. Besok pagi kamu berangkat ke sana bersama Jeslyn"
"Iya mommy"
"Jeslyn ingat kamu harus selalu pantau Vanesa"
"Perhatikan dia agar tidak mengacaukan semuanya selama disana" ucap Alin menatap Jeslyn dengan tajam.
"Baik nyonya" jawab Jeslyn.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Satu lagi. Ingat kamu itu sudah dibiayai mertuaku sedari kecil jadi jangan pernah mimpi untuk mengkhianati keluargaku" hardik Alin.
"Saya cukup tahu diri nyonya"
"Bagus manusia rendahan kayak kamu sudah sepantasnya tahu posisi dimana kamu berada" ejek Alin.
"Mommy cukup. Jeslyn itu juga manusia tidak sepantasnya mommy bicara seperti itu!" bentak Vanesa.
"Yah kamu bela aja terus manusia miskin itu seperti kakek sialanmu itu"
"MOMMY" teriak Vanesa menggelegar.
"Berani kamu berteriak di depan mommy" hardik Alin dengan emosi.
"Nona cukup saya tidak apa-apa" ucap Jeslyn menengahi keduanya.
"Ya aku berani mommy karena mommy itu salah" ucap Vanesa dengan tatapan tajam.
Plak................
Jeslyn menutup mulut melihat Vanesa yang di tampar Alin. Vanesa sendiri menatap mommynya dengan tatapan tajam tak takut sedikit pun.
"Sekali lagi kamu berteriak di depan mommy jangan salahkan mommy membuat daddy kamu meninggalkan dunia ini dengan cepat" ancam Alin.
"Mommy keterlaluan" hardik Vanesa dengan emosi.
"Ingat mommy tidak main-main dengan ucapan mommy"
"Jeslyn bawa keluar anak kurang ajar ini dan persiapkan semuanya untuk keberangkatan kalian besok" hardik Alin menunjuk keduanya.
"Baik nyonya"
Jeslyn menuntun Vanesa keluar dari ruang kerja Seno menuju kamarnya yang berada paling ujung. Vanesa selalu saja tidak bisa membantah ucapan sang mommy karena selalu diancam seperti tadi.
"Nona baik-baik saja?" tanya Jeslyn dengan cemas.
"Maafkan mommy ka Jeslyn........hiks hiks hiks" ucap Vanesa sambil menangis.
"Iya nona. Saya sudah biasa jadi nona jangan terlalu memikirkan hal itu" ucap Jeslyn sambil tersenyum manis.
Meski dalam hatinya sangat sakit mendengar makian dan ejekan Alin sedari dulu yang selalu menghinanya dan keluarganya.
Ceklek.............
"Kakak baik-baik saja kan?" tanya Niko adiknya yang masuk ke kamar sang kakak setelah mendengar ucapan para pelayan tadi.
"Kakak baik-baik saja dek" ucap Vanesa sambil tersenyum manis.
"Apa ini sakit ka?" tanya Niko sambil menunjuk pipi bekas tamparan Alin.
"Tidak Niko, sakitnya seperti di gigit semut"
Niko tahu kakaknya berbohong di depannya tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membela kakaknya.
Setelah memberi obat memar di pipi Vanesa, Jeslyn segera pamit keluar untuk menyiapkan proposal dan barangnya buat besok pagi.
"Niko besok kakak akan ke Dubai untuk mempresentasikan proposal kerja sama perusahaan kita dengan VA Corp" ucap Vanesa dengan serius.
"Jadi kakak mohon selama kakak pergi tolong jaga daddy ya" pinta Vanesa lagi.
"Iya ka serahin semua ke Niko. Kakak pergi saja dan jangan mikirin Niko dan daddy disini"
"Baiklah. Kakak sayang sama kamu"
"Iya ka"
Niko segera keluar dari kamar kakak keduanya menuju kamarnya. Tak berselang lama pintu kamarnya kembali dibuka dengan kencang.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Selina dengan cemas.
"Aku baik ka" ucap Vanesa dengan senyum manis.
"Oh baguslah" ketus Selina.
Ia berbalik pergi dari kamar Vanesa, melihat hal itu Vanesa tersenyum manis karena dia tahu kakaknya itu selalu mengkhawatirkan mereka semua meski sifatnya sangat nakal di luar sana.
Aku akan membuat mommy membayar semua kesalahannya selama ini, batin Vanesa penuh tekat.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Kastil Valeria ~
Valeria menangis dalam diam di kamarnya membaca surat eyang putri yang masih ia simpan selama ini. Tak lama ia pergi ke walk in closet menempel tangan di potretnya sebagai seorang The Queen of Blood.
Ceklek...........
Foto itu bergeser dan memunculkan lift, Valeria masuk dan langsung melakukan scan retina, sidik jari, dan detak jantung. Setelah melewati proses scanning telunjuknya di tusuk jarum sehingga keluar darah.
Valeria menempelkan telunjuknya yang berdarah di monitor samping dan tak lama berbunyi klik memunculkan tombol lift.
"Selamat datang Queen" ucap suara laki-laki.
Valeria tak mengatakan apa-apa dan tak lama lift tersebut bergerak ke atas melainkan turun ke bawah membawanya menuju ruangan tersembunyi disana.
Ting..............
Valeria keluar dari lift menuju ruangan mewah disana dimana di dalam sana berjejer emas batangan yang menggunung tak tahu jumlahnya berapa banyak.
Ternyata itu adalah brangkas kekayaan Valeria selama ini yang tak ada satu orang pun yang tahu, bahkan uangnya bersusun berjejer disana seperti gunung saking banyaknya.
Ada juga lemari besar dimana itu adalah server utama yang ia bangun sendiri untuk semua perusahaan dan urusan markas.
"Apa ada masalah serius Res?" tanya Valeria menuju kursi kebesarannya.
"Semuanya aman Queen"
"Tunjukkan cctv di kamar kedua orang itu"
"Baik Queen"
Valeria menatap layar di depannya yang menampilkan cctv di kamar kedua mantan orang tuanya. Air matanya jatuh melihat keduanya yang menangis membicarakannya.
"Matikan" ucap Valeria dengan napas sesak.
Ya tanpa orang lain tahu selama ini Valeria sangat merindukan keduanya meski ia juga sangat membenci mereka.
Entah kenapa hatinya selalu sakit saat melihat keduanya terpuruk karena kesalahan mereka sendiri. Bahkan seperti tadi meski ia senang melihat keduanya hancur tapi tidak ada rasa puas setelah menorehkan luka di hati mereka.
"Apa gue harus maafin mereka" gumam Valeria dengan penuh tanda tanya.
"Dimana suami gue?" tanya Valeria dengan cepat yang membutuhkan Thomas saat ini.
"Di rumah danau di tengah hutan Queen"
Valeria bergegas keluar dari sana dengan langkah cepat segera naik ke lift untuk menemui suaminya yang berada di rumah danau di tengah hutan dekat danau buatan.
Pikirannya saat ini hanya butuh pelukan sang suami dan menceritakan semua kegundahan dalam hatinya.
βββββ
To be continue..............