Love Struggle

Love Struggle
Chapter 15



🌻Kadang hal buruk yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah petunjuk agar kita bisa hidup lebih baik lagi🌻


.


.


.


.


Wina duduk dengan tatapan kosong dan syok. Bagaimana tidak baru kali ini ia di tampar oleh sang mertua di depan semua keluarga besar Winata.


Muka Arya memerah menahan emosinya agar tidak kelepasan lagi. Putri yang melihat hal tersebut mengelus dada sang suami agar tidak emosi lagi, bukan hanya Arya tapi semua yang berada di sana menatap Wina dengan emosi.


"Lusa semuanya harus hadir tepat waktu dan untuk Bagas itu pengecualian" ucap Arya dengan tegas.


Arya lalu beranjak pergi sebelum mendengar balasan dari keluarga besarnya. Putri menyuruh Aji untuk menghendel sisa pertemuan yang sudah kacau balau.


Aji mengangguk kepala sebagai jawaban kepada sang ibu, ia segera pamit untuk menyusul sang suami yang saat ini sedang emosi. Wina hanya menunduk tidak berani menatap semuanya.


"Seperti yang ayah barusan bilang lusa kita harus hadir tepat waktu dan maaf karena kejadian barusan pertemuan ini kita sudahi sampai di sini saja" ucap Aji dengan penuh wibawa.


"Heemmm! Baiklah tapi tante minta urus istrimu itu" ucap tante Iren dengan decak kesal.


"Iya tante dan untuk semuanya maafkan sikap istriku" ucap Aji dengan suara tegas.


"Iya raden" ucap semuanya serentak.


Semuanya lalu serentak berdiri dan pulang ke rumah masing-masing. Natalia sang adik menghampiri Aji dan menepuk bahu kakaknya dengan pelan sambil berbisik.


"Jangan terlalu keras sama mbak Wina kangmas" bisik Natalia dengan suara pelan.


"Iya dek" ucap Aji.


Aji yang melihat semuanya sudah pergi segera menarik istrinya ke dalam kamar. Sampai di kamar ia menatap Wina dengan tatapan tajam seakan ingin membunuhnya.


"Puas kamu sudah permalukan suamimu ini di depan umum" bentak Aji dengan suara tinggi.


"M...aaf ma...s" ucap Wina dengan gugup.


"Kamu tahu semua kegiatan ini bisa berjalan karena campur tangan Budi"


"M....aafkan aku mas........hiks hiks hiks" ucap Wina yang sudah berderai air mata.


Aji mengusap wajahnya dengan kasar melihat sang istri yang menangis. Ia memang sangat emosi tapi ia tidak bisa melihat wanita yang dicintainya menangis seperti saat ini.


Grep........


Aji menarik Wina ke dalam pelukannya dan mengelus kepalanya dengan lembut. Wina menangis di dada suaminya karena bagaimana pun ia sangat takut di bentak oleh suaminya itu.


"Maaf sayang tadi mas sangat emosi"


"Hiks hiks..........aku minta maaf mas..........hiks"


"Tanpa Budi kegiatan ini tidak bisa terlaksan karena Budi yang memberikan dana untuk kegiatan ini sayang"


"Maaf mas aku tidak tahu"


"Hemmm! Jngan mencari masalah dengan Arinta dan suaminya karena ayah pasti akan marah seperti tadi"


"Iya mas"


Aji memeluk istrinya dangan lembut dan menenangkan Wina yang masih menangis sesegukan. Berbeda dengan di kamar Aji di dalam kamar Putri ia harus mendengar semua umpatan suaminya itu.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Cih! Dasar menantu sialan dia pikir dia siapa!" maki Arya dengan emosi.


"Udah dong mas tenangkan diri kamu"


"Aku itu rasanya pengen nampar mantu kita itu bu" ucap Arya dengan berapi-api.


Putri hanya diam saja mendengarkan semua umpatan suaminya. Putri membiarkan suaminya mengeluarkan semua emosinya saat ini setelah itu barulah ia bicara.


"Udah puas marahnya mas?" tanya Putri setelah Arya menjatuhkan diri di sofa.


"Hemmmm"


"Aku tahu mas sangat emosi tapi tenangkan diri kamu mas. Lagian ngak enak sama keluarga besar kita melihat seorang pemimpin keraton marah di depan umum"


"Ya ayah emosi bu" ucap Arya sambil menatap sang istri dengan santai.


"Hemmm! Lain kali tahan emosimu mas" ucap Putri sambil menggelengkan kepalanya.


"Besok coba ngomong sama Arinta dan Budi, biar bagaimanapun mereka harus ikut acara ini"


"Nanti besok baru aku hubungi Arinta mas"


"Yaudah ayok kita tidur"


"Iya mas"


~ Mansion Kusumo ~


Rian mengantar Valeria pulang sudah sampai di mansion. Valeria turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada Rian karena sudah mengantarnya pulang.


"Hati-hati ya Rian"


"Heeemmm! Gue balik dulu ya" ucap Rian dengan suara lembut.


"Iya"


Rian segera melajukan mobilnya dari mansion Valeria, saat sampai di pintu gerbang ia berpapasan dengan mobil Budi yang baru saja pulang dari keraton.


Valeria yang melihat kedatangan sang ayah lalu menunggu di depan pintu mansion. Dion lalu turun dan membuka pintu untuk kedua majikan.


"Malam ayah, ibu" ucap Valeria dengan senyum manis.


"Kamu baru pulang sayang?" tanya Arinta menghampiri sang anak.


"Iya bu"


"Diantar sama siapa sayang?" tanya Budi sambil memeluk pinggang Arinta.


"Sama teman Valeria ayah namanya Rian" ucap Valeria.


"Loh bukannya tadi ibu nyuruh kamu diantar jemput sama kangmasmu?" tanya Arinta dengan bingung.


"Kangmas ngak tahu kemana bu. Udah dari tadi Valeria nelpon tapi ngak aktif nomornya bu" ucap Valeria sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hah! Emang kemana kangmasmu sayang" pekik Arinta penasaran.


"Mana Valeria tahu bu" ucap Valeria.


"Udah sayang nanti bentar lagi juga Bagas pulang" ucap Budi.


"Tapi mas" ucap Arinta yang langsung di potong Budi.


"Ayok kita masuk sayang aku sudah lelah" ucap Budi.


"Iya mas" ucap Arinta mengalah.


Ketiganya lalu masuk ke dalam mansion yang langsung di sambut oleh bi Susi. Bianca yang masih menonton di ruang keluarga segera mencium tangan Budi dan Arinta yang baru saja datang.


"Kalian berdua segera istirahat udah malam" ucap Arinta.


"Iya bu, tante" ucap Valeria dan Bianca serentak.


Arinta dan Budi segera masuk ke dalam kamar mereka karena sudah kelelahan. Valeria yang akan pergi ke kamarnya langsung di cekal oleh Bianca.


"Kenapa Ca?" tanya Valeria dengan bingung.


"Loe pulang sama Rian ya?" tanya Bianca dengan cepat.


Valeria menaikan alisnya sebelah mendengar ucapan Bianca barusan.


Dari mana dia tahu gue pulang bareng Rian, batin Valeria.


"Iya. Emang loe tahu dari mana?" tanya Valeria kembali.


"Tadi si Riri beritahu gue"


"Oh"


"Loe pacaran ya sama Rian"


"Ngak thu"


"Gue kirain loe pacaran sama dia"


"Gue ngak pacaran sama dia kita itu cuman teman aja" ucap Valeria sambil berlalu pergi ke kamarnya.


Bianca melihat Valeria yang sudah naik ke lantai dua dengan tatapan sulit di artikan.


Kayaknya besok gue harus dekatin si Rian biar buat mereka bermusuhan, batin Bianca sambil tersenyum licik.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tepat pukul 23:00 malam Bagas yang baru pulang dari tempat nongkrong segera masuk ke dalam mansion. Saat masuk ke dalam mansion ia melihat semua lampu sudah pada mati hanya ada penerang di sudut mansion.


Takk........


Lampu ruang keluarga tiba-tiba menyala mengagetkan Bagas. Bagas langsung di sambut tatapan tajam dari sang ayah yang sedang duduk di sofa.


"Apa kamu tahu ini sudah jam berapa Bagas" ucap Budi dengan suara dingin.


"Maaf yah" ucap Bagas dengan suara pelan.


"Kamu tahu kalau lusa kamu itu ujian nasional tapi kamu masih keluar sampai jam segini"


"Bagas salah yah. Bagas minta maaf"


"Heemmm! Ayah maafin kali ini tapi satu kesalahan kamu hari ini ayah ngak bisa tolerir"


"Maksud ayah" ucap Bagas dengan bingung.


"Valeria"


Seketika tubuh Bagas menegang karena melupakan sang adik.


Sial gue lupa buat jemput Valeria di tempat pesta tadi, batin Bagas dengan kesal.


"Valeria ngak kenapa-napa kan yah?" tanya Bagas dengan raut wajah khawatir.


"Cukup sekali ini aja ayah liat adikmu di antar pulang oleh temannya dan kamu itu sebagai kangmasnya harus bisa menjaga dan melindungi adikmu"


"Maaf yah tadi Bagas lupa"


"Jangan ulangi lagi" ucap Budi dengan suara tegas.


"Iya yah"


Budi segera pergi ke kamarnya karena sudah memberitahu kesalahan sang anak. Bagas menghela napasnya lega setelah Budi pergi, ia memilih di pukul dari pada di beri nasihat oleh sang ayah.


Bagas sangat takut jika Budi sudah menasihati dirinya, karena ucapan Budi yang bisa menyakiti hatinya lebih sakit dari pada di pukul.


"Maafiin kangmas dek" ucap Bagas dengan pelan.


Hari berlalu dengan cepat dan tanpa terasa hari ini adalah hari senin bertepatan dengan acara amal yang di lakukan oleh keluarga keraton Winata setiap tahun. Sejak pagi Arinta sudah menyiapkan semua kebutuhan keluarganya untuk amal siang nanti.


"Bu Bagas ngak ikut amal kali ini ya" ucap Bagas saat di meja makan.


"Iya nak. Kamu fokus aja ujiannya dan semoga lancar ujiannya entar"


"Iya bu doain Bagas biar bisa menyelesaikan semua soal ujian"


"Pasti sayang"


"Kangmas semangat ya buat ujiannya" ucap Valeria di depan mansion.


"Makasih ya dek" ucap Bagas sambil mengacak rambut Valeria.


"Isshhh.........kangmas kebiasaan deh" ucap Valeria dengan kesal.


Bagas hanya tersenyum dan segera berangkat ke sekolah mengendarai mobil **sport**nya. Valeria dan Bianca juga segera masuk ke dalam mobil untuk ke sekolah mereka.


Tepat pukul 10:00 pagi Valeria dan Bianca sudah pulang kembali ke mansion. Keduanya hari ini meminta ijin tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar hingga selesai.


"Selamat datang nona muda dan nona Bianca" ucap bi Susi dengan senyum manis.


"Ibu sama ayah udah pulang belum bi" ucap Valeria.


"Belum non"


"Oh iya bi. Baju aku untuk di pakai ke acara amal udah di siapin belum bi?" tanya Valeria.


"Udah ada di kamar non"


"Iya bi makasih ya"


"Iya sama-sama non"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Bianca yang tadi pulang segera masuk ke dalam kamarnya. Entah kenapa setiap kali bi Susi memanggilnya dengan sebutan nona Bianca ia merasa sangat emosi.


"Seharusnya gue yang jadi nona muda di mansion ini" ucap Bianca dengan kesal.


Bianca lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap ke acara amal. Di kamar Valeria ia juga segera membersihkan diri untuk ke acara amal sebentar siang.


Selesai bersiap Valeria lalu mengambil tas selempang dan memasukan tisu basah dan kering serta dompet dan hpnya. Baru saja ia akan keluar pintu kamarnya di buka dan masuklah Bianca.


Valeria yang ingin marah karena masuk tidak mengetuk pintu hanya menahannya. Ia tidak ingin beradu mulut dengan Bianca saat ini.


"Val"


"Hemmmm"


"Pinjam duit loe dong"


"Hah! Mau ngapain" ucap Valeria dengan kaget.


Pasalnya kemarin Bianca baru saja meminjam uangnya dan hari ia meminjam lagi. Sebenarnya Valeria tidak ingin memberikannya tapi ia kasihan dengan Bianca yang tidak mendapat uang jajan lebih dari sang ayah.


"Gue mau beli baju dan anting yang gue suka" ucap Bianca dengan santai.


"Hah! Lagi? Bukannya minggu lalu loe baru aja beli baju ya?" tanya Valeria dengan bingung.


"Iya tapi baju kali ini bagus banget dan gue ngak ada uang buat beli. Loe sendiri kan tahu gue ngak pernah dapat uang jajan lebih" ucap Bianca dengan wajah sedih.


Valeria yang kasihan melihat wajah sedih Bianca akhirnya meminjamkan uangnya. Valeria sebenarnya tak mau memberikan karena nominal yang di pinjam Bianca sangat besar, tapi ia tak punya pilihan lain saat melihat wajah sedih Bianca.


"Nih uangnya" ucap Valeria sambil menyodorkan uang sebesar 3 juta.


"Makasih ya Val" ucap Bianca sambil tersenyum bahagia.


"Hemmmm"


Bianca segera mengambil uang itu dan pergi dari kamar Valeria. Tak lama mata Valeria menangkap tangan kanan Bianca yang memakai gelang pemberian sang ibu tahun lalu.


"Bianca" panggil Valeria dengan cepat.


"Kenapa" ucap Bianca berbalik saat baru saja sampai di depan pintu.


"Itu gelang gue kan" tunjuk Valeria ke tangan Bianca.


"Oh ini? Iya ini gelang loe" ucap Bianca sambil mengangkat tangannya.


"Loe kenapa ngambil gelang gue ngak bilang ke gue" ucap Valeria dengan tatapan tajam.


"Ya waktu itu pas gue mau minjam gelang loe, loenya ngak ada jadi gue ambil aja" ucap Bianca dengan santai.


"Balikin cepat"


"Tapi"


"Gue bilang balikin ya balikin Ca" ucap Valeria dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.


"Iya" ucap Bianca dengan gugup melihat tatapan tajam Valeria.


Bianca segera mengembalikan gelang Valeria dan berlalu keluar. Valeria membuang napas dengan kasar guna menahan emosinya yang sudah memuncak.


Di luar Bianca berjalan menuju kamarnya dengan wajah emosi. Ia sangat membenci Valeria karena meminta kembali gelang yang tadi pagi ia ambil.


"Berengsek awas loe gadis sialan" gumam Bianca dengan suara pelan.


Tak lama mobil Arinta dan Budi memasuki mansion Kusumo. Keduanya lalu turun dari mobil masing-masing dan masuk ke dalam mansion.


"Valeria dan Bianca udah pulang bi?" tanya Arinta.


"Sudah nyonya" ucap bi Susi.


"Suruh mereka segera turun ke ruang keluarga karena sebentar lagi kita akan berangkat"


"Baik nyonya"


Arinta segera menyusul Budi ke dalam kamar untuk bersiap ke acara amal. Selesai bersiap mereka lalu pergi dengan dua mobil menuju tempat amal.


~ Convention Artha ~


Tempat amal kali ini berlokasi di gedung convention Artha sebuah gedung konferensi yang sangat besar untuk kegiatan apa saja. Sudah banyak tamu yang hadir di acara amal ini bahkan para wartawan pun turut hadir.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》...


Saat mobil Budi dan anak-anaknya tiba mereka langsung disambut bunyi blits. Banyak wartawan yang meliputi acara ini karena ini adalah acara amal paling besar di tahun ini.


"Ayo kita masuk sayang" ajak Budi.


"Iya mas"


Arinta lalu memegang tangan Valeria dan pinggangnya di rangkul erat oleh Budi. Ketiganya berjalan masuk bersama dengan Bianca yang berjalan di sebelah Valeria.


"Nyonya dan tuan Kusumo silahkan lihat kesini"


Valeria dan keluarganya lalu melihat ke arah fotografer dan berpose di tempat yang sudah di sediakan. Selesai keempatnya lalu masuk ke dalam tempat acara.


Acara amal kali ini akan dilangsungkan acara lelang dan acara kerja bakti serta pembagian sembako ke masyarakat. Di dalam ballroom convention semua keluarga besar Winata sudah hadir di sana.


"Sayang kamu makin cantik aja deh" ucap tante Iren.


"Makasih oma, oma juga makin cantik" ucap Valeria sambil tersenyum.


"Kamu itu mujinya persis kayak ibu kamu"


"Hehehehe........kan Valeria anaknya ibu jadi pastinya mirip sama ibu dong oma" ucap Valeria sambil terkekeh.


Arinta yang mendengar ucapan sang anak hanya menggelengkan kepalanya. Wina yang berjalan menuju arah mereka langsung di sambut tatapan tidak suka dari Arinta.


Arinta masih ingat kejadian waktu itu di keraton, sebenarnya mereka tidak akan ikut acara ini tapi karena sang ibu yang membujuknya maka ia memutuskan untuk mengikuti acara amal setelah membujuk suaminya.


"Hai tante, Arinta" ucap Wina sambil tersenyum.


"Cih! Pengganggu!" ucap tante Iren sambil berdecih.


Wina menahan emosinya saat mendengar ucapan tante suaminya itu. Ia tidak ingin mendapat tamparan lagi dari sang mertua seperti kejadian waktu itu.


"Ibu aku gabung sama ka Edo dan lainnya ya" ucap Valeria.


"Iya sayang" ucap Arinta.


Melihat Valeria sudah pergi Wina segera menatap Arinta.


Sial gara-gara perempuan sialan ini aku harus merendahkan diri buat minta maaf, batin Wina dengan kesal.


"Arinta" ucap Wina.


"Hemmmm"


"Itu mbak mau minta maaf atas kejadian waktu di keraton" ucap Wina.


"Aku udah maafin mbak kok" ucap Arinta dengan suara dingin.


"Makasih ya udah maafin mbak tapi sekali lagi mbak minta maaf" ucap Wina sambil mengepal tangannya.


"Hemmmm"


Wina segera beranjak dari sana menuju keluarganya karena ia tak bisa menahan emosinya lagi saat di dekat Arinta. Tante Iren sendiri tertawa melihat wajah Wina yang menahan emosi karena diabaikan keponakannya.


"Kak Edo apa kabar" sapa Valeria dengan lembut.


"Eehhh! Sepupu kakak yang paling cantik udah datang ya" ucap Edo sambil memeluk Valeria.


"Ah! Kakak bisa aja"


"Hay kak Valeria" ucap Rafa adik Sandra.


"Hay juga Rafa kakak kangen sama kamu" ucap Valeria sambil memeluk Rafa.


"Rafa juga kangen sama kakak" ucap Rafa sambil tersenyum manis.


Edo yang baru pertama kali melihat Bianca segera menyenggol lengan Valeria sambil menunjuk Bianca dengan ekor matanya. Valeria yang tahu maksud kakak sepupunya segera mengenalkan Bianca.


"Kak kenalin ini Bianca saudara sepupu aku dan dia tinggal di mansion sama kita" ucap Valeria.


"Hay kenalin gue Edo" ucap Edo sambil mengulurkan tangannya.


"Hay kak Edo aku Bianca salam kenal" ucap Bianca sambil menjabat uluran tangan Edo dengan suara lembut.


"Nama yang cantik persis orangnya" ucap Edo sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Kak jangan mulai tebar pesona dong" ucap Rafa yang melihat jiwa playboy kakak sepupunya keluar.


"Cih! Anak kecil diam aja deh!" ucap Edo dengan kesal.


Rafa hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakak sepupunya. Valeria sendiri tertawa melihat kakak sepupunya yang sudah mengeluarkan jurus menggodanya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tak lama mereka semua diarahkan untuk mengikuti acara amal yang dimulai dengan pelelangan. Valeria duduk bersama semua saudaranya di meja bundar dekat meja utama di depan.


Waktu berlalu dengan cepat semua acara pelelangan sudah selesai dan tiba acara selanjutnya pembagian sembako. Semua keluarga keraton Winata turut mengambil bagian mensukseskan acara amal kali ini.


Valeria yang saat ini sedang membantu membagikan sembako dengan sepupunya tak tahu jika Bianca sedang merencanakan sesuatu.


Bianca melihat jika tamu terhormat kali ini adalah seorang raja Keraton dari kota seberang yang bernama Raden Panji Mahesa.


Saat Raja Panji berjalan mendekat ke arah pembagian sembako tiba-tiba Bianca mendorong Valeria ke arah depan.


Byuurrr.....


Air minum yang tadi di pegang Valeria seketika tumpah di tubuh Raja Panji dan membuat jas mahalnya basah. Semua tamu disana kaget bukan main melihat kejadian tersebut.


Valeria berdiri dengan tubuh menegang dengan mata yang seakan ingin keluar dari tempatnya melihat kejadian barusan. Arinta menutup mata melihat kecerobohan anaknya yang menumpahkan air di tamu kehormatan acara ini.


Budi menatap tajam Valeria dengan rahang mengeras seakan ingin memakannya. Bianca sendiri berdiri dan tersenyum sinis di bagian deretan belakang tamu.


"Mati gue kali ini" gumam Valeria dengan suara pelan.


❄❄❄❄❄


To be continue..........


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀