Love Struggle

Love Struggle
Chapter 182



🌻Menjadi yang pertama bukan berarti kamulah pemenang yang sejati tapi pemenang sejati adalah dia yang bertahan sampai akhir🌻


.


.


.


.


"Dad jangan sedih lagi ya" ucap Mikhail yang membaca pikirannya.


Tes..............


Air mata Thomas jatuh saat menatap putranya. Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan sang putra lagi.


Huaawaaa..............


Tangis Mikhail pecah melihat daddynya yang menangis dalam diam. Thomas memeluk putranya sambil menangis karena saat ini dia berada di titik yang paling rendah dalam hidupnya.


Melihat istrinya koma membuat jiwa dan tubuhnya bagai di hantam batu besar seakan sebagian jiwanya pergi bersama istrinya.


"Mommy kapan bangun daddy........hiks hiks hiks?" tanya Mikhail sambil menangis.


Thomas diam tak bisa menjawab pertanyaan putranya karena memang dia juga tidak tahu kapan istrinya akan sadar dari koma.


"Huaawaa..........mommy leave us" (mama meninggalkan kita) tangis Mikhail kembali pecah.


"No son! Mommy tidak akan akan meninggalkan kita!" tegas Thomas.


"Really?" tanya Mikhail dengan mata sembab.


"Yes son! Kita harus selalu ajak mommy bicara biar mommy cepat bangun"


"Why?" tanya Mikhail dengan kening berkerut.


"Meski mommy sedang tidur tapi mommy bisa dengar apa yang kita bicarakan son. Jadi mulai sekarang kita harus selalu ajak mommy bicara biar mommy cepat sadar" papar Thomas menjelaskan dengan perlahan kepada putranya.


"Heemmm"


Thomas memeluk putranya sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Tak lama ia mengernyitkan keningnya melihat baju yang di pakai putranya masih sama seperti semalam.


"Son kamu belum mandi?" tanya Thomas dengan cepat.


"Heemmm" deham Mikhail sambil memeluk erat leher daddynya.


"Sarapan juga belum?" tanya Thomas lagi.


"Uncle Bryan tidak memberikan aku sarapan daddy" jawab Mikhail dengan wajah polos.


"Apa! Berengsek kamu Bryan bisa-bisanya kamu tidak membuat sarapan untuk anakku" umpat Thomas dengan kesal.


Thomas mencari hpnya tapi tidak menemukannya dan ia juga lupa dimana hpnya karena sedari kemarin ia hanya sibuk dengan istrinya saja.


"Son apa kamu lihat hp daddy?" tanya Thomas.


"No"


"Dimana daddy menaruh hp daddy ya" ucap Thomas mencari ke sekelilingnya.


"Daddy bisa meminjam hp pengawal di luar dan menelpon ke nomor daddy" usul Mikhail.


"Ya kamu benar son. Kenapa daddy tidak berpikir ke sana" ucap Thomas sambil menepuk keningnya.


"Karena daddy bodoh" ketus Mikhail dengan sinis.


Thomas melotot mendengar ucapan putranya yang secara sadar menghinanya. Mikhail sendiri dengan santai duduk di sofa berbalik menatap sang daddy tak takut.


"Daddy aku mau susu"


"Heemm! Bentar daddy suruh uncle Bryan bawa keperluanmu kesini"


"Heeemmm"


Thomas berlalu keluar dan langsung melihat Bryan yang duduk didepan ruangan rawat istrinya. Bryan mengerutkan keningnya melihat Thomas yang menatapnya dengan emosi.


"Kenapa?" tanya Bryan dengan bingung.


Bugh.................


"Apa-apaan ini bangsat!" bentak Bryan dengan suara tinggi tiba-tiba Thomas meninjunya di pipi dengan kuat.


"Sudah ku bilang dari semalam jaga anakku berengsek tapi kenapa kamu tidak mengurus keperluannya pagi ini!" bentak Thomas menggelegar.


"Bagaimana mau mengurusnya? Sejak bangun anakmu terus menangis mencari kalian berdua tidak mau berhenti menangis" ketus Bryan dengan kesal.


"Ya kamu bujuk dia supaya tidak menangis. Apa kamu pikir Mikhail orang dewasa yang bisa menahan lapar seharian" hardik Thomas.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Bryan diam membenarkan ucapan Thomas karena biar bagaimanapun Mikhail tetaplah seorang bocah yang butuh nutrisi untuk bertumbuh.


"Maaf dude" ucap Bryan merasa bersalah.


"Aku tidak butuh maafmu!! Sekarang juga ambil semua keperluan anakku dan bawa kesini" hardik Thomas.


"Heemmm"


"Suruh Yorla bawakan sarapan buat Mikhail dalam 5 menit" ketus Thomas sambil berlalu masuk kembali.


Brak..............


Bryan mengelus dadanya kaget karena bunyi pintu yang ditutup dengan kuat oleh Thomas. Yorla yang baru keluar dari lift juga ikut kaget mendengar bunyi tersebut.


"Brother apa yang terjadi?" tanya Yorla dengan napas satu-satu.


"Pergi cari sarapan buat Mikhail dalam 5 menit" ketus Bryan dengan suara dingin.


"Apa! Brother eke sangat capek dan kenapa you nyuruh eke segala sih" pekik Yorla dengan kesal.


"Itu perintah dari Thomas. Kalau loe mau ngeluh sana ngeluh di Thomas" hardik Bryan dengan suara dingin dan berlalu pergi.


"Aarrghhhh..........eke kesel deh" teriak Yorla dengan kesal.


Meski kesal ia tetap pergi membeli sarapan buat Mikhail sambil mengumpat sepanjang jalan. Anggota inti Black Shadow yang melihat hal itu menahan senyum mereka melihat wajah kesal Yorla yang sangat jelek.


~ Mansion Kusumo ~


"VALERIA" teriak Arinta dalam tidurnya membangunkan Budi yang tidur disebelahnya.


"Sayang! Hey bangun sayang" ucap Budi sambil mengguncang Arinta agar sadar.


Hosh..........hosh.........hosh..............


Usaha Budi ternyata berhasil membuat istrinya tersadar dengan napas ngos-ngosan seperti baru habis lari maraton.


"Ma....s" lirih Arinta dengan wajah pucat.


"Bentar aku ambil minum buat kamu sayang"


Budi bergegas keluar dari kamar mengambil air untuk istrinya karena air di kamarnya habis. Saat sampai di dapur ia berpapasan dengan Bagas yang hendak membuatkan susu untuk putranya yang terbangun.


"Ayah" panggil Bagas.


"Heemmm"


Sampai di dalam kamar Budi segera memberikan air kepada Arinta yang langsung dihabiskan sekali tandas. Ia lalu duduk di samping istrinya sambil menaruh kepala istrinya di dadanya.


"Mas"


"Heemmmm"


"Aku bermimpi buruk tentang putri kita"


"Itu hanya bunga tidur sayang. Jangan terlalu dipikirkan"


"Tapi mimpi itu seperti nyata mas. Perasaan aku ngak tenang mikirin Valeria mas" ucap Arinta dengan mata berkaca-kaca.


"Mas tolong telpon Valeria tanya keadaannya" pinta Arinta.


"Iya sayang"


Budi lalu mengambil handphonenya dan menelpon Valeria. Panggilan pertama hingga panggilan yang kelima tidak dijawab oleh Valeria.


Begitu pula dengan Thomas keduanya sedari tadi tak menjawab telpon dari mereka. Melihat hal itu Arinta semakin gusar memikirkan putrinya.


"Mungkin mereka sedang sibuk sayang. Bukannya saat ini mereka sudah berada di kerajaan Wizpet karena seminggu lagi pernikahan Bryan sayang" ucap Budi mencoba menenangkan istrinya.


"Tapi perasaan aku ngak enak mas"


"Jangan terlalu dipikirkan sayang. Berdoa saja semoga putri kita dan keluarganya baik-baik saja disana" ucap Budi dengan bijak.


"Iya mas"


Keduanya segera tidur kembali meski pikiran dan hati Arinta tak tenang. Ia berharap semoga mimpinya tidak menjadi kenyataan.


Ibu sangat mengkhawatirkan kamu nak. Apa kamu baik-baik saja disana, batin Arinta dengan gusar.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tak terasa hari sudah pagi dan saat ini keluarga Kusumo sedang sarapan bersama di meja makan.


"Ibu sakit?" tanya Bagas yang melihat wajah sang ibu pucat.


"Sayang wajah kamu pucat banget" ucap Budi yang tak memperhatikan istrinya sedari keluar kamar.


"Ibu sakit apa?" tanya Camelia dengan cemas.


"Ibu ngak apa-apa. Cuma susah tidur aja semalam" ucap Arinta sambil tersenyum manis agar keluarganya tidak cemas.


"Kita ke rumah sakit ya sayang" ajak Budi.


"Ngak usah mas. Nanti setelah tidur juga udah baikan" ucap Arinta menolak ajakan suaminya.


"Tapi" ucap Budi yang langsung dipotong Arinta.


"Jangan berlebihan mas. Aku tahu kok kondisi tubuhku jadi kalau aku ngerasa semakin parah kita ke rumah sakit" ucap Arinta dengan suara tegas.


"Baiklah" pasrah Budi memilih mengikuti kemauan istrinya.


"Nanti aku suruh dokter Suci buat periksa kondisi ibu sebentar" ucap Bagas.


"Iya nak"


Mereka segera melanjutkan sarapan dengan hening hanya ada suara Candra putra Bagas dan Camelia baru berumur 1 tahun lebih yang berceloteh saat makan.


Tring..............


Tiba-tiba hp Bagas berdering ada panggilan masuk dari asistennya Ahmad.


^^^"Halo"^^^


"Halo tuan"


^^^"Ada apa?" tanya Bagas dengan suara dingin.^^^


"Maaf tuan barusan kepala tambang di Kalimantan memberitahu kalau ada kecelakaan di tambang kita tuan dan memakan korban"


^^^"Apa" pekik Bagas dengan suara tinggi hingga berdiri dari duduknya.^^^


Semuanya langsung menatap Bagas mendengar suara tinggi Bagas. Dengan tergesa-gesa Bagas pergi menuju ruang kerjanya.


^^^"Datang ke mansion sekarang?" titah Bagas dengan suara dingin.^^^


"Saya dalam perjalanan ke sana tuan"


Bagas mematikan panggilannya sepihak sambil membuka laptop melihat informasi yang dikirim oleh Ahmad karena ia tahu Ahmad pasti sudah mengirim informasi tersebut ke emailnya.


Budi yang penasaran dengan anaknya segera menyudahi sarapannya dan menyusul ke ruang kerja sang anak. Arinta dan Camelia hanya melihat keduanya dengan diam.


Setelah kepergian Budi hp milik Arinta berbunyi tertera nama Thomas disana.


^^^"Halo" ucap Arinta dengan cepat menjawab panggilan Thomas.^^^


"Ibu" ucap Thomas dengan suara serak menahan tangis diseberang.


^^^"Dimana Valeria Thomas? Kenapa dari semalam kalian tidak menjawab telpon ayah? Kalian baik-baik saja kan?" tanya Arinta beruntun.^^^


Hiks...........hiks..........hiks..........


Tangis Thomas pecah mendengar pertanyaan Arinta yang seakan tahu jika ada sesuatu yang terjadi dengan mereka.


Arinta yang mendengar tangisan Thomas dari seberang membuat perasaannya tak tenang menebak kalau ada sesuatu yang terjadi.


^^^"Thomas kenapa kamu menangis nak?" tanya Arinta dengan suara lembut.^^^


"Valeria bu.........hiks hiks hiks"


^^^"Valeria kenapa? Dia dan kandungannya baik-baik saja kan?" tanya Arinta dengan panik.^^^


"Valeria pendarahan dan harus operasi sesar bu. Valeria sudah melahirkan dari kemarin bu tapi kondisinya sekarang koma bu"


^^^"Apa" teriak Arinta dengan histeris.^^^


Prang.................


Hp Arinta meluncur ke bawah hingga pecah di lantai saat mendengar ucapan Thomas. Air matanya mengalir dengan deras memikirkan putrinya.


"Ibu" teriak Camelia bergema menahan Arinta yang hampir jatuh di lantai.


Huaawaa.............


Tangis Candra pecah mendengar teriakan ibu dan omanya yang menggelegar di meja makan membuat pengasuh Candra dengan cepat menggendongnya dan mendiamkannya.


Budi dan Bagas yang mendengar teriakan istri mereka segera berlari keluar dari ruang kerja takut ada sesuatu yang terjadi.


Keduanya langsung disambut tangis ketiga orang yang mereka sayangi di ruang makan. Ahmad yang baru saja datang mematung melihat suasana di mansion tuannya.


Apa mereka menangis karena kecelakaan di tambang yang memakan korban, batin Ahmad menerka.


❄❄❄❄❄


To be continue..............