Love Struggle

Love Struggle
Chapter 63



🌻Kamu kuat tapi kamu punya batasan, jika lelah istirahatlah karena untuk menjadi pemenang tidak selamanya kamu harus berjuang tanpa lelah🌻


.


.


.


.


Masih dengan jelas di ingatan Justin saat Valeria mempermalukannya di depan umum. Raut wajah Justin memerah saat ingatan kejadian itu melintas di pikirannya.


Saat itu Justin yang terpesona dengan kecantikan Valeria berniat untuk mendekatinya. Tapi tak di sangka Valeria malah menyiram Justin dengan es jeruk waktu di kantin.


Valeria yang tak suka di sentuh merasa sangat emosi saat Justin memegang tangannya dengan tak sopan saat berkenalan.


Bahkan dengan tak tak malu Justin berniat mencium pipi Valeria tapi dengan cepat Valeria menamparnya.


Tak sampai situ saja dengan kata-kata kasarnya Valeria memaki Justin dengan tak berperasaan. Saat itu seluruh murid yang berada di kantin tertawa mengejek Justin karena baru kali ini ada perempuan yang dengan berani melawan Justin.


"Gue bakalan hancurkan loe gadis sialan" gumam Justin dengan penuh dendam.


"Jadi gimana bro mau ajak dia gabung di geng kita atau?" tanya Rio.


"Ckk! Ngak akan" ucap Justin dengan ketus.


"Katanya sifat mereka berdua sama" ucap Martin.


"Maksud loe?" tanya Rio dengan kepo.


Martin tak menjawab pertanyaan Rio malah memanggil Tiara untuk mendekat saat keduanya bertatapan. Tiara yang di panggil segera membenahi penampilannya sebelum mendekat ke arah Justin dan gengnya.


"Ngapain loe panggil cewek berisik itu" bisik Rio tak suka melihat Tiara.


"Nanti juga loe tahu" ucap Martin.


Justin hanya melihat kedua sahabatnya dengan diam menunggu apa yang akan di lakukan mereka. Tiara yang sudah sampai di depan ketiganya tersenyum manis apa lagi saat melihat Justin dengan mata berbinar-binar.


Justin ganteng banget mana semakin hari tambah tampan aja, batin Tiara sambil menatap Justin dengan tatapan puja.


Justin tahu arti tatapan Tiara yang sangat menginginkannya tapi ia diam saja. Martin yang melihat tatapan mata Tiara sedari tadi tertuju kepada Justin hanya menggelengkan kepalanya.


"Loe mau bicara sama Justin" ucap Martin mengagetkan Tiara.


"Uhmm!! I..tu" ucap Tiara gugup karena kepergok melihat Justin dengan tatapan mendambakan.


"Santai aja ngak usah gugup gitu cantik" ucap Martin dengan senyum menggoda.


"Cih! Rayuan ngak jelas" gumam Rio yang masih di dengar Martin.


Martin menatap Rio dengan kesal dan mengatakan untuk tak ikut campur lewat tatapan matanya. Tiara yang di panggil cantik seketika pipinya memerah karena malu.


"Gimana sifat murid baru di kelas loe?" tanya Rio to the point.


"Dia cowok yang sombong kayak saudaranya" ucap Tiara dengan kesal.


"Maksud loe?" tanya Martin.


"Namanya Bryan dan dia itu sifatnya sama persis dengan kakaknya!! Udah miskin tapi sangat belagu apa lagi dia itu sombong banget" ucap Tiara dengan emosi mengingat nama Bryan.


"Apa keduanya sama-sama yatim piatu" ucap Justin.


"Gue ngak tahu karena setahu gue Valeria itu selama ini hidup di panti asuhan jadi bisa saja Bryan juga tinggal di panti" ucap Tiara.


"Thank's ya buat informasinya" ucap Justin sambil tersenyum manis.


"Sama-sama ka" ucap Tiara dengan malu-malu.


Justin dan kedua sahabatnya lalu pergi meninggalkan Tiara. Tapi saat di samping Tiara Justin berbisik sesuatu kepada Tiara yang membuatnya sangat bahagia.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Gue tunggu loe bentar di belakang sekolah" bisik Justin.


Tiara sangat senang setelah mendengar bisikan Justin barusan dan tak sabar pergi ke belakang sekolah bertemu dengan Justin. Bryan dan Riki yang sudah selesai makan segera kembali ke kelas.


Sebelum itu Bryan membeli air mineral dan roti rasa nanas untuk Valeria. Ia tak mau jika Valeria sampai sakit karena tak jajan di kantin.


"Val ini buat loe" ucap Bryan memberikan air dan roti kepada Valeria.


"Gue ngak suka roti rasa nanas" ucap Valeria dengan wajah datar.


"Maaf gue ngak tahu" ucap Bryan merasa bersalah.


"It's okay"


Valeria langsung meminum air yang di berikan Bryan barusan. Tak lama bel masuk berbunyi dan karena guru selanjutnya tak masuk Valeria memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.


"Loe mau kemana Val?" tanya Bryan.


"Perpus"


"Gue temanin ya"


"Gue pengen sendiri"


"Oke deh"


Valeria segera berlalu pergi ke perpus meninggalkan Bryan di dalam kelas. Tatapan Bryan terus menatap Valeria sampai ia sudah tak kelihatan lagi.


"Sifat loe berdua sama ya" ucap Riki.


"Maksud loe?" tanya Bryan dengan kening berkerut.


"Sama-sama dingin dan tak tersentuh"


"Hemmmm"


Riki yang tak mempunyai teman di dalam kelas terus berbicara dengan Bryan.


Sedangkan Bryan hanya diam dan sesekali menjawab pertanyaan Riki karena ia merasa Riki seperti dia diasingkan dalam kelas oleh teman sekelas mereka.


Tiara saat ini sudah berada di belakang sekolah dan ia melihat Justin bersama sahabatnya berada di sana. Bukan hanya mereka saja tapi ada beberapa teman sekelas Justin dan kelas lain juga berada di sana.


"Wah ada cewek cantik nih" ucap Asten anggota geng Justin.


"Sendirian aja neng mau abang temenin ngak" goda Bimo dengan tatapan menggoda.


"Woy jangan ganggu dia! Bos yang tadi nyuruh dia kesini" ucap Martin sambil membuang asap rokok dari mulutnya.


Tiara melihat kalau mereka semua saat ini sedang merokok di belakang sekolah. Entah kenapa ia merasa takut tapi setelah melihat Justin memberinya isyarat mendekat ia segera melangkah pergi ke sana.


Justin memberi isyarat kepada Martin dan Rio untuk meninggalkannya sendiri bersama dengan Tiara. Keduanya sudah tahu apa yang akan di lakukan oleh Justin kepada Tiara.


"Ada sesuatu yang gue mau loe lakuin" ucap Justin sambil berbisik di telinga Tiara.


Tubuh Tiara seperti terkena sengatan saat napas Justin terasa di telinganya. Wajahnya merah padam merasakan napas Justin di dekat telinganya dan Justin yang melihat hal tersebut tersenyum penuh arti.


"Apa yang kakak mau?" tanya Tiara dengan gugup.


"Gue mau loe bikin Valeria menderita di kelas kalau perlu jebak dia"


"Tapi gimana caranya ka"


"Loe bisa menaruh barang berharga loe di tas Valeria dan nuduh kalau dia itu pencuri"


"Tapi ka" ucap Tiara yang langsung di potong Justin.


"Kalau loe ngak mau loe pergi sekarang dan jangan pernah harap buat dekat sama gue lagi" ancam Justin sambil tersenyum penuh arti.


Tiara yang menyukai Justin dari dulu memilih untuk melakukan apa yang disuruh justin. Melihat Tiara yang sangat mudah di bodohi Justin tersenyum bahagia dalam hati.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tak menunggu lama Tiara kaget bukan main saat bibirnya di cium dengan penuh nafsu oleh Justin. Meski ada banyak orang disana tapi Justin tak memperdulikannya sama sekali.


Tanpa mereka sadari ternyata Valeria saat ini sedang melihat apa yang mereka lakukan. Bahkan ia juga tahu apa yang barusan mereka ucapkan lewat gerakan bibir mereka.


Ternyata ada yang mau main-main sama gue kita lihat aja siapa yang bakal kalah disini, batin Valeria sambil tersenyum penuh arti.


~ Markas Valeria ~


Sepulang sekolah Valeria dan Bryan tak langsung pulang ke apartemen tapi mereka memilih pergi ke markas yang baru seminggu mereka bangun.


Markas Valeria berada di pinggiran kota Jakarta dimana disana hanya ada hutan tak ada satu pun rumah disana.


Saat ke sana Bryan bergidik ngeri karena suasana disana sangat mencekam apa lagi di sepanjang jalan hanya ada pohon-pohon besar dan lebat. Sampai di tengah hutan ternyata mereka menuju ke sebuah bangunan yang sudah tak di pakai lagi.


Saat masuk ke dalam mereka langsung pergi ke ruang bawah tanah yang sementara masih di renovasi. Bryan yang baru kali ini ke sana hanya diam saja tak berani bertanya kepada Valeria.


"Master" ucap Raksa sebagai bos dari anggota yang bertugas di markas.


"Berapa jumlah anak buah kita sekarang?" tanya Valeria sambil berjalan menuju ruang pelatihan.


"Saat ini sudah ada 50 orang master"


"Bagaimana kemampuan mereka"


"Ada beberapa yang pemula dan sebagian sudah bisa bela diri master"


"Berapa banyak pemula"


"30 orang master"


"Suruh semuanya berkumpul"


"Baik master" ucap Raksa sambil berlalu pergi.


Setelah melihat Raksa pergi Bryan yang sudah sangat penasaran segera bertanya kepada Valeria. Meski ia tahu semua pertanyaannya tak akan di jawab tapi setidaknya ia coba.


"Valeria apa loe yakin dengan semua orang disini" ucap Bryan dengan khawatir.


"No" ucap Valeria dengan singkat.


Bryan tak bertanya lagi karena ia tahu jawaban Valeria pasti sama seperti waktu itu. Tak lama Raksa datang bersama dengan 50 orang yang sudah menjadi anak buah Valeria.


"Kalian yakin ingin bergabung denganku?" tanya Valeria dengan suara dingin.


"Kami sangat yakin master" jawab mereka semua dengan serentak.


"Seberapa keyakinan kalian"


"Hidup kami jadi jaminannya master" ucap mereka semua dengan serentak.


"Loe" tunjuk Valeria ke salah satu orang yang berada paling ujung.


"Saya master" ucap orang tersebut dengan gemetaran.


"Hemmmm"


Ia lalu maju mendekati Valeria dengan tubuh gemetaran karena tatapan Valeria yang seakan menenggelamkan di dasar laut yang paling dalam. Semua yang disana penasaran akan apa yang di lakukan oleh Valeria saat ini.


Sret.........sret.........sret.............sret..........


Arrrggghhhh........


Jeritan kesakitan seketika bergema di dalam ruang pelatihan saat pisau kesayangan Valeria menggores tubuh orang itu dengan cepat. Bahkan semua yang disana kaget saat melihat gerakan Valeria yang sangat cepat seperti hantu.


"Ini peringatan buat orang yang mau main-main sama gue" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.


"Valeria apa maksud ini semua" ucap Bryan yang kaget sekaligus bingung.


Tak berkata apa-apa Valeria lalu memutar sebuah video di layar lebar. Semuanya kaget tak menyangka jika orang yang barusan bergabung di klan Valeria adalah mata-mata yang di kirim oleh orang yang pernah Valeria beri pelajaran.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Sandi" desis Raksa dengan tatapan membunuh karena tahu Sandi adalah anak buahnya yang pernah mendapat siksaan dari Valeria.


"Loe tahu apa yang musti loe lakuin kan Raksa" ucap Valeria dengan sinis.


"Saya tahu master dan biarkan ini saya yang mengurusnya" ucap Raksa dengan emosi.


"Waktu loe ampe tengah malam"


"Baik master"


Raksa segera pergi dari sana meninggalkan Valeria dan lainnya, Valeria lalu menyuruh anak buahnya yang lain untuk memberi pelajaran kepada pengkhianat di dalam klannya.


"Valeria kasian dia bisa mati" ucap Bryan yang tak tega melihat orang tadi di pukul anggota yang lain.


"Mati ya mati aja bukan urusan gue!" ucap Valeria dengan santai.


Bryan tak berkata apa-apa lagi ia tak bisa membantah perkataan Valeria atau berdebat karena itu semua percuma.


Valeria lalu melatih Bryan bersama dengan anak buahnya hari itu dengan pelatihan yang sangat berat.


Mereka merasa saat ini mereka seperti sedang di bantai di neraka karena pelatihan yang di berikan Valeria bukan latihan biasa. Tak main-main latihan yang di berikan oleh Valeria seperti pelatihan prajurit untuk bersiap berperang di medan pertempuran.


❄❄❄❄❄


To be continue..............


Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀