Love Struggle

Love Struggle
Chapter 58



🌻Setiap orang mempunyai jam tapi tidak semua orang mempunyai waktu🌻


.


.


.


.


Bagas berteriak sambil menangis melihat kekejaman sang ayah dan ibunya memukul Valeria. Bahkan ibu yang menurutnya sangat baik hati dan lembut tanpa berperasaan memukul adiknya dengan brutal.


Tatapan matanya menajam melihat aksi sang ayah yang lebih mengerikan saat memukul Valeria di taman belakang. Bahkan Bagas tak kuasa menahan air matanya saat melihat tubuh belakang Valeria yang penuh luka.


Hatinya hancur melihat penderitaan sang adik bahkan ia tak percaya jika ayah dan ibunya tega melakukan hal seperti itu.


"Kalian tega nyakitin adik gue" ucap Bagas dengan emosi.


Bagas melihat rekaman cctv saat melihat Bianca dan Valeria sedang berdebat tapi tak jelas suaranya. Entah kenapa ia merasa jika ada sesuatu yang di ketahui oleh Valeria tentang Bianca.


Seketika ingatan Bagas kembali saat membaca diary Valeria mengenai Bianca.


Bagas bingung memikirkan maksud Valeria yang mengatakan kalau ia sangat kecewa dan sakit hati memiliki saudara seperti Bianca.


"Gue bakal nyari tahu tentang anak haram itu" ucap Bagas dengan emosi.


Bagas terus mencari rekaman cctv saat Valeria di usir. Tak berapa lama ia pun menemukan rekaman tersebut dan segera menonton rekaman itu dari awal.


Bagas kaget melihat Valeria yang di pukul dan di tampar oleh Budi. Bahkan ia tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ibunya mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.


Hatinya sakit mendengar ucapan sang ibu dan ayah yang tak sudi menganggap Valeria sebagai anak mereka. Bahkan mereka tak memberi waktu kepada adiknya untuk menjelaskan semuanya.


"Gue yakin adik gue bukan perempuan seperti itu" ucap Bagas dengan sedih.


Emosi Bagas seketika memuncak saat melihat tubuh Valeria penuh darah. Bahkan ia sangat kecewa karena tak ada satu orang pun yang menolong Valeria saat itu.


Prang........prang..........prang.........prang........


Bunyi benda pecah terdengar di ruang kerja Budi. Bahkan saat ini meja dan kursi di dalam sana sudah hancur karena tendangan dan pukulan Bagas.


Ia lalu keluar dengan tatapan tajam dan membunuh membuat para pelayan di sana bergidik ngeri. Bi Susi yang melihat kemarahan di wajah Bagas sudah menebak apa yang akan terjadi.


"Kenapa kalian diam saja saat adik gue di pukul! Hah" bentak Bagas dengan suara menggelegar.


Bugh.......bugh.........bugh...........bugh........


Entah berapa banyak pelayan yang mendapat amukan dari Bagas. Saat ini ia melampiaskan emosinya tak memandang itu perempuan atau laki-laki.


Bahkan mansion yang tadinya rapi sudah seperti kapal pecah. Bagas membanting dan memukul apa saja yang ada di depannya meluapkan kekecewaan dan emosinya.


"Hiks hiks.........tuan muda......hiks......tolong hentikan......hiks hiks" pinta bi Susi dengan memohon.


"Kenapa bibi biarkan ayah ngusir Valeria bi? Kenapa?" tanya Bagas dengan suara tinggi.


"Maafin bibi tuan muda...........hiks hiks hiks"


Bagas yang tak bisa memukul bi Susi melampiaskan amarahnya dengan memukul guci dan benda di sekitarnya. Luka di tangannya tak membuat Bagas berhenti mengamuk.


Melihat tuan mudanya tak bisa di kontrol lagi bi Susi langsung menelpon Dion agar memberitahu tuan dan nyonya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ Keraton Winata ~


Saat ini Dion sedang menemani Budi dan Arinta datang ke keraton Winata. Sudah sejam yang lalu mereka ke sana karena ada hal penting yang akan di sampaikan oleh Arya.


Tak lama hp miliknya bergetar di saku celana. Dion mengambil dan melihat siapa yang menelpon ternyata itu adalah panggilan dari mansion.


^^^"Halo" ucap Dion dengan cepat karena tak biasanya ada panggilan dari mansion.^^^


"Halo tuan Dion.........hiks hiks hiks"


^^^"Ada apa bi?" tanya Dion saat mendengar suara bi Susi yang sedang menangis.^^^


"T.....uan m....uda.........hiks hiks"


^^^"Tuan muda kenapa bi? Tolong bicara yang jelas" ucap Dion dengan penasaran.^^^


"Tuan muda saat ini mengamuk di mansion tuan Dion"


Deg..........


Tubuh Dion menegang mendengar ucapan bi Susi dan perasaannya mengatakan jika Bagas pasti sudah mengetahui perihal tentang Valeria.


^^^"Tuan muda sudah pulang bi?" tanya Dion dengan bingung.^^^


"Tolong tuan Dion. Saat ini semua barang di mansion sudah hancur dan bahkan pelayan di mansion menjadi pelampiasan amukan tuan muda"


^^^"Baik bi saya akan ke sana sekarang"^^^


Dion langsung mematikan panggilannya dengan bi Susi. Ia lalu bergegas masuk ke dalam keraton untuk memberitahu perihal ini kepada Budi dan Arinta.


Saat di aula keluarga keraton Budi mengerutkan keningnya melihat Dion yang datang dengan wajah panik. Arinta yang melihat wajah panik Dion juga menatapnya dengan penasaran.


"Ada apa mas?" tanya Arinta berbisik.


"Mas ngak tahu sayang. Tunggu Dion datang kesini" bisik Budi.


Arya masih menjelaskan maksudnya meminta semua anak dan menantunya datang. Melihat wajah asisten Budi yang panik ia memberi isyarat kepada Dion untuk berbicara dengan Budi.


"Tuan kita harus pulang ke mansion sekarang" ucap Dion dengan wajah serius.


"Apa yang terjadi?" tanya Budi dengan bingung.


"Tuan muda saat ini mengamuk di mansion tuan"


Mata Budi dan Arinta melotot mendengar ucapan Dion barusan. Keduanya langsung berdiri dan segera pergi dari sana tanpa mengatakan apapun.


"Apa yang terjadi Dion?" tanya Arya mewakili mereka semua yang penasaran.


"Maaf Raden Arya tapi saat ini tuan muda sedang mengamuk di mansion" ucap Dion sambil membungkuk hormat.


"Bagas sudah pulang?" tanya Putri dengan kaget.


"Iya Kanjeng Ayu barusan kepala pelayan menelpon saya dan memberitahu hal ini" ucap Dion.


"Mas kita ke sana juga" ucap Putri dengan wajah panik.


Dion tak berkata apa-apa langsung memberi hormat dan keluar dari aula keraton. Ia dengan cepat menyusul Budi dan Arinta yang sudah lebih dulu sampai di mobil.


"Apa yang sebenarnya terjadi Dion?" tanya Arinta.


"Saya tidak tahu nyonya. Tapi tadi bi Susi menelpon jika tuan muda sedang mengamuk di mansion" ucap Dion.


"Kapan Bagas sampai di Solo" ucap Budi dengan panik.


"Saya tidak tahu tuan karena tidak ada pemberitahuan dari orang suruhan kita yang mengawal tuan muda tuan" ucap Dion.


"Heeemmmm"


"Mas perasaan aku ngak enak" ucap Arinta dengan wajah panik.


"Tenang sayang semua pasti baik-baik saja" ucap Budi menenangkan sang istri.


Meski ia ragu dengan ucapannya sendiri karena Budi yakin emosi sang anak kali ini menyangkut perihal Valeria.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


~ Jakarta, Indonesia ~


Setelah membeli bahan makanan dan kebutuhan seharinya Valeria segera membayar semua belanjaannya dan berlalu pergi dari supermarket.


Saat pulang Valeria memilih lewat gang sempit yang tidak terlalu ramai. Karena ia sangat tidak suka dengan keramaian lagian jalan yang ia pilih adalah jalan pintas untuk cepat sampai ke apartemennya.


Saat di tengah gang Valeria melihat ada 5 orang berbadan besar bertampang sangar yang sedang memukul seorang laki-laki. Entah itu pria tua atau muda ia tidak bisa melihat dengan jelas karena minim pencahayaan.


"Dasar berengsek t***l lakuin hal kecil aja ngak becus loe" bentak seorang preman sambil mengangkat kakinya menendang perut cowok itu.


"Anj**g loe udah di kasi makan gratis malah ngelunjak to**l" teriak preman yang lain.


Valeria melihat mereka dengan tatapan datar dan tidak perduli. Hanya ada suara erangan dari cowok itu yang ia dengar.


"Ckk! Sampah" desis Valeria dengan wajah datar.


Salah satu preman yang mendengar desis Valeria segera berbalik melihat ke belakang.


Ia mengangkat alisnya sebelah melihat seorang gadis yang berdiri di depan mereka sambil menentang 2 plastik besar di tangannya.


"Bos lihat siapa yang sedang menonton kita" ucap preman tadi.


"Wah ada mangsa segar nih" ucap salah satu preman yang sudah menyadari kehadiran Valeria.


"Minggir" ucap Valeria dengan suara dingin dan tatapan tajam.


Mereka merinding melihat tatapan Valeria tapi saat melihat jika di depan mereka adalah seorang gadis seketika tawa mereka pecah.


"Gadis kecil apa yang loe lakukan disini? Apa loe ingin menemani mas malam ini?" tanya bos preman sambil menjilat bibirnya dengan napsu.


Tatapan lapar dan penuh nafsu dari kelima preman di depannya tidak membuat Valeria takut. Bahkan ia rasanya tak sudi ingin menjawab perkataan mereka.


Melihat Valeria yang hanya diam sambil menatap datar mereka bos preman itu lalu melangkah maju ke depan ingin menyentuh pipi Valeria.


Arrrggghhhh.....


Teriak bos preman tadi karena tangannya langsung di patahkan Valeria saat akan menyentuh pipinya. Semua yang disana kaget melihat tubuh kecil Valeria yang dengan mudah mematahkan tangan besar itu.


"Gadis sialan! Loe udah bosan hidup! Hah" bentak bos preman sambil menahan sakit.


"Jangan pernah sentuh gue dengan tangan kotor loe itu" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Apa yang kalian tunggu cepat hajar gadis kurang ajar ini" bentak bos preman melihat anak buahnya yang hanya diam saja.


"Awas loe gadis sialan! Gue bakal bikin wajah cantik loe itu hancur" bentak salah satu preman.


"Cih!! Coba saja kalau loe bisa sentuh muka gue" ucap Valeria dengan sinis.


Mereka lalu maju dan menghajar Valeria tapi belum juga 5 menit mereka semua sudah babak belur. Valeria tak memberi kesempatan buat mereka untuk memukulnya sedikit pun.


Bahkan cowok yang tadi di keroyok mereka menatap Valeria tak percaya. Ia bingung melihat Valeria yang dengan mudah mengalahkan 5 orang preman dengan singkat.


"Tadi loe bilang mau hancurin wajah gue ya" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.


"Amp....un g...ue salah to...long maafin...n g...ue" ucap preman itu dengan tubuh gemetar.


Sret..........sret...........sret..........


Arghhhhh..........


3 Sayatan panjang dan dalam tepat di muka preman itu bahkan teriakan kesakitannya membuat ke empat temannya tak bergerak karena kaget sekaligus takut.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Baru kali ini mereka melihat ada seorang gadis remaja yang dengan kejam membuat luka seperti itu. Teriakan kesakitan preman tadi tak membuat Valeria takut malahan semakin tersenyum senang.


Apa dia psycopath, batin cowok tadi.


Seperti mendapat kesenangan tersendiri Valeria terus mengukir wajah preman itu dengan paku karat yang diambilnya tadi. Ia sangat senang melihat korbannya merintih kesakitan itu seperti alunan musik yang merdu.


"Tolong lepaskan kami! Kami mohon ampun" ucap bos preman.


"Hemmmm! Boleh saja tapi ada syaratnya" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.


"Apa itu"


"Mulai detik ini loe semua jadi anak buah dan ngak ada bantahan" ucap Valeria dengan tegas.


"Baik master kami akan menjadi anak buah master" ucap mereka berlima serentak.


"Satu lagi gue paling benci yang namanya pengkhianat dan kebohongan" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.


"Kami berjanji dengan hidup kami sendiri akan melayani master sampai akhir hidup kami" ucap mereka semua dengan serentak.


"Pergi besok kita bertemu disini jam 19:00 malam"


"Baik master terima kasih"


Setelah ke lima preman itu pergi Valeria lalu berjalan menuju cowok yang tadi mereka pukul. Ia melihat wajah pria itu dan mengerutkan keningnya karena wajah cowok itu blasteran bukan orang pribumi.


"T...o...long g...ue" ucap cowok itu dengan lemah.


"Ckk! Lemah!" cibir Valeria dengan wajah datar.


Meski begitu ia tetap menolong cowok itu dan membawanya ke apartemennya sambil memapah cowok itu di sebelah lengannya.


Valeria merasa jika apa yang dialami oleh cowok itu tidak jauh berbeda dengannya. Ia merasa mereka akan dekat karena memiliki masa lalu yang kelam.


~ Mamsion Kusumo ~


Saat mobil Budi memasuki halaman mansion Kusumo mereka langsung mendengar suara gaduh dan benda pecah dari dalam.


Tak menunggu pintu di buka keduanya lalu bergegas masuk ke dalam mansion diikuti Dion. Sampai di ruang keluarga semuanya kaget melihat mansion yang sudah hancur dengan tetesan d***h di sekitar mansion.


Prang..........prang...........prang..........


Arrgghhhhh.......


Bunyi benda pecah serta teriakan kesakitan bergema dari ruang makan. Ketiganya lalu berjalan ke sana dan sampai disana mereka kaget bukan main melihat Bagas yang menginjak kaki salah satu penjaga.


Di pastikan kaki penjaga itu remuk dan hancur karena injakan Bagas yang sangat kuat. Air mata Arinta mengalir dengan deras melihat tubuh putranya berlumuran darah.


"Hentikan Bagas Panji Kusumo" teriak Budi dengan suara kencang.


Mendengar suara yang sudah ia tunggu dari tadi matanya seketika menatap ke belakang dengan tatapan membunuh. Budi, Arinta, dan Dion kaget melihat tatapan Bagas yang seperti monster.


Tuan muda sangat mengerikan bahkan lebih mengerikan dari tuan, batin Dion sambil menelan saliva dengan susah.


"Akhirnya anda datang juga tuan Budi Kusumo yang terhormat" ucap Bagas dengan seringai penuh arti.


Budi kaget melihat senyum smirk anaknya yang hanya ia sendiri yang tahu kalau itu adalah senyuman iblis keluarga Kusumo.


Mendadak wajahnya pucat merasakan aura membunuh seperti singa yang sedang melihat mangsanya.


❄❄❄❄❄


To be continue..............


Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀