
π»Percayalah orang yang mencintaimu akan tetap mencintaimu apapun keadaannya, dan orang yang membencimu tetap membencimu sesempurna apapun dirimuπ»
.
.
.
.
Saat Bagas tengah memikirkan orang yang memberinya flash waktu itu, orang itu yang tak lain adalah eyes one saat ini sedang mengintai pergerakan om Arya. Ia di tugaskan oleh Valeria untuk memantau om Arya dan tante Sisil.
"To....long beri ak...u tambahan waktu" ucap om Arya dengan gugup.
"Ngak ada tambahan waktu lagi buat loe pak tua" ucap Anton seorang lintah darat.
"Tapi aku tidak punya uang saat ini" ucap om Arya dengan gemetar.
"Kayaknya ginjal loe cocok buat bayar bunga hutang loe" ucap Anton sambil tersenyum smirk.
"Apa? Jangan aku mohon jangan ambil ginjal aku" ucap om Arya dengan wajah pucat.
"Kalau ngak mau makanya bayar utang loe sekarang an**ng!" bentak Anton sambil menjambak rambut om Arya.
"Arrrghhh.......kasih aku tambahan waktu buat lunasi utang aku" teriak om Arya yang sangat kesakitan.
"1 minggu waktu buat loe. Kalau ngak say good bye sama ginjal atau jantung loe itu" ucap Anton dengan ketus.
"Oke"
Anton lalu melepas jambakannya, ia melihat anak buahnya yang berbadan besar sambil melirik om Arya. Paham apa maksud sang bos keduanya langsung menghajar om Arya dengan brutal.
Bugh.......bugh.......bugh.....bugh......
Aaarrgghhh...........
Jeritan kesakitan bergema di dalam gang yang sangat sepi, tak ada satu orang pun yang bisa menolong om Arya saat ini. Tubuh om Arya yang kesakitan di biarkan begitu saja oleh Anton dan anak buahnya.
Eyes One yang melihat semuanya dari awal hanya menatap om Arya dengan tatapan datar, tak ada rasa iba atau kasihan sama sekali. Ia hanya memantau om Arya dan jangan sampai nyawanya melayang.
~ Kingdom Apartment ~
Waktu sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi tapi keduanya belum juga bangun. Tak berselang lama mata Valeria mulai mengerjap pelan-pelan tanda ia sudah bangun.
Sesaat ia sadar jika ada tangan yang memeluk perutnya dengan erat, Valeria berbalik ke belakang melihat siapa yang memeluknya dan ternyata itu adalah Thomas.
Baru kali ini gue tidur ngak ke bangun lagi, batin Valeria dengan tanda tanya.
Ia lalu melepaskan pelukan Thomas dan berjalan ke kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi Valeria masih sempat melirik Thomas yang masih tertidur dengan damai di atas ranjangnya.
Valeria terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa ia tidak terbangun lagi semalam. Otaknya terus berpikir kemungkinan yang membuatnya tidak insomnia tapi tetap saja nihil.
"Ya gue pasti terlalu capek" ucap Valeria.
Selesai membersihkan diri Valeria segera menuju walk in closet dan memilih pakaian apa yang akan ia pakai. Tak lupa sebelum keluar ia memakai perawatan setiap pagi dan juga lipblam.
Berhubung hari ini Ares tidak ada, Valeria lalu menyuruh pelayan menyiapkan sarapannya sambil ia pantau sendiri. Setelah sarapan Valeria bergegas masuk ke dalam ruang kerja untuk mengecek email yang masuk.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Akhirnya dendam loe terbalaskan" ucap Valeria saat melihat email dari Ares.
Valeria lalu melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk. Sedangkan di luar Yorla, Zero, Raksa, Riki, dan Rani baru saja masuk ke dalam penthouse Valeria.
"Apa noona tidak pulang?" tanya Zero melihat sekeliling.
"Kayaknya udah pulang. Tuh lihat ada sarapan di atas meja" tunjuk Riki ke arah meja makan.
"Ah! Akhirnya ada makanan eke lapar banget" pekik Yorla dengan senang.
"Heh! Bencong sialan, kita belum tahu master udah sarapan apa belum jadi jangan coba-coba!" bentak Raksa.
"You diam aja deh pak tua! Emang you pikir eke bakal habisin nih makanan semua!" ketus Yorla dengan tatapan tajam.
"Ya siapa tahu aja"
Bugh.........bugh.........bugh.........bugh..........
"Hey stop stop bencong sialan kenapa loe pukul gue sih!" bentak Raksa sambil menghindar.
"Nih rasain pukulan eke siapa suruh you ngatain eke" ucap Yorla dengan kesal.
Yorla terus memukul Raksa dengan gaya gemulai, semuanya hanya menertawakan keduanya karena pukulan Yorla tidak akan sakit sama sekali. Raksa terus mengumpat dan membentak Yorla tapi tidak di pedulikan oleh Yorla.
"Kalian siapa?" tanya Thomas yang mendengar keributan di ruang makan.
Semua mata langsung tertuju ke arah Thomas yang berdiri tak jauh dari sana. Mata Yorla seakan ingin keluar dari tempatnya melihat wajah tampan Thomas yang sangat maco.
"Ah! Pangeran eke akhirnya datang menjemput eke" pekik Yorla dengan histeris.
Thomas mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan Yorla yang tak ia paham. Pasalnya Yorla berbicara dengan bahasa Indonesia, Riki yang melihat Thomas langsung bersiaga.
"Siapa kamu? Kenapa bisa ada di penthouse Valeria?" tanya Riki dengan suara tegas.
"Valeria? Where is she?" (dimana dia) tanya Thomas balik.
"Katakan siapa yang mengirim kamu kesini dan bagaimana kamu bisa masuk" ucap Raksa sambil menodong senjata tepat di wajah Thomas.
Zero dan Riki juga sama-sama menodong Thomas dengan senjata sedangkan Rani dan Yorla memilih menjauh dari sana karena keduanya tidak bisa menggunakan senjata atau berkelahi.
"Apa pangeran tampan bakal di tembak?" tanya Yorla berbisik.
"Gue ngak tahu" bisik Rani.
"Ihhh.........kasian banget kalau di tembak, nanti pangeran eke ngak ganteng lagi" ucap Yorla mendramatis.
"Katakan siapa yang mengirim kamu bajingan!" bentak Raksa.
"Dimana Valeria?" tanya Thomas tak menggubris pertanyaan Raksa.
Karena kesal Raksa langsung maju meninju Thomas tapi ia berhasil mengelak. Zero dan Riki terus mengarahkan pistol mereka ke arah Thomas tanpa berniat menembaknya.
Keduanya membiarkan Raksa untuk berduel dengan Thomas karena Thomas yang mempunyai kemampuan di atas Raksa dengan mudah ia bisa mengelak.
Bugh.......bugh........bugh.....bugh.....bugh.......
Keduanya saling membalas pukulan hingga menghancurkan barang di sekitarnya. Thomas meninju Raksa tepat di rahangnya membuat Raksa seketika terpental ke belakang.
Brugh............
"Sialan aku akan membunuhmu berengsek" teriak Raksa dengan emosi.
Bugh.........bugh..........bugh......bugh......
Thomas tersenyum sinis sambil meninju perut dan bahu Raksa berulang kali, Rani yang melihat tunangannya sudah babak belur hanya bisa menangis.
Sedangkan Yorla ia berteriak histeris senang karena Thomas sangat memukau.
"Yeey! Pangeran tampan eke memang hebat....uhhh" teriak Yorla sambil melompat kegirangan.
Zero dan Riki berbalik melihat Yorla dengan tatapan tajam karena mendukung Thomas musuh mereka. Yorla yang mendapat tatapan tajam dari keduanya terkekeh sambil melempar kiss fly buat keduanya.
Dasar bencong sialan bikin gue jijik aja, batin Riki.
Ihhhh.......jijik banget dapat ciuman dari banci, batin Zero bergidik ngeri.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Thomas dan Raksa terus berkelahi saling memukul dan menendang tak memperdulikan keadaan di sekitar mereka.
Dor.............dor...............
2 Tembakan meleset ke arah Thomas dan Raksa yang sedang berduel, keduanya diam mematung saat peluru melewati pelipis mereka dengan cepat dan tepat mengenai tembok.
Semua merinding ketakutan melihat Valeria yang berdiri di lantai dua dengan tatapan seperti iblis. Auranya menguar membuat udara di dalam sana menipis bahkan terasa sangat dingin seperti di kutub utara.
"Beraninya kalian menghancurkan penthouse aku" bentak Valeria menggelegar di dalam sana.
Brugh.............
Raksa jatuh berlutut tak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya seperti mendapat tusukan es yang sangat tajam dan dingin. Thomas sendiri berdiri dengan kaku tak bisa mengerakkan tubuhnya seperti ada yang memegang kedua kakinya dengan erat.
Apa ini kenapa tubuhku seperti di lem tak bisa digerakkan, batin Thomas dengan tubuh gemetaran.
Bugh............bugh...............
Brak........
2 tendangan tepat di perut Raksa dan Thomas sampai terpental membentur tembok dan meja makan. Keduanya merasa sangat kesakitan mendapat tendangan Valeria barusan.
Aaarrgghhh...........
Teriak Raksa menggema di dalam sana saat rusuknya di injak Valeria dengan kuat. Melihat hal tersebut Rani segera berlari memeluk kaki Valeria sambil menangis.
"Hiks hiks hiks.......kak aku mohon lepaskan mas Raksa.....hiks hiks hiks" pinta Rani sambil memohon.
"M....as...ter maa..f" ucap Raksa dengan terbata merasa sangat kesakitan.
"Ckk!! Bawa dia pergi!" bentak Valeria dengan suara tinggi.
"Hiks hiks.........iya ka" ucap Rani dengan sesegukan.
"Val" ucap Riki dengan takut.
"Yorla" panggil Valeria dengan suara tinggi.
"Iya sister" ucap Yorla dengan gugup.
Plak............
Wajah Yorla seketika menoleh ke samping saat mendapat tamparan yang sangat kuat dari Valeria bahkan bibirnya sampai robek. Air mata Yorla jatuh mengalir dengan deras merasakan sakit yang amat luar biasa.
"Ma....af sist....er....hiks hiks hiks" ucap Yorla sambil manangis.
"Loe tahu gue paling ngak suka barang milik gue hancur" bisik Valeria.
"Maaf sister"
"2 jam buat loe beresin semuanya"
"Iya sister"
Valeria berlalu menuju dapur dan mengambil air minum, Zero dan Riki hanya diam saja tak berani mengatakan satu kata pun. Thomas sendiri berusaha bangun meski merasakan sakit yang amat luar biasa.
Grep............
Thomas memeluk tubuh Valeria dengan erat saat ia baru keluar dari dapur. Seketika Yorla, Zero, dan Riki melotot melihat keberanian Thomas memeluk Valeria dan ketiganya tahu kalau Valeria sangat membenci di sentuh.
Nih cowok cari mati ya, batin Riki.
Ah......tampan you buat diri you dalam bahaya, batin Yorla.
"Honey" ucap Thomas.
Rahang ketiganya seakan ingin terlepas mendengar panggilan orang di depannya kepada Valeria. Baru kali ini mereka melihat ada yang berani memeluk dan memanggil Valeria seperti itu.
"Kalian keluar" ucap Valeria dengan suara dingin.
Ketiganya tak berkata apa-apa dan segera keluar meski masih sangat penasaran siapa sebenarnya orang itu. Thomas terus memeluk Valeria seakan takut Valeria akan pergi.
"Lepas"
"No. Tubuhku semuanya sakit honey" rengek Thomas dengan manja.
"Bukan urusanku" ketus Valeria.
"Honey" panggil Thomas dengan suara lembut.
"Heeemmm"
"Aku lapar"
"Makan kalau lapar"
"Kamu temani ya honey" bujuk Thomas.
"Aku sibuk masih ada kerjaan"
"Ckk!! Dasar pacar menyebalkan" gumam Thomas dengan ketus.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Meski terus membujuk Valeria tapi tetap Valeria tak mengindahkan bujukan Thomas. Dengan kesal Thomas segera mandi dan memakai pakaian yang di bawakan oleh anak buahnya tadi.
"Honey aku pergi dulu. Kamu jangan dekat dengan laki-laki lain ya" ucap Thomas dengan suara tegas.
"Heemmmm"
Cup...........
Thomas mencium bibir Valeria dan me****tnya sebelum pergi. Valeria hanya menatap kepergian Thomas dengan wajah dingin dan datar tak ada yang tahu apa yang sedang di pikirkannya.
Thomas segera menuju rumah sakit menemui Kevin untuk mengobati memar di tubuhnya, setelah diobati Thomas segera berlalu menuju perusahaan.
~ Wesly Group ~
Thomas sampai di lantai 98 dan bergegas menuju ruangannya, ia segera menyelesaikan semua laporan yang menumpuk di atas meja kerja mengantikan Xavier dan Albert yang pergi ke Italia.
Saat jam makan siang Thomas terus berkutat dengan pekerjaan hingga hpnya berbunyi ada pesan dari anak buahnya. Thomas melihat pesan tentang Albert dan Xavier yang baru saja berangkat dari Italia.
"Halo bos" ucap anak buah Thomas dari seberang.
^^^"Bos besar akan tiba tengah malam nanti. Siapkan mobil dan pengawal"^^^
"Baik bos"
Thomas segera mematikan panggilannya dan sesaat ia ingat jika belum menghubungi Valeria, Thomas yang sudah mendapat nomor Valeria waktu itu segera menelponnya.
"Halo" ucap suara dingin dari seberang.
^^^"Honey"^^^
"Ada apa"
^^^"Aku merindukanmu honey"^^^
Tutt......tuuttt ........tutt.......
Thomas berteriak kesal melihat panggilan yang di matikan sepihak oleh Valeria, ia ingin segera menemui Valeria tapi tak bisa karena pekerjaannya sangat menumpuk.
"Awas kamu honey aku akan beri kamu hukuman nanti" ucap Thomas dengan kesal.
βββββ
To be continue.............