
π»Cukup jadi sederhana dan lihat siapa yang menerima kita apa adanyaπ»
.
.
.
.
"Apa" pekik Thomas dengan kaget.
Valeria terkekeh melihat kekagetan di wajah suaminya tak menyangka jika selama ini istrinya punya pengawal bayangan yang selalu melindunginya.
"Pergi" ucap Valeria dengan suara dingin.
Wush.........wush...........wush..............
Ketiganya menghilang seperti angin yang berhembus membuat Albert dan Kevin melihat sekeliling tapi tidak menemukan mereka.
Xavier menatap Valeria dengan tatapan dingin tapi dalam otaknya sedang berpikir seberapa kuat Valeria dan bagaimana Valeria bisa memiliki sesuatu yang tidak pernah ia sangka.
"Jangan terlalu berpikir keras Xavier. Kamu tidak akan bisa menebak semua yang aku miliki" ucap Valeria dengan senyum menyeringai.
Tak ada suara apapun dan hanya tatapan dingin dan datar Xavier melihat Valeria. Dengan santainya Valeria menebas leher anak buah Xavier hingga kepalanya terputus.
Darah segar muncrat mengenai pakaian dan wajah Valeria membuatnya bermandikan darah.
Albert, Kevin dan semua anak buah Devil Dragon bergidik ngeri melihat kekejaman Valeria. Mereka tak menyangka akan ada orang yang kejam seperti Valeria bahkan kekejamannya melebihi bos mereka.
"Honey hentikan semua ini" pinta Thomas sambil mengurut keningnya yang sakit.
Bau anyir darah menyeruak di dalam sana membuat Kevin muntah tak kuat mencium bau itu.
Sedangkan Valeria berlalu dengan santai mengambil handuk yang tak jauh dari sana mengelap wajahnya yang penuh darah.
Deg..............
Jantung Valeria berdetak dengan cepat merasa perutnya sangat sakit. Ia berdiri sambil memegang kursi didepannya menahan rasa sakit di perutnya.
"Honey" lirih Valeria menatap Thomas dengan wajah pucat.
"VALERIA" teriak Thomas menggelegar didalam sana berlari saat melihat tubuh istrinya yang akan jatuh.
Beruntung ia cepat menangkap Valeria sebelum jatuh ke lantai. Thomas semakin panik melihat wajah istrinya yang pucat.
"Honey kamu kenapa?" tanya Thomas dengan cemas.
"Sakit. Perut aku sakit honey" lirih Valeria dengan suara sangat pelan menahan sakit.
"Darah? Honey ada darah mengalir di kakimu" pekik Thomas dengan panik.
"Selamatkan anak kita honey" pinta Valeria sebelum jatuh pingsan.
"HONEY! KAMU HARUS BERTAHAN HONEY" teriak Thomas dengan panik.
"Albert telpon rumah sakit aku ke sana sekarang dan suruh dokter pribadi istriku ke sana" teriak Thomas sambil mengendong Valeria keluar.
Albert segera menelpon pihak rumah sakit Wesly untuk bersiap di rooftop menunggu kedatangan Thomas dan Valeria yang sudah pergi dengan helikopter.
"Dude aku ikut" ucap Kevin naik ke helikopter.
"Selamatkan istri dan anakku Kevin" ucap Thomas dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu tenang dude. Aku yakin Valeria dan anak kalian akan baik-baik saja" ucap Kevin sambil memeriksa keadaan Valeria dan kandungannya.
Ia melakukan pertolongan pertama sebelum mereka sampai di rumah sakit. Apa lagi melihat darah yang terus mengalir dari kedua paha Valeria.
Ya Tuhan selamatkan istri dan anakku, batin Thomas berdoa dalam hati.
Tubuhnya bergetar mengingat kejadian waktu istrinya melahirkan Mikhail dan ia sangat takut jika hal itu terulang kembali.
~ Wesly Hospital ~
Sampainya di helipad di rooftop Wesly Hospital kedatangan mereka sudah di tunggu oleh dokter Lauren dan dokter Vivian.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Dengan cepat Thomas mengendong Valeria dan menaruhnya di atas brankar. Dokter Lauren dan dokter Vivian segera mendorong brankar Valeria menuju ruang UGD.
Sampainya di ruang UGD Dokter Lauren dan dokter Vivian segera memeriksa kondisi Valeria apa lagi darah yang keluar dari sela pahanya semakin banyak.
"Dok tekanan jantung pasien sangat lemah" ucap salah satu suster.
Dokter Lauren segera memompa dada Valeria untuk mengembalikan detak jantungnya kembali normal dan usahanya berhasil.
"Lakukan transfusi darah ke pasien" ucap dokter Lauren dengan tegas.
"Baik dok"
"Nyonya harus segera dioperasi kerena pendarahannya tidak berhenti" ucap dokter Vivian.
"Siapkan ruang operasi dan semua prosedurnya. Aku akan meminta persetujuan tuan" titah dokter Lauren.
Ceklek............
Thomas langsung menghampiri dokter Lauren saat pintu UGD terbuka.
"Gimana keadaan istri dan anakku? tanya Thomas dengan cepat.
"Nyonya mengalami pendarahan tuan dan saat ini nyonya harus dioperasi untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan nyonya"
Duar............
Bagai disambar petir tubuh Thomas menegang mendengar penjelasan dokter Lauren. Tubuhnya hampir jatuh tapi berhasil di tahan Kevin dan Rehan yang sedari tadi menemaninya.
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan keduanya" ucap Thomas dengan suara tegas.
"Baik tuan kami akan berusaha semaksimal kami"
Brankar Valeria lalu di dorong keluar menuju ruang operasi.
Air mata Thomas jatuh melihat wajah istrinya yang semakin pucat, tangannya menggenggam tangan Valeria sebelum masuk ke ruang operasi.
"Kamu harus bertahan buat aku dan anak kita honey........hiks hiks hiks" ucap Thomas sambil mencium kening Valeria sebelum masuk ke ruang operasi.
Kevin dan Rehan memalingkan wajah mereka ke arah lain tak kuasa menahan tangis melihat Thomas. Air mata mereka menetes ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Thomas saat ini.
2 Jam kemudian
Sudah 2 jam berlalu tapi belum juga ada tanda-tanda operasi Valeria selesai. Sedari tadi Thomas mondar-mandir di depan pintu operasi membuat Kevin dan Rehan pusing melihatnya.
"Dude kamu duduk dulu. Aku pusing lihat kamu mondar-mandir seperti itu" ucap Kevin.
"Diam kamu berengsek" hardik Thomas dengan suara tinggi.
Kevin menatap Thomas dengan wajah kesal karena dibentak Thomas.
Oeeekk........oeekk...........oeekkk...........
"Anakku" ucap Thomas sangat bahagia mendengar suara tangisan bayi.
"Selamat dude" ucap Kevin sambil menepuk bahu Thomas.
Tak berselang lama dokter Lauren keluar dengan wajah lelah. Melihat istrinya kelelahan dengan cepat Rehan langsung menghampiri istrinya karena khawatir.
"Kamu baik-baik saja yang?" tanya Rehan dengan cemas.
"Aku baik mas" jawab dokter Lauren sambil tersenyum manis.
Eheemm...............
Deham Thomas menyadarkan keduanya yang lupa jika ada Thomas tuan mereka yang sedari tadi sudah menunggu kabar dari dokter Lauren.
"Maaf tuan" ucap keduanya serentak.
"Bagaimana istri dan anakku?" tanya Thomas dengan cemas.
"Selamat tuan. Anak tuan perempuan tapi harus berada di inkubator selama 1 bulan karena organ tubuhnya belum kuat tuan"
"Lalu istriku?" tanya Thomas dengan cepat.
"Maaf tuan tapi nyonya saat ini mengalami koma"
Duar.............
Bagai disambar petir tubuh Thomas lemas tak bertenaga mendengar ucapan dokter Lauren. Kevin yang berdiri di belakang Thomas dengan cepat menahan tubuhnya yang akan jatuh ke belakang.
Hiks..........hiks.........hiks.........hiks.........
Tangis Thomas pecah tak tahu harus berbuat apa, tangisannya terdengar pilu disana membuat siapa saja yang mendengar ikut menangis.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Rehan dengan cepat mengabari ke seluruh anggota Black Shadow dan menyuruh Juan segera datang bersama beberapa anggota inti untuk menjaga keamanan Valeria di sekitar rumah sakit.
Valeria sudah di pindahkan ke ruangan VVIP di lantai 6 dan ruangannya disatukan dengan inkubator sang putri yang baru saja lahir.
"Kenapa honey? Kenapa kamu selalu seperti ini honey?" tanya Thomas dengan berderai air mata.
Ia menggenggam erat tangan sang istri sambil menangis menumpahkan semua kesedihannya. Sedangkan di luar ruangan Valeria, Xavier dan lainnya baru saja datang setelah mendengar kabar dari Kevin.
"Bagaimana keadaan Valeria, Kevin?" tanya Chloe.
"Valeria saat ini koma nyonya. Padahal kondisinya baik-baik saja nyonya" jawab Kevin yang bingung dengan kondisi Valeria.
Secara ilmu kedokteran tubuhnya baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun dan Kevin yakin jika ini semua menyangkut dengan alam bawah Valeria.
"Honey maafkan aku........hiks hiks hiks" lirih Thomas sambil menangis histeris menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi kepada sang istri.
βββββ
To be continue............