
π»Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baikπ»
.
.
.
.
Budi membuang cambuk yang ia pegang di samping tubuh Bianca, pikirannya tak menentu memikirkan semua yang terjadi hari ini. Dion yang melihat tuannya menghembuskan napas dengan kasar hanya diam saja.
Pasalnya ia tahu saat ini pikiran Budi tak tenang memikirkan masalah kali ini yang baru kali ini nama keluarga besar di coreng di depan publik. Dan itu semua karena perbuatan Bianca.
"Singkirkan ja***g kecil itu dari hadapanku!" bentak Budi saat netranya menatap Bianca yang tergeletak di depannya.
"Baik tuan" ucap Dion.
Para penjaga dan pelayan lalu mengangkat Bianca ke kamarnya. Mereka meringis melihat kulit daging Bianca yang menempel menjadi satu dengan pakaiannya, bi Susi lalu menelpon dokter Suci saat Dion memberi isyarat.
"Dion blokir semua kartu kredit ja***g itu" ucap Budi.
"Baik tuan"
"Jam berapa rapat besok"
"Jam 09:00 pagi tuan"
"Persiapkan semuanya biar besok aku yang tangani investor dan pemegang saham"
"Baik tuan"
"Dion apa betul yang dikatakan Bagas tentang butik aku?" tanya Arinta.
"Benar nyonya"
"Kenapa kamu tidak memberitahu aku! Hah" bentak Arinta dengan tatapan marah.
"Maaf nyonya. Saya juga baru tahu tadi setelah anak buah saya mengecek ucapan tuan muda" ucap Dion dengan sopan tak takut sedikit pun dengan bentakan Arinta.
Phew...........
Arinta membuang napasnya dengan kasar menetralkan emosi dalam dirinya.
Budi memberi isyarat kepada Dion untuk segera pergi, Arinta tak berbicara apa-apa dan langsung masuk ke dalam kamar di ikuti suaminya.
"Tenangkan diri kamu sayang jangan terlalu emosi" ucap Budi sambil mengelus pundak istrinya.
"Apa selama ini kita sudah salah mendidik anak kita mas?" tanya Arinta dengan tubuh bergetar.
"Kita sudah mendidik mereka dengan benar sayang. Kamu itu ibu yang terbaik untuk anak kita" ucap Budi sambil memeluk tubuh sang istri.
Hiks........hiks.............hiks.........hiks........
Arinta menangis menumpahkan perasaan yang berkecamuk di dalam dekapan Budi, hatinya sakit melihat sikap Bagas yang sangat dingin dan tidak menganggapnya seorang ibu.
Hati Budi sebenarnya sakit mendengar tangisan sang istri apa lagi ia tahu istrinya pasti sangat kepikiran dengan sifat putranya yang berubah drastis.
Budi sebenarnya seringkali rapuh saat ia dan anaknya saling melempar tatapan benci dan permusuhan tapi ia simpan dalam hatinya.
Son jangan pernah jauh dari ayah dan ibu kami sangat menyayangimu, batin Budi.
Sedangkan di luar dokter Suci yang baru datang langsung di bawa bi Susi menuju kamar Bianca.
Matanya melotot melihat tubuh Bianca yang dipenuhi luka yang sangat mengerikan bahkan ranjangnya sudah berubah warna karena darah Bianca yang mengalir terus.
"Apa ini perbuatan tuan bi?" tanya dokter Suci.
"Benar dok" ucap bi Susi.
"Ini sudah termasuk tindak kekerasan bi"
"Dokter pasti tahu bagaimana sifat tuan dan nyonya"
"Hemmm! Bibi benar tapi aku sangat kasihan dengan nona Bianca"
"Semuanya sudah terjadi dok"
"Aku ingat dengan Valeria bi. Apa dia hidup dengan baik di luar sana?" tanya dokter Suci dengan sedih.
"Dimana pun nona muda berada saya harap nona muda baik-baik saja dok" ucap bi Susi dengan derai air mata.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Dokter Suci menggelengkan kepalanya tak tahu harus berkata apa dengan sifat Budi dan Arinta. Ingin melapor ke polisi tapi ia tak bisa karena pastinya ia akan kalah melawan Budi di persidangan.
~ AS Entertainment ~
Tepat pukul 09:00 pagi Valeria yang mengendari mobil pribadinya jenis Lamborghini Veneno warna hitam berhenti tepat di depan AS Entertainment.
AS Entertainment (Ant Shadow ) adalah perusahaan entertainment no.1 di Korea.
Mobil Valeria diikuti Ares yang mengendari Audi R8 dan para pengawal Valeria sebanyak 5 mobil. Meski Valeria tak membawa pengawal pribadinya tapi anak buahnya di Korea selalu mengawal ia kemana saja.
Ares keluar setelah para pengawal membuka pintu untuknya, sambil melihat sekitar dan merasa sudah aman ia lalu berdiri tepat di samping mobil Valeria dan membuka pintu untuk Valeria.
Kaki jenjangnya yang dihias boots berwarna hitam dengan tinggi high heels 9 cm membuat semua pasang mata disana seketika terpesona.
Mereka sangat penasaran dengan presdir AS Entertaiment yang di kabarkan pagi ini akan datang.
Seketika semua orang di sana menganga dengan mulut terbuka melihat sosok perempuan modis yang baru saja turun dari mobil sport mewah. Aura dan pesonanya membuat semua mata berdecak kagum melihat ciptaan Tuhan di depan mereka.
"Selamat datang presdir" ucap Jakson dengan wibawa sambil membungkuk.
"Heeemmmm"
Valeria melihat jajaran direksi dan petinggi perusahaan yang menyambutnya. Bahkan semua karyawan berjejer rapi sambil membungkuk dan mengucapkan selamat datang.
"Your family" (keluargamu)
"Mereka berdiri di sana presdir" tunjuk Jakson ke arah paling belakang keluarganya berdiri.
"Suruh mereka ke ruanganku" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik presdir"
Valeria berjalan masuk di kawal Ares dan Jakson dari belakang. Sepanjang jalan tatapan Valeria menuju ke arah depan tapi netranya membidik seluruh karyawannya satu persatu.
Mereka lalu masuk ke lift khusus presdir menuju lantai 70 ruangan presdir. Saat sampai di sana Valeria langsung di sambut sekretarisnya yang merupakan anak buah Black Shadow.
"Selamat datang presdir" ucap Misya sambil membungkuk memberi hormat.
Valeria tak membalas ucapan Misya dan berlalu masuk ke ruangannya, keluarga Jakson yang baru saja datang langsung di sambut Misya dan mengarahkan ke dalam ruangan Valeria.
"Jakson bawa semua berkas perusahaan selama 1 tahun terakhir"
"Baik presdir"
Valeria melihat Jakson yang pandai membaur di depan umum jika mereka berada di perusahaan maka ia akan di panggil presdir. Tak lama pintu Valeria diketuk dan masuklah Jakson dan keluarganya.
"Presdir ini keluarga saya" ucap Jakson memperkenalkan keluarganya.
Valeria melihat istri dan kedua putra Jakson dengan tatapan datar. Meski tatapannya datar dan dingin tidak mengurangi kecantikannya yang membuat kedua putra Jakson berdecak kagum.
"Presdir suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda saat ini" ucap istri Jakson yang bernama Liliana.
"Heemmm"
"Silahkan duduk" ucap Ares setelah mendapat isyarat dari Valeria.
Mereka semua lalu duduk di sofa sambil Misya menyuguhkan minum untuk semuanya. Tak berselang lama Misya masuk kembali membawakan berkas yang baru saja di berikan asisten Jakson.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Brak................
Seketika pintu ruangan Valeria dibuka dengan kuat mengagetkan semua orang di dalam sana. Valeria melirik siapa yang berani masuk ke ruangannya tapi seketika ia berdecak malas.
"Sister" teriak seorang pemuda dengan suara tinggi.
"Zero dimana sopan santunmu!" bentak Jakson dengan emosi.
"Ck! Pak tua menyebalkan!" decih Zero dengan ketus.
Zero tak memperdulikan tatapan tajam Jakson sebagai direktur disini. Ia malah memilih mendekati Valeria yang langsung di tahan Ares untuk tak mendekati sang nyonya.
"Ihhh.......Ares kamu kenapa sih halangi aku!" bentak Zero dengan kesal.
"Anda sudah tahu jawabannya"
"Ckkk!!"
Ia tidak suka di sentuh orang selain orang-orangnya bahkan sering kali ia membuat rumor akibat kelakuannya.
"Sister i miss you" (kakak aku merindukanmu)
"Heeemmm"
"Noona temani aku main sebentar ya. Oh malam ini nginap di **penthouse**ku ya noona"
Valeria tak menjawab ucapan Zero sedari tadi merasa makhluk di sampingnya ini sangat berisik. Bahkan Jakson baru ingat apa yang di bilang Valeria waktu itu memang benar kalau Zero adalah orang yang sangat berisik.
"Zero apa ini betul kamu?" tanya Jakson yang sudah sangat penasaran.
"Ckk! Menganggu saja pak tua!" decak Zero dengan ketus.
"Aku ini atasan kamu Zero" ucap Jakson dengan kesal.
"Lalu! Apa aku harus berdiri dan menyanjungmu"
"Dasar bocah sialan kamu Zero"
"Heh! Pak tua diam deh. Suaramu bikin telingaku sakit" teriak Zero dengan ketus.
"Awas kamu bocah sialan" ucap Jakson dengan emosi.
"Diam!" bentak Valeria dengan suara menggelegar.
Semuanya diam merasakan aura Valeria yang sangat mengerikan, tatapan matanya berkilat melihat Zero dan Jakson bergantian. Dengan diam mereka menunduk takut mendapat kemarahan dari Valeria.
"Keluar" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Tapi sister" ucap Zero yang langsung di potong Valeria.
"Jangan membuatku mengulangi ucapanku" desis Valeria dengan tatapan membunuh.
Glek...........
Zero menelan salivanya dengan susah mendapat tatapan mata Valeria, tak berkata apa-apa ia segera keluar dari ruangan Valeria meninggalkan Valeria dan Ares saja.
Di luar Jakson dan Zero bertatapan dengan tatapan tajam membuat semuanya menghela napas melihat keduanya yang lagi-lagi tak pernah akur.
Zero memang sedari dulu selalu membuat Jakson kepala sakit dengan kekacauan yang ia buat.
Ceklek.........
"Jakson silahkan masuk dan anda Zero silahkan ke auditorium mengantikan Jakson sebagai juri"
"Ah! Aku tidak mau! Itu kan kerjaan pak tua itu" tolak Zero sambil menunjuk Jakson.
"Ini perintah nyonya" ucap Ares dengan tegas.
"Ckk!" decak Zero dengan kesal.
Mau tak mau ia harus pergi mengantikan Jakson menjadi juri di audisi pencarian bakat baru. Zero mendelik tajam melihat Jakson yang tersenyum menyeringai kepadanya.
Dasar pak tua sialan lihat aja aku bakalan kacaukan audisi dibawah, batin Zero sambil tersenyum penuh arti.
Setelah melihat keluarganya pergi Jakson segera masuk ke dalam ruangan Valeria. Saat masuk ke dalam Jakson menelan salivanya dengan susah merasakan aura Valeria yang sangat mengerikan.
"Dimana Kim Jeong?" tanya Valeria.
"Di Solo nyonya. Ia sedang mengawasi mansion tuan besar mencari keberadaan anak haram itu" ucap Ares.
"Apa anak haram itu di mansion"
"Iya nyonya. Anak haram itu mendapat cambuk dari tuan besar di seluruh tubuhnya dan dipastikan ia akan pulih dengan lama"
Hahahaha...............
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tawa Valeria pecah mendengar ucapan Ares ia sudah tahu hal tersebut akan terjadi kepada Bianca karena ia sangat mengenal sifat Budi dan Arinta. Mereka tak segan-segan menghukum anaknya sendiri jika mempermalukan nama Kusumo.
"Jakson bagaimana pasukan kita"
"Semuanya sudah siap master. Sedangkan yang menyamar di markas milik Kim Jeong memberitahu jika saat ini keadaan markas tidak terlalu ketat penjagaannya"
"Heemmm! Malam nanti kita serang markas mereka tepat jam 12:00 malam"
"Baik master"
"Jakson kamu pimpin 100 anak buah kita ke markasnya di pulau Jeju, suruh Kian pimpin 100 anak buahnya ke markasnya di Busan"
"Apa presdir yang akan turun tangan di markas besar mereka?" tanya Jakson.
"Heemmm"
"Tapi jumlah mereka di markas besar lebih banyak master"
"No problem! Aku yakin dengan kemampuan anak buahku" (tidak masalah) ucap Valeria dengan tatapan tajam.
"Baik presdir"
Jakson segera berlalu pergi mempersiapkan semua yang Valeria perintahkan. Sedangkan Valeria masih memeriksa laporan baru setelah itu ia pergi ke markas Black Shadow.
Tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, Valeria dan pasukannya berjumlah 100 orang sedang mengintai markas besar milik Kim Jeong. Ares lalu pergi setelah Valeria memberi isyarat untuk menghancurkan cctv.
^^^"Tim A bersiap di posisi" ucap Valeria lewat earpiece.^^^
"Baik master"
^^^"Tim B habisi semua penjaga dan sniper"^^^
"Baik master"
^^^"Kita serang mereka sekarang. Bunuh dan hancurkan semuanya" ucap Valeria setelah melihat penjaga dan sniper sudah dibereskan.^^^
"Baik master" ucap semua anak buahnya dengan serentak.
"Ada musuh" teriak salah satu anak buah Kim Jeong yang berlari ingin membunyikan alarm.
Dor.........dor.......dor.........dor........dor.......dor.........
Duar.........duar.........duar........
Belum sempat membunyikan alarm suara tembakan sudah bergema di dalam sana. Anak buah Valeria dengan gesit menembak musuh mereka tepat di kepala dan dada bahkan gudang mereka juga di ledakkan oleh Valeria.
Api berkobar di mana-mana membuat semua anak buah Kim Jeong kalang kabut ingin kabur.
Valeria tersenyum seperti iblis melihat musuhnya satu persatu tumbang bahkan kebakaran akibat ledakan tadi tidak membuat Valeria berhenti untuk masuk ke dalam.
Dor......dor......dor.....dor........dor.......dor........
Arrrgghhhh.........
Bunyi tembakan dan teriakan kesakitan bergema di sana beruntung markas Kim Jeong berada di tengah hutan jadi tidak ada satu pun yang mendengar teriakan dan bunyi tembakan.
"Nyonya" ucap Ares menyeret seseorang yang sudah berlumuran darah di bagian kaki.
"Siapa kalian?" tanya orang tersebut.
"Welll well!! Lihat siapa ini" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Ampun siapa kalian! Jangan bunuh aku dan apa salah ku?" tanya orang itu dengan tubuh gemetar merasakan tatapan tajam Valeria.
"Tidak penting siapa aku. Karena kamu sudah berani mengusik kakakku maka dengan senang hati aku membalasnya"
"Apa maksudmu aku tidak mengenal kakakmu?" tanya orang tadi.
"Bagas Panji Kusumo he is my brother" (dia kakak aku) ucap Valeria dengan aura membunuh.
"Jadi kamu?"
"Heemmm! Aku adik tercintanya" ucap Valeria sambil tersenyum menyeringai di balik topeng.
"Ampun jangan bunuh aku! Aku mohon ampun" teriak orang tadi dengan memohon.
"Kematian mutlak untukmu" ucap Valeria dengan mata berwarna merah.
Crash.........crash...........crash..........
Valeria mencabik tubuh orang tadi seperti monster kelaparan, Ares hanya melihatnya dengan tatapan datar dan dingin. Hanya dia yang tahu bagaimana wujud Valeria jika sudah dikuasai jiwa monster dalam tubuhnya.
βββββ
To be continue..............
Hay guys jangan lupa tinggalkan jejak yang sebanyak-banyaknya ya biar author lebih semangat nulisnya guysπβ€