
π»Saat kamu menutup mata kamu memang tidak dapat melihat hal yang tidak kamu inginkan tapi kamu tidak dapat menutup hatimu dari hal yang tidak ingin kamu rasakanπ»
.
.
.
.
Suasana saat ini sangat menegangkan untuk di lihat karena aura yang keluar dari tubuh Bagas sangat mengerikan.
Bahkan Budi sedari tadi mengontrol rasa kaget dalam dirinya melihat tatapan membunuh dari Bagas Kusumo.
"Akhirnya kalian berdua datang juga" ucap Bagas sambil tersenyum penuh arti.
"Ibu mohon hentikan nak" pinta Arinta dengan memohon.
"Ibu mau aku berhenti tapi ibu sudah menghancurkan hati adik aku" bentak Bagas dengan suara tinggi.
"Dia bukan lagi bagian dari keluarga Kusumo jadi dia bukan adik kamu lagi Bagas" bentak Arinta yang tersulut emosi mendengar nama Valeria.
Hahahahahahaha............
Tawa Bagas seketika pecah mendengar ucapan sang ibu yang baru kali ini ia dengar secara langsung.
Arinta yang di kenalnya adalah sosok lemah lembut, bertutur baik, tegas, dan penyayang hari ini menunjukkan sosok siapa sebenarnya Arinta.
"Putri Arinta Cahya Winata - Kusumo ternyata adalah sosok ibu yang sangat kejam dan mengerikan" ucap Bagas dengan emosi.
"Jaga ucapanmu Bagas! Dia itu ibu yang melahirkan kamu" bentak Budi yang tersulut emosi dengan ucapan sang anak.
"Dia itu tidak pantas di panggil seorang ibu bahkan hewan pun masih memikirkan anaknya sendiri dibandingkan dirinya sendiri" teriak Bagas dengan suara tinggi.
Deg...............
Jantung Arinta seperti di tikam dengan pisau tepat di hatinya. Air matanya mengalir mendengar ucapan sang anak tentang dirinya ada rasa sakit yang amat sakit yang tidak bisa ia jabarkan.
"Kamu" tunjuk Budi dengan tatapan marah.
"Apa yang aku ucapkan memang kenyataan. Kalian tega memukul dan menyiksa adikku sendiri bahkan mengusirnya dari mansion ini" teriak Bagas dengan suara tinggi.
"Dia memang pantas mendapatkannya karena sudah mencoreng nama baik Kusumo" ucap Budi.
"Apa anda yakin dengan ucapan anda tentang adikku tuan Budi Kusumo?" tanya Bagas dengan remeh.
"Dia bukan adikmu lagi Bagas" bentak Budi.
"Sampai kapanpun Valeria tetap adikku dan nona muda di mansion ini bukan anak haram itu" tunjuk Bagas ke arah Bianca yang baru saja datang.
Semua mata langsung menuju ke arah Bianca yang baru saja datang.
Bianca sendiri kaget melihat suasana mansion yang seperti kapal pecah bahkan ia lebih kaget lagi melihat kehadiran Bagas saat ini dengan penampilan kacau.
Kapan kangmas pulang, batin Bianca dengan bingung.
"Jangan kalian pikir aku tidak tahu tentang putri kedua keluarga Kusumo" bentak Bagas.
"Dia memang putri keluarga Kusumo" ucap Budi.
"Maksud anda anak hasil perselingkuhan anda tuan Budi. Jadi dengan kata lain dia anak haram keluarga Kusumo" ucap Bagas sambil tersenyum sinis.
Bianca menatap marah Bagas mendengar ucapannya barusan. Ada rasa marah dan sakit hati saat mendengar ucapan Bagas tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena yang di dikatakannya benar.
"Cukup hentikan ini semua.......hiks hiks" teriak Arinta sambil menangis.
Ia tak sanggup melihat perdebatan antara suami dan anaknya lagi. Cukup sekali ia merasakan perdebatan sengit waktu itu tidak kali ini lagi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tak berselang lama semua keluarga besar Winata sudah tiba di mansion Kusumo. Seperti lainnya mereka di buat kaget melihat suasana mansion yang seperti kapal pecah apa lagi melihat kemarahan di wajah Bagas saat ini.
"Bagas........hiks hiks hiks" ucap Putri sambil menangis.
Bagas memandang lembut sang eyang karena dari dulu hanya eyang putri dan Valeria yang paling ia sayangi. Putri berlari memeluk Bagas sambil menangis menumpahkan semua kesedihan di hatinya selama 3 bulan.
"Kamu pulang cucuku.........hiks hiks.......tolong adikmu Bagas.......hiks hiks hiks" ucap Putri sambil menangis histeris.
"Tenang ya eyang Bagas sudah pulang" ucap Bagas dengan suara lembut.
Putri memeluk Bagas sambil menangis pilu mengingat Valeria. Semua yang ada disana hanya diam tak bisa mengatakan apa-apa bahkan Arya sendiri diam tidak bisa berbuat apa-apa melihat kesedihan sang istri.
"Aku kecewa sama ibu dan ayah" ucap Bagas dengan tatapan kekecewaan.
"Nak......hiks hiks hiks" ucap Arinta dengan sedih.
"Apa kalian yakin adikku seperti itu.........hiks hiks?" tanya Bagas sambil menangis.
"Jangan sebut nama perempuan ja**ng itu disini" bentak Budi.
"Anda jangan pernah menghina tentang adikku" hardik Bagas dengan suara tinggi.
"Ckk! Dia memang perempuan ja***g yang dengan cuma-cuma menjual tubuhnya" ucap Budi dengan emosi.
"Tutup mulutmu tuan Budi Kusumo yang terhormat!Sekali lagi anda menjelekkan nama adikku detik ini juga anda akan kehilangan putra semata wayang anda" hardik Bagas dengan suara tinggi menggelegar di dalam mansion.
Semua orang kaget mendengar ucapan Bagas yang tak takut sama sekali membentak sang ayah. Keduanya memiliki sifat yang sama sama-sama keras kepala dan egois.
"Kamu itu putraku Bagas Panji Kusumo sampai mati pun akan tetap seperti itu" bentak Budi.
"Begitu juga dengan Valeria Anastasia Kusumo" ucap Bagas dengan suara tegas.
"Jangan pernah menyebut nama anak sialan itu disini" ucap Budi dengan suara tinggi.
"Anak sialan itu adalah putrimu tuan Budi Kusumo dan sampai akhir zaman pun tidak akan pernah berubah"
"Dia bukan lagi bagian Kusumo setelah perbuatan kejinya itu"
"Apa anda melihatnya langsung dengan mata kepala anda sendiri apa yang dilakukan adikku tuan Kusumo" bentak Bagas dengan suara tinggi.
"Bagas sudah cukup tenangkan diri kamu nak" ucap Putri dengan takut melihat kemarahan kedua Kusumo itu.
Bagas tak menanggapi ucapan sang eyang dan memilih menghampiri sang ayah. Keduanya sama-sama menatap permusuhan lewat tatapan mata mereka tidak ada kelembutan sama sekali.
Semua penghuni mansion bergidik ngeri melihat perdebatan keduanya bahkan aura yang keluar dari tubuh keduanya membuat mereka merinding.
Arya yang biasanya akan menghentikan perdebatan keduanya memilih tidak ikut campur.
"Anda tidak pantas di panggil ayah" ucap Bagas penuh penekanan.
Plak.............
Arinta dan lainnya kaget bukan main melihat Budi yang menampar Bagas. Bukannya merasa sakit atau takut Bagas malah menatap tajam sang ayah dengan tatapan membunuh dan penuh kebencian.
"Kenapa? Kenapa ayah tega hancurkan perasaan dan tubuh adik aku ayah? Kenapa?" teriak Bagas di depan wajah Budi dengan emosi.
"Apa maksud kamu?" tanya Budi dengan kening berkerut.
"Gara-gara ayah adik aku harus mengalami trauma selama ini" ucap Bagas dengan suara tinggi.
Budi dan Arinta kaget bukan main mendengar ucapan Bagas barusan keduanya bingung kenapa Valeria trauma mereka tak mengetahuinya.
Apa yang sudah mereka lewatkan selama ini kenapa mereka tak tahu mengenai keadaan Valeria.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Melihat keterdiaman kedua orang tuanya Bagas serasa ingin melampiaskan amarahnya ke mereka. Tapi ia tahan biar bagaimanapun keduanya adalah orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya selama ini.
"Ayah nuduh Valeria perempuan ja***g hanya dengan bukti yang ada? Apa ayah sudah membawa Valeria ke dokter untuk memeriksanya?" tanya Bagas dengan suara dingin.
Tubuh Arinta menegang mendengar ucapan sang anak ia tidak berpikir sampai ke sana untuk membuktikan kebenaran tentang putrinya. Bagas melihat sang ibu sambil tersenyum penuh arti.
"Seharusnya ibu sebagai perempuan bisa bedakan orang yang sudah tak suci lagi dengan yang masih suci! Ibu ngak pantas buat di panggil seorang ibu" tegas Bagas sambil menetap kecewa sang ibu.
Tes...........
Air mata Arinta mengalir dengan deras mendengar ucapan sang anak ada perasaan marah, sedih, kecewa dalam hatinya. Ia tak kuasa mendengar ucapan sang anak yang sangat menyakitkan di hatinya.
"Hiks hiks hiks........apa rasanya sakit bu dengar ucapan aku......... hiks hiks hiks?" tanya Bagas sambil berlinang air mata.
"Hiks hiks hiks........na...k" ucap Arinta dengan sesegukan.
"Itu yang adik aku rasakan saat ibu mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakitkan untuknya bu" bentak Bagas dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Maafin ibu nak.........hiks hiks hiks.......maafin ibu nak" ucap Arinta dengan histeris.
"Jangan minta maaf sama aku karena kalian ngak punya salah sama aku" bentak Bagas.
"Jangan bentak ibumu Bagas" ucap Budi dengan emosi.
"Aku memang anak yang durhaka karena membentak ibuku sendiri. Tapi aku lebih durhaka lagi membela seorang ibu yang sudah menyakiti hati anak perempuannya yang tidak berdosa" teriak Bagas menggelegar.
Semuanya terdiam mendengar perkataan Bagas bahkan Budi sendiri tak punya kata-kata lagi untuk menjawab sang anak. Merasa sudah cukup ia melampiaskan emosinya Bagas segera berbalik pergi.
"Usir anak haram itu dari mansion sebelum aku pulang" ucap Bagas dengan tatapan benci melihat Bianca.
"Bagas kamu mau kemana nak?" tanya Arya.
"Bagas pengen nenangin diri eyang karena di sini hanya ada neraka saja" ucap Bagas dengan tatapan kosong.
"Jangan lakukan hal-hal yang berbahaya di luar sana nak" ucap Arya menasehatinya.
Bagas hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sang eyang kakung tak berkata apa-apa lagi ia segera pergi dari mansion Kusumo.
Selepas kepergian Bagas semuanya menarik napas dalam merasa suasananya tidak mencekam seperti tadi.
Plak.............
Belum juga satu masalah berlalu semuanya di buat kaget oleh tindakan Putri.
Mereka tak menyangka Putri yang di kenal dengan sosok penyayang dan lemah lembut saat ini berdiri di hadapan putrinya dengan tatapan penuh emosi.
"Ini yang pernah ibu bilang. Kamu akan menyesal suatu hari nanti Arinta" bentak Putri dengan suara tinggi.
"Ibu" ucap Arinta dengan kaget karena tamparan Putri.
"Kamu sudah menyakiti kedua hati anak kamu sendiri! Ibu macam apa kamu" teriak Putri dengan emosi.
Arinta hanya diam sambil menangis tak tahu harus berkata apa. Arya dan Panji segera membawa sang ibu pergi dari sana karena tak mau Putri semakin emosi jika terus berada di sana.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Apa yang sudah aku lakukan mas.........hiks hiks hiks" teriak Arinta sambil menangis histeris.
"Kita ke kamar ya sayang tenangkan diri kamu" ucap Budi sambil memapah Arinta yang terus menangis.
Sebelum masuk ke dalam kamar Budi menyuruh Dion untuk memantau Bagas di mana ia berada. Meski keduanya sedang dalam keadaan emosi Budi masih tetap memprioritaskan keselamatan sang anak.
Dion langsung memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengikuti Bagas dan menjaganya. Tak lupa ia juga mengirim pesan kepada sang istri yaitu Ana karena hari ini ia akan pulang lebih telat.
"Bi suruh pelayan yang tidak mendapat amukan tuan muda untuk membersihkan kekacauan ini"
"Baik tuan Dion"
"Dan juga suruh penjaga dan pelayan yang terluka untuk berkumpul di paviliun belakang agar di periksa oleh Dokter Suci sebentar"
"Baik tuan Dion"
Dion lalu bergegas ke ruang kerja Budi untuk memeriksa beberapa pekerjaan yang belum selesai. Saat masuk ke dalam ia kaget melihat ruang kerja Budi yang juga tak luput dari amukan sang tuan muda.
"Sepertinya aku harus mulai ekstra bersabar mulai sekarang" ucap Dion sambil membuang napasnya dengan kasar.
~ Jakarta, Indonesia ~
Saat ini Valeria tengah membersihkan luka di sekujur cowok yang tadi ditolongnya. Selesai membersihkan luka dan mengobatinya Valeria lalu memberikannya sepiring bubur ayam yang ia pesan tadi beserta obat.
"Makan dan minum obat itu" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Terima kasih"
"Hemmmm"
Valeria segera keluar dari kamar yang di tempati cowok tadi dan berlalu pergi ke kamarnya. Cowok yang di tolong Valeria tadi bersyukur karena ada orang baik seperti Valeria yang sudah menolongnya tanpa pamrih.
"Gue bakal balas kebaikan loe" gumam cowok tersebut.
Keesokan harinya Valeria bangun dan segera bersiap-siap pergi ke sekolah. Sebelum pergi ke sekolah Valeria menyiapkan makanan dan obat untuk cowok yang ditolongnya semalam.
Tak lupa ia juga menulis note di sebelah makanan yang ia siapkan di atas meja makan. Selesai Valeria segera bergegas ke sekolah sebelum ia terlambat.
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa sudah jam 14:00. Valeria yang baru pulang dari sekolah langsung bertatapan dengan cowok yang ditolongnya semalam di ruang tv.
"Loe masih anak sekolah?" tanya cowok itu dengan kaget.
Tak menjawab pertanyaannya, Valeria segera masuk ke dalam kamarnya meninggalkan cowok itu yang kaget setengah mati. Ia tak menyangka jika gadis yang menolongnya semalam masih berstatus anak sekolahan.
"Gila ngak nyangka gue kalau yang nolong gue semalam ternyata masih anak SMA" gumam cowok itu.
βββββ
To be continue..........
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€