
π»Tidak ada yang abadi di dunia ini karena suatu saat semuanya akan hilang pada waktunyaπ»
.
.
.
.
Suasana di mansion Kusumo yang dulunya hangat seketika berubah menjadi mencekam. Bi Susi yang sedari tadi memperhatikan majikannya merasa sangat kasihan.
Arinta yang terus menangis di dalam kamar menyesali perbuatannya tadi, sedangkan Budi memilih pergi ke ruang kerjanya karena ia tak mau sampai lepas kendali kepada sang istri.
Di kamar Valeria setelah minum obat ia langsung tertidur karena merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya. Bahkan Putri dan Arya memutuskan untuk menginap di mansion Kusumo malam ini.
Bianca yang sedari tadi di taman belakang sudah kembali ke kamarnya setelah makan malam. Sejak tadi Bianca tersenyum bahagia karena sudah selangkah membuat keluarga Kusumo terpecah-belah.
Ini awal pembalasan gue ke keluarga kalian, batin Bianca tersenyum licik.
"Tuan" ucap Dion di dalam ruang kerja Budi.
"Apa kamu sudah mendapatkannya?" tanya Budi dengan cepat.
"Sudah tuan dan ini laporannya" ucap Dion sambil menyodorkan map yang di beri oleh anak buah mereka.
Budi segera membuka map tersebut dan membaca semua informasi yang di cari anak buahnya. Setelah membaca informasi tersebut Budi menghembuskan napas dengan lega.
"Jadi perempuan itu memakai pakaian seperti gaya Valeria" ucap Budi dengan suara dingin.
"Benar tuan bahkan siapa saja yang melihat foto itu akan berpikir jika itu adalah nona muda"
"Aku tahu anakku bukan seperti itu"
"Betul tuan dan saya juga sudah mengecek cctv mansion selama seminggu sebelum desain nyonya di curi, dan benar nona muda berada di mansion tidak kemana-mana" ucap Dion dengan suara tegas.
"Hemmm! Lalu apa kamu sudah dapat informasi siapa perempuan itu?" tanya Budi dengan tatapan tajam.
"Maaf tuan detektif yang kita sewa belum menemukan identitas perempuan itu, karena ia sangat pandai menutup diri di semua titik cctv"
"Suruh detektif itu untuk terus mencari identitas perempuan sialan itu" ucap Budi dengan emosi.
"Baik tuan"
Dion lalu pergi meninggalkan Budi di dalam ruang kerjanya. Budi sendiri berjanji tidak akan melepaskan perempuan yang sudah membuat keluarganya jadi seperti ini.
"Apa yang harus aku bilang ke Bagas" ucap Budi sambil memijit keningnya yang sakit.
Ia sangat tahu jika Bagas sangat menyayangi sang adik dan akan mengamuk jika mengetahui hal ini. Sifat keduanya memang sangat keras kepala dan egois dengan milik mereka.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat dan saat ini sudah pagi. Suasana di meja makan hanya ada keheningan saja, Arinta duduk di samping suaminya dan melayani Budi seperti biasa.
"Bi Susi tolong antarkan sarapan Valeria ke kamarnya" ucap Putri dengan suara lembut.
"Biar aku saja bu" ucap Arinta dengan cepat.
"Sudah sayang kamu sarapan saja biar pelayan yang antar sarapan Valeria" ucap Budi.
"Ngak mas biar aku saja" ucap Arinta dengan tegas.
Budi menganggukkan kepalanya membiarkan Arinta yang mengantarkan sarapan buat Valeria. Saat naik ke lantai dua berkali-kali Arinta membuang napas dengan kasar.
Ia takut apa yang semalam suaminya ucapkan akan menjadi kenyataan.
Semoga Valeria tidak takut melihat aku, batin Arinta dengan gugup.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sampai di depan kamar Valeria, Arinta berdiri menetralkan degup jantungnya yang berdetak dengan sangat cepat sebelum masuk.
Ceklek......
Valeria yang sudah bangun dan saat ini sedang bersandar di kepala ranjang, mengedarkan pandangannya saat mendengar pintu di buka.
Seketika tubuh Valeria menegang melihat kedatangan Arinta sambil membawa nampan. Bahkan kepingan kejadian kemarin langsung berputar di ingatan Valeria.
"J...anga...n puk...ul a..ku......hiks hiks........j..angan" teriak Valeria sambil menangis histeris.
Air mata Arinta seketika jatuh melihat sang anak yang menangis histeris di atas ranjang. Ia menaruh nampan di atas meja dan berlari ingin memeluk tubuh Valeria.
"Jangan mendekat! Pergi! Valeria benci ibu pergi!" teriaknya dengan histeris.
"Nak........hiks hiks.......ibu minta maaf sayang......hiks hiks" ucap Arinta sambil berderai air mata.
"PERGI! PERGI!" teriak Valeria sambil melempar bantal ke arah Arinta.
"Valeria" ucap Budi dengan panik saat mendengar teriakan Valeria.
"Hiks hiks.......ayah.......hiks.......Valeria takut.........hiks hiks hiks" Valeria menangis ketakutan memeluk sang ayah.
"Tenang sayang ayah ada di sini" ucap Budi sambil memeluk Valeria dengan erat.
Arinta menangis melihat pemandangan di depannya, ia sangat menyesal sudah membuat anaknya sendiri trauma. Budi yang melihat sang istri juga ikut menangis tidak tahu harus berbuat apa.
Sepertinya hari ini aku ngak usah ke perusahaan, batin Budi.
"Sayang kamu keluar saja biarkan aku menenangkan Valeria" ucap Budi.
"Tapi mas" ucap Arinta yang langsung di potong Budi.
"Arinta" ucap Budi penekanan.
Arinta lalu berjalan keluar sambil mengelap air matanya. Sampai di luar kamar Valeria, Putri langsung memeluk tubuh sang anak karena tahu Arinta saat ini sangat butuh pelukan.
"Kamu harus kuat untuk menyembuhkan trauma Valeria" ucap Putri sambil mengelus puncak kepala Arinta.
"Hiks hiks........aku ibu yang jahat bu.......hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis.
"Kamu harus kuat Arinta di mana putri ayah yang tidak kenal takut" ucap Arya.
"Hiks hiks.......ayah" ucap Arinta dengan suara pelan.
"Berusahalah membuat anak kamu sembuh nak" ucap Putri dengan suara lembut.
"Iya bu" ucap Arinta.
Hari itu Valeria menghabiskan waktu di dalam kamar di temani Budi. Baru kali ini Budi turun tangan langsung untuk menjaga sang anak, Arinta sendiri masih berusaha untuk mendekati Valeria dengan berbagai cara.
2 Minggu kemudian
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan berkat bantuan Budi dan Arinta yang tak kenal lelah menjaga Valeria, akhirnya perlahan-lahan Valeria sudah bisa mengatasi traumanya.
Bahkan selama itu Valeria tidak masuk sekolah beruntung ia sudah selesai ujian. Selama dua minggu juga Valeria tidak memegang hpnya sama sekali.
Bagas yang terus menghubunginya tidak ia jawab. Bahkan kedua orang tuanya berbohong jika saat ini Valeria sedang mengikuti eyang putri ke pelosok daerah untuk membagi ilmu tentang pembuatan batik tulis.
~ SMP Kencana ~
Hari ini adalah hari penerimaan rapot untuk kelas 1 dan kelas 2. Valeria yang hari ini masuk baru saja tiba di sekolah bersama dengan Bianca.
Bianca segera pergi saat turun dari mobil, sejak kejadian waktu Bianca mencuri kalung Arinta keduanya tidak berbicara lagi seperti biasa.
Valeria sampai detik ini tidak memberitahu kedua orang tuanya mengenai sifat Bianca. Menurutnya lebih baik ia diam saja dari pada ada perpecahan lagi dalam keluarganya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Valeria" panggil Sari.
Saking kangennya Sari selama 2 minggu tak bertemu ia langsung memeluk Valeria dengan erat. Valeria sendiri hanya terkekeh melihat sifat sahabatnya.
"Gue kangen banget sama loe" ucap Sari.
"Gue juga kangen sama loe dan Tika" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Akhirnya loe masuk juga Val" ucap Tika yang baru saja datang.
"Emang kenapa?" tanya Valeria.
"Tanpa loe itu kita kesepian banget" ucap Tika.
"Well salah satunya itu" ucap Tika sambil terkekeh.
Ketiganya hanya tertawa saja mendengar ucapan Tika barusan. Mereka lalu bergegas masuk ke dalam kelas karena sebentar lagi pembagian rapot.
Saat berada di dalam kelas Valeria sempat bertatap muka dengan Rian. Entah kenapa Rian yang tak melihat Valeria selama 2 minggu sangat merindukannya.
Loe selama ini kemana aja Val, apa loe tahu gue ngerasa kehilangan saat loe ngak masuk, batin Rian sambil menatap Valeria.
Valeria tahu Rian sedang menatapnya tapi ia tidak perduli. Ia sudah tidak menganggap Rian temannya lagi saat tahu Rian bersekongkol dengan Bianca menjebaknya.
Hahhhh.............
"Kenapa loe?" tanya Sari yang melihat Valeria menghembuskan napas dengan kasar.
"Ngak kenapa-napa" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Gue kirain loe kerasukan setan" ucap Sari.
"Cih! Sialan loe" dengus Valeria dengan ketus.
"Hehehehe........sorry say bercanda aja kok" ucap Sari sambil memamerkan giginya.
"Heeemm"
Tak terasa sudah tiba waktunya pengambilan rapot. Arinta yang hari ini datang mengambil rapot Valeria dan Bianca sudah mengambil kedua rapot itu dari masing-masing wali kelas.
"Selamat sayang ibu bangga sama kamu" ucap Arinta memeluk Valeria karena mendapat juara 1 peringkat umum.
"Iya bu makasih sudah ngambil rapot Valeria" ucap Valeria membalas pelukan sang ibu.
"Anak ibu mau hadiah apa buat keberhasilan kamu kali ini" ucap Arinta sambil mengelus kepala Valeria.
"Yang benar bu" ucap Valeria dengan senang.
"Benar dong sayang, soalnya kamu itu udah banggain nama ayah dan ibu"
"Kalau gitu Valeria mau laptop terbaru bu" ucap Valeria dengan cepat.
"Ok nanti ibu nyuruh Ana buat beli"
"Makasih bu"
"Sama-sama sayang"
Bianca yang baru saja datang dari toilet melihat keduanya dengan tatapan sinis. Ia sudah mendengar semua ucapan Arinta dan Valeria barusan.
"Sialan cuma juara umum aja bangga" ucap Bianca dengan kesal.
Arinta yang melihat Bianca sudah datang segera mengajak keduanya untuk pulang. Sepanjang jalan Valeria sudah tak sabar menunggu hadiah dari sang ibu.
Berbeda dengan Bianca yang hanya menampilkan wajah datar tapi dalam hatinya sangat merasa iri. Ia sangat kesal karena Valeria lagi-lagi lebih di sayang oleh semua orang.
1 Tahun Kemudian
Tak terasa sudah 1 tahun berlalu dengan sangat cepat. Saat ini Valeria dan Bianca sudah duduk di bangku kelas 3 SMP, dan selama itu pula Valeria tidak pernah berbicara sama sekali dengan Bianca.
Hubungan Valeria dan sang ibu semakin dekat bahkan dengan sang ayah pun sama. Tetapi yang berubah hanya hubungannya dengan Bianca yang tidak seperti dulu lagi.
Bianca sudah menunjukkan sifat aslinya di depan Valeria, tapi saat bersama orang lain ia akan menjadi Bianca yang polos dan lemah lembut.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Kusumo Group ~
Saat ini Budi sedang memeriksa beberapa berkas perusahaannya dan juga laporan dari proyek perusahaan. Kusumo Group semakin berkembang pesat sejak melakukan kerja sama dengan RH company.
Tok.........tok.........tok.........tok........
"Masuk" ucap Budi saat mendengar pintunya di ketuk.
Dion segera masuk ke dalam ruangan Budi saat di suruh masuk. Budi terus berkutat dengan berkas di depannya tanpa mau melihat siapa yang datang.
"Tuan ini laporan bulanan perusahaan" ucap Dion sambil menyodorkan beberapa laporan.
"Heemmm"
"Kalau begitu saya permisi tuan"
Baru saja Dion akan berbalik tiba-tiba pertanyaan Budi menghentikan niatnya yang akan pergi.
"Bagaimana kasus istriku waktu itu" ucap Budi sambil menatap tajam Dion.
"Maaf tuan sampai sekarang detektif sewaan kita belum menemukan informasi perempuan itu" ucap Dion sambil menunduk takut melihat kemarahan Budi.
"Ckk! Beri tahu mereka jika aku tidak mau tahu secepatnya mereka harus mendapatkan informasi perempuan itu" bentak Budi dengan suara tinggi.
"Baik tuan"
Dion segera pergi saat Budi memberi isyarat agar ia pergi. Tak lama hpnya berbunyi ada panggilan masuk dari Bagas.
^^^"Halo son"^^^
"Halo ayah, apa kabar"
^^^"Ayah baik seperti biasanya, tumben kamu telpon jam segini" ucap Budi dengan bingung.^^^
"Bagas cuma mau bilang kalau liburan kali ini Bagas ngak pulang yah"
^^^"Memangnya kenapa son"^^^
"Bagas udah daftar magang yah, jadi ngak bisa pulang"
^^^"Hemmm........baiklah kalau begitu"^^^
"Titip salam buat ibu dan adek yah"
^^^"Nanti ayah sampaikan son, ingat semua pesan ayah dan ibu selama kamu disana"^^^
"Bagas ingat yah"
^^^"Hemmmm"^^^
Bagas lalu mematikan panggilannya sepihak. Budi yang melihat hal tersebut hanya bisa menahan kesal karena sifat sang anak yang tidak pernah berubah.
~ Arinta Butik ~
Saat ini di butik Arinta sedang terjadi ketegangan antara Bianca dan Ana. Sedari tadi Bianca memaksa masuk ke dalam ruangan Arinta tapi tidak di ijinkan oleh Ana.
"Mbak memangnya kenapa kalau gue tunggu tante Arinta didalam ruangannya" ucap Bianca dengan kesal.
"Maaf nona Bianca tapi nyonya Arinta memberi perintah kepada siapapun tidak boleh masuk ke ruangannya jika nyonya tidak ada" ucap Ana dengan suara tegas.
"Mbak tahu kan siapa gue! Mending mbak buka pintunya sebelum gue laporin sifat mbak ke tante Arinta" bentak Bianca dengan sura tinggi.
"Cih! Anda hanya keponakan nyonya bukan anak kandung nyonya nona" ucap Ana dengan sinis.
"Apa mbak bilang dasar asisten kurang ajar!" hardik Bianca dengan emosi sambil mengangkat tangan untuk menampar Ana.
"Bianca" bentak Valeria yang baru saja datang dan mendengar semua perdebatan mereka.
"Nona muda" ucap Ana dengan sopan.
Melihat sikap Ana yang seketika berubah di depan Valeria membuat Bianca menjadi semakin emosi. Ia menatap keduanya dengan tatapan membunuh.
"Cepat minta maaf ke mbak Ana sebelum gue laporin sifat loe yang ngak sopan ke ibu" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Ckk! Buat apa gue minta maaf sama manusia rendahan kayak dia" tunjuk Bianca dengan sinis.
Plak.........
Bianca mengepal tangannya melihat Valeria yang baru saja menamparnya di depan asisten Arinta. Ana sendiri menutup mulutnya kaget melihat Valeria yang menampar Bianca.
βββββ
To be continue...........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€