
π»Disaat kamu mampu memaafkan dan tersenyum kepada orang yang menyakitimu, disaat itulah kamu membuktikan bahwa dirimu lebih baik dari padanyaπ»
.
.
.
.
Valeria menatap Thomas dengan tatapan tajam mendengar ucapannya barusan. Melihat hal tersebut Thomas malah tersenyum manis melihat wajah kesal sang pacar yang menurutnya sangat mengemaskan.
"Sudah terlalu larut honey jadi malam ini kamu tidur disini" ucap Thomas sambil mengelus pipi Valeria dengan lembut.
"Aku mau pulang" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Berikan alasanmu kenapa tidak mau tidur disini"
"This is not my home" (ini bukan rumahku)
"Off course because this is your boyfriend apartment" (tentu saja karena ini apartemen pacarmu)
"Who is your lover?" (siapa pacar kamu) tanya Valeria dengan sisis.
"It is you honey" (itu kamu sayang) ucap Thomas sambil mengedipkan sebelah matanya.
"In your dream as****e" (dalam mimpimu bajingan) bentak Valeria dengan ketus.
Valeria mendorong Thomas dengan kuat dan berlalu pergi belum sampai di depan pintu tangan Valeria di cekal dengan kuat oleh Thomas.
"Lepas!" bentak Valeria dengan tatapan membunuh.
Glek.........
Thomas menelan salivanya dengan susah mendapat tatapan membunuh dari Valeria. Udara di sekitarnya seketika menjadi sangat dingin membuat bulu kuduk Thomas merinding.
Melihat Thomas berdiri sambil mematung dengan cepat Valeria menarik tangannya dengan kasar. Hal itu membuat Thomas tersadar dan bergerak cepat merangkul Valeria ke dalam pelukannya.
"Lepas berengsek! Lepas!" teriak Valeria dengan emosi.
"Jangan pancing emosi aku honey" ancam Thomas dengan suara tinggi.
Bukannya takut dengan ancaman Thomas malah Valeria tersenyum sinis. Melihat hal tersebut emosi Thomas semakin menjadi dan mendorong Valeria ke tembok dengan kuat.
Cup............
Thomas mencium bibir Valeria dengan kasar tak ada kelembutan sama sekali. Merasa dirinya kembali dilecehkan Valeria mengigit bibir Thomas dengan kuat hingga ciuman keduanya terlepas.
"S**t" umpat Thomas sambil meraba bibirnya yang berdarah.
Plak...............
Bunyi tamparan bergema di dalam sana membuat wajah Thomas menjadi sangat merah. Tatapan matanya berkilat menatap Valeria yang berani menamparnya, keduanya saling menatap dengan tatapan permusuhan.
"I'm not your bi**h" (aku bukan pe****urmu) bentak Valeria dengan emosi.
"Kamu itu pacar aku bukan wanita penghangat ranjangku!" bentak Thomas tak kalah emosi.
"Aku tidak pernah bilang menerima kamu sebagai pacar aku Mr. Thomas Parker yang terhormat" ucap Valeria dengan suara tegas.
"Aku tidak menerima penolakan honey dan kamu tetap jadi pacarku" ucap Thomas dengan tegas.
"Terserah" ucap Valeria
"Good. Sekarang kita tidur" (bagus)
"No aku mau pulang"
"Oh come on honey! Ini sudah larut besok aku akan mengantarmu pulang" (oh ayolah sayang) ucap Thomas sambil memijit keningnya yang mulai sakit.
"Aku tetap mau pulang titik" ucap Valeria keras kepala.
"Katakan alasan kamu kenapa tidak mau tidur disini"
"Aku jijik menggunakan barang yang sama dengan wanita pel****mu"
Phew..............
Thomas membuang napas dengan kasar mendengar ucapan gadis yang sudah ia klaim menjadi miliknya. Mau tak mau Thomas harus mengalah untuk mengantar kekasihnya pulang.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Tunggu disini aku ambil kunci mobil" ucap Thomas dengan tatapan tajam.
"Heemmm"
Valeria hanya berdeham mengangguk kepala menjawab ucapan Thomas. Ia pikir lebih baik mengiyakan saja ucapan Thomas dari pada mereka kembali berdebat.
Tak sampai 5 menit Thomas kembali sambil membawa kunci mobil, Valeria yang melihat Thomas memakai bathrobe menatapnya dengan bingung.
"Apa kamu yakin memakai pakaian seperti itu" tunjuk Valeria.
"Ada masalah?" tanya Thomas sambil mengangkat alisnya sebelah.
"No"
"Kalau begitu ayok kita pergi aku sudah mengantuk"
"Heemmm"
Keduanya lalu masuk ke dalam lift menuju basement parkiran dengan Thomas yang terus menggenggam tangan Valeria. Melihat tangannya di genggam Valeria hanya bisa pasrah saja apa lagi ia merasa sangat hangat.
Sampai di basement Thomas lalu menekan kunci mobil dan masuk ke dalam. Valeria sendiri belum masuk ke dalam mobil masih berdiri di luar dengan tatapan dingin dan datar.
"Honey apa lagi" ucap Thomas kembali keluar dan memasang wajah cemberut.
"Aku tidak sudi memakai barang bekas wanita-wanitamu" ucap Valeria dengan suara dingin.
"2 hari yang lalu aku baru beli mobil ini dan kamu orang pertama yang naik" ucap Thomas dengan ketus.
Valeria langsung masuk ke dalam mobil tak membalas ucapan Thomas. Melihat hal tersebut Thomas hanya bisa menarik napas dalam mencoba bersabar dengan kelakuan kekasihnya itu.
~ Kingdom Apartment ~
Sampainya di apartemen Kingdom Valeria segera keluar dari mobil tak memperdulikan Thomas. Dengan kesal Thomas keluar menarik tangan Valeria sehingga ia berhenti.
"Apa lagi?" tanya Valeria dengan ketus.
"Apa begini perlakuan seorang pacar ke kekasihnya?" tanya Thomas mencibir.
"Kalau tidak suka pulang sana bodoh!" bentak Valeria.
"Kata-katamu sangat manis seperti bibirmu honey" goda Thomas dengan tatapan nakal.
"Ckk!"
Valeria berlalu pergi di ikuti Thomas sambil menggenggam tangannya. Beruntung sudah dini hari jadi tidak ada yang melihat mereka hanya beberapa pekerja dan resepsionis yang bertugas malam ini saja di lobby.
Ting............
Lift berbunyi tanda keduanya sudah sampai di lantai 75, Valeria keluar dan langsung membuka penthouse dengan sidik jarinya. Saat masuk ke dalam penthouse Valeria seketika Thomas berdecak kagum melihat desain interior penthouse Valeria.
"Wow ini sangat menakjubkan" decak Thomas dengan kagum.
"Pintu keluar ada di belakangmu"
"Kamu mengusirku honey" ucap Thomas dengan kaget.
"Iya"
"Ckk!! Aku akan tidur disini" ucap Thomas dengan kesal.
Thomas berlalu pergi melihat isi dalam penthouse milik Valeria tak memperdulikan tatapan Valeria yang kesal. Karena badannya sudah sangat lengket Valeria memutuskan naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Honey kalau mau mandi ingat pakai air hangat jangan air dingin nanti kamu sakit" teriak Thomas dari lantai satu.
Sampai di dalam kamar Valeria tersenyum tipis mendengar ucapan Thomas tadi, hatinya menghangat karena baru kali ini ada lagi orang yang mengkhawatirkannya selain keluarganya dulu.
Valeria menghabiskan waktu sangat lama membersihkan tubuhnya, saat keluar ia melihat Thomas yang menatapnya dengan kesal karena terlalu lama di dalam kamar mandi.
"Kamu tidur atau mandi sih di dalam" dengus Thomas dengan kesal.
"Kamu bisa pikir sendiri aku ngapain di dalam" ketus Valeria.
"Ckk!! Menyebalkan!" decak Thomas dengan kesal.
Valeria mengeringkan rambutnya dan memakai perawatan malam sebelum tidur. Ia lalu menuju walk in closet mengambil baju tidurnya yang bertali satu dan sangat pendek.
"Ayok kita tidur honey aku sudah mengantuk" ucap Thomas memeluk Valeria dari belakang.
"Kamu tidur saja aku belum mengantuk"
"No! Kamu temani aku tidur" ucap Thomas dengan keras kepala.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Thomas mengendong Valeria seperti koala membawanya ke tempat tidur. Valeria memberontak ingin lepas saat di atas ranjang tapi Thomas tak melepasnya sedikit pun.
"Jangan bergerak honey kamu bisa membangunkan adikku" ucap Thomas dengan mata tertutup.
"Siapa adikmu" ucap Valeria dengan bingung.
"Apa kamu tidak merasakannya di bawah sana honey" goda Thomas sambil terkekeh.
"Dasar mesum" ucap Valeria dengan mata melotot.
Thomas terkekeh dan memeluk Valeria dengan erat sambil membenamkan wajahnya di leher Valeria.
Valeria yang tak bisa melepas pelukan Thomas akhirnya hanya diam saja, tak lama matanya sayup-sayup tertutup saat mencium aroma tubuh Thomas yang menenangkan.
Baunya sangat enak dan menenangkan, batin Valeria sambil tersenyum manis.
Keduanya tak sadar tertidur sambil berpelukan dengan erat, malam itu pertama kalinya Valeria bisa tidur dengan lelap tak terbangun lagi setiap 2 jam kemudian.
~ Kerajaan Wizpet ~
Saat ini Bryan dan Ares sedang duduk berhadapan dengan penasehat kerajaan Wizpet. Dia adalah Loris Archile duke di kerajaan Wizpet sekaligus teman masa kecil Ratu Camelia.
"Suatu kehormatan bisa bertemu kembali dengan anda yang mulia putra mahkota Alex Carlo Alfonso" ucap Loris sambil tersenyum manis.
"Aku bukan lagi putra mahkota dan namaku Bryan Peterson" ucap Bryan dengan suara dingin.
"Meski anda sudah menganti nama tapi darah di dalam tubuh anda masih tetap darah anggota keluarga kerajaan yang mulia pangeran"
"Ckk!! Tidak usah bertele-tele lagi apa maksudmu mengundangku kesini" ucap Bryan dengan ketus.
"Anda memang pantas menjadi putra mahkota yang mulia pangeran" ucap Loris sambil tersenyum.
Bryan hanya bisa berdecak kesal menatap orang di depannya. Ia tahu kalau Loris bukan musuhnya karena keduanya sama-sama berada di pihak yang sama.
"Cepat katakan apa maumu jangan membuang waktuku" ucap Bryan dengan suara dingin.
"Baiklah yang mulia pangeran. Pertama saya ingin mengajak anda untuk menjatuhkan Raja Luigi dari posisi takhta saat ini"
"Lalu"
"Saya tahu saat ini yang mulia pangeran pasti tidak perduli lagi dengan kerajaan Wizpet, tapi biar bagaimanapun posisi Ratu Camelia saat ini masih tetap Ratu Camelia dan hanya keturunan sah dari Ratu Camelia yang bisa duduk di takhta"
"Kalau aku menolak bagaimana?" tanya Bryan dengan tatapan tajam.
"Pikirkanlah nasib kerajaan Wizpet dan rakyat yang selama ini berjuang untuk kerajaan yang mulia pangeran" ucap Loris dengan penuh harap.
"Kamu pikir aku harus mengasihani rakyat yang sudah menghina mamaku selama ini!" bentak Bryan dengan emosi.
"Tapi yang mulia pangeran semua ini bukan sepenuhnya kesalahan rakyat karena mereka tidak tahu dengan permasalahan di dalam kerajaan selama ini"
"Aku tidak perduli dan sampai kapanpun aku tidak akan menolong anda, karena saat ini yang menjadi prioritas aku hanyalah mamaku!" bentak Bryan.
"Yang mulia pangeran sebelumnya coba lihat laporan ini" ucap Loris sambil menyodorkan map ke depan Bryan.
Bryan lalu mengambil map tersebut dan membacanya matanya seakan ingin keluar dari tempatnya melihat apa yang tertera di dalam map tersebut.
"Ini" ucap Bryan tak bisa berkata-kata.
"Ini adalah salah satu yayasan yang selama ini di kerjakan oleh Ratu Camelia yang mulia pangeran. Kehidupan mereka sangat memprihatinkan selama Ratu Camelia dinyatakan meninggal, selama ini rakyat sangat menderita di bawah pemerintahan yang mulia raja bahkan mereka di paksa bekerja tanpa di upah sama sekali dan karena hal tersebut ekonomi kerajaan menurun drastis membuat rakyat banyak yang meninggal kelaparan" papar Loris dengan sedih.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Hati Bryan sangat sakit melihat informasi mengenai rakyat selama ini.
Apa lagi ia baru tahu kalau ternyata selama ini rakyat tidak pernah menjelekkan nama sang mama melainkan orang-orang Selir Leila yang menyebabkan gosip mengenai rumor palsu tentang Ratu Camelia.
"Bagaimana dengan uang kas kerajaan" ucap Bryan dengan emosi.
"Sampai hari ini uang khas kerajaan kosong karena yang mulia raja dan selirnya menghamburkan uang untuk berfoya-foya dan menyewa pembunuh bayaran" ucap Loris dengan rahang mengeras karena emosi.
Brak............
Bryan mengebrak meja di depannya dengan emosi, ia mengutuk kelakuan sang ayah yang sudah menorehkan luka buat dia, mama, dan rakyat selama ini.
"Siapkan orangmu malam ini kita bantai si berengsek itu dengan semua anteknya" ucap Bryan dengan emosi.
"Baik yang mulai pangeran" ucap Loris dengan senang.
Loris segera menyuruh asistennya mengirim pesan kepada anak buahnya untuk bersiap. Bryan mengepal tangannya melihat begitu banyak mayat rakyat yang di buang di dalam lubang karena di paksa bekerja tanpa henti.
Luigi kamu itu tidak pantas menjadi manusia bahkan hewan pun masih lebih baik dari pada kamu, batin Bryan dengan emosi.
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa sudah malam. Saat ini Bryan, Ares, Loris, dan pasukannya sedang bersiap di sekitar kerajaan Wizpet.
"Bergerak sekarang" ucap Bryan lewat earpiece.
Duar.........duar........duar.......duar.........
Bunyi ledakan di empat gerbang kerajaan membuat seluruh penghuni kerajaan ketakutan. Para pelayan berlari menyelamatkan diri saat melihat begitu banyak pemberontak yang menyerang kerajaan.
Dor.......dor.......dor.......dor......dor.....dor.....
Bunyi tembakan bersahut-sahutan di sana membuat kedua belah pihak banyak merenggang nyawa. Bryan dan Ares berlari masuk ke dalam kerajaan saat pasukan Loris mulai menyerbu ke dalam kerajaan.
"Ares matikan semua sistem keamanan didalam kerajaan" ucap Bryan.
"Semuanya sudah mati" ucap Ares sambil menebas kepala anak buah Raja Luigi dengan pedang.
"Cari raja berengsek itu dan selirnya dan seret bawa ke hadapanku" ucap Bryan menggelegar di dalam aula kerajaan.
"Baik yang mulai pangeran" ucap anak buah Loris dengan serentak.
Dor........dor..........dor........dor...........dor........
Arrghhhh.........arrrgghh.......
Bunyi tembakan dan jeritan kesakitan bergema di sana, Bryan dan Ares duduk di kursi melihat suasana kerajaan yang sudah berubah menjadi lautan darah. Tak berselang lama semua anak buah Raja Luigi dan pengawal kerajaan mati terbunuh.
"Apa kamu sudah menemukan kedua orang itu?" tanya Loris yang berjalan masuk dengan tatapan membunuh.
"Lepaskan aku siapa kalian hah! Lepas" teriak Selir Leila yang di seret paksa.
"Yang mulai pangeran kami hanya menemukan Selir Leila saja" ucap anak buah Loris.
"Ares cari berengsek itu!" bentak Bryan dengan tatapan membunuh.
"Heemmm"
Ares berlalu pergi mencari Raja Luigi yang sedang bersembunyi entah dimana. Selir Leila yang melihat Bryan menatapnya dengan tatapan penuh dendam seakan ingin membunuhnya.
βββββ
To be continue...........