Love Struggle

Love Struggle
Chapter 23



🌻Sudah memiliki jangan lupa untuk di jaga dan syukuri, karena kamu tidak tahu berapa banyak yang menginginkan sesuatu yang kamu miliki🌻


.


.


.


.


Valeria menatap Bianca dengan tatapan penuh kemarahan. Ia sangat tahu apa yang sedang di pegang oleh Bianca, itu adalah kalung milik sang ibu yang di berikan oleh ayahnya karena itu warisan keluarga Kusumo.


"Lancang loe Bianca" bentak Valeria dengan emosi.


"V...al gue bis..a je...l...asin" ucap Bianca dengan terbata-bata.


"Apa yang mau loe jelasin hah!" hardik Valeria dengan suara tinggi.


Valeria berjalan masuk ke dalam studio Bianca dengan langkah cepat. Sampai di depan Bianca dengan cepat Valeria langsung merampas kalung milik Arinta dari tangan Bianca.


"Gue" ucap Bianca yang langsung di potong Valeria.


"Gue ngak nyangka loe bisa lakuin ini. Apa selama ini pemberian ibu sama ayah kurang ampe loe nyuri kalung milik ibu" bentak Valeria dengan suara tinggi.


"Hahahaha..........apa loe bilang pemberian dari orang tua loe" ucap Bianca sambil tertawa sinis.


Valeria melihat Bianca dengan kening berkerut karena tak mengerti maksud Bianca. Melihat hal tersebut wajah Bianca seketika menatap Valeria dengan penuh kebencian.


"Apa loe tahu apa yang selama ini gue rasain hah!" bentak Bianca dengan suara tinggi.


"Loe selama ini udah dapat semua yang loe mau dari ibu apa itu kurang"


"Itu semua kurang. Gara-gara loe semua, gue ngak pernah lagi dapat kasih sayang dari ayah" teriak Bianca dengan menggebu-gebu.


"Seharusnya loe itu tahu semua ini kesalahan siapa makanya loe ngak dapat kasih sayang ayah" ucap Valeria dengan wajah datar.


"Ini semua karena loe dan kakak berengsek loe yang udah rebut ayah dari gue" ucap Bianca dengan tatapan membunuh.


Plak..........


Satu tamparan di pipi kiri Bianca dengan kuat, Valeria tidak terima jika nama Bagas dijelekkan. Wajah Valeria yang tadinya datar berubah menjadi merah padam.


"Selama ini gue diam aja dengan kelakuan busuk loe tapi jangan pernah jelekan nama kangmas" bentak Valeria dengan suara menggelegar.


Bianca merasa takut melihat tatapan tajam Valeria yang seakan ingin membunuhnya. Baru kali ini ia melihat wajah Valeria yang sangat mengerikan, bahkan aura di sekitarnya terasa sangat mencekam.


"Loe pikir gue ngak tahu siapa yang taruh tas dan sepatu itu dalam kamar gue. Bahkan gue juga tahu kalau loe itu yang udah menjebak gue di sekolah" ucap Valeria sambil memegang rahang Bianca dengan kuat.


"S...a..kit" ringis Bianca dengan suara pelan.


"Gue peringati loe! Sekali lagi loe jelekan nama kangmas, ibu, atau ayah maka gue ngak segan-segan hancurin loe saat itu juga" ucap Valeria penuh penekanan.


Valeria lalu melepaskan tangannya dari rahang Bianca, ia segera berlalu keluar untuk menaruh kembali kalung milik sang ibu. Bianca melihat kepergian Valeria dengan penuh kebencian dan dendam.


"Loe lihat aja apa yang bakal gue lakuin ke loe anak sialan" desis Bianca dengan suara tinggi.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Valeria segera masuk ke dalam kamar orang tuanya dan menaruh kembali kalung Arinta. Beruntung ia tahu dimana sang ibu biasa menyimpan semua perhiasannya.


Saat baru saja membuka pintu ia di kagetkan dengan kehadiran sang ibu yang sudah berdiri menatapnya dengan tatapan tajam. Valeria lalu melihat Bianca yang tersenyum penuh arti di samping Arinta.


Apa yang direncanakan Bianca lagi, batin Valeria dengan curiga.


Tanpa gue lakuin apa-apa bakal ada perang lagi nih, batin Bianca tersenyum licik.


"Beraninya kamu Valeria" ucap Arinta dengan suara tinggi.


"Maksud ibu" ucap Valeria dengan bingung.


"Apa maksudnya ini" ucap Arinta sambil melemparkan beberapa foto ke muka Valeria.


Valeria mengambil foto yang di lemparkan Arinta barusan, ia melihat foto itu dengan kening berkerut pasalnya ia tidak mengerti maksud foto itu.


Kayak mirip gue tapi ini bukan gue, batin Valeria penuh tanda tanya.


"Ibu apa maksudnya ini, Valeria ngak ngerti bu" ucap Valeria dengan bingung.


"Beraninya kamu tega menjual rancangan ibu ke saingan ibu waktu itu" bentak Arinta dengan suara menggelegar.


"Hah! Apa maksud ibu? Valeria ngak pernah jual rancangan ibu ke siapapun" ucap Valeria membela diri.


Plak..........plak..........


Valeria seketika di tampar oleh Arinta dengan kuat, bahkan Arinta tak segan-segan memukul Valeria kembali dengan brutal.


Prang..........


Guci yang berada di samping kamar Arinta seketika pecah berserakan karena di tabrak Valeria. Seakan menutup mata Arinta terus memukul dan menendang Valeria yang terduduk di lantai dengan tangan bersimbah darah akibat pecahan guci.


Valeria menangis menahan perih di sekujur tubuhnya bahkan ia sangat kecewa dengan perlakuan sang ibu. Saking emosinya Arinta mengambil asbak rokok di atas meja dan melempar ke Valeria.


Brugh.......


Darah seketika mengalir deras dari kening Valeria terkena hantaman asbak barusan. Arinta terus mencaci maki Valeria sambil memukul Valeria tak ada rasa iba sedikit pun.


"Arinta apa yang kamu lakukan" teriak Putri yang baru saja datang bersama sang suami.


Saat memasuki mansion Arinta mereka mendengar keributan di ruang keluarga. Sampai di sana keduanya di buat kaget dengan apa yang di lakukan Arinta terhadap anaknya sendiri.


"Ibu, ayah" ucap Arinta dengan kaget.


"Apa ini kelakuan seorang ibu Arinta" bentak Putri dengan suara tinggi.


"Eyang putri" ucap Valeria dengan suara lemah.


"Ya Tuhan Valeria...........hiks hiks" ucap Putri sambil menangis.


Ia segera memeluk tubuh sang cucu dengan isak tangis. Putri sangat kasihan melihat tubuh sang cucu yang sudah berlumuran darah akibat perbuatan ibunya sendiri.


"Mas tolong hubungi dokter Rudi" ucap Putri dengan sedih.


Arya segera menghubungi dokter langganan mereka. Valeria yang merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya memandang sang ibu dengan tatapan nanar.


"Apa segitunya ibu ngak mau dengar ucapan Valeria" ucap Valeria dengan suara lemah.


"Valeria kamu yang kuat nak.......hiks hiks, bentar lagi dokter segera datang...........hiks hiks" ucap Putri sambil menangis dan mengelap darah di wajah Valeria.


Valeria melepaskan pelukan sang nenek dan berusaha bangun dengan tertatih-tatih.


Bi Susi dan para pelayan yang melihat kejadian barusan menangis melihat sang nyonya yang dengan tidak berperasaan memukul anaknya sendiri.


"Apa ibu pikir Valeria tega menjual desain ibu aku sendiri. Bahkan aku tidak pernah melihat desain ibuku sendiri meski kita berada dalam satu mansion" ucap Valeria dengan suara tinggi.


"Valeria" bentak Arinta tak terima anaknya berteriak di depannya.


Budi yang baru saja datang mengerutkan keningnya mendengar teriakan sang anak. Ia dan Dion dengan langkah cepat segera masuk ke dalam mansion.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Budi dan Dion kaget melihat pemandangan di depan mereka. Budi sangat terkejut melihat Valeria yang berdiri dengan tubuh gemetaran dan penuh darah.


"Apa yang terjadi disini" ucap Budi dengan suara menggelegar di dalam mansion.


Aura Budi seketika menyeruak memenuhi mansion. Bianca yang merasakan aura Budi bergidik ngeri karena aura sang ayah sama persis dengan aura Valeria tadi.


"Mas" ucap Arinta dengan wajah takut.


"Apa ibu lupa sebelum desain ibu di curi itu bertepatan dengan hari dimana aku ikut lomba cerdas cermat, bahkan seminggu sebelumnya aku tidak pernah keluar mansion selain ke sekolah bu" teriak Valeris dengan suara tinggi.


"Valeria apa yang sebenarnya terjadi" uap Budi dengan nada lembut.


Bukannya menjawab pertanyaan sang ayah Valeria hanya melihat Budi dengan tatapan terluka sambil menangis. Hati Budi seakan diremas kuat melihat tatapan sang anak yang sangat rapuh.


Grep..........


Budi segera memeluk Valeria dengan sangat erat, Valeria menumpahkan semua kesedihannya di dalam dekapan hangat sang ayah. Karena sudah tak sanggup lagi menahan sakit akhirnya Valeria pingsan di dalam pelukan Budi.


"Valeria kamu kenapa sayang? Valeria!" teriak Budi dengan panik melihat mata Valeria tertutup.


"Valeria.......hiks hiks hiks.......bangun sayang" ucap Putri sambil menangis.


"Panggil dokter sekarang juga Dion" bentak Budi dengan suara tinggi.


"Baik tuan" ucap Dion yang juga panik melihat kondisi Valeria.


Baru saja ia akan menelpon dokter ternyata dokter langganan keluarga Winata sudah tiba. Budi segera mengendong Valeria menuju kamarnya diikuti dokter dan lainnya.


Arinta berdiri dengan tubuh kaku melihat kepergian suami dan anaknya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena sangat menyesal apa yang barusan ia lakukan.


Karena emosi saat tim keamanan memberikan hasil penyelidikan mereka, ia tidak berpikir dengan jernih melihat pelaku yang tubuhnya sama persis dengan Valeria sedang memberi desainnya kepada saingannya di taman kota.


"Apa yang sudah aku lakukan" lirih Arinta sambil melihat kedua tangannya.


Air matanya jatuh mengalir dengan sendirinya melihat darah Valeria yang sudah mulai mengering di tangannya. Dunia Arinta seketika runtuh tidak tahu harus berkata apa.


Di dalam kamar Valeria dokter keluarga Winata dengan telaten membersihkan dan membalut luka Valeria. Selesai ia segera menulis resep obat untuk di tebus.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Budi dengan khawatir.


"Nona Valeria hanya mengalami luka di bagian luar saja tidak ada luka yang serius bagian dalam tuan dan usahakan luka nona Valeria jangan terkena air selama seminggu ya tuan" ucap dokter Rudi.


"Baik dok" ucap Budi dengan lega.


"Ini saya buatkan resep obat untuk nona Valeria untuk menghilangkan rasa sakit dan lebam" ucap dokter Rudi sambil menyodorkan resep.


"Baik dok terima kasih" ucap Budi.


"Iya sama-sama tuan. Kalau begitu saya pamit dulu tuan" ucap dokter Rudi.


"Iya dok" ucap Budi.


"Terima kasih Rudi dan aku harap hal ini jangan sampai di ketahui orang lain" ucap Arya di depan kamar Valeria.


"Kamu tenang saja Arya semuanya aman sama aku" ucap Rudi sambil menepuk pundak sahabatnya.


Ya dokter Rudi adalah sahabat dari Raden Arya Winata. Keduanya sudah bersahabat dari sejak masih duduk di sekolah dasar, sejak Rudi menjadi seorang dokter Arya memintanya untuk menjadi dokter pribadi di keluarganya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Setelah kepulangan dokter Rudi, Budi segera menyuruh bi Susi untuk menebus obatnya. Putri yang masih berada di dalam kamar Valeria melihat cucunya dengan sedih.


"Bu tolong jagain Valeria aku ingin menemui Arinta" ucap Budi dengan emosi.


"Ibu minta jangan sampai terbawa emosi nak" ucap Putri dengan lembut.


"Aku tidak janji bu"


Bianca yang mendengar ucapan keduanya merasa sangat kesal dalam hati.


Dasar nenek tua sialan suka aja ikut campur, batin Bianca dengan kesal.


Di lantai bawah Budi melihat istrinya masih berdiri di ruang keluarga dengan pandangan kosong. Ia lalu menarik Arinta masuk ke dalam kamar mereka dengan kasar.


Arinta yang di tarik tersentak dari lamunannya. Ia bergidik ngeri melihat kemarahan di wajah suaminya saat ini, sampai di dalam kamar Budi melepaskan tangan Arinta dengan sangat kasar.


"Mas aku" ucap Arinta yang langsung di potong Budi.


"Apa begini cara kamu mendidik anak kita Arinta" bentak budi dengan suara tinggi.


Budi akui ia memang mendidik anak-anaknya dengan keras, tapi tidak harus sampai main tangan hingga berdarah. Menurutnya ketegasan paling penting dalam mendidik anak bukan dengan kekerasaan.


"Aku minta maaf mas aku terbawa emosi" ucap Arinta dengan suara bergetar.


"Dimana Arinta yang pintar yang tidak akan mengambil tindakan tanpa menyelidikinya hah" ucap Budi dengan suara tinggi.


Ia tidak habis pikir dengan pemikiran sang istri karena tidak menyelidiki kebenaran suatu masalah dengan teliti. Budi sangat yakin jika bukan Valeria pelakunya.


"Hiks hiks........aku minta maaf mas......hiks hiks" ucap Arinta dengan berderai air mata.


"Kamu sudah menghancurkan hati anak kita Arinta" ucap Budi sambil menjambak rambutnya.


Ia tahu dampak dari perbuatan istrinya kepada sang anak. Budi berharap anaknya tidak mengalami trauma atas kejadian barusan.


"Berdoa saja semoga anak kita tidak trauma" ucap Budi dengan suara dingin.


Deg............


Tubuh Arinta seketika menegang mendengar ucapan suaminya. Ia sangat menyesal sudah memukul Valeria dengan tidak berperasaan.


"Maafkan ibu nak..........hiks hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis tersedu-sedu.


Melihat istrinya yang menangis seperti itu hati Budi sangat sakit. Meski sang istri sudah melakukan kesalahan fatal tapi ia tetap istrinya.


"Aku yakin anak kita kuat sayang" ucap Budi sambil memeluk Arinta yang menangis histeris.


Arinta menumpahkan semua penyesalannya lewat tangisan. Ia sangat membenci sifatnya yang cepat sekali emosi dan tidak mau mendengarkan penjelasan orang.


Maafkan ibu Valeria, ibu sangat menyesal nak, batin Arinta dengan sedih.


Di taman belakang Bianca tersenyum bahagia karena sudah membuat perpecahan di keluarga sang ayah. Ia sangat beruntung karena waktu itu berpenampilan seperti Valeria saat melakukan transaksi jual beli.


"Ngak sia-sia gue waktu itu berpenampilan kayak Valeria, ternyata ada baiknya juga" ucap Bianca sambil tertawa puas.


❄❄❄❄❄


To be continue............


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀