Love Struggle

Love Struggle
Chapter 55



🌻Tetaplah jaga bahagiamu meski harus bertarung dengan keadaan🌻


.


.


.


.


Selesai sarapan Dion langsung pamit pergi ke perusahaan sebelum nanti jam 09:00 tepat ia akan ke sekolah Valeria. Ana yang melihat Dion sudah pergi segera bersiap untuk ke supermarket.


Ia ingin mengajak Valeria agar tidak bosan tapi ia juga khawatir jika ada keluarga Kusumo atau Winata yang bertemu dengan mereka meskipun begitu Ana berniat tetap mengajak Valeria.


Ana sudah mengetahui jika seluruh keluarga besar Keraton Winata sudah mengetahui perihal Valeria yang di usir dari mansion.


Berkali-kali Putri menanyakan keberadaan Valeria kepada Dion tapi Dion tidak memberitahu mereka. Ia tak ingin jika keluarga besar Winata menghina Valeria perihal foto-fotonya itu.


Dengan anggapan Valeria sudah di usir dan di keluarkan dari kartu keluarga sudah menjadi jawaban jika semua yang ada di foto itu benar adanya.


Hanya satu orang saja yang tak percaya dengan berita itu yaitu kanjeng ayu putri. Ia sangat yakin jika cucunya itu bukan gadis seperti itu.


"Nona muda" panggil Ana di depan pintu kamar Valeria.


Ceklek.............


Valeria tak menjawab panggilan Ana dan membuka pintu sebagai jawaban. Ana menelan salivanya dengan susah saat mata keduanya saling bertatap.


Glek...........


Entah kenapa Ana merasa sangat susah untuk bernapas saat ini. Seakan ia di kurung dalam danau es beku tanpa ada ruang udara untuk bernapas sedikit saja.


"Saya akan ke supermarket sebentar nona muda apa anda ingin ikut?" tanya Ana meski ia sudah tahu jawabannya.


Valeria hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau ia tidak ikut. Setelah itu ia langsung menutup pintu kamar tanpa menunggu respon dari Ana.


Ana menghela napasnya sebentar setelah pintu kamar sudah tertutup. Tak ingin berlama-lama Ana segera pergi meninggalkan Valeria sendirian di apartemen Dion.


~ Kusumo Group ~


Dion saat ini sudah berada di ruangannya ia langsung menyiapkan berkas-berkas yang akan di butuhkan oleh Budi tak lupa mengecek semua jadwal Budi hari ini.


"Aku akan ijin jam 09:00 untuk ke sekolah Valeria" ucap Dion sambil melihat jadwal Budi yang tidak ada meeting pagi ini.


Tak berselang lama Budi pun tiba di perusahaan. Dion yang pagi ini berangkat lebih dulu ke perusahaan segera menyambut Budi di pintu masuk.


"Selamat pagi tuan" ucap Dion sambil membungkuk hormat.


"Heemmm"


Budi segera berjalan menuju lift di ikuti oleh Dion di belakangnya. Meski ia sangat kecewa dengan sikap Budi tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk protes.


Sampai di ruang kerjanya Budi langsung berkutat dengan pekerjaannya. Dion yang akan pergi segera meminta ijin untuk keluar sebentar.


"Tuan"


"Ada apa?" tanya Budi tanpa memandang Dion dan terus meneliti berkas di depannya.


"Saya mau ijin keluar sebentar jam 09:00 sampai jam 11:00 tuan"


"Apa ada urusan penting?" tanya Budi sambil menatap Dion.


"Maaf tuan tapi saya ada urusan pribadi"


"Heermmm! Baiklah secepatnya kembali ke perusahaan"


"Baik tuan terima kasih sudah mengijinkan saya"


"Pergilah"


"Iya tuan"


Dion membungkuk badannya dan segera pergi dari ruang kerja Budi. Saat Dion pergi entah kenapa Budi merasa penasaran apa yang akan di lakukan asistennya itu.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Karena baru kali ini Dion meminta ijin keluar untuk urusan pribadi. Entah kenapa Budi merasa jika ini ada hubungannya dengan Valeria.


Mengingat nama Valeria seketika wajahnya berubah menjadi menghitam karena perbuatan Valeria yang membuatnya malu. Bahkan ia sudah tak sudi menganggap Valeria sebagai anaknya lagi.


Menurutnya Valeria bukan siapa-siapa lagi di keluarga Kusumo. Karena prinsip keluarga Kusumo secara turun menurun yaitu menjaga harkat dan martabat nama Kusumo lebih dari apapun.


^^^"Ikuti Dion kemanapun ia pergi" ucap Budi lewat telepon.^^^


"Baik tuan"


^^^"Satu lagi jangan sampai Dion tahu kamu membuntutinya"^^^


"Baik tuan"


Budi langsung mematikan panggilan sepihak dengan anak buahnya. Ia hanya ingin ke depannya tidak ada masalah yang akan membuat namanya tercoreng.


~ SMP Kencana ~


Tepat pukul 09:15 Dion sudah berada di sekolah Valeria. Ia turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya melihat begitu banyak siswa-siswi beserta orang tua mereka yang hadir hari ini.


Anak buah Budi yang bertugas membuntuti Dion langsung mengambil gambarnya saat berjalan ke dalam sekolah. Semua pergerakan Dion hari akan ia sampaikan kepada Budi.


"Selamat pagi pak Andre" ucap Dion dengan sopan.


"Selamat pagi juga tuan Dion" ucap Andre Sutomo selaku kepala sekolah.


"Apa acaranya akan di mulai?" tanya Dion.


"10 menit lagi tuan Dion. Apa anda yang akan mengambil hasil kelulusan nona Valeria dan nona Bianca?" tanya Andre.


"Saya hanya mengambil hasil kelulusan milik nona muda" ucap Dion dengan tegas.


"Oh begitu ya tuan Dion. Kalau begitu mari kita sama-sama ke aula karena sebentar lagi acaranya akan di mulai" ucap Andre dengan sopan.


"Baik pak Andre"


Keduanya lalu bergegas menuju aula sekolah karena acara kelulusan akan segera di mulai. Saat masuk ke dalam Dion mengedarkan pandangannya mencari sang nyonya tapi ia tidak melihatnya.


Sepertinya nyonya tidak hadir, batin Dion.


Acara kelulusan pun segera di mulai tahap demi tahap sudah berjalan sampai dengan pengumuman juara umum tahun ini. Tanpa di duga yang mendapat peringkat satu adalah Valeria.


Dion maju sebagai penerima penghargaan dan hasil kelulusan dari Valeria. Semua orang yang sudah mengetahui gosip tentang Valeria mulai berbisik-bisik.


Bianca yang melihat siapa yang menjadi wali Valeria tersenyum penuh arti. Ia sangat senang karena ayah dan ibu tirinya tidak hadir hari ini dan sudah tidak memperdulikan anak kandung mereka sendiri.


Akhirnya impian gue buat hancurkan keluarga loe terkabul Valeria, batin Bianca dengan senang.


Setelah mengambil hasil kelulusan Valeria beserta berkas-berkasnya Dion segera pergi dari sana meski acaranya belum selesai.


Saat ini Arinta sedang berbicara dengan asistennya yang baru yaitu Hani. Baru 3 hari Hani bekerja sebagai asistennya setelah Ana mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas.


Awalnya Arinta tak setuju dengan pengunduran Ana tapi ia juga tidak bisa menolak saat Ana kekuh ingin mengundurkan diri. Menurutnya Ana adalah sosok asisten yang sangat cekatan dan sesuai dengan apa yang ia mau.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Saat berbicara tiba-tiba pintu ruangan Arinta di buka dengan kasar dari luar. Melihat siapa yang sudah lancang berani masuk ke ruangannya ia ingin marah tapi ia urungkan saat tahu ternyata sang ibu yang datang.


"Kamu boleh pergi" ucap Arinta kepada Hani.


"Baik nyonya. Kalau begitu saya permisi" ucap Hani sambil membungkuk dan keluar.


Putri melihat anaknya dengan tatapan tajam mengatakan kalau ia sangat kecewa dan marah. Arinta tahu penyebab ibunya datang dengan emosi tapi ia tidak perduli.


"Ada apa ibu datang ke sini?" tanya Arinta to the point.


"Arinta Cahya Winata apa kamu itu pantas di panggil ibu" hardik Putri dengan suara tinggi.


"Sebelum ibu bertanya ibu sudah tahu jawabannya" ucap Arinta dengan suara tak kalah tinggi.


"Kamu itu tidak pantas menjadi seorang ibu. Tidak ada seorang ibu yang akan mengatakan kata-kata kejam seperti kamu" bentak Putri dengan wajah memerah karena emosi.


"Ini urusan rumah tangga aku jadi ibu tidak usah ikut campur"


"Ibu pikir sudah mendidik kamu menjadi anak yang mempunyai hati tulus tapi ternyata ibu salah" ucap Putri dengan tatapan kecewa.


"Ini pribadi aku dan rumah tangga aku jadi apa yang aku putuskan itu bukan semata untuk diriku saja tapi ada nama suamiku juga" ucap Arinta dengan emosi.


"Apa kehormatan dan martabat lebih penting dari pada darah daging kamu sendiri?" tanya Putri dengan emosi.


"Dia bukan anak aku lagi semenjak dia menjajakan tubuhnya menjadi ja***g" ucap Arinta dengan suara dingin.


"Dimana hati nurani kamu sebagai seorang ibu Arinta. Meski anakmu salah seorang ibu tetap akan membelanya sampai kapanpun karena anaknya lebih berharga dari hidupnya sendiri"


Arinta diam mendengar ucapan sang ibu hatinya serasa dicabik-cabik mengingat tangisan pilu Valeria.


Ia merasa sakit hati sudah mengatakan kata-kata kejam dan kasar waktu itu tapi semuanya ia tepis saat mengingat perbuatan Valeria yang tidak bisa di maafkan.


"Sampai mati aku tidak sudi punya anak seorang pe***ur" ucap Arinta sambil menatap tajam Putri.


"Apa kamu yakin itu Valeria? Karena insting seorang ibu tidak pernah salah. Tapi ibu lihat kamu tidak memiliki hal itu dan kamu bukanlah sosok ibu yang baik untuk anak-anakmu"


"Ibu sendiri tahu buktinya ada dan masih mau membela perempuan pe***ur itu" ucap Arinta dengan sinis.


"Tutup mulut kamu Arinta jangan pernah sekalipun kamu menjelekkan nama Valeria karena ibu yakin Valeria bukan anak seperti itu" bentak Putri dengan suara tinggi.


"Sejak hari itu Valeria bukan putriku lagi jadi ibu jangan pernah ikut campur dalam rumah tanggaku"


"Suatu saat kamu akan menyesal Arinta!!! Saat tiba waktunya kamu sendiri yang akan merangkak meminta pengampunan di kaki putrimu. Camkan itu!!" bentak Putri dengan berapi-api.


Putri langsung keluar dari ruangan Arinta tidak ingin berdebat lagi. Menurutnya tidak ada guna berbicara dengan Arinta saat ini karena hatinya sudah keras seperti batu.


Suatu saat kamu akan menyesali ucapan-ucapanmu Arinta, batin Putri dengan emosi.


Setelah Putri pergi seketika Arinta menjadi sangat emosi. Ia membanting semua benda yang berada di atas meja kerjanya karena ucapan sang ibu.


"Sampai mati pun aku tidak sudi mempunyai anak seorang pel***r seperti Valeria" ucap Arinta dengan mata memerah karena emosi.


~ Apartemen Grill ~


Dion pulang ke apartemen sudah sangat malam karena tadi ia masih menemani Budi meeting di luar.


Saat masuk ke dalam apartemen sudut bibir Dion melengkung dengan sempurna melihat sosok perempuan yang menyambutnya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Abang mau makan atau mandi dulu?" tanya Ana dengan lembut.


"Aku sudah makan tadi bersama tuan dan klien jadi aku mau mandi saja sayang" ucap Dion sambil mencium kening Ana.


"Ya sudah aku siapin air hangatnya dulu ya bang"


"Iya sayang"


Ana lalu bergegas menuju kamar Dion dan menyiapkan air hangat untuk Dion. Setelah itu Dion segera membersihkan tubuhnya dan Ana memilih untuk menonton tv.


Selesai mandi Dion segera bergabung bersama Ana. Tak lama Valeria keluar dari kamar dan mengejutkan keduanya yang sedang serius menonton.


"Nona muda bikin kaget aja" ucap Dion sambil mengelus dadanya karena kaget.


"Ada yang mau aku omongin" ucap Valeria dengan suara dingin.


Ana dan Dion kaget bukan main mendengar Valeria yang akhirnya berbicara. Sudah seminggu Valeria tidak berbicara satu kata pun dan malam ini baru ia berbicara lagi.


"Uhmmm........nona muda duduk dulu baru kita bicara" ucap Ana menyuruh Valeria untuk duduk.


Valeria segera duduk di seberang sofa di sebelah Ana dan Dion.


Valeria menatap keduanya dengan tatapan tajam dan dingin dan hal itu sukses membuat bulu kuduk mereka berdiri merasakan aura yang sangat mengintimidasi.


"A...pa yan...g mau nona muda bicarak..an" ucap Dion dengan terbata-bata.


"Lusa aku akan pergi dari sini" ucap Valeria dengan suara dingin.


Keduanya kaget bukan main mendengar ucapan Valeria. Mereka tak mau jika Valeria pergi dari sini karena Valeria saat ini hanya seorang diri saja.


"Saya tidak setuju nona muda! Biar bagaimana pun nona muda masih sangat muda untuk hidup sendirian di luar sana" protes Dion dengan tegas.


"Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Valeria dengan wajah datar.


"Tidak ada yang salah nona muda tapi yang di bilang abang Dion benar nona muda" ucap Ana dengan suara lembut.


"Setuju atau tidak setuju aku akan tetap pergi dari sini lusa!" ucap Valeria dengan tegas tak mau di bantah.


"Tapi nona muda" ucap Dion yang langsung di potong Valeria.


"Aku berterima kasih karena om Dion dan mbak Ana sudah menolongku. Tapi maaf ini keputusanku dan aku tidak membutuhkan persetujuan dari om Dion atau mbak Ana" potong Valeria dengan suara tegas.


Keduanya diam tidak bisa berkata apa-apa, aura Valeria sangat mengintimidasi mereka sehingga jadi bungkam Mereka terpaksa mengangguk kepalanya menyetujui ucapan Valeria.


"Satu lagi tolong rahasiakan keberadaan aku disini sampai aku pergi" pinta Valeria.


Sebenarnya ini permohonan Valeria tapi Dion dan Ana yang mendengar ucapan Valeria terasa seperti perintah untuk mereka. Entah kenapa kata-kata Valeria berubah menjadi tegas dan tidak menerima penolakan.


Selesai berbicara Dion langsung memberikan berkas-berkas kelulusan Valeria. Tak lupa Valeria juga meminjam laptop milik Dion malam ini.


Dion lalu memberikannya kepada Valeria tanpa bertanya. Entah apa yang akan di lakukan Valeria hanya dia saja yang tahu.


❄❄❄❄❄


To be continue................


Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀