
π»Jangan takut menghadapi kesulitan karena kesulitan tidak akan menghambat kita untuk berjuang melainkan kesulitan memberi kita sebuah pembelajaranπ»
.
.
.
.
Saat ini suasana terasa sangat mencekam di meja makan. Sedari tadi tidak ada satu pun yang berbicara atau membuka obrolan.
Sejak sore tadi pertengkaran Valeria dengan kedua orang tuanya belum juga selesai. Valeria yang engan menatap kedua orang tuanya dan Bianca terpaksa harus menahan diri selama makan malam.
Bi Susi dan para pelayan yang berada di sekitar meja makan merasa merinding. Pasalnya aura yang di keluarkan oleh Valeria terasa sangat mencekam.
Bahkan Budi berusaha mengontrol rasa gugupnya saat ini dan ia akui aura yang di keluarkan oleh putrinya sangat menakutkan.
Bianca yang tidak menyukai Valeria juga bergidik ngeri merasakan aura intimidasi dari Valeria. Padahal Valeria hanya duduk diam sambil memakan makanannya.
Arinta yang melihat Valeria tak seperti biasa merasa sangat sedih. Sejak tadi ia tidak menyentuh makanannya dan hanya menatap Valeria dengan tatapan penuh kerinduan bercampur sedih.
"Sayang makan dulu" ucap Budi saat melihat Arinta tak menyentuh makanannya.
Valeria mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan sang ayah. Mata keduanya sempat bertatapan sesaat sebelum Valeria melihat piring sang ibu.
Ia tahu jika dari tadi Arinta terus menatapnya dengan perasaan bersalah. Mau sebenci apapun dan kecewanya Valeria tapi Arinta tetaplah ibu yang sangat ia cintai dan sayangi.
"Jika ibu ngak makan aku juga ngak akan makan" ucap Valeria dengan suara tegas.
Arinta langsung memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia tak mau jika sang anak tidak makan malam karena dirinya, melihat hal tersebut Valeria tersenyum tipis.
Valeria lalu melihat ke arah sang ayah yang juga sedang menatapnya tapi senyumnya seketika pudar dari bibirnya. Entah kenapa rasa kecewa Valeria kepada Budi sangatlah besar.
Tidak mudah melupakan kejadian yang di alaminya waktu itu. Bahkan untuk pertama kali dalam hidupnya ia mendapat pukulan yang sangat mengerikan dari sang ayah.
"Aku sudah selesai" ucap Valeria sambil berlalu pergi.
Ia tak perduli jika akan di marahi oleh ayah dan ibunya karena tak berlaku sopan. Melihat kepergian anaknya Arinta juga akan pergi tapi di tahan sama Budi.
"Ibu biar aku yang menyusul Valeria" ucap Bianca dengan wajah sendu.
"Iya" ucap Arinta dengan tak bersemangat.
Bianca segera pergi menyusul Valeria yang sudah lebih dulu pergi. Budi hanya melihat kepergian Bianca dengan tatapan datar tak perduli sedikit pun.
"Mas aku kepikiran sama Valeria" ucap Arinta dengan gusar.
"Habiskan makananmu sayang. Sebentar kita coba bicara lagi sama Valeria" ucap Budi dengan suara lembut.
"Iya mas"
Keduanya lalu kembali melanjutkan makan malam mereka yang sempat tertunda. Bianca yang sudah berada di depan kamar Valeria langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Valeria yang mendengar pintu kamarnya dibuka tanpa di ketuk melihat Bianca dengan tatapan tajam. Ia sangat tidak suka jika ada yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Dimana sopan santun loe" bentak Valeria dengan emosi.
"Sorry gue lupa buat ngetuk pintu" ucap Bianca dengan sinis.
Ia menatap Valeria dengan tatapan tak suka dan penuh kecemburuan. Bianca sangat tak menyukai Valeria dalam segala hal apa lagi Valeria lebih unggul di bandingnya dalam hal pelajaran dan kecantikan.
"Sekali lagi loe masuk tanpa ngetuk, saat itu juga gue sendiri yang bakal ajarin loe gimana caranya mengetuk pintu" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Uhhhh.........gue takut! Hahahaha" ucap Bianca sambil tertawa mencemooh.
Valeria hanya menatapnya dengan tatapan datar tak terpengaruh sedikitpun. Bianca yang melihat Valeria tak terpengaruh seketika diam dan membalas tatapan Valeria dengan sinis.
"Gue mau ngomong sama loe" ucap Bianca dengan ketus.
"Hemmm" deham Valeria dengan wajah datar.
"Loe udah tahu kan kalau ayah udah umumkan gue sebagai putri kedua Kusumo" ucap Bianca dengan sombong.
"Langsung aja ke intinya gue ngak ada waktu buat ladeni cewek penuh muslihat kayak loe" ucap Valeria dengan ketus.
"Apa maksud loe?" tanya Bianca dengan wajah memerah karena emosi.
"Jangan loe pikir gue selama ini diam dan ngak tahu apa yang loe lakuin" ucap Valeria dengan ketus.
"Gue ngak ngerti apa maksud loe" ucap Bianca yang mulai gugup.
"Gue penasaran apa yang bakal ibu lakuin kalau orang yang udah nyuri dan jual rancangannya waktu itu ternyata putri kedua keluarga Kusumo" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.
Deg.......
Tubuh Bianca seketika menegang mendengar ucapan Valeria. Wajahnya sudah pucat pasi ia tak menyangka apa yang ia lakukan waktu itu bisa di ketahui oleh Valeria.
Tenang Bianca dia pasti cuman mau gertak loe aja lagian dia ngak punya bukti, batin Bianca mencoba tidak terlalu gugup.
"Loe jangan asal uduh gue ya itu namanya fitnah" hardik Bianca dengan suara tinggi.
Valeria tersenyum sinis melihat Bianca yang sudah mulai gugup dan takut. Ia tahu Bianca sedang mengelak dari apa yang barusan ia katakan.
"Gue bakal ngasih loe dua pilihan"
"Pilihan?" tanya Bianca.
"Loe ngaku sendiri ke ibu kalau loe yang udah nyuri dan jual rancangan ibu waktu itu atau gue yang beri tahu ibu"
"Loe emang keterlaluan ya nuduh gue terus" ucap Bianca dengan emosi.
"Oh gue lupa bilang kalau gue bakal sertakan video ini juga" ucap Valeria sambil menunjukkan video Bianca saat melakukan transaksi jual beli rancangan Arinta.
Bianca kaget bukan main melihat rekaman tersebut dan tak menyangka jika Valeria memiliki rekaman aksinya. Valeria seketika tertawa dengan kencang melihat wajah pucat Bianca.
"Pilihan ada di tangan loe" ucap Valeria sambil tersenyum sinis.
Wajah Bianca sudah pucat pasi seperti orang sakit karena ucapan Valeria. Tak lama ia pun pergi dari kamar Valeria dengan pikiran berkelana.
Sial dari mana cewek sialan itu dapat video gue, batin Bianca dengan emosi.
Sampai di dalam kamar Bianca membanting semua barang di dalam sana. Arinta yang melewati depan kamar Bianca menghentikan langkahnya saat mendengar suara berisik.
"Kenapa?" tanya Budi yang baru saja datang.
"Ngak apa-apa kok mas"
Keduanya segera berlalu menuju kamar mereka. Meski penasaran Arinta tak mau menggubrisnya karena yang di pikirannya hanya ada nama Valeria.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Hubungan antara Valeria dan kedua orang tuanya masih sama tidak ada yang berubah. Valeria lebih banyak diam saat bertemu dengan Arinta atau Budi.
Ia hanya menyapa saja lalu segera pergi, Budi yang sudah mengetahui kebenaran tentang masalah waktu itu merasa sangat bersalah dan menyesal.
Bayangan tubuh Valeria yang penuh luka dan duri terus membayanginya. Bahkan tanpa keluarganya tahu Budi sering mengunjungi psikiater akhir-akhir ini.
Hanya Dion saja yang mengetahui perihal tersebut dan ia dilarang memberitahu siapa pun termasuk Ana kekasihnya. Budi yang memiliki rasa egois dan gengsi sangat malu jika ia harus meminta maaf.
~ SMP Kencana ~
Saat turun dari mobil Valeria langsung mencekal tangan Bianca. Ia ingin mengetahui kapan Bianca akan jujur kepada sang ibu.
"Seminggu ini gue udah beri kelonggaran ke loe karena kita lagi ujian tapi tidak ada waktu tambahan lagi"
"Gue" ucap Bianca yang bingung harus mengatakan apa.
"Loe cuma punya dua pilihan mau loe yang ngaku sendiri atau gue yang beritahu"
"Val gue mohon jangan seperti ini" ucap Bianca mulai berdrama.
"Jangan pasang muka sok polos loe itu! Karena gue ngak akan termakan tampang penipu loe itu" bisik Valeria dengan suara dingin.
Wajah Bianca yang tadinya hanya ada raut sedih dan lugu seketika berubah. Tak ada lagi wajah polos dan lugu lagi melainkan wajah culas dan sombong.
"Gue yang akan ngomong sendiri ke ibu" ucap Bianca tak punya pilihan lain.
"Good choice" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.
Valeria lalu pergi meninggalkan Bianca yang berdiri terpaku sambil mengepal tangannya. Bianca menatap kepergian Valeria dengan wajah memerah dan penuh kebencian.
"Sepertinya gue harus minta bantuan tante Sisil" ucap Bianca.
Bianca lalu mengambil hpnya dan mengirim pesan ke tante Sisil. Tak berselang lama tante Sisil langsung membalas pesan Bianca.
Tante Sisil
"Entar pulang sekolah kamu langsung aja ke rumah tante ya"
^^^"Iya tante nanti kalau udah berangkat Bianca kabarin"^^^
"Iya sayang tante tunggu ya di rumah"
^^^"Oke tante"^^^
Setelah mengirim pesan Bianca segera berjalan ke kelasnya. Ia berpikir untuk secepatnya menjalankan rencananya bersama tante Sisil dan om Arya.
~ Rumah tante Sisil ~
Sesuai kesepakatan pulang sekolah Bianca segera pergi ke rumah tante Sisil. Beruntung rumah tante Sisil tidak jauh dari SMP Kencana jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai.
"Kamu apa kabar sayang?" tanya tante Sisil yang menyambut kedatangan Bianca.
"Aku baik-baik aja tante. Gimana keadaan tante sama om Arya"
"Keadaan tante dan om baik-baik aja sayang"
"Syukurlah tante"
"Iya sayang. Ayok kita masuk ke dalam" ajak tante Sisil sambil merangkul bahu Bianca.
Keduanya lalu masuk ke dalam rumah mewah tante Sisil meski tak sebesar mansion keluarga Kusumo. Sampai di ruang TV tante Sisil dan Bianca lalu mengobrol banyak hal.
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan sama tante sayang" ucap tante Sisil to the point.
"Kapan kita jalankan rencana kita tante"
"Memangnya kenapa sayang? Apa ada masalah?" ucap tante Sisil penuh tanda tanya.
"Hah! Anak sial itu punya video waktu Bianca jual rancangan tante Arinta ke saingannya tante" ucap Bianca dengan gusar.
"Apa kamu yakin video itu asli?" tanya tante Sisil dengan ragu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Asli tante dan orang di dalam video itu jelas-jelas aku tante"
"Terus?" tanya tante Sisil.
"Dia ngancam aku buat ngaku sama tante Arinta kalau ngak dia sendiri yang bakal beritahu tante Arinta" dengus Bianca dengan napas kasar.
"Dasar anak kurang ajar" hardik tante Sisil dengan emosi.
"Aku harus gimana tante? Aku pusing banget nih tante?" tanya Bianca dengan bingung.
"Kamu tenang aja sayang secepatnya kita jalankan rencana kita"
"Tapi kapan tante?" tanya Bianca dengan penasaran.
"Secepatnya sayang"
"Aku thu kepikiran selama seminggu ini tante! Mikirin jalan keluarnya"
"Tunggu kalian selesai ujian baru kita jalankan saja rencana kita sayang"
"Bukannya itu masih lama tante. Terus aku harus gimana tante kalau dia nanya terus"
"Kamu pura-pura ikut perintahnya tapi jangan lakuin! Cari aja alasan supaya dia mau menunggu!" ucap tante Sisil sambil tersenyum smirk.
"Ckk! Malas banget aku harus pura-pura di depannya tante" decak Bianca dengan kesal.
"Segala sesuatu yang kamu mau itu harus sabar sayang"
"Iya tante"
Keduanya lalu membahas beberapa hal mengenai rencana besar mereka.
Entah apa yang akan mereka lakukan tapi yang pasti jika rencana mereka berhasil, bisa di pastikan Valeria akan sangat-sangat menderita.
Sebentar lagi Valeria! Gue jamin loe bakal ngerasain neraka yang sebenarnya, batin Bianca dengan senyum sinis.
βββββ
To be continue..........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating 5 yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€