
π»Jangan berbuat jahat kepada orang yang sudah berbuat jahat kepadamu karena saat kamu berbuat jahat maka kamu tidak lebih sama seperti merekaπ»
.
.
.
.
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tak terasa sudah malam hari. Valeria yang akan mengadakan pertemuan dengan anggotanya segera bergegas turun ke bawah.
"Master" ucap Wono yang datang menjemput Valeria.
Valeria tak berkata apa-apa dan segera pergi diikuti Wono dan pak Dev dari belakang. Sampai di ruang keluarga ternyata Bryan sudah menunggunya bersama Riki.
"Val sih Riki pengen ikut katanya dia juga mau jadi anak buah loe" ucap Bryan.
"Heeemmm" deham Valeria dengan wajah datar.
Mereka segera pergi dengan satu mobil melihat majikannya sudah pergi pak Dev segera masuk kembali ke dalam. Ia masih harus mengatur para pelayan dan semua hal tentang mansion.
Baru saja ia akan melangkah ke lantai tiga tiba-tiba hpnya berbunyi. Pak Dev segera mengambilnya dan melihat nama Valeria tertera disana.
^^^"Halo nyonya"^^^
"Bersihkan kamar gue"
^^^"Baik nyonya"^^^
"Loe tahu siapa saja yang boleh naik ke lantai 3 pak Dev"
^^^"Saya sudah tahu nyonya. Semua pelayan sudah saya beritahu juga nyonya"^^^
"Hemmm! Besok rekrut 3 koki untuk mansion"
^^^"Apa ada persyaratan khusus untuk kandidat koki nyonya?"^^^
"Tidak ada"
Belum juga pak Dev menjawab Valeria sudah mematikan sepihak. Pak Dev yang sudah paham bagaimana sifat Valeria hanya diam saja meski baru 3 bulan ia mengenal Valeria tapi ia sudah sangat hafal betul sifat Valeria.
~ Markas Valeria ~
Setelah menelpon pak Dev tak lama mobil mereka sudah tiba di markas. Riki yang baru kali ini ke tempat seperti ini mendadak sangat takut karena suasana di luar sangat gelap dan tidak ada satu rumah di sekitar sini.
"Val apa ini markas loe?" tanya Riki dengan gugup.
Valeria hanya melihat Riki tanpa berniat untuk menjawab pertanyaannya. Riki sendiri sudah tahu kalau pertanyaannya tidak akan pernah di jawab oleh Valeria.
Bryan yang melihat tatapan Valeria seperti tak suka menepuk pundak Riki sambil menggelengkan kepalanya untuk tak bertanya apapun.
Keempatnya segera masuk ke bangunan tua yang tidak layak di pakai.
Sepanjang jalan Riki terus melihat suasana di sekitar dan bergidik ngeri tak lama mereka masuk ke sebuah pintu yang di dalamnya ada lift.
"Gila ngak nyangka gue ada lift di bangunan tua kayak gini" ucap Riki keceplosan.
Wono dan Bryan melihat Riki dan menyuruhnya untuk tak berbicara lewat tatapan mata mereka. Melihat hal tersebut Riki memamerkan giginya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Master" ucap Raksa saat mereka sudah tiba di ruang bawah tanah.
"Suruh semua ke aula" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik master"
"Gue cuma mau ngasih tahu loe kalau semua yang bakal loe lihat dan dengar disini jangan pernah bawa ke luar atau beritahu siapapun sekalipun itu keluarga loe sendiri" bisik Bryan di telinga Riki.
"Maksud loe?" tanya Riki dengan penasaran.
"Sebentar lagi loe bakal tahu sendiri sosok Valeria yang sebenarnya" ucap Bryan dengan tatapan tajam.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Mendengar ucapan Bryan barusan entah kenapa Riki merasakan ada sesuatu bakal ia lihat. Raksa yang sempat mendengar ucapan Bryan segera mendekati Riki.
"Masih ada waktu buat loe gak gabung sama kelompok kita" ucap Raksa dengan tatapan tajam.
Glek..........
Riki menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Raksa barusan belum lagi tatapan mata Raksa yang seolah mengatakan semuanya itu tidak mudah.
Tapi saat mengingat Justin dan gengnya yang sering memukulnya rasa takut tadi seketika lenyap begitu saja.
Mereka semua akhirnya tiba di aula dimana semua anggota Valeria sudah berkumpul. Riki melihat sekelilingnya dan semua yang berada di sana seperti preman apa lagi tubuh mereka di penuhi dengan tato.
"Raksa" panggil Valeria dengan suara dingin.
"Iya master"
"Jangan menerima anak buah lagi"
"Baik master"
"Persiapkan diri kalian semua karena karena bulan depan kalian akan mengikuti pelatihan" ucap Valeria sambil tersenyum menyeringai seperti iblis.
"Maksud loe apaan Val?" tanya Riki dengan cepat.
Semua mata seketika menatapnya karena merasa Riki sangat tidak sopan memanggil nama master mereka seperti itu. Riki sendiri bergidik ngeri melihat semua mata memandangnya seperti ingin mengulutinya.
"Bryan kenapa semua pada ngeliatin gue kayak gitu" ucap Riki dengan suara pelan.
"Mungkin mereka pengen mengeroyok loe" ucap Bryan dengan santai.
"Jangan bercanda loe" ucap Riki dengan wajah pucat.
Bryan hanya terkekeh melihat wajah Riki yang sudah pucat melihat hal tersebut Valeria memberi isyarat kepada Raksa agar mengurus Riki setelah pertemuan ini selesai.
"Satu lagi aku paling benci dengan yang namanya kebohongan dan pengkhianat. Jadi sebelum berbuat pikirkanlah konsekuensi apa yang akan kalian dapat" ucap Valeria sambil tersenyum penuh arti.
Semua anak buah Valeria seketika gugup karena tahu apa yang akan mereka dapat kalau berkhianat. Valeria lalu menyuruh Raksa untuk menyalakan proyektor seketika mata mereka seakan ingin keluar melihat apa yang tertera di depan mereka.
"Semua data loe semua udah ada di tangan gue jadi berpikirlah sebelum berbuat" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik master" ucap mereka semua serentak.
"Master apa saya boleh bertanya" ucap Agung.
"Heemmm" deham Valeria sambil mengangguk kepalanya.
"Apa nama kelompok kita dan apa yang akan kita kerjakan nanti master?" tanya agung.
"Black shadow"
Suasana seketika hening tak ada suara apapun, Valeria lalu melihat satu persatu anak buahnya yang berjumlah 50 orang dengan tatapan datar.
Saat matanya memandang Raksa dan Agung ia tahu jika keduanya masih penasaran dengan kelompok mereka.
"Setelah pelatihan bulan depan kalian akan tahu apa tugas kelompok kita ini"
"Baik master"
"Kalian boleh pergi"
"Baik master"
Setelah kepergian anak buahnya sekarang tinggal Valeria dan Bryan yang berada di sana. Riki sendiri sudah di bawa Raksa untuk memberitahunya semua tentang markas juga menunjukkan video tentang apa yang akan terjadi jika mereka berkhianat.
"Val"
"Loe itu sebenarnya siapa dan bagaimana loe bisa punya semua ini" ucap Bryan dengan penasaran.
"Setelah pelatihan loe bakal tahu siapa gue sebenarnya" ucap Valeria sambil terkekeh.
"Tapi Val dari mana loe punya uang banyak. Bukannya loe itu yatim piatu?" tanya Bryan dengan selidik.
"Orang yang banyak bertanya biasanya umurnya pendek loh" ucap Valeria dengan suara dingin.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Bryan menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Valeria barusan. Aura yang keluar dari tubuh Valeria saat ini seakan menghunuskan pedang tepat di jantungnya.
Tubuhnya kaku tak bisa di gerakkan seperti ada tangan yang memegang kakinya dari dalam tanah. Bahkan tenggorokannya seperti di cekik sehingga ia sangat kesusahan untuk bernapas.
Melihat hal tersebut Valeria memejamkan mata untuk menetralkan emosinya yang terpancing. Ia sangat tidak suka jika ada yang bertanya tentang kehidupan pribadinya.
"Itu peringatan kecil buat loe karena ingin tahu kehidupan pribadi gue" ucap Valeria sambil meremas pundak Bryan dengan kuat.
"Sor...ry V...al" ucap Bryan dengan terbata-bata.
Valeria lalu melepas Bryan dan berlalu pergi dari sana, Bryan sendiri berdiri sambil mengontrol napasnya yang tercekat dari tadi.
Valeria memilih melihat sekeliling markasnya yang sedang di renovasi. Ia melihat apa saja yang harus diperbaiki dan dibangun.
Tak lupa ia juga akan membuat kamar khusus untuknya dan juga ruang kontrol untuk memantau sekitar area markas dan di dalam markas.
"Banyak yang harus gue renovasi" gumam Valeria dengan suara pelan.
~ Butik Arinta ~
Meski waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 tapi Arinta belum juga beranjak dari ruangannya. Entah kenapa pikirannya sedari kemarin tertuju kepada Valeria, ia rasanya ingin sekali memukul dirinya sendiri mengingat semua ucapannya waktu itu.
"Hiks hiks........aku ibu yang kejam........hiks hiks" ucap Arinta dengan tangis pilu.
Air matanya mengalir dengan deras merasakan hatinya yang sangat sakit mengingat kedua anaknya.
Bagas yang menatapnya dengan tatapan benci dan kecewa membuat hatinya rasanya seperti di tikam pisau.
"Maafin ibu........hiks hiks hiks........maafin ibu nak.........hiks hiks"
Tanpa Arinta sadari ternyata Bagas mendengar semua ucapan ibunya. Ia yang tadi lewat di depan butik Arinta memilih masuk saat melihat lampu di lantai 3 masih menyala.
Air matanya jatuh mendengar ucapan sang ibu hatinya juga sakit melihat sang ibu yang menangis dengan pilu saat ini.
Meski begitu Bagas tak mau menghampiri sang ibu karena masih sangat kecewa kepada ibu dan ayahnya.
"Bagas juga sedih lihat ibu menangis tapi hati Bagas sakit saat melihat ibu dengan tak berperasaan mengatai adikku seperti itu" ucap Bagas dengan sedih.
Tak kuasa melihat sang ibu yang menangis Bagas memilih untuk pergi. Setelah kepergiannya Arinta lalu membereskan barang-barangnya untuk segera pulang.
4 Bulan kemudian
Tak terasa sudah 4 bulan berlalu dengan sangat cepat setelah ujian tengah semester selesai Bryan dan lainnya segera berangkat mengikuti pelatihan di pulau milik Valeria.
Awalnya Riki dan Bryan kaget karena mereka yang masih berstatus pelajar harus ikut juga pelatihan meninggalkan sekolah mereka.
Entah bagaimana caranya Valeria dengan mudah mendapatkan izin untuk keduanya dari kepala sekolah selama 4 bulan.
Dan saat Bryan dan lainnya sampai di pulau yang menjadi tempat pelatihan mereka semuanya tak menyangka jika mereka diberi pelatihan di pulau Shadow.
Pulau itu adalah pulau pribadi milik Valeria yang berada di antah berantah karena lokasinya sangat sulit di lacak oleh satelit.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Selama 4 bulan mereka semua menjalani pelatihan yang sangat ketat dan sangat menyiksa.
Apa lagi yang menjadi instruktur mereka ternyata adalah anak pertama dari pak Dev yang adalah mantan jendral yang di pecat dengan tidak hormat dari angkatan darat.
Dengan bantuan Valeria akhirnya Juan Wiliam bisa membersihkan namanya di dunia politik. Meski begitu ia tidak berminat kembali lagi ke angkatan darat dan memilih mengabdikan dirinya kepada Valeria.
~ Mansion Valeria ~
Saat ini Valeria sedang berbicara serius dengan pak Dev di ruang kerjanya di lantai 3. Semenjak 4 bulan lalu Valeria sudah berhasil membangun markasnya dan perusahaan miliknya.
Bahkan tak hanya itu saja ia juga sudah menciptakan aplikasi yang tidak akan pernah di buat oleh siapapun dalam dunia pemrograman. Nama aplikasi itu adalah Shadow karena ia akan menggunakan aplikasi itu untuk menjalankan kelompoknya di masa depan.
"Bagaimana persiapan penyambutan"
"Semua sudah 100% siap nyonya"
"Heeemmm! Bagaimana kondisi Jeni?" tanya Valeria dengan tatapan dingin.
"Kondisi Jeni sudah lebih baik dan berangsur pulih dengan cepat nyonya. Terima kasih atas bantuan nyonya selama ini" ucap pak Dev dengan tulus.
"Kalau dia sudah sehat suruh dia kembali ke sini dan biarkan dia bekerja di perusahaan aku"
"Apa saya tidak salah dengar nyonya" ucap pak Dev dengan mata berkaca-kaca.
"Heeemmmm"
"Sekali lagi terima kasih nyonya"
"Beritahu Juan untuk menjaga camp pelatihan disana dengan baik"
"Saya sudah beritahu hal itu kepada Juan nyonya"
"Bagaimana dengan ibu dan adik Riki?" tanya Valeria.
"Mereka sudah beradaptasi dengan baik selama disini nyonya. Bahkan nona Rani juga beradaptasi dengan baik di sekolahnya yang baru"
"Heeemmm"
"Nyonya apa saya bisa bertanya sesuatu?" tanya pak Dev dengan gugup.
"Silahkan" ucap Valeria dengan santai tanpa melepas pandangannya dari laptop di depannya.
"Tanggal berapa ulang tahun nyonya dan maaf jika pertanyaan saya lancang nyonya"
Seketika gerakan tangannya terhenti saat mendengar ucapan pak Dev. Raut wajahnya berubah seketika mendengar ucapan pak Dev yang membuatnya mengingat nama orang yang paling ia benci di dunia ini.
"Pak Dev apa anda sudah bosan bernapas" ucap Valeria dengan tatapan dingin dan membunuh.
"M..a...afka..n saya nyon...ya" ucap pak Dev dengan tubuh gemetaran.
"Sekali lagi loe ikut campur urusan pribadi gue! Saat itu juga kepala loe bakal pisah dari tubuh loe" bentak Valeria dengan suara tinggi menggelegar.
Brugh............
"Ma...afkan sa...ya nyo....ya" ucap pak Dev sambil berlutut dengan tubuh gemetaran.
"Kali ini gue maafin! Keluar!!" hardik Valeria dengan suara tinggi.
"B...aik nyon...ya" ucap pak Dev dengan ketakutan.
Ia menyesal sudah bertanya hal pribadi kepada Valeria meski ia sudah tahu kalau Valeria paling benci ada yang ikut campur dengan pribadinya.
Beruntung Valeria memaafkannya entah apa yang akan terjadi jika Valeria tidak memaafkannya.
"Aku tidak akan bertanya tentang pribadi nyonya lagi" ucap pak Dev menetralkan detak jantungnya yang berdetak dengan cepat di luar ruang kerja Valeria.
βββββ
To be continue...........
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian lewat like, vote, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€