
π»Berbohong atau jujur itu adalah pilihanmu, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui yaitu jangan pernah menghancurkan kepercayaan seseorangπ»
.
.
.
.
...Perhatian terdapat adegan kekerasan 21+...
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Valeria tertawa seperti iblis saat melihat tubuh Barnabas sudah terbelah menjadi dua oleh katana miliknya.
Aura Valeria di dalam sana membuat semuanya bergidik ngeri melihat kekejaman seorang Valeria, Rehan dan Ari yang tadi memegang tubuh Barnabas seketika melepasnya dengan wajah pucat.
Apa lagi keduanya saat ini sudah bermandikan darah di sekujur tubuh mereka karena aksi gila Valeria barusan.
"Bagaimana pak tua! Kamu suka dengan pertunjukannya?" tanya Valeria sambil tertawa kencang.
"Kamu itu monster sialan! Mati saja kamu perempuan sialan!" maki Dimitri.
"Sepertinya kamu salah pak tua"
"Malam ini yang akan mati itu kamu bukan aku" ucap Valeria dengan santai sambil memainkan pisau kesayangannya.
"Mau apa kamu? Jangan mendekat monster sialan" teriak Dimitri bergetar takut melihat Valeria yang berjalan ke arahnya.
Sret............Arrghhhh...........
Jeritan kesakitan Dimitri bergema saat paha kanannya di tu**k dan lebih parahnya lagi Valeria meng**ak bermain dengan pisau kesayangannya
Bau anyir darah menyeruak di dalam sana membuat anggota Black Shadow memuntahkan isi perut mereka, tak kuat mencium baunya apa lagi menyaksikan langsung aksi master mereka.
SADIS
Kata itu yang pantas untuk menggambarkan sosok Valeria saat ini yang sedang bermain dengan mangsanya.
"Ares menurut loe apa yang harus kita lakukan dengan tubuh a****g Rusia ini?" tanya Valeria.
"Ku***i dia, lalu buang tubuhnya ke anjing liar" ucap Ares dengan wajah datar dan dingin.
Glek...........
Rehan dan Juan menelan saliva mereka dengan susah mendengar ucapan Ares yang mengatakan semuanya itu dengan santai.
"Ide loe bagus juga" senyum menyeringai muncul di bibir Valeria membuat Dimitri semakin ketakutan.
"Hari ini adalah hari terakhir kamu bernapas di bumi pak tua......hahahaha" ucap Valeria sambil tertawa.
"Aaarrghhhh.......hentikan aku mohon" jerit Dimitri memohon ampun.
"Tidak ada pengampunan untukmu pak tua"
"Berengsek kamu Queen! Kamu itu monster keji bukan manusia" teriak Dimitri dengan emosi.
"Wah aku suka dengan julukanmu" tawa Valeria pecah.
Sret.........sret.............sret...........sret............
Arrgghhh.............
Valeria tertawa senang mendengar jeritan kesakitan Dimitri. Dimitri menghembuskan napasnya terakhir saat Ares menebas kedua kakinya hingga terlepas.
Melihat aksi Valeria dan Ares semua anak buah Black Shadow tercengang tak menyangka akan melihat sisi kekejaman keduanya.
"Ledakan tempat ini" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik master" ucap Juan dan Rehan serentak.
Valeria berbalik dan pergi dari sana di ikuti Ares dan lainnya tak lupa memasang bom di sekitar sana.
Dor...............
"Master" teriak mereka semua serentak mendengar suara tembakan barusan.
Dor.........dor..........dor...........dor.......
Ares berbalik dan langsung menembak salah satu anak buah Dimitri yang sedari tadi berpura-pura mati di sudut tembok.
Valeria menatap pinggangnya yang terkena tembakan hingga tembus. Darah seketika mengalir dengan deras membuat mereka semua panik.
"Thomas" ucap Valeria dengan suara pelan sebelum kesadarannya hilang.
Ares menangkap tubuh Valeria yang hampir jatuh di tanah, dengan cepat ia mengendong Valeria dan berlari keluar dari sana.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Sepanjang jalan salju yang berwarna putih berubah menjadi merah saat darah Valeria mengalir terus-menerus membuat semua anggota Black Shadow panik melihat hal itu.
"Rehan loe tangani di sini liat semua anggota kita dan jangan lupa hancurkan markas mereka" ucap Juan.
"Oke! Kabari gue kemana master dibawa" ucap Rehan dengan wajah cemas.
"Oke"
Tak berselang lama bunyi helikopter terdengar di atas sana membuat angin kencang di bawahnya. Melihat hal tersebut Juan mengingat saat kejadian di pulau Cayman waktu itu.
Tuhan jangan sampai kejadian itu terulang lagi, batin Juan berdoa dalam hati.
Ares segera naik ke dalam helikopter diikuti Juan dalam helikopter sudah ada dokter Lauren yang bersiap dengan peralatannya.
Tatapan mata dokter Lauren dan Rehan saling bertatapan seakan berbicara lewat batin. Dokter Lauren mengangguk kepalanya seakan menjawab semua akan baik-baik saja.
"Cepat berangkat" teriak Juan ke arah pilot.
"Baik bos" ucap sang pilot.
Sret............
"Tekan luka master dengan kasa" ucap dokter Lauren menyiapkan kantong darah dan infus.
Dengan cepat Juan melakukan apa yang disuruh dokter Lauren sedangkan Ares menahan tubuh Valeria dari belakang.
"Dok cepat tubuh master semakin dingin!" bentak Juan dengan panik.
Dokter Lauren dengan cepat memasang infus dan melakukan transfusi darah karena tubuh Valeria kekurangan banyak darah sedari tadi.
"Master harus segera di operasi tembakan tadi mengenai ginjalnya" ucap dokter Lauren.
"Cari rumah sakit terdekat" ucap Ares dengan suara dingin.
Dengan cepat helikopter segera menuju rumah sakit terdekat di sana, sampai di rooftop mereka sudah ditunggu tim medis rumah sakit yang sudah di beritahu oleh Juan saat di helikopter.
"Saya dokter Lauren ahli bedah dan dokter pribadi dari pasien" ucap dokter Lauren kepada salah satu dokter disana.
"Ruangan operasi sudah disiapkan seperti instruksi dokter barusan" ucap dokter Mario.
"Baik dokter"
Mereka lalu mendorong brankar Valeria menuju ruang operasi di lantai 2. Ares dan Juan yang tidak di perkenankan masuk ke dalam harus menunggu di depan ruang operasi.
Juan mengusap wajahnya dengan kasar mencemaskan keadaan Valeria di dalam ruang operasi.
Sedangkan Ares sibuk dengan hpnya menghapus semua rekaman cctv hari ini dan juga keberadaan mereka tak lupa mengirim pesan ke anak buahnya untuk segera datang ke sana.
30 menit
1 jam
2 jam
2.5 jam
Lampu tanda operasi mati tanda operasi sudah selesai bersamaan dengan bunyi langkah kaki berlari dimana itu adalah Rehan yang berlari ke arah keduanya.
"Gimana master?" tanya Rehan dengan cemas.
Ceklek.........
Pintu ruang operasi terbuka dan keluarlah dokter Mario dan dokter Lauren bersamaan. Dokter Mario segera pergi membiarkan dokter Lauren yang akan menjelaskan.
"Yang gimana keadaan master?" tanya Rehan dengan cepat mengagetkan Juan dan dokter Lauren yang melotot menatap Rehan.
Rehan yang keceplosan memanggil dokter Lauren sayang menggaruk kepalanya merasa seperti kepergok mencuri.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Loe hutang penjelasan sama gue bro" ucap Juan dengan mata memicing.
"Entar gue ceritain"
"Bagaimana keadaan nyonya?" tanya Ares tak memperdulikan keduanya.
"Operasi master berhasil" ucap dokter Lauren membuat Juan dan Rehan seketika bernapas dengan lega.
"Tapi master harus kehilangan salah satu ginjalnya karena tembakan tadi yang menembus pinggang master. Beruntung peluru tadi tidak mengenai saraf master sehingga tidak membahayakan organ master, tapi...." tambahnya lagi tapi di potong Rehan.
"Tapi apa yang" potong Rehan dengan cepat.
"Loe bisa diam ngak sih biar dokter Lauren menjelaskan semuanya baru loe tanya" hardik Juan dengan emosi.
"Saat ini tubuh nyonya mengalami kondisi vegetatif"
Nb:Vegetatif adalah kondisi disfungsi otak kronis ketika seseorang tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran
Duar..............
Bagai disambar petir tubuh Juan dan Rehan menegang mendengar ucapan dokter Lauren mengenai kondisi Valeria.
"Kenapa master harus seperti ini" teriak Juan menyalahkan dirinya selalu gagal melindungi Valeria.
"Tenangkan diri loe Juan kita lagi di rumah sakit" hardik Rehan dengan suara tegas.
"Hiks hiks hiks hiks......kenapa harus master.....hiks hiks" tangis Juan pecah tak bisa dibendung lagi.
"Apa nyonya bisa dibawa pergi sekarang?" tanya Ares mengagetkan ketiganya.
"Apa maksud loe Ares?" tanya balik Rehan.
"Dokter" ucap Ares dengan suara dingin membuat dokter Lauren tersadar.
"Bisa tuan" ucap dokter Lauren.
"Siapkan semuanya dokter. Hari ini kita berangkat ke markas utama"
Ares berlalu pergi meninggalkan ketiganya yang terbengong tak bisa berkata apa-apa.
~ California, Los Angeles ~
Hosh............hosh.........hosh...........
Thomas terbangun dengan napas satu-satu saat mendengar suara sang kekasih apa lagi ia baru bermimpi buruk mengenai Valeria.
Ia lalu menyambar hpnya di atas nakas melihat GPS Valeria yang tak bisa di lacak lagi bahkan nomornya sudah tak aktif saat ia masih berada di Italia.
"Kamu dimana honey" ucap Thomas sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Thomas bangun dan keluar menuju balkon di apartemen hanya menggunakan boxer saja. Ia menyalakan sebatang rokok mencoba mengusir pikirannya dari sang kekasih.
Ia bukan perokok aktif hanya sesekali saja ia merokok jika pikirannya sedang kacau atau tak tenang. Hembusan asap rokok menguar di udara membuat Thomas menutup mata merasakan dinginnya udara malam.
"Valeria" desis Thomas dengan tatapan penuh kerinduan.
βββββ
To be continue.................