
π»Tak selamanya yang pintar yang akan menang tapi yang bodoh juga bisa menjadi pemenangπ»
.
.
.
.
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, semenjak Valeria memberikan uang tabungannya ke Bianca, mulai saat itu Bianca selalu membohongi Valeria untuk memberikannya uang terus-menerus.
Kemarin adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas untuk ketiganya. Saat ini Valeria sedang menonton drama kesukaannya bersama dengan Bianca.
Tak lama Bagas turun dengan tergesa-gesa dari lantai dua. Melihat hal tersebut Valeria menjadi bingung pasalnya hari ini weekend dan Bagas tidak mempunyai jadwal penting hari ini.
"Kangmas mau kemana?" tanya Valeria saat Bagas sudah sampai di ruang keluarga.
"Kangmas mau ke sekolah dulu ada rapat bareng tim basket untuk lomba senin nanti" jawab Bagas.
"Loh dalam rangka apa kangmas" ucap Valeria penasaran.
"Ada lomba persahabatan antar sekolah dek"
"Oh! Kalau gitu hati-hati ya kangmas"
"Hemmm"
Bianca hanya menatap kakak beradik itu dengan diam, pasalnya ia tidak tahu harus berbicara apa. Melihat Bagas sudah pergi Valeria kembali menonton drama kesukaannya.
"Valeria" ucap Budi yang baru pulang bermain golf bersama rekan kerjanya.
"Ayah udah pulang" ucap Valeria sambil beranjak mencium tangan Budi.
Bianca juga mengikuti apa yang di lakukan oleh Valeria kepada Budi. Budi sendiri tidak menolak saat Bianca mencium tangannya menurutnya itu adalah sopan santun di dalam keluarga.
"Mana ibumu?" tanya Budi.
"Ibu belum pulang yah" jawab Valeria.
"Ya sudah kalian berdua siap-siap. Sebentar lagi kita akan makan siang bareng sama eyang kakung dan eyang putri" ucap Budi dengan tegas.
"Baik ayah" ucap keduanya dengan serentak.
Budi lalu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Valeria dan Bianca juga segera masuk ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap menghadiri acara makan siang dengan keluarga besar sang ibu.
Sampai di kamar Budi segera menelpon Arinta menanyakan jam berapa ia akan pulang. Pada dering ke dua Arinta langsung menjawab panggilan suaminya.
"Halo mas"
^^^"Halo sayang kamu pulangnya jam berapa"^^^
"Bentar lagi aku balik kok mas ini masih siapin pesanan baju keluarga nyonya Risma mas"
^^^"Baiklah sayang mas sama Valeria dan Bianca nunggu kamu di mansion ya"^^^
"Memangnya anak itu harus ikut ya mas"
^^^"Kan kata ibu, ayah mau ketemu sama anak itu sayang"^^^
"Kenapa harus ketemu sih mas" ucap Arinta dengan kesal dari seberang.
^^^"Mas ngak tahu sayang toh itu perintah ayah"^^^
"Yaudah terserah mas aja deh"
^^^"Jangan ngambek dong istriku kan itu bukan kemauan mas"^^^
"Iya mas aku tahu kok"
^^^"Ya udah sayang cepat pulang ya"^^^
"Iya mas"
Budi segera mematikan panggilannya dan bersiap untuk makan siang sebentar. 20 menit kemudian Arinta yang baru pulang segera masuk ke dalam kamar dan mendapati suaminya yang sedang memakai pakaian.
"Kamu udah pulang sayang" ucap Budi sambil melihat sang istri dari cermin.
"Iya mas"
"Ya udah kamu mandi gih sayang"
"Iya mas"
"Oh ya tadi Bagas nelpon aku katanya ngak bisa ikut makan siang bareng, soalnya ada rapat sama tim basket buat lomba senin nanti" ucap Budi yang mengingat ucapan Bagas tadi.
"Iya mas tadi Bagas nelpon aku juga" ucap Arinta dari dalam kamar mandi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Selesai bersiap keduanya keluar untuk segera berangkat ke restoran. Arinta melihat penampilan Valeria dan tersenyum bangga melihat sang anak yang pandai memilih baju.
Saat pandangannya tertuju ke Bianca senyum di bibir Arinta luntur karena merasa tak suka dengan Bianca.
Mendapat tatapan dingin dari ibu tirinya membuat Bianca hanya biasa saja, toh ia juga sudah tahu jika Arinta tidak menyukainya.
"Ayok kita pergi" ajak Budi dengan suara tegas.
"Iya yah" ucap Valeria.
"Baik ayah" ucap Bianca.
Keempatnya segera masuk ke dua mobil yang sudah parkir di depan mansion. Bianca yang baru kali ini melihat mobil mewah selain mobil Budi dulu berdecak kagum.
Ternyata ayah gue kaya banget ampe mobilnya mewah banget, batin Bianca.
~ Grill resto ~
Iring-iringan mobil Budi akhirnya sampai di salah satu restoran paling mewah di sana. Dion segera membuka pintu buat tuan dan nyonyanya, Budi keluar terlebih dahulu sambil memberikan tangannya menyambut sang istri.
"Ca sampai di dalam resto loe ngak boleh buat eyang putri sama eyang kakung marah ya" ucap Valeria saat turun dari mobil.
"Oke" ucap Bianca sambil tersenyum manis.
"Valeria ayok" panggil Arinta menyuruh mereka untuk segera masuk.
Keempatnya segera masuk ke dalam restoran menuju salah satu ruang VIP yang sudah di pesan. Sampai di dalam ruang VIP mereka segera menyapa Arya, Putri, dan lainnya.
"Kalian sudah sampai" ucap Putri dengan suara lembut.
"Iya bu" ucap Arinta.
Sedari tadi mata Arya hanya tertuju kepada Bianca yang berdiri di samping Valeria sambil tersenyum manis. Seakan tidak ada ketakutan dan menganggap semuanya disini adalah keluarganya.
Bianca sadar sedari tadi orang di depannya menatapnya, tapi ia tidak perduli dan hanya menampilkan senyum polos.
Mereka tidak tahu jika Bianca adalah anak yang pandai memainkan emosi sama seperti ibunya Siska.
"Lama tak bertemu Arinta" ucap Natalia sambil memeluk sang adik.
"Halo mbak apa kabar" ucap Arinta sambil membalas pelukan sang kakak.
"Seperti yang kamu lihat mbak baik-baik saja" ucap Natalia.
"Iya mbak" ucap Arinta.
Arinta dan lainnya lalu mengambil tempat di kursi kosong. Tak lama pelayan masuk dan menyiapkan makan siang untuk mereka semua.
Selesai makan mereka masih duduk berbincang-bincang satu sama lain. Wina yang selalu iri dengan Arinta tersenyum sinis melihat Bianca yang juga ikut makan siang bersama.
"Arinta apa kamu tidak ingin mengenalkan gadis kecil di samping Valeria" ucap Wina sambil tersenyum sinis.
Arinta lalu menatap Wina seakan tahu jika kakak iparnya ini selalu mencari kelemahannya. Arya hanya diam saja ingin mendengar ucapan sang anak tentang Bianca meski ia sudah tahu siapa Bianca dari sang istri.
"Dia adalah Bianca keponakan suamiku mbak" ucap Arinta.
"Wah ternyata kamu punya saudara ya Budi, mbak kira kamu itu anak tunggal" ucap Wina.
Suasana di dalam sudah sangat panas saat Wina membalas ucapan Arinta. Pasalnya mereka semua tahu jika Budi adalah anak tunggal dan tidak mempunyai saudara jauh.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Kenapa mbak sangat tertarik dengan KELUARGAKU" ucap Arinta dengan suara tegas menekan kalimatnya di bagian akhir.
"Arinta" ucap Putri sambil menggelengkan kepala.
Arinta melihat sang ibu sambil tersenyum kalau ia bisa mengatasi semuanya. Budi memegang tangan sang istri di bawah meja dan meramasnya memberitahu untuk tidak meladeni ucapan Wina.
"Buat apa mbak bertanya bukannya semua di sini sudah mengetahui siapa anak itu" ucap Arinta tak kalah sinis.
"Cukup semuanya!" ucap Arya dengan suara tegas.
Ruangan makan seketika hening tidak ada yang bersuara. Arya menatap semua anggota keluarganya satu persatu, sampai di Budi tatapan matanya tajam seakan mengatakan kalau ia sangat kecewa.
Budi tahu ayah mertuanya sudah tidak respek lagi kepada dia, tapi ia tidak mau ambil pusing toh keluarganya lebih penting saat ini.
"Ayah tahu semua disini sudah tahu siapa anak itu" ucap Arya sambil menunjuk Bianca.
Bianca yang ditunjuk mendadak gugup karena tatapan tajam Arya seakan ingin mencabiknya.
Dasar kakek tua sialan, batin Bianca merasa kesal.
"Iya ayah" ucap ketiga anaknya bersama mantunya serentak.
"Apapun masalah Budi dan Arinta biarkan itu urusan rumah tangga mereka" ucap Arya dengan tegas.
"Baik ayah" ucap semuanya serentak.
"Dan kamu Budi cukup kali ini kamu khianati putriku, jika terjadi lagi maka ayah pastikan kalian akan bercerai saat itu juga" ucap Arya dengan tatapan tajam.
"Pegang kata-kata aku ayah sampai kapanpun aku tidak akan mengecewakan Arinta lagi" ucap Budi dengan suara tegas.
"Ayah pegang ucapanmu" ucap Arya.
"Iya ayah" ucap Budi.
Setelah selesai jamuan makan siang semuanya lalu beranjak pergi dari restoran. Wina yang masih kesal dengan Arinta berjalan mendekatinya sambil berbisik di telinga Arinta.
"Ternyata kamu punya kelemahan juga ya Arinta. Mbak pikir kamu itu wanita yang sempurna tapi ternyata rumah tanggamu bermasalah ya" bisik Wina sambil tertawa mencemooh.
Arinta mengepal kedua tangannya ingin melampiaskan amarah ke kakak iparnya, tapi ia tahan karena saat ini mereka sudah berada di luar dan sedang dilihat banyak orang.
Wina menepuk pundak Arinta sambil tersenyum sinis, lalu pergi menuju mobil suaminya. Arinta segera masuk ke dalam mobil karena sudah tidak tahan dengan kelakuan kakak iparnya itu.
"Dasar perempuan sialan!" teriak Arinta dengan emosi di dalam mobil.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Budi dengan penasaran.
"Aku kesal sama mbak Wina mas pengen aku ulek wajahnya itu"
"Tenangin diri kamu sayang ngak usah perduli dengan omongan mbak Wina" ucap Budi sambil mengelus pundak sang istri.
"Iya mas"
~ Mansion Kusumo ~
Hari berlalu dengan cepat tanpa terasa sudah seminggu berlalu dari kejadian di restoran. Valeria dan Bagas yang sudah liburan sekolah memilih menghabiskan waktu di mansion.
Bukan tanpa alasan keduanya menghabiskan liburan di mansion, karena memang kedua orang tuanya masih sibuk dengan kerjaan mereka jadi tidak bisa berlibur.
"Kangmas aku bosan" ucap Valeria.
"Gimana kalau kita belanja di mall" ucap Bagas.
"Wah ide bagus thu kangmas" ucap Valeria dengan semangat.
"Ya udah sana gih siap-siap nanti kangmas beritahu ibu dulu"
"Oke kangmas tapi kita ajak Bianca juga ya kangmas"
"Hemmmm"
Valeria segera berlari ke lantai dua untuk bersiap ke mall. Bianca yang baru saja masuk ke dalam mansion langsung di panggil oleh Bagas.
"Kamu siap-siap kita akan ke mall" ucap Bagas dengan suara dingin.
"Baik kangmas"
"Hemmmm"
Bianca sebenarnya sedih melihat tatapan Bagas yang dingin dan datar kepadanya, berbeda dengan Valeria tatapan Bagas sangat lembut dan penuh kasih sayang.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah mendapat ijin dari sang ibu ketiganya segera berangkat ke mall diantar oleh supir. Bianca sepanjang jalan memikirkan apa saja yang harus di belinya.
Waktunya gue habisin duit anak bodoh itu, batin Bianca sambil melirik Valeria yang duduk di sampingnya.
~ Kingdom mall ~
Setelah 40 menit akhirnya mereka tiba di Kingdom mall, salah satu mall paling mewah yang berada di Solo. Bagas turun sambil mengandeng lengan Valeria untuk masuk ke dalam.
"Bianca ayok dekat sama kangmas takutnya kita terpisah lagi" ucap Valeria dengan senyum manis.
"Iya Val" ucap Bianca.
"Kita kemana dulu?" tanya Bagas.
"Aku pengen beli buku kangmas" ucap Valeria dengan mata berbinar.
"Ayok kita kesana dan kamu Bianca ambil apa saja yang kamu mau" ucap Bagas.
"Baik kangmas terima kasih" ucap Bianca sambil tersenyum manis.
Sampai di tempat buku ketiganya lalu memilih buku yang mereka inginkan. Valeria memilih banyak buku mengenai pemrograman komputer, sedangkan Bianca memilih buku tentang seni mengambar.
"Val" panggil Bianca saat melihat Bagas tidak berada dekat mereka.
"Ada apa Ca"
"Gue pengen beli alat lukis yang itu tapi gue ngak punya uang"
"Oh itu. Nih pake duit gue aja"
"Emang ngak apa-apa kalau ketahuan ibu gimana"
"Ngak bakalan kok lagian ini juga duit tabungan gue sendiri kok" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Makasih ya Val"
"Sama-sama Ca lagian kita kan keluarga"
"Iya Val"
Valeria lalu memberikan uang sebesar 500 ribu kepada Bianca. Setelah mendapat apa yang ia mau Bianca segera beranjak menuju tempat alat lukis dan membeli semua yang ia mau.
"Gue bakal rebut semua perhatian dan kasih sayang yang loe dapat Valeria" gumam Bianca dengan suara pelan.
Selesai dari tempat buku ketiganya memilih bermain di area permainan. Setelah puas bermain mereka lalu mengisi perut di salah satu restoran di dalam mall.
3 bulan kemudian
Saat ini Valeria sudah kelas 5 SD bersama dengan Bianca, sedangkan Bagas sudah naik kelas dan duduk di kelas 1 bangku SMA.
Selama itu Valeria sudah tidak pernah tertarik dengan seni lagi, setiap jadwal kursus mengambar ia selalu bertukar tempat dengan Bianca. Tanpa kedua orang tuanya tahu Valeria tidak pernah lagi mengikuti kursus melukis.
Biancalah yang mengantikan Valeria mengikuti kursus meski namanya yang terdaftar. Valeria memilih mempelajari bahasa pemrograman dari pada teknik mengambar.
~ *Arinta b**utik* ~
Saat ini Arinta sedang mengambar sketsa baju untuk rancangan terbarunya. Tak lama Ana masuk ke dalam ruangan Arinta membawa undangan makan malam dari salah satu klien penting mereka.
"Permisi nyonya ini ada undangan jamuan makan malam dari nyonya Merlin" ucap Ana sambil menyodorkan undangan.
"Terima kasih ya Ana" ucap Arinta dengan tulus.
"Sama-sama nyonya kalau begitu saya permisi"
"Iya Ana"
Arinta membuka undangan tersebut dan melihat kapan jamuan makan malam itu. Saat sedang membaca undangan tiba-tiba hpnya berbunyi ada panggilan masuk dari tempat les Valeria.
Mendengar penjelasan dari tempat les sang anak, wajah Arinta berubah menjadi merah padam karena sangat emosi.
"Valeria" desis Arinta dengan emosi.
βββββ
To be continue...........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat like, komen, vote, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€