
π»Lebih baik dimanfaatkan orang dari pada memanfaatkan orangπ»
.
.
.
.
Thomas tahu ia akan mendapat semburan panas dari bibir manis itu makanya ia bergegas keluar secepatnya. Saat akan sampai di dapur ia berpapasan dengan Ares yang sedang mengambil air minum.
"Ckk!" dengus Thomas dengan emosi.
Ares tak memperdulikan hal tersebut dan berlalu pergi, saat akan sampai ke pintu Thomas berbalik dan kaget melihat Ares yang masuk ke kamar Valeria.
Hatinya terasa panas dan cemburu melihat Ares yang masuk ke dalam kamar sang pacar di jam segini.
"Sial aku akan membunuhmu berengsek" umpat Thomas mengepal tangannya.
Brak............
Pintu penthouse Valeria dibanting dengan kuat membuat Ares melihat ke arah pintu saat keluar dari kamar Valeria. Ia yang baru selesai menyiapkan air minum Valeria segera berlalu pergi ke apartemen miliknya sendiri.
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, pagi ini Ares sudah menyiapkan dokter dan pelatih untuk Valeria. Setelah di periksa Valeria langsung menjalani pelatihannya untuk berlatih menguatkan otot-ototnya.
"Gimana keadaan Valeria, Ares?" tanya Bryan yang baru datang setelah mengecek kondisi sang mama.
"Sudah lebih baik hanya perlu melatih otot-otot nyonya"
"Ngak ada cidera serius kan?" tanya Bryan dengan cemas.
"No"
3 jam kemudian Valeria sudah menyelesaikan latihannya. Sebenarnya hanya butuh 2 jam saja tapi Valeria terus menyuruh pelatihnya untuk menaikkan durasi latihannya lebih lama.
Ia merasa tubuhnya terlalu kaku dan tidak bisa bergerak dengan bebas. Setelah latihannya selesai Valeria segera membersihkan diri dan berendam di bathup dengan aroma terapi yang biasa ia pakai.
Bau harum bunga geranium menyeruak di dalam sana, Valeria merasa otot-otot bagian lehernya lebih rileks setelah mencium aroma geranium. Selesai ia langsung keluar dengan hati-hati sambil memegang dinding agar tidak jatuh.
"Nyonya biar saya bantu" ucap Ares.
"Ambilkan pakaian gue dan loe keluar" perintah Valeria dengan suara dingin.
"Baik nyonya"
Ares mengambil pakaian santai untuk Valeria beserta dalaman. Setelah itu ia keluar dan berdiri di depan pintu menunggu perintah atau panggilan Valeria dari dalam.
Selesai berpakaian Valeria lalu duduk di kursi roda dan keluar untuk sarapan. Ares menyiapkan sarapan di balkon lantai dua saat sarapan tiba-tiba Yorla datang bersama Bryan yang tadi keluar menerima telpon dari penasehat kerajaan.
"Good morning sister" ucap Yorla dengan suara gemulainya.
Valeria menatap Yorla dengan datar tak membalas sapaannya barusan, melihat hal tersebut bukannya marah atau sakit hati malah ia biasa saja. Keduanya lalu duduk dan ikut sarapan bersama Valeria.
"Gimana kondisi mama loe" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Much better than before" (lebih baik dari sebelumnya) ucap Bryan sambil menyesap kopi.
"Traumanya"
"80% nyokap gue udah sembuh dari traumanya" ucap Bryan sambil tersenyum hangat.
"Heemmm! Jadi kapan loe bakal bawa nyokap loe kembali ke kerajaan Wizpet"
Bryan tersentak dengan penuturan Valeria barusan pasalnya ia tidak ingin membawa mamanya kembali ke sana dan tak ingin berurusan lagi dengan kerajaan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Jangan bilang you tidak ingin kembali ke sana" tebak Yorla dengan tepat.
"Gue pengen hidup seperti orang biasa" ucap Bryan dengan gusar.
"Itu ngak mungkin brother"
"Kenapa"
"Satu-satunya pewaris takhta kerajaan Wizpet sekarang cuma you, mau sampai kapan pun you menghindar itu ngak mungkin. You know about destiny right?" (kamu tahu takdir kan) ucap Yorla dengan suara tegas.
Deg............
Tubuh Bryan menegang mendengar kata destiny yang keluar dari mulut Yorla. Entah kenapa ia merasa ia tidak akan pernah bisa menghindar dari takdirnya menjadi seorang pewaris takhta.
"Ucapan Yorla benar" tambah Valeria dengan suara dingin.
"Val" ucap Bryan dengan wajah memelas meminta dukungan untuk pemikirannya.
"Jangan lupa jabatan nyokap loe saat ini. Gue yakin nyokap loe ngak bakal setuju sama pemikiran loe"
"Jadi gue harus kembali ke sana"
"Ya iyalah brother. Kapan lagi you bisa jadi seorang raja" pekik Yorla dengan senang.
"Ckk!!" dengus Bryan.
"Jalani aja takdir loe" ucap Valeria.
"Heemm! Tapi gue bakal buang nama Alfonso sialan itu" ucap Bryan dengan penuh kebencian.
"Terserah loe" ucap Valeria dengan cuek.
"Tapi biar bagaimanapun darah sialan Alfonso mengalir di tubuh you brother" ucap Yolra menggoda Bryan.
"Tutup mulut sialan loe ubur-ubur gagal!" bentak Bryan tak suka membahas darah dalam tubuhnya.
"Ckk! Dasar tukang pemarah" ketus Yorla sambil mengerucut bibir.
Bryan diam tak membalas ucapan Yorla yang akan membuatnya emosi. Ia memikirkan apa yang harus ia perbuat setelah kembali ke sana.
"Biarkan nyokap loe istirahat dari tanggung jawab dia saat ini" ucap Valeria.
"Oke Val. Gue tahu apa yang musti gue lakuin"
"Jangan pernah sungkan minta bantuan Yorla"
"Kenapa ekeih" tunjuk Yorla dengan bingung ke dirinya sendiri.
"Karena loe itu Yorla" ucap Valeria dengan ambigu.
Yorla diam mencerna ucapan Valeria tapi tak mengerti juga ia tidak mau memikirkan hal-hal ribet yang bisa membuatnya pusing sendiri.
Setelah itu keduanya bergegas pergi melakukan semua perintah Valeria mengenai perusahaan.
Valeria lalu pergi ke ruang kerja memeriksa semua pekerjaannya selama 3 bulan. Tak lupa ia juga melihat perkembangan keluarganya di Indonesia terutama Bagas yang seperti orang gila terus mencarinya.
"Sebentar lagi kita akan bertemu kangmas" ucap Valeria dengan wajah sedih.
"Nyonya ada pesan dari pak Dev ingin bertemu" ucap Ares.
"Beritahu pak Dev untuk bertemu di Indonesia saja"
"Baik nyonya"
"Bagaimana perkembangan Boy dan Girl"
"Keduanya baik-baik saja nyonya dan saat ini Girl tengah berbadan dua"
"Suruh penjaga memperhatikan makanan keduanya"
"Baik nyonya"
Valeria yang sudah sangat merindukan kedua hewan kesayangannya itu segera melakukan video call. Tak berselang lama auman kedua hewan liar itu terdengar sangat berisik.
"I miss you too guys" (aku juga merindukan kalian) ucap Valeria seakan membalas ucapan kedua hewan itu.
Roooaaasrrrr......
"Ya aku tahu Girl dan kamu harus menjaga mereka"
Roooaarr........
"Jangan khawatir Boy, Girl baik-baik saja"
Roooaarr.....
Valeria melihat kedua peliharaannya yang mengaum sambil berlari seakan memberitahunya kalau mereka sudah tak sabar ingin bertemu. Siapa pun yang melihat kedekatan Valeria dengan kedua kucing liarnya itu akan pingsan seketika.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Ting.......tong......ting......tong........
Ares bergegas keluar membuka pintu saat bel berbunyi saat pintu dibuka senyum Thomas yang mereka langsung hilang berganti dengan tatapan permusuhan.
"Ada yang bisa dibantu tuan Parker?" tanya Ares yang sudah mengetahui identitas Thomas.
"Minggir aku ingin menemui kekasihku" ucap Thomas dengan ketus.
Ares menyingkir memberi jalan kepada Thomas untuk masuk setelah memberitahu Valeria berada di ruang kerjanya Thomas segera pergi ke sana.
Ares yang hendak mengantar Thomas mengurungkan niatnya saat melihat kedatangan dua anak buah Valeria yang diselamatkan di pulau Cayman.
Ceklek...........
"Dimana sopan santunmu Ares" ucap Valeria dengan suara dingin karena masuk tak mengetuk pintu.
"Honey" ucap Thomas dengan suara lembut.
Gerakan tangan Valeria terhenti di atas keyboard saat mendengar suara yang ia kenali. Ia mengangkat matanya dan melihat Thomas yang sudah masuk ke dalam sambil tersenyum manis.
Deg............
Tubuh Valeria bergetar melihat apa yang dibawa oleh Thomas, wajahnya seketika pucat dan ingatan-ingatan tubuhnya di pukul muncul. Melihat hal tersebut Thomas semakin cemas dan berjalan mendekat.
"Per.....gi per...gi jang...an men...dekat" teriak Valeria dengan tubuh bergetar.
"Honey apa yang terjadi" ucap Thomas dengan cemas dan panik.
"Aku bilang pergi berengsek" teriak Valeria sampai urat-urat di lehernya kelihatan.
"Nyonya" ucap Ares saat masuk ke dalam.
Tubuh Valeria bergetar hebat melihat Thomas yang berdiri sambil membawa sebuket bunga mawar. Ares yang melihat arah tatapan Valeria dengan cepat menarik bunga tersebut dan membawanya keluar.
Thomas yang kaget ingin marah tapi ia urungkan saat melihat kekasihnya yang bergetar. Ia tak perduli dengan teriakan Valeria yang menyuruhnya pergi dan terus mendekatinya.
Grep............
Valeria bergetar hebat memegang kepalanya yang terasa sakit mengingat kejadian waktu itu. Melihat hal tersebut Thomas semakin memeluknya dan mengelus punggung Valeria dengan lembut.
"Honey kamu tenang ya ada aku disini" ucap Thomas dengan lembut.
"Pergi" ucap Valeria dengan suara lemah.
"No. Aku tidak akan pernah pergi honey"
Valeria tak berkata apa-apa lagi tatapan matanya kosong menatap ke depan, tak berselang lama Thomas mendengar napas teratur Valeria yang menandakan ia tertidur.
Dengan cepat Thomas mengendong Valeria ke kamarnya dan menaruhnya di ranjang. Ares yang baru datang langsung menghidupkan AC karena tahu Valeria tak suka tidur jika kamarnya panas.
"Kenapa Valeria seperti ini" ucap Thomas dengan wajah cemas sambil mengelus kepala Valeria dengan lembut.
"Jangan pernah membawa bunga mawar untuk nyonya"
"Why?" (kenapa) tanya Thomas dengan bingung.
"Nyonya trauma dengan bunga mawar"
"Apa" kaget Thomas.
Thomas tak habis pikir dengan trauma Valeria padahal ia tadi sudah berharap membawa bunga mawar sebagai lambang cintanya untuk Valeria.
"Kenapa Valeria bisa trauma dengan bunga mawar dan sejak kapan" ucap Thomas dengan cepat.
"Well, none of your business" (jadi, itu bukan urusanmu) ucap Ares dengan santai.
Tatapan mata Thomas berkilat seakan ingin merobek mulut Ares yang berbicara seperti itu kepadanya. Ia berusaha mengontrol emosinya untuk membalas Ares karena tubuhnya masih terasa sangat sakit.
Awas kamu berengsek aku akan membalasmu suatu saat, batin Thomas.
1 Minggu kemudian
Seminggu telah berlalu sejak kejadian Thomas mengetahui trauma Valeria, sejak saat itu Valeria selalu engan bertemu dengan Thomas dan tak memperdulikannya.
Ia yang tahu Chloe sudah sadar dari koma akhirnya mengirim hadiah mobil sport keluaran terbaru untuk Xander anak Chloe. Thomas yang terus berusaha mendekatinya membuat Valeria hanya bisa mengumpat.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Honey" panggil Thomas yang memaksa Valeria ke apartemennya.
"Heeemmm"
"Kamu ikut ya ke Indonesia besok" ajak Thomas.
"Aku sibuk"
"Ayolah honey"
"Aku pergi"
Valeria berdiri dan berlalu pergi tapi belum sampai di pintu tangannya langsung ditarik Thomas dengan kuat.
Tatapan mata keduanya saling menatap meski Valeria menatapnya dengan tatapan dingin dan datar tapi Thomas tak perduli dan menatapnya dengan penuh cinta.
Cup............
Thomas mencium bibir Valeria dengan lembut tapi beberapa detik kemudian tubuhnya di dorong kuat oleh Valeria. Valeria mengelap bibirnya dengan kasar merasa jijik dengan ciuman Thomas.
"Jangan membuatku emosi Valeria" desis Thomas tak suka dengan apa yang ia lakukan barusan.
"Jangan pernah menyentuhku dengan bibir kotormu itu bangsat!" bentak Valeria.
"Segitu jijiknya kamu dengan ciumanku"
"Ya aku sangat jijik hingga mau muntah" ucap Valeria dengan wajah datar.
"Kamu menyakitiku honey" ucap Thomas dengan tatapan kecewa.
Deg..........
Entah kenapa jantung Valeria seperti diremas tapi ia tak mau memperdulikannya. Dengan langkah tegap ia keluar dari apartemen Thomas sambil membanting pintu dengan kuat.
Prang........prang.......prang........
Thomas membanting semua barang yang berada di dalam apartemennya, ia melampiaskan emosinya dengan menghancurkan barang.
~ Dubai, Uni Emirate Arab ~
Jet pribadi khusus untuk Valeria baru saja landing di Dubai, lebih tepatnya di bandara pribadi Valeria di samping kastilnya. Ya Valeria membangun bandara pribadi miliknya tepat di samping huniannya.
Lebih tepat kastil miliknya karena ukurannya seperti kastil kerajaan. Meski udara disana sangat panas tapi di sekitar kastil milik Valeria sangat sejuk karena ia membangun hutan kecil dan air terjun buatan disana.
"Selamat datang nyonya" ucap para pelayan menunduk saat ia datang.
"Bawa anak-anakku kesini" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Baik nyonya" ucap pak Alif kepala pelayan di kastil Valeria.
Roooarrrr......roaarrr........
Auman dua kumbang macan tutul Valeria bergema di dalam kastil. Badan keduanya yang tingginya hampir 1 meter membuat semua pelayan dan penjaga bergidik ngeri.
Apa lagi mata kuning mereka yang sangat tajam dan warna kulit mereka yang hitam membuat kedua hewan itu semakin terlihat menyeramkan. Bukannya takut tapi Valeria malah memeluk kedua hewan peliharaannya itu.
Ketiganya bermain-main di ruang santai dekat air terjun buatan, Valeria tak memperdulikan tatapan ngeri semua orang. Ares yang melihat hp sang nyonya bergetar langsung melihat siapa yang menelponnya.
"Nyonya ada panggilan dari Bryan"
"Loe jawab aja gue lagi malas"
"Baik nyonya"
Ares menjawab panggilan Bryan dan tak lama ia memberitahu Valeria jika Bryan tertembak musuh saat ia akan meninjau yayasan yang Ratu Camelia didirikan.
βββββ
To be continue....................