
π»Tidak perlu menjadi sempurna kita cuma butuh tempat dimana kekurangan kita di butuhkanπ»
.
.
.
.
Rendi yang melihat ketegangan antara om Budi dan Bagas hanya bisa diam. Entah kenapa ia merasa sangat takut dengan aura permusuhan yang menguar dari tubuh Bagas.
Aura Bagas ternyata sangat mengerikan, batin Rendi yang merasakan tengkuknya terasa sangat dingin.
Karena tak ada yang berbicara Rendi memutuskan untuk menyapa Budi biar suasananya tidak hening seperti di kuburan.
"Uhmm...........malam om" ucap Rendi mengagetkan Budi dari pikirannya.
"Malam. Apa kamu sudah dari tadi disini?" tanya Budi dengan wibawa.
"Iya om. Rendi ada perlu sama Bagas makanya kesini" ucap Rendi sambil terkekeh.
"Heemmmm" deham Budi.
Bagas tak mengatakan apa-apa dan berlalu begitu saja tidak menyapa ayahnya seperti biasa.
Rendi yang melihat kelakuan sahabatnya hanya bisa diam, ia pun pamit ke Budi mengikuti Bagas yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
Budi melihat kepergian putranya dengan perasaan hancur dan sedih. Meski ia biasa berbicara dengan tegas tapi ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat tatapan kecewa putranya kepadanya.
"Maafkan ayah nak" gumam Budi dengan suara pelan.
Sampai di kamar Bagas, Rendi lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang king size milik Bagas. Melihat sahabatnya yang tiduran di kasurnya Bagas memilih duduk di sofa menenangkan pikirannya yang kacau saat ini.
"Hubungan loe sama ortu loe kayak gini sekarang" ucap Rendi sambil melihat ukiran di langit kamar Bagas.
"Seperti yang loe lihat tadi" ucap Bagas dengan wajah datar.
"Apa loe ngak kasian sama ayah dan ibu loe?" tanya Rendi.
"Gue benci dan kecewa sama keduanya"
"Tapi biar bagaimanapun mereka ortu loe bro"
"Heeemmm! Gue tahu itu"
"Nasib kita berdua kayaknya sama deh.....hehehehe" ucap Rendi sambil terkekeh.
Bagas hanya diam melihat sepintas sahabatnya yang sedang terkekeh. Meskipun begitu Bagas tahu bagaimana perasaan Rendi saat ini karena memang sedari dulu hubungan Rendi dan kedua orang tuanya tidak baik.
Rendi sangat membenci kedua orang tuanya karena mereka berdua sama-sama berselingkuh di belakang pasangan mereka. Bahkan keduanya tak ragu lagi membawa pasangan selingkuhan mereka ke mansion Wijaya.
Semenjak itu Rendi sangat membenci kedua orang tuanya dan menjadi anak yang pembangkang. Hanya dengan Bagas saja Rendi bisa mengutarakan isi hatinya selama ini.
"Apa ortu loe masih sama kayak dulu?" tanya Bagas.
"Sekarang mereka lebih parah lagi. Mana bokap gue punya 2 selingkuhan dan nyokap gue selingkuhannya seumuran sama gue" ucap Rendi sambil tertawa sinis.
Tes.........
Tak terasa air mata Rendi jatuh mengingat keadaan keluarganya dimana kedua orang tuanya sama-sama egois. Melihat sahabatnya yang menangis Bagas lalu menghampirinya dan tidur di sebelahnya.
"Kenapa loe ngak coba bicara empat mata sama mereka"
"Gue ngak bisa"
"Setidaknya loe keluarin isi hati loe selama ini di depan mereka"
"Heemmm! Nanti gue coba"
Keduanya lalu diam dengan pemikiran masing-masing. Bagas yang memikirkan Valeria dan keluarganya sedangkan Rendi memikirkan usul Bagas untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
1 Bulan kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan tampa terasa sudah 1 bulan berlalu. Bagas yang mencari pria di foto waktu itu juga belum menemukannya.
Dion yang membantu Bagas mencari bukti tentang Valeria juga belum menemukan titik temu. Setiap kali mereka mencari bukti tentang masalah Valeria selalu saja hanya jalan buntu.
Tanpa mereka tahu itu semua campur tangan tante Sisil dan om Arya yang selalu menggagalkan usaha mereka mencari bukti tentang kejadian waktu itu.
~ SMA Negeri 50 Jakarta Barat ~
Saat ini Valeria sedang membaca buku di perpus karena guru Bahasa Indonesia tidak masuk. Bryan yang selalu mengikuti Valeria juga berada di sana tak berselang lama keduanya mendengar suara gaduh dari belakang rak buku.
"Val loe dengar ngak?" tanya Bryan.
"Hemmmm"
"Gue lihat bentar ya"
"Terserah"
Bryan yang penasaran segera beranjak ke rak paling belakang untuk melihat apa yang terjadi disana.
Mungkin karena suasana perpus yang sepi jadi hanya ada Bryan dan Valeria disana sedangkan petugas perpus juga tampak ketiduran di meja depan.
Saat sampai di rak paling belakang Bryan kaget melihat teman sekelasnya yaitu Riki yang sedang di bully oleh geng Justin. Justin bersama gengnya sedang *mem*bully Riki karena Riki tak mau mengikuti perintah mereka.
"Apa yang kalian lakukan" ucap Bryan mengagetkan mereka semua.
"Urus urusan loe sendiri jangan ikut campur" ucap Martin.
"Lepasin dia" ucap Bryan dengan suara dingin.
Justin yang hendak memukul Riki seketika menghentikan gerakannya mendengar ucapan Bryan. Ia tersenyum smirk karena Bryan sudah menganggu kesenangannya.
"Kalau loe mau kita berhenti loe bisa gantiin posisi dia" ucap Justin sambil tersenyum penuh arti.
"Jangan Bryan" ucap Riki sambil menggelengkan kepalanya.
Bryan yang melihat gelengan kepala Riki merasa sangat kasihan karena wajahnya sudah babak belur. Belum lagi bajunya sobek karena tarikan Justin dan sahabatnya.
"Woy bro mending loe jangan sok jadi pahlawan kesiangan deh" ucap Rio.
"Jangan ganggu teman gue" bentak Riki.
"Wah wah! Lihat nih si miskin udah ngelunjak ya!" ucap Justin sambil terkekeh.
Semua teman-teman Justin tertawa melihat Riki yang dihina oleh Justin. Melihat hal tersebut Bryan mengepal kedua tangannya merasa tak terima kalau temannya di permalukan seperti itu.
"Riki bangun loe sekarang" ucap Bryan dengan suara dingin.
"Heh! Loe mending pergi deh jangan ganggu kita disini. Ini itu bukan urusan loe berengsek!" bentak Martin.
"Dia teman gue jadi itu udah urusan gue bangsat" bentak Bryan dengan suara tinggi.
Beruntung mereka sangat jauh dari posisi petugas perpus jadi tidak ada yang mendengar. Valeria yang sangat peka terhadap suara menghentikan gerakan tangannya saat mendengar suara Bryan.
"Apa lagi yang anak itu lakuin" gumam Valeria dengan kesal karena terganggu.
Martin yang mendengar ucapan Bryan barusan tak terima karena di bentak. Dengan cepat ia dan Rio maju dan berniat memukul Bryan tapi Bryan bisa mengelak dan berbalik memukul keduanya.
Bugh.......bugh..........bugh..........bugh.........
4 pukulan telak di tubuh Martin dan Rio seketika membuat keduanya jatuh. Justin yang melihat kedua sahabatnya di pukul oleh Bryan tak terima dan langsung menyerang Bryan dari arah belakang.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tak sampai disitu ia dengan cepat memukul Bryan tak memberi kesempatan kepada Bryan untuk membalasnya. Rio dan Martin lalu bangun dan membantu Justin mengeroyok Bryan dengan brutal.
"Bangsat loe an***g berani mukul gue.....hah!" bentak Martin.
"Terima ini b***sat! Rasain loe sialan berengsek!" ucap Rio dengan kesal.
Uhuukk.........uhuukk......uuhhuukk......
Bryan seketika batuk mengeluarkan darah karena tendangan Justin di dadanya sangat kuat. Riki yang melihat Bryan di dikeroyok langsung berhamburan dan memeluk tubuh Bryan agar tidak di pukul lagi.
"Wah ada penyelamat nih" ucap Justin dengan sinis.
"Beri keduanya pelajaran bro biar kedepannya jangan ngelunjak" ucap Martin.
"Ide bagus thu" ucap Justin sambil terkekeh.
Ketiganya lalu memukul Bryan dan Riki dengan brutal tanpa perasaan sampai puas. Melihat keduanya sudah tak berdaya Justin dan gengnya segera pergi dari sana tanpa mereka sadari ternyata Valeria melihat sedari tadi.
"L....oe n..gak apa-apa kan B..ryan" ucap Riki dengan terbata-bata.
"Hemmm"
Riki yang merasa sekujur tubuhnya sakit perlahan-lahan menyingkir dari tubuh Bryan. Melihat hal tersebut ada rasa hangat di hatinya saat Riki memilih menjadikan tubuhnya menjadi tameng.
"Thank's"
"Gue yang seharusnya berterima kasih karena loe udah nolong gue"
"Heeemmm"
Bryan lalu berusaha bangun meski tubuhnya sangat sakit terlebih di bagian dada. Riki yang melihat hal itu segera membantu Bryan meski tubuhnya juga terasa sangat sakit.
"Val" ucap Bryan saat melihat Valeria berdiri di depan mereka sambil bersedekap tangan di dada.
"You forget about rule number one" (kamu lupa tentang peraturan nomor satu) ucap Valeria dengan tatapan datar.
Bryan hanya diam saja karena apa yang di bilang Valeria memang benar tadi ia sempat tak fokus sehingga Justin dengan mudah memukulnya dari belakang. Riki yang mendengar ucapan keduanya mengerutkan keningnya dengan bingung.
Peraturan apa maksud mereka, batin Riki dengan penasaran.
Valeria lalu pergi tak menolong keduanya yang berjalan dengan kesusahan.
Melihat hal itu Riki semakin bingung karena setahunya Valeria dan Bryan adalah saudara tapi kenapa Valeria tidak membantu Bryan yang sedang terluka.
"Valeria loe ngak bantu saudara loe" ucap Riki tak tahan dengan sikap Valeria.
Bryan menatap Riki dengan tatapan tajam seakan memberitahunya untuk tak ikut campur. Valeria yang mendengar ucapan Riki seketika berhenti dan menoleh ke belakang.
"Berani berbuat berarti sudah siap dengan resikonya" ucap Valeria dengan suara dingin dan tatapan tajam.
Melihat tatapan mata Valeria yang seakan berkata untuk tak bertanya lagi membuat Riki tidak bertanya lagi meski ia sangat penasaran.
Riki dan Bryan memilih bolos pelajaran karena tidak mungkin mereka kembali ke kelas dengan penampilan seperti ini.
Waktu terus berlalu dengan cepat dan tak berapa lama akhirnya bel pulang berbunyi. Valeria yang melihat tas Bryan dan Riki masih ada memutuskan untuk menunggu keduanya.
Setelah sekolah agak sepi keduanya lalu masuk ke kelas dan kaget melihat Valeria yang masih berada di kelas. Tak berkata apa-apa lagi Bryan dan Riki segera mengambil tasnya dan pulang bersama-sama dengan Valeria.
"Rumah loe dimana?" tanya Valeria.
"Rumah gue di jln.xxxx no.12" ucap Riki.
"Kita antar loe pulang" ucap Valeria.
"Ngak usah Val gue bisa pulang sendiri kok" tolak Riki dengan cepat.
"Benar kata Valeria lagian loe ngak bisa pulang sendiri dalam keadaan kayak gini" ucap Bryan.
"Tapi" ucap Riki yang langsung di potong Valeria.
"Ngak usah banyak bacot deh ikut aja kenapa sih!" bentak Valeria.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Riki tak berkata apa-apa lagi dan mengikuti perkataan Valeria baru kali ini ia mendengar bentakan Valeria dan hal itu sukses membuatnya gemetaran. Bryan lalu memanggil taksi untuk mereka bertiga.
~ Rumah Riki ~
Selang 20 menit akhirnya Valeria, Bryan, dan Riki tiba di rumah Riki. Saat keluar dari taksi ketiganya langsung di sambut dengan suara ribut-ribut yang dari dalam rumah Riki.
"Ibu" ucap Riki dengan panik.
Riki segera berlari masuk ke dalam rumah tak perduli dengan tubuhnya yang terasa sakit. Valeria dan Bryan memilih untuk ikut masuk juga melihat apa yang sedang terjadi.
Sampai di dalam rumah Valeria melihat seorang ibu paruh baya dan seorang gadis kecil sekitar umur 10 tahun sedang menangis karena di bentak-bentak oleh ibu paruh baya.
"Kalau ngak punya uang itu jangan ngontrak dong tinggal aja di kolong jembatan!" bentak ibu paruh baya itu.
"Hiks hiks.........bu Mega saya mohon kasi saya tambahan waktu lagi. Saya janji saya bakal bayar uang sewa kontrakan" ucap ibu Salma ibu dari Riki.
"Enak aja minta tambahan waktu!! Kamu itu udah nunggak 3 bulan mau minta tambahan waktu lagi dasar miskin!!!" maki ibu Mega dengan sinis.
"Ibu Mega cukup jangan hina ibu saya lagi" ucap Riki dengan emosi.
"Saya ngomong kan sesuai kenyataan. Kalian itu memang miskin makanya ngak bayar uang sewa kontrakan saya" ucap ibu Mega dengan sinis.
"Bu Mega saya mohon. Saya bakal bayar uang sewa kontrakan secepatnya" pinta ibu Salma.
"Pokoknya saya ngak mau tahu. Hari ini juga kalian angkat kaki dari kontrakan saya!" bentak ibu Mega.
"Bu mega saya mohon jangan usir kami bu.........hiks hiks hiks" ucap bu Salma sambil memeluk kaki bu Mega.
"Ibu.........hiks hiks hiks" ucap Riki sambil mengepal tangannya melihat sang ibu seperti itu.
"Val please bantu Riki dan ibunya" pinta Bryan dengan suara pelan.
Valeria melirik Bryan sekilas dan tak mengucapkan satu kata pun. Melihat hal itu Bryan tak berbicara lagi karena tahu jawaban Valeria yaitu tak ingin ikut campur urusan orang lain.
"Saya kasi kalian waktu sampai malam untuk pergi dari kontrakan saya" bentak ibu Mega.
Riki, ibu Salma, dan adiknya hanya bisa menangis tak bisa berbuat apa-apa lagi. Bu Mega segera pergi dari sana karena urusannya sudah selesai, Riki yang ingat akan kehadiran Bryan dan Valeria mendadak merasa malu.
"Maaf loe berdua harus ngeliat ini semua" ucap Riki dengan malu.
"Ibu loe kerja apa?" tanya Valeria.
"Ibu gue cuma tulang cuci keliling" ucap Riki.
"Siapin barang kalian semua dan ikut gue"
"Hah! Maksud loe?" tanya Riki dengan bingung.
"Loe beresin semua barang-barang loe dan keluarga loe terus ikut sama gue dan Valeria" ucap Bryan.
"Kemana?" tanya Riki.
"Nanti juga loe tahu. Mending buruan gih siapkan barang-barang loe"
"Oke bentar gue beritahu ibu dan adik gue" ucap Riki.
"Heemmm"
Riki segera beranjak menuju ibu dan sang adik yang masih menangis di ruang tengah. Bryan tersenyum melihat Valeria yang ternyata masih memiliki hati untuk menolong orang yang lagi kesusahan.
βββββ
To be continue.............
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian dengan cara vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€