Love Struggle

Love Struggle
Chapter 70



🌻Cukup berusaha dan lakukan yang terbaik jangan hanya mengeluh terus-menerus🌻


.


.


.


.


Bagas memikirkan satu persatu bukti yang mereka dapat tapi belum bisa menemukan titik temu. Keempatnya diam dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Feeling gue aja apa memang bukti yang kita cari selama ini selalu stuck di tempat" ucap Rendi dengan kening berkerut.


"Maksud loe?" tanya Edo.


"Selama ini anak buah gue selalu nyari bukti tentang masalah Valeria tapi ngak tahu kenapa saat hampir dapat bukti yang lain semuanya bukti ngak ada yang terhubung satu sama lain kayak jalan buntu" papar Rendi menjelaskan.


Memikirkan ucapan Rendi barusan Bagas membenarkan hal itu.


Ia lalu melihat satu persatu orang yang ada di dalam ruangan, tak lama matanya menangkap gelagat aneh dari asisten Rendi meski hanya sepintas saja.


Hehehehe...........sepertinya gue udah tahu siapa pengkhianat disini, batin Bagas sambil tersenyum menyeringai.


Bagas lalu bangun dan berjalan dengan langkah pelan menuju kaca di depannya. Semuanya berpikir jika Bagas mungkin ingin melihat suasana lantai dansa dari kaca di depannya tapi pemikiran mereka salah bahkan tak menduga tindakan Bagas barusan.


Bugh..........bugh..........bugh...... ...


Dengan santai Bagas memukul asisten Rendi dengan kuat tak berperasaan. Rendi dan Edo sampai menganga melihat gerakan Bagas yang tak terduga.


"Bro loe apa-apaan sih" ucap Rendi dengan kaget.


"Tanya asisten loe apa yang udah dia lakuin di belakang loe" ucap Bagas dengan tatapan membunuh.


Mendengar hal tersebut Rendi langsung menatap asistennya dengan tatapan tajam. Ia tahu jika Bagas bukan orang yang akan menuduh seseorang tanpa alasan.


"Apa yang udah loe lakuin di belakang gue?" tanya Rendi dengan suara dingin.


"Maaf tuan tapi saya tidak mengerti apa yang anda katakan" ucap Resa.


"Gue tanya loe sekali lagi apa yang loe sembunyikan dari gue!" bentak Rendi dengan tatapan membunuh.


Glek.............


Resa menelan salivanya dengan susah karena baru kali ini melihat wajah emosi Rendi. Sudah 3 bulan lebih ia bekerja sebagai asisten Rendi dan setahunya Rendi adalah pribadi yang baik dan humble tapi tetap tegas.


"M....a....afkan sa...ya t....uan" ucap Resa dengan gugup.


"Jadi loe udah berani bermain di belakang gue an***g!" ucap Rendi dengan emosi.


Brugh.......


"Ampun tu...an sa...ya terpak...sa tuan" ucap Resa sambil berlutut.


"Siapa yang udah bayar loe berengsek" maki Rendi.


"Maafkan saya tuan"


"Gue tanya siapa yang bayar loe buat nusuk gue dari belakang bangsat" teriak Rendi dengan wajah merah padam.


Dion yang melihat Resa gemetaran karena takut segera melerai keduanya. Ia tahu tidak akan bisa dapat jawabannya jika Rendi terus mengeluarkan emosinya.


"Tuan muda Rendi saya mohon tenangkan diri anda" ucap Dion.


"Berengsek!" teriak Rendi dengan kesal.


"Ngak ada guna loe teriak kayak gitu karena ngak akan selesai juga masalahnya" ucap Edo sambil menyesap tequila.


"Diam loe sialan!" bentak Rendi.


Edo hanya melihatnya tanpa tak menjawab Rendi karena ia tahu itu hanya percuma saja meladeni orang yang sedang emosi.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Siapa yang nyuruh loe" ucap Bagas sambil menjambak rambut Resa dengan kuat


Argghhhh.........


Teriak Resa merasakan sakit yang amat luar biasa di kepalanya. Semua yang ada disana hanya diam melihat apa yang Bagas lakukan.


Resa menahan rasa sakit di kepalanya sambil memikirkan cara untuk melarikan diri.


Tak mendapat jawaban Bagas lalu memukul dan menendang Resa dengan brutal. Saat memukul Resa tak lama seorang pelayan masuk sambil membawa nampan berisi minuman keras.


Melihat ada peluang untuk kabur dengan cepat Resa mendorong Bagas dengan kuat dan berhasil lolos dari sana. Edo dan Rendi yang melihat Resa kabur segera mengejarnya.


"Berengsek awas loe an***g!" teriak Bagas dengan emosi.


"Tuan anda baik-baik saja" ucap Ahmad.


"Kejar sialan itu berengsek!" bentak Bagas.


Ahmad segera pergi dari sana tak lupa menyuruh anak buah Bagas untuk mengejar Resa. Rendi dan Edo terus mengejar Resa yang berlari dengan cepat ia tak perduli sudah menabrak manusia yang sedang bergoyang di lantai dansa.


Pikirannya saat ini yaitu kabur dari kejaran Rendi dan Edo anak buah madam Rosa yang tahu siapa Resa segera mengabarkan hal tersebut kepada madam Rosa.


"Berhenti loe bangsat!" teriak Rendi.


Resa terus melihat Rendi dan Edo yang masih mengejar dari belakang tak lama mobil sedan berhenti di depan Resa.


Melihat pintunya terbuka dengan cepat Resa segera masuk ke dalam dan berlalu pergi dari sana.


Argggghhhhn.......


"Awas loe bangsat gue bakal nyari loe ampe ke ujung dunia sialan!' teriak Rendi dengan emosi.


"Hos hos hos........dimana sialan itu" ucap Edo dengan napas ngos-ngosan.


"Dia lolos! Sial!"


"Berengsek!" umpat Edo dengan kesal.


Tak lama Bagas dan Dion datang mendekat ke arah Rendi. Melihat wajah Rendi yang emosi ia sudah tahu jika Resa berhasil lolos mereka lalu memutuskan untuk ke apartemen Bagas untuk berbicara di sana.


Setelah kepergian Bagas dan lainnya tak lama madam Rosa keluar dari dalam club sambil melihat mereka dengan senyum sinis. Ia lalu mengambil hpnya dan mengirim pesan kepada Arya.


Arya Ginanjar


"Salah satu kucingmu sudah ketahuan dan anak buahku sudah menolongnya lepas dari mereka"


Tak berselang lama bunyi notifikasi m-bankin masuk, sudut bibir madam Rosa melengkung dengan sempurna melihat nominal dengan jumlah besar masuk ke akunnya dari pengirim atas mama Arya Ginanjar.


"Aku suka berbisnis dengan orang seperti ini" ucap madam Rosa dengan senang.


~ Mansion Valeria ~


Suasana di dalam ruang tengah mansion Valeria seperti baru habis di terpa badai. Semua pelayan disana bergidik ngeri melihat kekejaman Valeria bahkan Rani dan bu Salma yang baru pertama kali melihat sosok Valeria berdiri dengan tubuh gemetaran.


Pak Dev yang masih berdiri di dekat lift melihat semua anak buah Valeria dengan kasihan.


Bagaimana tidak karena baru saja menyelesaikan pelatihan mereka tapi langsung di sambut dengan pelatihan langsung dari Valeria.


Ini semua karena aku, batin pak Dev merasa bersalah.


"Pak Dev suruh Juan kesini sekarang" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Baik nyonya"


Semua anak buah Valeria kaget dan menatap Valeria dengan mata melotot saat mendengar kata dokter gadungan. Pikiran mereka sudah berkelana memikirkan dokter gadungan yang akan memeriksa mereka.


Melihat reaksi anak buahnya Valeria tersenyum sinis dan segera berlalu pergi, setelah itu pak Dev menyuruh pelayan untuk mengantar anak buah Valeria ke paviliun belakang sesuai perintah Valeria.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Dimana Valeria?" tanya Bryan setelah dengan susah payah bangun.


"Nyonya ada di ruang santai tuan" ucap pak Dev.


"Bantu aku ke sana pak Dev"


"Baik tuan"


Pak Dev lalu memapah Bryan menuju ruang santai di teras samping. Sampai disana Bryan berdecak kagum melihat ruang santai yang sudah berubah sejak terakhir kali ia lihat.


Ada sofa yang membentuk huruf L langsung melihat ke arah taman belakang dan di sampingnya ada air terjun buatan yang sangat indah.


"Suruh dokter Nani periksa Bryan lebih dulu" ucap Valeria tanpa mengedarkan pandangannya dari iPad.


"Dia bukan dokter gadungankan Val?" tanya Bryan yang ingat perkataan Valeria tadi.


Hehehehehe..........


Valeria terkekeh tanpa berniat menjawab pertanyaan Bryan melihat hal tersebut Bryan sudah panik karena tak mau di periksa oleh dokter gadungan.


"Tenang saja tuan muda. Dokter Nani bukan dokter gadungan seperti yang nyonya katakan" ucap pak Dev yang tahu pikiran Bryan.


"Dari mana pak Dev tahu"


"Dokter Nani adalah teman saya saat SMA tuan muda dan ia juga mempunyai izin sebagai dokter dari IDI"


Nb: Ikatan Dokter Indonesia (IDI)


"Ah! Syukurlah" ucap Bryan dengan lega.


"Ck! segitu takut loe" ucap Valeria dengan ketus.


"Gue lebih pilih mati di bunuh dari pada mati karena jadi bahan percobaan dokter gadungan" ucap Bryan.


"Berarti loe siap buat mati hari ini" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.


"Bukan hari ini Val tapi nanti" ucap Bryan dengan gugup.


Valeria tersenyum sinis melihat wajah takut Bryan jika ia mati hari ini. Tak berselang lama dokter Nani sudah tiba dan segera mengobati Bryan dan lainnya selesai di periksa mereka semua segera beristirahat tapi tidak dengan Valeria.


Saat ini ia sedang membagi anggotanya menjadi 4 kelompok setelah tadi menguji kemampuan mereka ia dengan cepat membagi mereka ke dalam 4 kelompok sesuai kemampuan mereka.


Valeria juga sudah menyiapkan rencana untuk anak buahnya untuk masa depan mereka semua. Tak lupa ia juga sudah menyiapkan rencana untuk pembalasan masa lalunya suatu saat nanti.


~ SMA N 50 Jakarta Barat ~


Tak terasa hari ini adalah hari senin dimana Bryan dan Riki sudah mulai bersekolah kembali. Keduanya sedang menunggu Valeria yang masih menelpon di depan gerbang sekolah.


Entah siapa yang di telpon Valeria keduanya tak tahu, tadi setelah di antar Agung di persimpangan jalan ketiganya segera berjalan ke arah sekolah.


Tak berselang lama Valeria sudah selesai menelpon dan segera masuk ke sekolah. Baru saja ketiganya masuk ke gerbang sekolah semua siswi berteriak histeris melihat Bryan dan Riki yang baru kelihatan.


Ketampanan keduanya seakan menyihir para kaum hawa sedari tadi apa lagi badan keduanya yang berubah total dari sebelumnya.


Tiba di dalam kelas Siska yang sedari dulu menyukai Bryan menganga melihat ketampanan Bryan yang semakin hari bertambah. Tiara juga tak kalah terpesona dengan ketampanan Bryan dan Riki.


"Hay Bryan gimana kabar loe selama ini? Apa loe udah sembuh?" tanya Siska dengan centil.


Bryan tak menjawab pertanyaan Siska dan hanya menatapnya dengan tatapan datar melihat hal tersebut Siska menjadi sangat malu karena lagi-lagi ia diabaikan oleh Bryan.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Anak panti asuhan belagunya selangit" ucap Tiara dengan kesal.


"Yups! Benar banget. Lagian dia cuman menang tampang doang tapi aslinya anak buangan" cibir Lani.


"Heh anak miskin jangan belagu deh loe di sini" ucap Tino yang kesal dengan sikap Bryan.


"Loe semua mending diam deh ngak usah jelekin Bryan" bentak Riki tak terima temannya di bully.


"Woy bangsat loe ngak usah ikut campur deh" bentak Tino.


"Kalau gue ngak mau kenapa? Bryan itu teman gue jadi jangan pernah loe hina dia"


"Minta di hajar nih bocah ingusan" ucap Anton.


"Diam!" bentak Bryan dengan suara tinggi.


Seketika suasana kelas menjadi hening tak ada satu pun yang berbicara. Mereka semua diam melihat tampang Bryan yang sangat mengerikan saat ini Bryan lalu maju menghampiri Tiara dengan tatapan tajam.


"Mau gue anak panti asuhan atau apa bukan urusan loe" ucap Bryan dengan suara dingin.


"Kenyataannya loe memang anak panti asuhan yang ortunya ngak jelas" ucap Tino.


"Kalau asal-usul loe ngak jelas jangan belagu deh" cibir Lani.


"Kenapa loe semua tertarik sama asal-usul gue?" tanya Bryan dengan sinis.


"Ibu loe pasti pe****r makanya loe di buang" ucap Tiara dengan sinis.


Plak...........


Bunyi tamparan bergema di salam sana Bryan yang mendengar nama sang ibu di sebut pe***ur sudah tak bisa menahan emosinya. Tiara sendiri kaget bukan main mendapat tamparan dari Bryan.


"Beraninya loe nampar gue sialan? loe pikir loe itu siapa hah!" bentak Tiara.


"Sekali lagi loe ngatain ibu gue pe***ur gue bakal robek mulut sialan loe itu" ucap Bryan dengan suara dingin.


"Bro tenangkan diri loe ini sekolah" ucap Riki sambil membawa Bryan kembali ke tempatnya.


Tiara menatap Bryan dengan tatapan emosi karena baru kali ini ada yang berani menamparnya. Bahkan orang tuanya saja tak pernah menamparnya atau memukulnya.


Tak berselang lama bel masuk berbunyi semuanya duduk di tempat duduk mereka masing-masing siap menerima pelajaran. Tiara yang sangat membenci Bryan mengirim pesan kepada orang tuanya.


Saat bel istirahat berbunyi Bryan dan Riki yang akan ke kantin tiba-tiba di panggil oleh guru untuk menghadap kepala sekolah. Dengan cepat Bryan dan Riki berjalan menuju ruang kepala sekolah.


Sampai di sana ternyata sudah ada Tiara bersama kedua orang tuanya dan kepala sekolah. Bryan yang tadi di temani oleh Riki terpaksa masuk ke ruang kepala sekolah sendiri.


"Papa ini dia orang yang udah nampar Tiara tadi" adu Tiara ke papanya.


"Jadi kamu yang sudah berani menampar putri saya" bentak Alif Sanjaya.


"Iya" ucap Bryan dengan santai.


"Beraninya kamu nampar putri saya! Siapa orang tuamu panggil kesini sekarang" bentak Lili Sanjaya ibu Tiara.


"Pa Alif dan ibu Lili saya mohon tenang" ucap pak Ahmad kepala sekolah.


"Saya mau anak ini di keluarkan dari sekolah ini karena sudah melakukan kekerasan di sekolah" bentak Alif dengan suara tinggi.


"Siapa yang berani mengeluarkan saudaraku!" bentak Valeria di depan pintu kepala sekolah.


❄❄❄❄❄


To be continue.............


Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀