
π»Bukan waktu yang mengejarmu tapi kamu yang harus mengejar waktuπ»
.
.
.
.
Arinta menatap sang suami dengan tatapan tajam karena sudah menampar Valeria. Baru kali ia bisa melihat kemarahan di wajah Budi kepada sang putri sampai menampar Valeria hingga bibirnya sobek.
"Apa maksud kamu mas?" tanya Arinta.
"Lihat apa yang sudah di lakukan oleh anak ini. Bahkan ia masih saja berbohong setelah aku bertanya" ucap Budi sambil memberikan laporan pemakaian kartu kredit mereka.
Arinta yang paham mengenai laporan itu segera membacanya, bahkan ia juga bingung melihat pengeluaran sang anak dalam satu bulan.
"Valeria apa yang sudah kamu beli selama sebulan ini?" tanya Arinta dengan tatapan tajam.
"Valeria hanya beli beberapa buku dan novel saja bu" ucap Valeria.
"Ckk! Kamu lihat sendiri kan dia tidak mau mengaku" ucap Budi dengan emosi.
"Ibu tanya sekali lagi apa yang kamu beli selama sebulan ini Valeria" ucap Arinta penuh penekanan.
"Mau berapa kali pun Valeria ngomong jawabannya tetap sama bu" ucap Valeria tetap kekuh pada jawabannya.
"Lihat itu bahkan ia sudah kedapatan masih saja mengelak" bentak Budi dengan suara tinggi.
"Valeria jelasin ke ibu kalau kamu hanya membeli beberapa buku dan novel lalu kenapa pengeluaran kamu sampai 200 juta" bentak Arinta dengan emosi.
Hahh............
Valeria kaget mendengar ucapan sang ibu yang mengatakan ia memakai uang sampai 200 juta dalam sebulan.
Gue ngak pernah beli apapun selain buku sama novel aja dan kenapa pengeluaran gue sampai segitu banyaknya, batin Valeria dengan bingung.
Belum selesai dengan pemikirannya tiba-tiba ia kembali di kejutkan dengan tamparan dari Arinta di pipi sebelahnya.
Valeria menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca tak menyangka akan mendapat tamparan juga dari Arinta.
"Sudah mulai bohong kamu sekarang hah" bentak Arinta dengan suara tinggi.
"Aku ngak bohong bu, Valeria udah jujur" ucap Valeria menahan sakit di kedua pipinya.
Plak.........plak.........plak.............
Kembali lagi Valeria di tampar tapi kali ini bukan dari Arinta melainkan Budi. Ia yang sudah sangat emosi tidak bisa mentolerir lagi jawaban dari Valeria yang kekuh pada ucapannya.
Padahal apa yang di bilang oleh Valeria adalah fakta karena ia tidak pernah membeli apapun. Bianca yang mendengar semua ucapan mereka segera bergegas menuju kamarnya.
"Sial! Gue harus pindahin barang yang gue beli ke kamar Valeria saat ini juga" ucap Bianca dengan panik.
Ia segera memasukkan tas dan sepatu branded yang ia beli minggu lalu ke dalam plastik. Saat keluar Bianca berjalan dengan santai agar tidak membuat para pelayan curiga.
Sesampainya di kamar Valeria, ia segera menaruh barang-barang tersebut di walk in closet Valeria. Baru saja ia akan keluar Bianca mendengar suara langkah kaki menuju ke arahnya.
Karena takut ketahuan Bianca segera bersembunyi di balkon dan pergi ke balkon kamar milik Bagas. Ia menghela napas dengan lega saat sudah berada di kamar Bagas.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Brak.....
Pintu kamar Valeria di buka dengan kasar sampai bunyinya terdengar di kamar Bagas. Budi yang saat ini menarik Valeria ke kamarnya langsung menghempaskan tubuh Valeria ke lantai.
"Dion geledah semua barang Valeria dan cari barang yang dia beli sesuai laporan pengeluaran" bentak Budi dengan suara tinggi.
"Baik tuan" ucap Dion.
Arinta sendiri hanya diam menatap suami dan anaknya, ia tidak perduli dengan Valeria yang terus menangis di lantai. Baginya ia paling membenci orang yang sudah berbohong.
"Hiks hiks hiks........ayah, ibu Valeria ngak pernah beli barang apapun selain kedua barang yang Valeria katakan..........hiks hiks" ucap Valeria dengan air mata terus mengalir.
"Kita lihat saja sampai mana kamu masih terus berbohong" ucap Budi dengan suara dingin.
Tak lama Dion muncul sambil membawa dua barang di tangannya. Bahkan barang itu masih ada label harganya, Dion lalu menyerahkan tas dan sepatu itu kepada Budi.
"Ini apa Valeria" bentak Budi sambil melemparkan tas dan sepatu yang tadi di berikan oleh Dion.
"Ini" ucap Valeria dengan bingung.
"Dasar anak kurang ajar. Ibu ngak pernah ajarin kamu buat berbohong Valeria!" bentak Arinta sambil menjambak rambut Valeria.
"Aww........sakit bu sakit.........hiks hiks" ucap Valeria berteriak sakit sambil menangis.
"Berani kamu berbohong sama ibu dan ayah" ucap Arinta dengan emosi.
Karena terlalu emosi Arinta mengambil tas yang tadi di lempar Budi dan memukul Valeria dengan tas itu. Valeria terus menangis meminta ampun tapi tidak diperdulikan oleh Arinta.
Bahkan Budi hanya berdiri dan melihat saja tidak ada rasa kasihan sedikit pun. Dion yang melihat nona mudanya di pukul meneteskan air mata melihat semuanya itu.
Nona muda bertahan ya nona itu kuat pasti bisa melewati semuanya, batin Dion dengan sedih.
"Hiks hiks........ampun bu.........hiks hiks......ampun bu........hiks" ucap Valeria dengan memohon.
"Sekali lagi kamu berbohong ibu ngak segan-segan mukul kamu lebih dari ini" ancam Arinta dengan suara tegas.
"Ampun bu........hiks hiks.......ampun" lirih Valeria dengan suara lemah.
Arinta lalu berlalu keluar meninggalkan Valeria yang meringkuk di lantai. Budi pun segera menyusul sang istri keluar sedangkan Dion ia menghampiri Valeria dan membantunya berdiri dan menuntunnya ke ranjang.
"Hiks hiks........kenapa ibu dan ayah kayak gitu om. Mereka ngak percaya lagi sama Valeria........hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis.
"Non jangan sedih lagi ya" ucap Dion dengan kasihan.
"Hiks.......makasih udah bantuin Valeria om........hiks hiks"
"Iya sama-sama non. Om panggil bi Susi buat obati luka non ya" ucap Dion.
"Iya om"
Dion segera keluar dari kamar Valeria dan menyuruh bi Susi untuk mengobati Valeria.
Meski nona muda sedang merasa sakit tapi ia masih aja sempat berterima kasih, batin Dion dengan decak kagum.
Bianca yang tadi sempat melihat Valeria di pukul tertawa senang dalam hatinya. Ia berhasil sudah membuat kepercayaan Arinta dan Budi kepada Valeria perlahan-lahan berkurang.
"Sepertinya mulai sekarang bakal gampang buat deketin ayah dan tante" gumam Bianca dengan suara pelan.
Bianca sangat terobsesi untuk menyingkirkan Valeria dari mansion ini dan mengantikan posisinya sebagai nona muda. Sejak awal ia sangat iri dengan apa yang dimiliki oleh Valeria bahkan kecantikan alami Valeria juga ia sangat iri.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Saat bi Susi masuk ke dalam kamar Valeria air matanya langsung jatuh. Ia tak kuasa melihat tubuh Valeria yang penuh lebam di kulit putihnya yang seperti susu.
"Non.......hiks hiks" ucap bi Susi sambil menangis.
"Bibi........hiks hiks......ibu dan ayah.......hiks hiks" ucap Valeria menangis mengadu pada bi Susi.
Bi susi lalu memeluk Valeria yang sedang menangis dengan erat. Ia tahu watak dan sifat Valeria karena sejak kecil ia yang mengasuh kedua anak majikannya.
"Sabar ya non. Bibi yakin non ngak seperti itu" ucap bi Susi sambil mengelus kepala Valeria dengan lembut.
"Non ngak boleh bilang kayak gitu! Tuan dan nyonya sangat menyayangi non dan tuan muda jadi ngak boleh berpikir seperti itu ya non"
"Tapi tadi ibu ngak mau dengar penjelasan Valeria bi"
"Nyonya mungkin sedang emosi jadi biarkan nyonya tenang dulu baru non bicara sama nyonya ya"
"Iya bi"
Bi Susi lalu membersihkan luka dan lebam di sekujur tubuh Valeria. Bi Susi sangat kasihan melihat Valeria yang di pukul tanpa ampun oleh Arinta.
Non yang sabar ya. Bibi yakin non kuat kok hadapi ini semua, batin bi Susi.
Setelah mengobati luka di tubuh Valeria bi Susi segera keluar dari kamar Valeria. Saat keluar bi Susi membungkuk waktu bertemu dengan Arinta di lantai bawah.
"Bagaimana luka Valeria?" tanya Arinta.
"Luka nona muda sudah saya obati nyonya"
"Hemmm! Antarkan makanan dan obat ke kamarnya"
"Baik nyonya"
Arinta lalu berbalik kembali masuk ke dalam kamarnya. Melihat hal tersebut bi Susi tersenyum karena tahu pasti sang nyonya sangat kepikiran dengan keadaan anaknya.
Waktu berlalu dengan cepat dan tak terasa hari sudah berganti. Saat ini suasana di meja makan sangat terasa mencekam karena sedari tadi tidak ada satu orang pun yang mengeluarkan suara.
Hanya ada bunyi sendok dan garpu yang terdengar. Selesai sarapan Valeria dan Bianca segera pamit kepada Arinta dan Budi untuk ke sekolah.
Valeria tidak mengatakan apapun selama di meja makan hingga ia berangkat. Begitu pula dengan kedua orang tuanya yang tidak meminta maaf atas apa yang mereka lakukan kemarin.
~ SMP Kencana ~
Sampainya di sekolah Valeria segera menuju ke kelasnya meninggalkan Bianca. Melihat hal tersebut Bianca tersenyum senang karena pelan-pelan hubungan di dalam keluarga Kusumo mulai retak.
"Pagi Valeria" sapa Tika dengan riang.
"Pagi" ucap Valeria dengan suara serak.
"Loe sakit ya?" tanya Tika yang melihat wajah pucat Valeria.
"Hemmm..........ngak enak badan aja gue dari semalam"
"Kenapa loe ngak minta ijin aja buat ngak masuk hari ini"
"Loe lupa ya kalau 2 minggu lagi kita akan ujian kenaikan kelas. Gue ngak mau ketinggalan materi"
"Terserah loe aja tapi kalau udah ngak kuat beritahu gue ya"
"Heemmmm"
Rian yang baru saja datang dan melihat wajah pucat Valeria terkejut. Entah kenapa meski ia sangat membenci Valeria tapi hatinya tidak bisa berbohong kalau masih ada rasa untuk Valeria.
Dia kenapa ampe pucat gitu, batin Rian penuh tanda tanya.
Tak mau ambil pusing Rian segera menuju ke mejanya. Tapi sedari tadi pandangannya hanya tertuju kepada Valeria yang hari ini sangat pucat bahkan ia memakai baju hangat di cuaca sepanas ini.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Beruntung hari ini mereka di pulangkan lebih awal karena ada rapat guru. Valeria segera menghubungi pak Udin untuk segera menjemputnya.
"Val" panggil Bianca.
"Hemmm"
"Gue mau belajar kelompok di rumah Riri jadi loe pulangnya sendiri aja ngak apa-apa kan"
"Hemmm! Nanti loe minta dianterin pak Udin aja biar nanti gue naik taksi" ucap Valeria sambil tersenyum manis.
"Kita antar loe lebih dulu aja Val"
"Tenang aja ngak usah mikirin gue"
"Ya udah deh kalau loe maunya gitu"
"Hemmm"
Valeria lalu berjalan keluar dari sekolahannya menuju jalan depan. Ia berencana ingin mencari taksi di halte depan sana.
Bianca yang melihat hal tersebut tersenyum puas, ia sedari tadi berencana membuat Valeria kesusahan apa lagi dengan keadaannya yang sedang sakit.
"Ca jemputan loe udah datang tuh" ucap Riri sambil menunjuk mobil jemputan Bianca yang baru masuk ke halaman sekolah.
"Ya udah ayok kita pergi" ucap Bianca.
"Let's go" ucap Riri dan Kelly dengan serentak.
Di halte dekat sekolahannya Valeria duduk sambil memikirkan kejadian kemarin. Ia akui hatinya sangat sakit mendapat perlakuan seperti itu dari ayah dan ibunya.
Air matanya jatuh tapi ia buru-buru menghapusnya agar tidak ada yang melihat.
Valeria lalu menghentikan taksi dan menyuruh taksi membawanya ke alamat yang biasa dia datangi bersama Bagas.
Sampai di tempat itu Valeria lalu membayar taksi dan segera menuju bukit di atas sana. Ia memandang pemandangan kota Solo dari atas bukit.
"Kangmas kenapa ibu dan ayah berubah.......hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis.
Ia menumpahkan semua rasa sesak di dadanya dari kemarin. Meski di luar ia kelihatan tegar tapi hatinya sangat rapuh dan hancur saat ini.
"Hiks hiks........kangmas sakit hati Valeria" ucap Valeria dengan lirih.
Hanya Bagas orang yang bisa mengerti dirinya sejak kecil, tapi sekarang Bagas sudah pergi menuntut ilmu di tempat yang sangat jauh. Valeria hanya bisa menangis mengeluarkan semua keluh kesahnya.
Setelah puas mengeluarkan semua rasa sesaknya ia segera pergi dari sana. Valeria berjalan menuruni bukit dan berjalan hingga ke depan jalan umum.
Brugh...........
Tubuh Valeria hampir jatuh saat bertabrakan dengan seseorang. Beruntung orang itu dengan sigap memeluk tubuh Valeria yang hampir saja jatuh.
"Maafkan saya tuan" ucap Valaria saat sadar ia sedang memeluk tubuh seorang pria berbadan tegap dan kekar.
"Don't daydream while walking miss" (jangan bermimpi saat berjalan nona) ucap pria tersebut yang ternyata adalah bule.
"I'm so sorry mister" (maafkan saya tuan) ucap Valeria dengan sopan.
"It's okay miss" (tidak apa-apa nona) ucap bule itu.
Valeria tersenyum manis dan segera berlalu pergi bahkan orang itu sempat terpesona akan kecantikan wajah Valeria. Ia melihat Valeria dari kaca mata hitamnya dengan decak kagum.
"So pretty" (sangat cantik) gumamnya dengan suara pelan.
"Hey Thomas come on we have to go now" (hey Thomas ayolah kita harus pergi sekarang) panggil Kevin.
Ternyata orang yang di tabrak oleh Valeria adalah Thomas Parker, salah satu orang kepercayaan Xavier Arthur Wesly. Dimana itu adalah pertemuan pertama mereka tanpa saling mengenal.
βββββ
To be continue................
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€