Love Struggle

Love Struggle
Chapter 10



🌻Ada dua jenis macam naluri alami yaitu dimangsa oleh musuhnya atau memangsa sang musuh🌻


.


.


.


.


Karena sudah tidak tahan lagi berada di dalam kelas Sandra memutuskan untuk keluar. Bianca yang melirik Sandra keluar dari kelas tersenyum bahagia di dalam hati.


"Emang enak ngak di sayang sama tante Arinta" gumam Bianca dengan suara sangat pelan.


Sandra berjalan dengan kesal di sepanjang koridor sekolah, karena emosi ia tidak memperhatikan jalannya dan menabrak seseorang hingga terjatuh di lantai.


Bruughh.......


Bunyi tabrakan keras mengema di koridor sekolah, beruntung tidak ada siswa-siswi yang berada di sana. Sandra kaget bukan main melihat siapa yang barusan ia tabrak hingga jatuh ke lantai.


"Valeria" pekik Sandra dengan kaget.


"Aduh loe gimana sih Sandra jalan ngak lihat ampe nabrak gue segala" ucap Valeria dengan wajah cemberut.


"Aduh maaf Val gue tadi ngak sengaja"


"Iya ngak apa-apa tapi lain kali jalannya hati-hati" ucap Valeria dengan tulus.


Sandra lalu membantu Valeria berdiri dan membersihkan belakang roknya yang kotor. Saat Valeria akan kembali ke kelasnya Sandra segera menahan langkahnya.


"Val ada yang mau gue omongin sama loe" ucap Sandra dengan wajah serius.


"Ngomongin apaan sih?" tanya Valeria penasaran.


"Uhmm.........kita ke taman belakang sekolah aja"


"Oke deh"


Keduanya lalu berjalan menuju taman belakang sekolah. Sampai di taman Valeria menatap Sandra meminta penjelasan mengenai apa yang ingin di sampaikan.


"Gue ngak suka sama Bianca"


Valeria mengerinyitkan keningnya mendengar ucapan Sandra barusan. Padahal tidak ada masalah atau apa pun tapi saudara sepupunya itu langsung mengatakan maksudnya.


"Maksud loe?" tanya Valeria.


"Bianca thu udah keterlaluan banget Val" adu Sandra dengan emosi.


"Kenapa loe ngomong kayak gitu"


"Coba loe mikir deh Val. Tiap hari dia itu selalu aja pamerin semua barang-barangnya yang di kasih sama tante Arinta. Bahkan labih parahnya lagi dia itu bertingkah seolah-olah seperti anak tante Arinta" papar Sandra menjelaskan.


Valeria menarik napasnya dalam dan membuang perlahan. Ia tahu maksud ucapan Sandra yang tidak suka Bianca karena mendapat barang-barang mewah dari sang ibu.


Melihat reaksi Valeria yang seakan tidak perduli dengan apa yang ia katakan, membuat rasa kesal di hati Sandra tambah menjadi.


Sialan apa gadis bodoh ini ngak termakan omongan gue ya, batin Sandra dengan kesal.


"Sandra" ucap Valeria dengan tatapan tajam.


"Iya Val kenapa"


"Mulai sekarang jangan pernah jelekin nama Bianca lagi. Loe sendiri kan tahu kalau Bianca itu saudara sepupu gue, jadi gue harap loe ngak usah masuk dalam kehidupan kita yang bisa membuat hubungan persaudaraan kita pecah" jelas Valeria dengan suara tegas dan berwibawa.


Sandra mengangguk kepala sebagai jawaban karena merasa aura Valeria sangat mencekam. Ia tahu jika sedari kecil Valeria dan Bagas di didik oleh ibu dan ayahnya dengan keras.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Valeria segera pergi dari sana meninggalkan Sandra yang menatapnya dengan kesal. Tanpa keduanya sadari ternyata Bianca mendengar semua pembicaraan mereka.


Bianca yang saat itu ingin pergi ke toilet mengurungkan niatnya saat melihat keduanya pergi ke taman belakang. Bianca tersenyum sinis melihat Sandra yang tidak berkutik saat Valeria menegurnya.


"Ternyata loe itu iri banget yah sama gue" ucap Bianca saat Sandra hendak pergi dari sana.


"Loe" tunjuk Sandra dengan kaget melihat Bianca yang berdiri di samping tembok.


"Gue anjurin mending loe jaga mulut loe itu sebelum gue robek karena udah ngejelekin gue di depan sepupu gue" ucap Bianca sambil menunjuk keningnya dengan kuat.


"Berengsek loe gadis sialan!" bentak Sandra dengan suara tinggi.


"Sekali lagi loe ngatain gue, saat itu juga gue bakal hancurin hidup loe gadis sialan" ucap Bianca dengan senyuman sinis.


Bianca segera pergi setelah membuat Sandra kehilangan mental kepercayaannya. Sandra gemetar melihat tatapan sinis mata Bianca yang seperti seorang pembunuh.


Bianca sendiri tersenyum penuh arti melirik wajah pucat Sandra saat ia menunjukkan sisi aslinya. Waktu terus berlalu tak lama bunyi lonceng pulang berbunyi.


Valeria segera bersiap menuju cafe di depan sekolahan mereka untuk mengerjakan tugas kelompok. Bianca yang di beritahu Valeria untuk pulang lebih dulu segera masuk ke dalam mobil jemputan.


~ Rainbow cafe ~


Sampai di cafe tempat mereka janjian, Valeria melihat teman kelompoknya sudah ada. Valeria segera menyapa teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai.


"Hai semua" ucap Valeria.


"Dah nyampe loe Val" ucap Rini.


"Lah terus yang berdiri di depan loe siapa dong" ucap Valeria sambil terkekeh.


"Arwahnya kali" ucap Rini sambil cekikan.


"Sialan loe" ucap Valeria dengan kesal.


"Sorry say canda doang" ucap Rini sambil mengangkat jarinya tanda peace.


"Heemmmm"


"Si Rian kemana sih kenapa belom datang" ucap Aldi.


"Ngak tahu" ucap Rini sambil menggelengkan kepala.


"Val telpon thu anak dong" pinta Aldi.


Baru saja Valeria akan menelpon Rian ternyata ia sudah datang. Rian segera menghampiri mereka di meja dekat pojokan paling belakang.


"Akhirnya loe nonggol juga" ucap Aldi.


"Sorry tadi gue masih ketemu sama pak Bambang dulu" ucap Rian dengan suara dingin.


"Ngak apa-apa kok Rian" ucap Rini sambil tersenyum manis.


Keempatnya segera mengerjakan tugas kelompok mereka sambil memesan beberapan cemilan dan minuman.


~ Mansion Kusumo ~


Mobil jemputan Bianca dan Valeria akhirnya tiba di mansion. Setelah sang sopir membuka pintu Bianca segera berjalan masuk ke dalam mansion dengan angkuh.


"Selamat siang tante" ucap Bianca yang melihat Arinta duduk di ruang keluarga.


"Hemmm! Kamu sudah pulang" ucap Arinta.


"Iya tante"


"Ya udah sana ganti pakaian lalu makan siang"


"Iya tante"


Saat Bianca lewat sampingnya Arinta lalu memanggil Bianca karena melihat jam tangan yang di pakai Bianca.


"Bianca" panggil Arinta.


"Iya tante ada apa"


"Itu bukannya jam tangan milik Valeria kan?" tanya Arinta sambil menunjuk jam di tangan kiri Bianca.


Glek...........


Bianca menelan salivanya dengan susah tidak tahu ingin berkata apa. Pasalnya ini jam tangan Valeria yang ia ambil tanpa meminta ijin pada sang pemilik.


"Oh ini jam yang Valeria kasih ke aku semalam tante, katanya dia ngak suka lagi sama jam ini tante" ucap Bianca berbohong.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Mendengar ucapan Bianca entah kenapa Arinta merasa ia berbohong. Tapi ia tak mau mengatakannya biarlah sebentar ia bertanya dulu pada Valeria, apa memang benar yang di katakan oleh Bianca.


Melihat tantenya tak berkata apa-apa lagi Bianca segera berjalan ke kamarnya. Bianca menghembuskan napas perlahan saat berada di dalam kamar.


"Untung aja tante ngak curiga" ucap Bianca.


Bianca tak perduli dengan tanggapan Valeria saat tahu ia mengambil jam tangan miliknya. Pasalnya Bianca tahu kalau Valeria itu anaknya polos dan suka mengalah.


Waktu tak terasa sudah menujukkan pukul 15:00, tak lama terdengar bunyi deru mobil yang berhenti di depan pintu mansion.


Valeria yang diantar oleh Rini keluar dari dalam mobil tak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah itu mobil Rini berlalu meninggalkan mansion.


"Selamat datang nona muda" ucap bi Susi yang menyambut kedatangan Valeria.


"Iya bi" ucap Valeria sambil tersenyum manis.


Valeria segera berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat. Selesai membersihkan diri Valeria langsung menjatuhkan diri di atas kasur.


Tok......tok.......tok.......tok.....


Baru saja ia akan menutup mata pintu kamarnya di ketuk dan masuklah sang ibu ke dalam. Valeria bangun dan duduk di ranjang melihat sang ibu yang datang.


"Bagaimana sekolah kamu sayang?" tanya Arinta.


"Baik bu"


"Kamu udah makan" ucap Arinta sambil mengelus puncak kepala Valeria.


"Udah tadi di cafe bu sama teman kelompok aku bu"


"Baguslah"


"Kangmas belum pulang bu?" tanya Valeria.


"Belum katanya masih main di rumah temannya si Rendi"


"Oh"


"Valeria ibu mau tanya sesuatu"


"Nanya apa bu" ucap Valeria dengan penasaran.


"Kata Bianca kamu ngasih dia jam kamu yang ibu beliin di Paris tahun lalu, karena ngak suka lagi sama jam itu"


Valeria kaget karena setahunya ia tak pernah memberikan jam tangan miliknya kepada Bianca.


Kenapa Bianca bohong sama ibu ya, batin Valeria dengan bingung.


"Uhhmm........iya bu soalnya Valeria ngak suka lagi sama jam itu bu" ucap Valeria berbohong.


"Oh baiklah kalau gitu"


"Emang kenapa bu?" tanya Valeria.


"Ngak kenapa-napa ibu cuma nanya aja" ucap Arinta sambil tersenyum manis.


"Iya bu"


Arinta lalu keluar dari kamar Valeria membiarkan sang anak untuk istirahat. Melihat sang ibu sudah keluar Valeria lalu menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Kenapa Bianca nyuri jam tangan gue ya bahkan dia ampe bohong sama ibu" ucap Valeria dengan bingung.


Valeria berpikir jika ia akan menanyakan langsung kepada Bianca. Karena cape akhirnya Valeria tertidur dengan lelap sore itu.


Arinta yang sudah keluar dari kamar Valeria sudah bisa bernapas lebih tenang setelah mengatasi pikirannya sedari tadi. Ia lega karena ternyata Bianca tak berbohong mengenai jam tangan itu.


Sedangkan di sebuah apartemen mewah seorang pria remaja sedang melihat sebuah foto. Foto itu adalah foto yang ia ambil diam-diam saat berada di cafe tadi.


"Kamu sangat cantik Valeria" ucap Rian sambil tersenyum hangat.


Ya dia adalah Rian teman sekelas Valeria semenjak dari SD hingga SMP. Entah sejak kapan Rian mempunyai perasaan lebih dari seorang teman kepada Valeria.


"Aku akan menjadikanmu menjadi milikku Valeria" ucap Rian penuh tekad.


❄❄❄❄❄


To be continue..............


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❤