
π»Kenapa semua orang butuh yang namanya proses, karena di setiap proses terdapat pelajaran hidupπ»
.
.
.
.
Sesuai perintah Valeria hari itu juga Ares turun tangan langsung mengirim paket hadiah untuk Bianca dan Bagas. Valeria melihat kepergian Ares dengan tatapan yang sulit di artikan.
Ada perasaan marah, benci, sakit hati, rindu, dan perasaan luka yang ia rasakan di dalam hatinya. Seakan Valeria ingin berteriak kencang mengeluarkan semua perasaannya itu tapi tidak bisa.
Pengawal dan pelayan yang berdiri tak jauh dari Valeria mendadak gemetar merasakan aura yang keluar dari tubuh Valeria.
Aura Valeria seakan membuat tubuh mereka di lem tidak bisa bergerak dan seperti ada berjuta-juta jarum yang di tusuk di tubuh mereka.
Brugh......brugh......brugh........brugh......
Bunyi benda jatuh bersahut-sahutan yang ternyata itu adalah para pelayan yang tidak bisa menahan rasa sakit karena aura Valeria. Valeria melirik ke arah mereka yang jatuh dengan mata memincing sama sekali tidak perduli.
Bahkan kedua kucing kesayangannya juga ikut gelisah merasakan aura Valeria yang sangat mengintimidasi.
Melihat banyak pelayan yang sudah tumbang seketika Valeria menutup mata dan menormalkan emosinya yang hendak meledak.
"Lemah" cibir Valeria kepada para pelayan.
~ Markas Valeria ~
Setelah menempuh perjalanan selama 8 jam 20 menit akhirnya Ares tiba di Jakarta. Kedatangannya kali ini tidak di ketahui oleh siapapun selain Valeria.
Setelah mendarat Ares segera pergi ke markas Valeria dengan mengendarai mobil sendiri. Ares adalah robot pintar yang memiliki fisik dan tingkah laku seperti manusia.
Jadi tidak heran tidak ada satu orang pun yang tahu jika Ares adalah robot AI cerdas buatan Valeria sendiri dan semua program Ares adalah coding buatan Valeria.
Saat mobilnya berhenti di depan markas Raksa yang melihat kedatangan Ares dari ruang kontrol di lantai dua langsung menemuinya. Raksa bingung dengan kedatangan Ares kesini karena setahunya Ares sudah kembali di tugaskan oleh Valeria menjadi tangan kanannya.
"Loe ngapain kesini dan dimana master" ucap Raksa to the point.
Ares melihat Raksa dengan tatapan dingin dan tak ada ekspresi apapun di wajahnya. Raksa yang melihat tatapan Ares sebenarnya sangat gugup apa lagi mata merah Ares yang seperti iblis.
Tak menangapi ucapan Raksa ia segera berlalu pergi menuju ruang tahanan di lantai paling bawah. Raksa yang penasaran dengan kedatangan Ares memutuskan mengikutinya dari belakang.
"Ngapain Ares ke penjara bawah tanah" gumam Raksa dengan bingung.
"Ngapain loe disini?" ucap Agung saat melihat Raksa di depan lift menuju penjara bawah tanah.
"Loe ikut gue"
Agung tak bertanya lagi dan segera masuk ke dalam lift mengikuti Raksa. Keduanya langsung meluncur ke bawah menuju penjara bawah tanah mengikuti Ares yang sudah lebih dulu masuk ke sana.
"Ngapain sih kita ke sini" ucap Agung dengan penasaran.
"Entar juga loe bakal tahu"
"Ck! Menyebalkan" decak Agung dengan ketus.
Raksa tak menangapi ucapan Agung dan terus melanjutkan langkahnya menyusuri lorong-lorong sel tahanan bawah tanah. Raksa melihat tawanan mereka yang di kurung disana dengan malas karena tujuannya yaitu mencari Ares.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Loh itu bukannya Ares ya? Sejak kapan dia disini?" tanya Agung membuat langkah kaki Raksa terhenti.
Raksa mengikuti arah pandang Agung ke arah samping keduanya bingung melihat Ares yang berdiri di depan sebuah pintu yang setahu mereka tak ada pintu di sana.
"Sejak kapan ada pintu di sana?" tanya Agung yang semakin penasaran.
"Kita ikuti Ares" ucap Raksa.
Ares melirik ke belakang melihat Raksa dan Agung yang berjalan mendekatinya. Ia tahu sejak tadi keduanya mengikutinya tapi tak dipedulikan sama sekali selama keduanya tidak mengancam keselamatan Valeria dan menganggu tugasnya.
"Ares" panggil Raksa.
Ceklek............
Pintu ruangan tadi langsung terbuka saat Ares memindai tangannya. Ketiganya segera masuk ke dalam.
Saat di dalam Raksa dan Agung kaget bukan main melihat seseorang yang di ikat berbentuk huruf X dengan tubuh penuh luka yang sangat menjijikan.
"Ini" ucap Agung dengan kaget.
"Ares bisa loe jelaskan ini semua" ucap Raksa dengan suara tinggi.
"Urus saja urusan kalian" ucap Ares dengan suara dingin.
"Berengsek loe Ares!! Sejak kapan dia ada disini dan apa hubungannya sama loe!" teriak Raksa dengan emosi.
"Orang yang banyak bertanya biasanya mati cepat" ucap Ares dengan tatapan datar.
"Apa loe bilang berengsek!" hardik Raksa.
Ares tak menangapi ucapan Raksa dan mengambil suntik di lemari lalu menyuntik ke tubuh Ringo.
Hanya Valeria dan Ares saja yang tahu siapa itu Ringo sehingga hanya Ares yang berhak mengurus semua persoalannya dengan keluarga Kusumo.
Raksa dan Agung melihat Ares dengan tanda tanya saat Ares memasukkan tubuh orang di depan mereka ke dalam box panjang.
Tak lupa memberinya oksigen agar ia bisa bernapas. Selesai mengepak tubuh Ringo dalam box Ares segera mengangkat box panjang itu keluar dari sana.
"Ares sebaiknya jawab pertanyaan kita sebelum loe pergi" ucap Agung.
"Jika penasaran silahkan bertanya kepada nyonya dan satu lagi sebaiknya kalian urus tahanan nomor 4 karena dia adalah mata-mata" ucap Ares dengan suara dingin.
Agung dan Raksa kaget bukan main mendengar ucapan Ares keduanya tak bertanya lagi saat Ares pergi dan segera menuju sel tahanan nomor 4 sesuai ucapan Ares.
Sampai di sana keduanya melihat tahanan nomor 4 yang ternyata seorang perempuan berusia 20.
"Panggil Rehan ke ruang meeting" ucap Raksa.
"Hemmm! Apa bersama yang lainnya juga?" tanya Agung.
"Heemm" ucap Raksa.
Keduanya segera naik ke atas menuju ruang meeting untuk membahas informasi dari Ares barusan. Sampai disana Rehan kaget karena ternyata mereka kecolongan data mengenai tahanan nomor 4.
Hari itu juga mereka membereskan tahanan nomor 4 dan menghancurkan musuh mereka yang ingin mematai mereka hingga tak tersisa apapun.
Ares yang melihat informasi di markas segera mengirim ke Valeria melalui satelit khususnya.
~ Apartemen Grill ~
Saat ini Bagas sedang melihat suasana malam kota Solo dari jendela apartemennya. Ia baru saja menyelesaikan meeting bersama Ahmad dan sedang membahas pekerjaan mereka yang belum selesai.
Ting........tong........ting.........tong.......
Bagas melihat Ahmad dengan kening berkerut saat mendengar bunyi bel. Bahkan ia melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 23:00 malam.
"Saya akan lihat siapa yang datang tuan" ucap Ahmad.
Ahmad segera beranjak ke depan untuk melihat siapa yang datang di jam segini. Saat pintu dibuka ia bingung karena tak ada siapa-siapa dan hanya ada kotak persegi panjang yang di simpan di depan pintu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Apa itu?" tanya Bagas saat melihat Ahmad masuk sambil mendorong kotak panjang dengan ukuran yang besar.
"Saya tidak tahu tuan. Kotak ini berada depan pintu tuan dan tertera atas nama tuan sebagai penerima" ucap Ahmad sambil melihat nama penerima di atas kotak panjang itu.
"Dari siapa?" tanya Bagas dengan suara dingin.
"Maaf tuan tapi tidak ada nama pengirimnya"
"Buka kotak itu"
Bagas sangat penasaran isi kotak yang dikirim untuknya. Saat kotak tersebut terbuka keduanya kaget melihat ada tubuh seseorang yang penuh luka di dalam sana sedang memakai oksigen.
"Siapa yang berani ngirim ini ke gue! Hah!" bentak Bagas dengan emosi.
"Tuan ada suratnya" ucap Ahmad melihat secarik kertas di samping kotak.
Bagas membaca surat tersebut dan kaget bukan main, ia langsung menyuruh Ahmad untuk menghubungi om Dion dan Rendi sahabatnya untuk segera kesini.
Saya yakin anda akan puas menerima hadiah saya dan pastinya anda sangat mengenali siapa orang yang saya kirim untuk anda.
^^^Tertanda^^^
^^^ABS^^^
Bagas membaca surat tersebut itu terus menerus menebak siapa yang sudah mengirim paket tersebut. Apa lagi isi dalam paket itu adalah orang yang selama ini ia cari ke seluruh penjuru Indonesia bahkan sampai ke negara tetangga.
"Akhirnya gue bisa nemu titik terang masalah adik gue" ucap Bagas dengan senang.
Tak berselang lama Rendi dan om Dion akhirnya tiba di apartemen Bagas di lantai paling atas.
Keduanya dengan cepat datang saat Ahmad menelpon memberitahu jika Bagas menyuruh mereka segera datang karena ada hal penting yang akan mereka bahas.
"Bro sepenting apa sih informasi yang loe punya makanya suruh gue cepat-cepat kesini" ucap Rendi dengan kesal.
"Tuan muda apa yang terjadi?" tanya Dion seakan tahu ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Lihat di samping kalian" ucap Bagas sambil menghembuskan asap rokok.
Seketika Rendi dan Dion kaget melihat isi kotak yang berada di samping mereka. Keduanya kaget bukan main saat melihat wajah orang yang selama ini mereka cari kemana-mana.
"Siapa yang ngirim dia ke loe?" tanya Rendi to the point.
"Gue ngak tahu dan siapa pun itu gue berterima kasih karena udah ngirim bajingan itu ke gue" ucap Bagas dengan senyum sinis.
"Ya loe benar. Ngak penting siapa yang ngirim intinya isi paketnya sangat memuaskan" ucap Rendi sambil tertawa sinis.
"Apa kita bawa dia ke markas tuan muda?" tanya Dion.
"Heemm! Pastikan jangan ada satu orang pun yang tahu akan hal ini selain kita" ucap Bagas dengan tatapan membunuh.
"Tenang aja loe kan tahu siapa kita. Malahan gue ngak yakin sama orang di belakang loe" ucap Rendi sambil melihat Ahmad.
"Saya sudah menyerahkan hidup saya ke tuan dan tidak akan pernah mengkhianati tuan sampai saya mati" ucap Ahmad dengan suara tegas.
"Gue pegang ucapan loe" ucap Rendi dengan tatapan tajam.
Bagas hanya diam saja karena ia tahu apa yang diucapkan oleh Ahmad bukan main-main.
Selama ini Ahmad sudah menyerahkan hidupnya untuk bekerja kepada Bagas karena tanpa Bagas ia dan keluarganya pasti sudah mati waktu itu akibat kelaparan.
Setelah itu Dion segera menyuruh anak buah Bagas untuk membawa orang yang sudah menjebak Valeria di hotel. Dengan adanya orang tersebut maka jalan untuk menemukan bukti tentang kebenaran waktu itu semakin dekat.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Kusumo ~
Berbeda dengan Bagas yang senang karena mendapat paket berisi tubuh Ringo orang yang berada di foto bersama Valeria waktu itu.
Saat ini Bianca sedang frustasi karena mendapat paket dari pengirim yang tidak jelas. Bianca sangat kepikiran karena ternyata isi paket tersebut adalah foto tubuh Ringo yang baru saja dikirim ke Bagas.
Wajah Bianca semakin pucat saat melihat foto Bagas yang tersenyum melihat kotak panjang itu.
"Sial! Kenapa thu orang bisa ada di tangan kangmas sih" ucap Bianca dengan emosi.
Bianca terus mondar-mandir di dalam kamar memikirkan apa yang harus ia lakukan. Apakah Bagas sudah mengetahui siapa dalang di balik kejadian Valeria waktu di hotel.
"Ngak! Pasti kangmas belum tahu siapa dalangnya tapi kalau thu orang sewaan om Arya buka mulut gimana" ucap Bianca sambil mengigit kuku jarinya merasa ketakutan.
Bianca segera mengambil kunci mobil dan membawa paket yang berisi foto-foto itu menuju ke rumah tante Sisil. Ia tidak akan tenang sebelum menemukan solusi untuk masalahnya kali ini.
Saat keluar Arinta melihat Bianca dengan bingung karena Bianca keluar di jam seperti ini. Meskipun begitu Arinta tak memperdulikannya kemana Bianca akan pergi.
"Nyonya" ucap bi Susi yang hendak masuk ke dalam dapur dan menemukan Arinta sedang mengambil minum.
"Bibi belum tidur?" tanya Arinta.
"Saya terbangun karena haus nyonya kebetulan air di kamar saya habis jadi saya kesini untuk mengambilnya"
"Heemmm"
"Apa nyonya butuh sesuatu?" tanya bi Susi melihat Arinta yang mencari sesuatu.
"Tolong buat makanan untukku bi"
"Baik nyonya"
"Setelah jadi bawa ke balkon kamar Valeria ya bi"
"Tapi nyonya kunci kamar nona muda di bawa sama tuan muda"
"Apa maksudmu?" tanya Arinta dengan bingung.
"Itu nyonya! Tuan muda melarang siapa pun tidak boleh masuk ke kamar nona muda dan selama ini saat tuan muda pulang hanya menyuruh saya untuk membersihkan kamar nona muda setelah itu dikunci kembali nyonya" ucap bi Susi menjelaskan semuanya.
"Sejak kapan bi"
"Uhmmm........maaf nyonya tapi sejak tuan muda mengamuk karena tahu perihal nona muda yang masuk rumah sakit" ucap bi Susi dengan gugup.
Arinta membuang napasnya dengan kasar mengingat kejadian waktu itu. Dimana Bagas saat itu menghancurkan semua barang di dalam mansion bahkan ia dan suaminya juga turut mendapat amukan Bagas waktu itu.
Masih dengan jelas ingatan Arinta saat Bagas mengamuk dan memukul suaminya dengan tak berperasaan.
Baru kali itu ia melihat siapa sosok sebenarnya sang anak jika sedang marah dan tidak ada satu pun yang bisa menenangkan Bagas waktu itu.
Bi Susi yang melihat wajah sedih Arinta hanya bisa diam dan tak berbicara apa-apa. Ia tahu selama ini Arinta selalu menangis saat duduk menyendiri di taman belakang setiap malam.
Segitunya kamu membenci ibu dan ayah nak, batin Arinta mengingat ucapan Bagas waktu itu.
βββββ
To be continue..........
Hay guys jangan lupa beri dukungan kalian dengan cara like, vote, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€