
π»Disaat kamu mencintai seseorang maka cintailah dia dengan tulus meski kamu tahu dia hanya pura-pura mencintaimu, karena suatu saat dia akan merasakan apa yang pernah kamu rasakanπ»
.
.
.
.
Bianca yang sangat kesal harus menahan emosinya di dalam ruang rawat Bagas. Sedari tadi ia hanya tersenyum di depan semua keluarga Winata, karena tak ingin membuat mereka curiga jika dalang di balik kecelakaan Bagas adalah dia.
Bianca yang sekarang adalah wanita pemuas na**u Kim Jeong dan apa yang ia inginkan selalu di penuhi oleh Kim Jeong. Bahkan jika ia ingin menghabisi nyawa seseorang maka Kim Jeong akan melakukan untuknya.
"Ternyata disini ada juga desainer terkenal kita ya" ucap Wina dengan sinis.
"Halo tante apa kabar?" tanya Bianca balik sambil tersenyum polos.
"Kabarku selalu baik bahkan rumah tanggaku juga baik" ucap Wina sengaja mengeraskan suaranya.
Arinta dan Budi yang mendengar ucapan kakak ipar mereka hanya diam saja, mereka tidak memperdulikan ucapan Wina karena bagi mereka hanya buang-buang waktu saja.
Sedangkan Raden Aji menatap sang istri dengan tatapan tajam menyuruhnya untuk tak membuat suasana menjadi panas.
"Wina jika kamu sudah tak ada keperluan lagi mending kamu pulang saja ke keraton" ucap Putri dengan tatapan tajam memberi peringatan kepada menantunya.
"Aku pulang bareng sama mas Aji bu" ucap Wina dengan sopan.
"Perhatikan ucapanmu selama disini"
"Iya bu"
Sandra yang melihat kelakuan sang ibu hanya menggelengkan kepalanya.
Sedari dulu ibunya ini sangat suka membuat suasana menjadi panas jika ada pertemuan keluarga besar dan ia tahu jika sang ibu sangat iri dan cemburu dengan apa yang dimiliki oleh tantenya.
Sampai kapan ibu gue bisa berubah, batin Sandra sambil membuang napasnya dengan kasar.
Rafa yang melihat kakaknya menghembuskan napas dengan kasar segera melihatnya. Sandra yang di tatap sang adik hanya tersenyum dan berkata jika semua baik-baik saja tidak perlu khawatir.
Selang beberapa jam semua keluarga Winata pamit pulang, Budi yang akan menemui kliennya juga pamit kepada sang istri pergi ke perusahaan bersama Dion.
Sebelum pergi Dion memberi isyarat kepada Ahmad jika ia sudah tahu siapa yang menabrak Bagas semalam.
"Bianca kamu pulang saja biar ibu yang jagain kangmas disini" ucap Arinta dengan suara lembut.
"Tapi bu? Lebih baik ibu pulang saja biar Bianca yang jagain kangmas" ucap Bianca dengan senyum manis.
"Kalian pulang saja gue malas ditemani kalian" ucap Bagas dengan tatapan dingin.
"Nak" ucap Arinta dengan wajah sendu.
"Kangmas jangan bicara seperti itu ke ibu" ucap Bianca dengan wajah sedih.
"Jangan pernah panggil gue kangmas karena gue bukan kangmas loe anak haram!" bentak Bagas dengan suara tinggi.
"Bagas jaga ucapanmu!" bentak Arinta tersulut emosi.
"Ckk!! Apa yang gue bilang memang benar lagian dia itu memang anak haram kan, anak hasil perselingkuhan" ucap Bagas dengan ketus.
Hiks..........hiks..........hiks............
Bianca seketika menangis mendengar ucapan Bagas ia menangis seolah dirinya sangat tersakiti dengan ucapan Bagas.
Tanpa mereka sadari ternyata itu hanyalah akting karena saat ini Bianca sedang memaki dan mengumpat Bagas dalam hati.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Nak jangan menangis lagi. Jangan di ambil hati ucapan kangmasmu ya" ucap Arinta dengan suara lembut.
Melihat hal tersebut Bagas memutar matanya dengan malas seakan muak dengan akting Bianca. Menurutnya itu hanya air mata buaya Bianca yang sengaja mencari perhatian.
"Kalian keluar" usir Bagas dengan tatapan dingin.
"Nak" ucap Arinta dengan tatapan sendu.
"Tinggalkan gue sendiri dan ngak usah sok perhatian sama gue"
"Biarkan ibu menjagamu nak atau biarkan Bianca menjagamu nak"
"Gue ngak butuh kalian berdua jadi mending kalian pergi" teriak Bagas dengan suara tinggi.
Emosinya sudah tak bisa di tahan lagi melihat kedekatan Arinta dan Bianca yang membuat hatinya sakit. Ia sangat kecewa kepada orang tuanya yang tak ada rasa bersalah sama sekali kepada sang adik.
Bianca dan Arinta lalu segera pergi dari ruang rawat Bagas setelah Ahmad meminta mereka untuk pergi saja. Bukan tanpa alasan ia sangat tahu jika tuannya saat ini tidak mau melihat mereka di hadapannya.
"Bu jangan sedih ya mungkin kangmas hanya sedang banyak pikiran saja makanya sampai emosi" ucap Bianca menghibur Arinta di lobby rumah sakit.
"Heeemmm"
"Ayok kita pulang bu. Biar ibu bisa istirahat saja di mansion" ajak Bianca.
"Kita ke butik! Ibu ngak mau ke mansion" ucap Arinta berlalu masuk ke dalam mobil.
Wajah Bianca seketika menjadi tegang karena mereka akan ke butik ia dengan cepat mengirim pesan kepada asistennya untuk menyiapkan laporan butik yang sudah mereka manipulasi.
Bisa gawat kalau perempuan tua itu tahu gue gelapkan uang butik, batin Bianca.
~ Roma, Italia ~
Sepanjang jalan Bryan sangat gelisah memikirkan keadaan sang mama. Sedari tadi ia terus melihat ke belakang membuat Yorla pusing dengan kelakuan Bryan sedangkan Ares hanya duduk dengan tenang tak menghiraukan keduanya.
"Brother udah deh. Mama you baik-baik aja sama kedua ganteng di belakang" ucap Yorla dengan suara gemulainya.
"Loe diam aja deh siluman jadi-jadian"
"Apa you bilang eke siluman jadi-jadian! You tahu ngak eke ini bidadari tercantik di alam semesta" teriak Yorla dengan suara tinggi.
"****! Diam loe ubur-ubur gagal"
"Hey you awas ya loe" ucap Yorla tak terima di bilang ubur-ubur gagal.
Bugh........bugh..........bugh.........bugh.........
Yorla memukul Bryan dengan tas hermesnya dengan brutal karena emosi Bryan malah menjambak rambut cepek Yorla dan ikut menendang Yorla berkali-kali.
Anak buah Bryan dan Yorla yang melihat limousine di depan mereka bergoyang dan berguncang merasa aneh.
Pikiran mereka sudah berkelana kemana-mana memikirkan apa yang terjadi di dalam sana. Bahkan Raksa dan Rehan saling lirik dan mendadak ngeri memikirkan apa yang ada di otak mereka.
"Ternyata bocah itu tertarik sama laki-laki setengah jadi itu" ucap Raksa bergidik ngeri.
"Apa kerena mereka selalu bersama ya makanya ada benih-benih cinta" tebak Rehan.
Keduanya saling melihat dan seakan ingin muntah memikirkan apa yang Yorla dan Bryan lakukan di dalam mobil. Bahkan keduanya lupa jika di dalam mobil juga ada Ares disana.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
~ Mansion Valeria ~
Tak berselang lama mereka akhirnya tiba di mansion Valeria. Raksa dan Rehan dengan cepat menurunkan peti box yang berisi mama Bryan.
Lalu membawa masuk ke dalam mansion dimana sudah ada dokter dan perawat yang menunggu mereka di pintu mansion.
"Tuan silahkan bawa pasien ke kamar tamu" ucap dokter yang bernama Lauren.
Valeria yang sudah tahu apa yang terjadi dengan keduanya hanya melirik sekilas dari lantai 3. Sedari tadi Ares melakukan panggilan video call dengan Valeria menunjukkan apa yang Bryan dan Yorla lakukan.
"Gimana keadaan mama gue" ucap Bryan yang baru saja masuk ke kamar tamu.
"Loe kenapa?" tanya Raksa dengan kaget melihat penampilan Bryan.
"Dok gimana keadaan mama saya?" tanya Bryan tak menanggapi pertanyaan Raksa.
"Sabar bocah dokter masih periksa" ucap Rehan.
Sedari Bryan masuk ia kaget melihat penampilannya yang acak-acak tapi ia mengurungkan niatnya saat Raksa sudah bertanya. Bryan sendiri sangat cemas dan panik melihat sang mama.
Setelah selesai dokter Lauren menyuruh perawat untuk memasang infus dan tak lupa membersihkan tubuh Ratu Camelia. Ia lalu mengajak mereka semua keluar untuk berbicara kondisi Ratu Camelia di luar.
Saat mereka keluar mereka kaget melihat Yorla yang sedang berlutut di depan Valeria sambil mengangkat tangannya.
Tatapan mata Valeria lalu menatap Bryan dengan tatapan tajam dan memberi isyarat untuk melakukan seperti apa yang di lakukan Yorla.
"Maaf sister" ucap Yorla dengan takut melihat tatapan Valeria.
"Loe berdua tahu kenapa gue nyuruh loe berlutut" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Tahu Val, sister" jawab keduanya serentak.
"Bangun"
Plak........plak..........plak..........plak..........
4 Tamparan menggema di ruang tengah mansion, dokter Lauren yang baru pertama kali melihat hal seperti itu menutup mulutnya dengan kaget.
Ia tak menyangka jika Valeria akan menampar kedua orang itu dengan kuat bahkan sudut bibir mereka sampai pecah.
"Loe berdua itu saudara kenapa harus berantem. Hah!" bentak Valeria dengan tatapan membunuh.
"Maafkan kami Val" ucap Bryan.
"Hiks hiks.........sister maaf.........hiks hiks" ucap Yorla sambil menangis tak kuat menahan rasa sakit tamparan Valeria.
"Ares cambuk mereka 50 kali dan rendam mereka di kolam berenang sempai malam" bentak Valeria.
"Baik nyonya"
"Satu lagi Bryan! Loe kalau mau mati ya mati aja sendiri jangan bawa mereka ke dalam masalah loe berengsek"
"Maaf Val gue salah"
"Sekali lagi loe kacaukan misi mending loe ngak usah pernah ikut dalam misi apapun"
"Maaf Val gue janji ini terakhir kali gue bertindak sembrono"
"Buktikan kata-kata loe"
"Oke Val"
Siang itu suara teriakan kesakitan Yorla bergema di samping mansion sedangkan Bryan hanya diam tak mengeluarkan satu kata pun saat di cambuk. Dokter Lauren yang melihat mereka di siksa berdiri dengan tubuh gemetar.
"Loe" tunjuk Valeria ke Lauren.
"S....aya n....yon....ya" ucap dokter Lauren dengan gugup karena takut.
"Gue tahu loe orang Indonesia jadi mulai detik ini loe jadi dokter pribadi gue"
"Hah" ucap dokter Lauren dengan kaget.
"Siapkan semua yang yang di butuhkan mama Bryan. Malam nanti kita berangkat ke Amerika"
Dokter Lauren diam saja karena tak tahu harus berbicara apa tatapan datar dan mengintimidasi Valeria membuat dia tak bisa mengucapkan satu kata pun.
Beruntung hari ini adalah hari terakhirnya ia bekerja di salah satu rumah sakit Italia karena kontrak kerjanya sudah berakhir.
~ Kerajaan Wizpet ~
Setelah kepergian Bryan dan lainnya suasana di kerajaan Wizpet sangat kacau balau. Raja Luigi melampiaskan emosinya kepada pengawal yang tadi di perintahkan untuk melihat Bryan.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Sialan kamu pelayan rendahan gara-gara kamu aku gagal bekerja sama dengan Mr. Peterson" bentak Raja Luigi dengan emosi.
Bugh........bugh........bugh.........bugh......prang......
Tubuh pengawal itu di pukul dan di tendang berkali-kali oleh Raja Luigi. Bahkan dengan tega ia mengambil guci dan memukul kepala pengawal sampai berdarah dan membuat seisi ruangan menjadi bau amis.
"Sialan kamu sialan" teriak Raja Luigi dengan emosi.
Arseno dan asistennya hanya melihat kebrutalan sang papa karena tahu jika Raja Luigi sedang emosi tak boleh di ganggu. Sekarang mereka tak tahu harus mencari investor kemana lagi untuk membantu keuangan kerajaan.
"Yang mulia raja!! Ya.....ng mu.....lia raja!!" teriak salah satu pelayan dengan napas satu-satu karena berlari.
"Beraninya kamu menggangguku manusia rendahan" bentak Raja Luigi menggelegar.
"Maafkan hamba yang mulia raja tapi hamba membawa informasi yang sangat penting" ucap pelayan tersebut dengan tubuh gemetaran.
"Katakan manusia hina"
"Itu yang mulia raja, Rat....u C....ameli...a menghilang" ucap pelayan tersebut dengan takut.
"Apa" teriak Selir Leila dan Arseno serentak.
"Bagaimana bisa perempuan cacat itu hilang" hardik Raja Luigi dengan emosi.
"Maaf yang mulia raja. Tadi saat hamba ingin mengantar makan siang kepada Ratu Camelia ternyata Ratu Camelia sudah tidak ada lagi"
"Arseno cepat lacak GPS perempuan gila itu" bentak Selir Leila yang mulai panik.
"Iya ma"
Arseno segera menyalakan GPS untuk melihat dimana keberadaan Ratu Camelia. Tak lama keningnya mengerut kalau lokasi GPS Ratu Camelia tidak di temukan.
"Apa yang terjadi?" tanya Raja Luigi melihat wajah sang anak yang bingung.
"Lokasi Ratu Camelia tidak terdeteksi papa. Bahkan lokasi GPS miliknya hilang"
"Apa" ucap Raja Luigi dengan kaget.
"Yang mulia raja" ucap salah satu pengawal yang bertugas di ruang kontrol.
"Apa lagi ini" bentak Raja Luigi.
"Detonator yang mulai ratu hilang di ruang kontrol yang mulai dan ternyata detonator GPS yang mulai ratu ditemukan hancur di ruang tahanan yang mulai ratu" ucap kepala keamanan di ruang kontrol.
Arrgghhhh.........
Teriak Raja Luigi sambil meramas dadanya yang terasa sakit setelah mendengar ucapan kepala keamanan di ruang kontrol.
Selir Leila dan kedua anaknya langsung berteriak memanggil Raja Luigi yang merasa kesakitan dan hampir jatuh.
βββββ
To be continue..........
Hay guys jangan lupa tinggalkan jejak kalian yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€