Love Struggle

Love Struggle
Chapter 119



🌻Hati memang bukan mata yang bisa melihat, tapi hati bisa merasakan apa yang tak bisa dilihat oleh mata🌻


.


.


.


.


Meski terlihat tenang dan santai tapi Valeria tak bisa diam saja, ia yakin pasti Dimitri akan melakukan sesuatu sebelum dia kembali ke Rusia. Tatapan mata Valeria memindai seluruh ballroom apa ada mata-mata Dimitri.


Masih sama seperti dulu, batin Valeria sambil tersenyum smirk.


Ia melirik sekilas ke arah jam 9 dimana ada seorang wanita paruh baya yang mencurigakan. Sedari tadi ia sudah kedapatan melirik ke arahnya sebanyak 3 kali.


"Ares arah jam 9 wanita paruh baya gaun coklat" ucap Valeria dengan suara pelan.


"Baik nyonya" ucap Ares berlalu pergi.


"Rehan suruh anggota kita di markas B segera pergi sekarang juga"


"Baik master"


"Loe pergi ke sana dan bawakan satu orang yang masih hidup ke gue"


"Oke master saya pamit"


Rehan segera menyuruh anak buahnya untuk tetap mengawal Valeria. Sambil menunggu Ares, Valeria mencari keberadaan Yorla yang entah berada dimana.


Matanya memincing melihat Yorla yang sedang mengobrol dengan beberapa pengusaha muda. Valeria hanya memutar malas matanya tahu apa yang membuat Yorla ingin ikut kesini.


"Gay sialan" desis Valeria dengan suara dingin.


Ares


"Nyonya misi berhasil"


^^^"Bawa dia ke markas"^^^


"Baik nyonya"


Valeria hanya membaca pesan Ares tak berniat membalasnya. Ia lalu segera menghampiri Chloe yang tak jauh darinya untuk pamit pulang.


"Chloe" sapa Valeria dengan suara dingin.


"Val loe datang" ucap Chloe dengan senang saat melihat siapa yang memanggilnya.


"Heemmmm"


"Gue senang banget bisa lihat loe disini. Btw makasih ya buat hadiah yang loe kirim buat Xander"


"Oke"


"Loe sama siapa kesini"


"Yorla" tunjuk Valeria ke orang yang sedang bergelayut manja dengan salah satu pengusaha muda di Indonesia.


"Ya ampun itu Yorla!!! Kenapa lengket kayak cicak gitu sih" pekik Chloe dengan kaget.


Valeria diam saja tak membalas ucapan Chloe yang baru pertama kali melihat Yorla bergelayut manja dengan laki-laki. Tatapan mata Valeria sekilas bertatapan dengan Xander yang menatapnya dengan tajam.


Bayi lucu itu lalu menjulurkan tangannya ke arah Valeria, Chloe yang melihat anaknya seperti itu menjadi kaget. Pasalnya ia tahu baby Xander tidak mau disentuh orang asing.


"Val kayaknya anak gue mau sama loe"


"Berikan ke gue" ucap Valeria dengan suara dingin.


Chloe menaruh baby Xander di tangan Valeria saat menggendongnya perasaan Valeria menjadi tenang meski ia sangat kaku karena baru pertama kali mengendong bayi.


Da........da.........da.......da.......


Baby Xander berceloteh entah apa maksudnya, Valeria mengangkat alisnya sebelah tak mengerti ucapan bayi itu. Ia menatap Chloe meminta penjelasan tapi Chloe hanya cengesan saja.


"Daddy Xander aja yang tahu maksud baby Xander Val" ucap Chloe sambil terkekeh.


"Oh"


Mata baby Xander menatap anting yang di pakai Valeria tak berkedip. Melihat hal tersebut Valeria tahu bayi itu tertarik dengan mainan anting miliknya.


"You want it?" (kamu mau) tanya Valeria dengan suara dingin.


Da.......da......da........da......


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Baby Xander berceloteh dengan suara kencang menjawab pertanyaan Valeria. Suara baby Xander mengundang perhatian Xavier dan lainnya yang sedang berbicara dengan rekan bisnisnya.


"Aunty bakal ngirim mainan seperti ini buat kamu nanti"


Da........da......da.......


"Val loe ngerti apa yang diucapin anak gue"


"No"


"Gue kira loe ngerti"


"Heemmmm"


"Aunty harus pergi nanti aunty kirim mainan buat kamu boy" ucap Valeria sambil mengembalikan baby Xander.


Baby Xander berceloteh sambil menunjuk mainan anting milik Valeria. Seakan tahu maksud bayi itu Valeria hanya menatap bayi itu dengan wajah datar.


"Ya nanti aunty kirim pin dasi buat kamu dengan corak seperti mainan anting aunty"


D......da......da........da........


Valeria segera pamit pulang karena merasa tubuhnya tak nyaman. Saat ia berjalan keluar Thomas yang melihatnya segera mengikutinya.


"Kamu mau kemana honey?" tanya Thomas saat ia masuk ke dalam lift.


"Pulang" ucap Valeria sambil menekan angka rooftop.


"No!! Kamu malam ini nginap disini" ucap Thomas dengan suara tegas.


Valeria menutup mata tak perduli dengan ucapan Thomas entah kenapa tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit sekali. Melihat wajah pacarnya yang pucat Thomas segera memeluknya.


"Kamu kenapa honey? Wajahmu sangat pucat" ucap Thomas dengan cemas.


"Sakit" desis Valeria dengan suara pelan.


Thomas memeluk Valeria sambil memijit kepalanya dengan lembut. Baru kali ini Valeria mengeluh sakit di depan orang lain ia membalas pelukan Thomas yang entah kenapa terasa sangat nyaman.


Ting...........


Lift berhenti di lantai kamar milik Thomas dengan cepat ia mengendong Valeria keluar dan segera masuk ke dalam kamar hotel miliknya.


"Bentar aku hubungi Kevin honey"


Valeria tak perduli dengan ucapan Thomas karena kepalanya terasa sangat sakit. Tak berapa lama tubuhnya menegang mengingat hari ini tanggal berapa.


Sial kenapa gue sampai lupa, batin Valeria dengan kesal.


"Jangan bergerak dulu honey kamu sedang sakit" ucap Thomas dengan suara tinggi saat melihat Valeria bangun.


"Hubungi Ares sialan!" bentak Valeria dengan tatapan tajam.


"Apa!! Kamu diam saja honey jangan pernah hubungi sialan itu kesini!" bentak Thomas dengan emosi.


"Jangan main-main denganku bangsat" hardik Valeria mencoba menahan sakit di tubuhnya.


"Apa aku kelihatan sedang bermain denganmu honey?" tanya Thomas sambil memeluk Valeria dengan erat.


"Suruh Ares kesini cepat" ucap Valeria dengan suara dingin.


Bugh............


Valeria meninju Thomas di perutnya hingga pelukan mereka terlepas. Dengan cepat ia mengambil hpnya yang berada didalam tas melihat hal tersebut wajah Thomas semakin merah menandakan ia sangat emosi.


Grep...........


Thomas menarik Valeria ke dalam pelukannya dengan cepat. Bibirnya langsung membungkam bibir Valeria saat panggilan Valeria di jawab oleh Ares dari seberang.


Emmmm..........eeemmm...........


Valeria mendorong Thomas sekuat tenaga agar ciuman mereka terlepas. Tapi tetap saja tidak terlepas apa lagi kondisi tubuhnya yang sudah semakin lemah ditambah kepalanya semakin berdenyut.


Plup...........


Ciuman keduanya terlepas saat Thomas melihat Valeria yang kehabisan napas. Wajah Valeria semakin pucat membuat ia semakin cemas.


"Honey kita ke rumah sakit ya" bujuk Thomas.


"Ares" ucap Valeria dengan suara lemah.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Ares yang mendengar suara lemah Valeria segera beranjak menuju lokasinya. Ia sudah di beri perintah oleh Valeria jika mendengar suara Valeria seperti itu tandanya Valeria sedang dalam kondisi bahaya.


Brak...........


Pintu kamar hotel Thomas dibuka dengan kuat oleh Ares, pandangannya langsung tertuju ke Valeria yang sedang di peluk oleh Thomas.


Ares memindai seluruh tubuh Valeria dan melihat otot dan jaringan saraf di tubuhnya menegang.


Apa lagi jantungnya yang berdetak dengan cepat membuat peredaran darah menjadi tidak stabil bahkan sebentar lagi Valeria akan mengalami sesak napas.


10 Juni


Dengan cepat Ares segera menghampiri Valeria yang sudah pucat dan berkeringat dingin setelah mengetahui kondisi Valeria. Wajah Thomas menghitam melihat Ares yang tak memperdulikan ucapannya sedari tadi.


"Jangan menyentuh wanitaku berengsek" teriak Thomas dengan suara tinggi.


Bugh............bugh..............


Ares menendang Thomas di kaki dan perut agar pelukan Thomas terlepas. Tapi tetap saja pelukannya tak terlepas sedikit pun mata Valeria perlahan-lahan mulai tertutup saat ia merasa napasnya sesak.


"Pergi kamu sialan" teriak Thomas.


Dengan kuat Ares menarik Valeria dari pelukan Thomas meski sangat susah. Setelah beberapa kali memukul Thomas akhirnya pelukan Thomas terlepas sehingga Ares langsung mengendong Valeria dan berlalu keluar.


"Berhenti kamu berengsek" teriak Thomas berlari mengejar Ares.


Saat sampai di lift ternyata ia terlambat dengan cepat ia menuju tangga darurat. Langkahnya tergesa-gesa menuju lantai paling atas.


Brak.............


Pintu rooftop di buka dengan kuat dan Thomas berlari menuju helikopter yang sudah lepas landas. Ia berteriak mengumpat Ares yang sudah pergi membawa kekasihnya.


"Aku akan membunuhmu sialan" teriak Thomas dengan napas memburu.


Aaarrrghhhh...........


~ Mansion Valeria ~


Pak Dev sudah menunggu kedatangan Valeria di lantai 4. Saat helikopter mendarat ia kaget melihat wajah Valeria yang sangat pucat dan sudah tak sadarkan diri.


"Nyonya" teriak pak Dev dengan khawatir.


"Suruh dokter Lauren bawa obat pemicu jantung dengan dosis paling tinggi"


"Baik tuan"


Ares segera menuju lantai 3 sampai di dalam kamar ia segera menaruh Valeria di ranjang dan menyuruh pak Dev menghidupkan pemanas ruangan.


"Keluar"


"Tapi tuan"


"Kamu tidak bisa bertahan di dalam sini dengan suhu seperti ini"


"Baik tuan"


"Siapkan es batu sebanyak mungkin"


"Baik tuan"


Pak Dev segera keluar dari kamar Valeria dan menyuruh pelayan menyiapkan es batu sebanyak mungkin.


Kabar tentang Valeria sudah tersebar di seluruh anggota Black Shadow, Bryan yang berada di kerajaan Wizpet terus menghubungi Yorla menanyakan keadaan Valeria.


Ares yang berada di dalam kamar Valeria segera menyuntiknya dengan obat khusus yang baru ia ambil di brankas Valeria. Setiap tahun Valeria harus disuntik obat tersebut untuk menekan otot dan jaringan saraf di dalam tubuhnya.


Tubuh Valeria semakin dingin meski suhu di dalam kamar seperti di neraka. Sesaat dokter Lauren datang membawa obat yang di maksud Ares, Ares mengambilnya dan menutup kembali pintu agar tidak ada yang boleh masuk.


Hp Valeria berbunyi sedari tadi tapi tak di pedulikan oleh Ares. Saat ini ia tengah menyuntik obat yang di berikan oleh dokter Lauren ke tubuh Valeria.


Matanya terus memindai tubuh Valeria melihat obat yang mulai bekerja. Perlahan suhu tubuh Valeria sudah tak dingin lagi ia tahu sebentar lagi suhu tubuh Valeria akan sangat panas jadi harus berendam di dalam es.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Dimana esnya?" tanya Ares saat membuka pintu.


"Ini tuan" ucap Pak Dev menunjuk 3 karung es di sampingnya.


Tubuh pak Dev terasa seperti di bakar saat pintu kamar Valeria dibuka. Hanya ia saja yang berada di lantai ini sedangkan pelayan dan lainnya menunggu dengan cemas di lantai satu.


Ares mengendong Valeria ke kamar mandi dan menaruhnya di dalam bath up yang penuh dengan es. Suhu tubuh Valeria yang terasa sangat panas membuat siapa saja yang menyentuhnya akan terbakar.


2 Jam kemudian


Perlahan mata itu terbuka dan setelah beberapa jam tertutup. Rasa dingin dari es langsung menusuk ke kulitnya saat matanya terbuka.


"Nyonya" ucap Ares yang berdiri di depannya.


"Keluar" ucap Valeria dengan suara dingin.


"Baik nyonya"


Valeria segera keluar dari bath up dan menanggalkan dress yang masih terbalut ditubuhnya. Ia segera memakai bathrobe dan bergegas keluar dari kamar mandi beruntung Ares datang tepat waktu sebelum terlambat.


"Bagaimana?" tanya Valeria dengan wajah datar.


"Semuanya sudah normal kembali nyonya dan tadi saya menyuntik obat pemicu jantung karena nyonya terlambat menyuntik obat yang biasa" jawab Ares menjelaskan.


Valeria menutup mata mengingat kejadian tadi ia mengumpat kesal karena kelakuan Thomas. Jika terlambat sedikit saja bisa di pastikan nyawanya susah tidak ada lagi.


"An***g sialan!" umpat Valeria dengan kesal.


Valeria duduk di ranjang dan meminum teh panas yang dibawa pak Dev barusan. Beruntung kondisinya sudah pulih kembali membuat pak Dev dan lainnya sangat lega.


Valeria lalu menyuruh Ares keluar ia menutup mata mengingat kejadian tadi. Matanya menatap kalender di nakas dimana hari ini tepat tanggal 10 Juni.


Tanggal 10 Juni adalah tanggal yang sangat dibenci oleh Valeria karena setiap tanggal itu ia akan mengalami hal seperti ini akibat kejadian waktu dia diusir dari mansion tepat di tanggal yang sama.


~ SR Hotel ~


Sudah 3 hari berlalu setelah kejadian itu dan selama itu Valeria terus di teror dengan panggilan dan pesan Thomas tapi diabaikannya. Saat ini ia baru saja selesai bersiap untuk menghadiri pesta ulang tahun Kusumo Group.


Valeria menatap penampilannya di kaca dengan tatapan datar. Wajah dinginnya seperti gunung es apa lagi matanya yang tajam siap membunuh siapapun yang berani mengganggunya.


"Sebentar lagi kita akan bertemu mantan orang tuaku" ucap Valeria sambil tersenyum smirk.


❄❄❄❄❄


To be continue...................