
π»Kadang bersikap tak tahu lebih baik dari pada bersikap tahu tapi apa yang kita tahu malah membuat hati kita hancurπ»
.
.
.
.
Budi yang saat ini sedang melakukan meeting dengan perwakilan dari RH company, merasa sangat puas karena lagi-lagi ia membuat perusahaannya tambah berkembang pesat.
"Apa jadwalku selanjutnya Dion?" tanya Budi setelah selesai meeting.
"Jadwal tuan tidak ada lagi, hanya menandatangani beberapa berkas di perusahaan" ucap Dion sambil melihat jadwal Budi di iPad.
"Heeemmmm! Bawakan semua berkasnya ke butik istriku"
"Apa saya perlu menyuruh Manda untuk mengantarnya tuan"
Budi yang berjalan hingga di depan lift seketika berhenti. Ia lalu berbalik dan menatap Dion dengan tatapan tajam, Dion yang melihat tatapan tuannya hanya diam saja.
Bugh............
Satu tendangan kuat di kaki Dion dari Budi, Dion memaksa kakinya untuk tetap berdiri tegak meski ia merasakan sakit yang luar biasa saat ini.
Apa salah aku ya, kenapa tuan menendang kakiku, batin Dion dengan bingung.
"Apa kamu tahu kesalahanmu Dion?" tanya Budi dengan aura mengintimidasi.
"Maafkan saya tuan" ucap Dion sambil membungkuk.
"Kamu tahu siapa saja yang berhak masuk ke ruanganku selagi aku tidak ada" ucap Budi dengan suara dingin.
Dion yang sudah mengerti maksud Budi langsung meminta maaf. Karena ia sangat tahu jika ruangan kerja Budi hanya bisa di masuki oleh beberapa orang saja yaitu dirinya dan keluarga inti Budi.
"Sekali lagi maafkan saya tuan"
"Kali ini aku maafkan tapi tidak untuk kedua kali Dion"
"Terima kasih tuan"
"Heeemmm"
Keduanya lalu masuk ke dalam lift meninggalkan hotel tempat mereka meeting. Sepanjang jalan Budi terus melihat pergerakan saham perusahaannya di iPad.
"Bagaimana persiapan natal di keraton?" tanya Budi.
"Semuanya di urus oleh keluarga nyonya tuan"
"Heeemmm! Kamu ajak kekasihmu untuk datang bersama"
"Baik tuan" ucap Dion dengan senang.
"Bagaimana keadaan Valeria?" tanya Budi dengan wajah sedih.
"Keadaan nona muda sudah berangsur lebih baik tuan"
"Heeemmm"
Dion melirik Budi dari kaca spion ingin melihat reaksi tuannya. Ia tahu jika Budi merasa sangat bersalah karena sudah memukul Valeria.
Bahkan hingga kini ia belum juga meminta maaf atau bertukar satu kata pun dengan sang anak.
Aku ayah yang sangat jahat dan egois, batin Budi sambil menghembuskan napas dengan kasar.
Aku tahu tuan pasti merasa sangat bersalah atas kejadian waktu itu, batin Dion.
~ Arinta Butik ~
Tak lama mobil Budi sudah tiba di butik milik Arinta. Dion lalu turun dan membuka pintu untuk sang tuan, setelah itu keduanya segera masuk ke dalam butik.
"Selamat datang tuan" ucap para pelayan butik saat melihat Budi.
Budi dan Dion hanya menampilkan ekspresi datar tidak menjawab sapaan para pelayan. Keduanya lalu naik ke lift menuju lantai 3 bagian office butik.
Ting....
Lift telah sampai di lantai 3 dan seperti biasa kedatangannya akan di sambut oleh tim keamanan yang berjaga di depan pintu.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah melewati tahap pemeriksaan Budi dan Dion segera masuk ke dalam office Arinta. Budi lalu membuka pintu ruangan Arinta tanpa diketuk.
Arinta yang sedang melayani kliennya lalu mengarahkan pandangannya ketika pintu ruangannya di buka. Ia meminta permisi kepada kliennya untuk menyambut kedatangan suaminya.
"Mas" ucap Arinta dengan suara lembut.
"Apa aku menganggu sayang?" tanya Budi.
"Ngak mas lagian udah mau selesai juga"
"Hemmm"
Arinta dan Budi lalu berjalan menuju sofa dimana klien Arinta sedang duduk disana. Budi memilih duduk di sebelah sang istri setelah menyapa klien istrinya.
"Kalau sudah selesai aku akan menghubungi jeng Astrid nanti"
"Oke jeng aku tunggu ya"
"Iya jeng"
Arinta lalu menyuruh Ana untuk mengantar kliennya. Setelah itu ia lalu duduk di samping Budi yang sedang memeriksa beberapa email masuk di hpnya.
"Tumben mas kesini ngak beritahu dulu?" tanya Arinta.
"Kebetulan habis meeting mas ngak ada lagi kerjaan jadi sekalian aja mampir kesini"
"Mas udah makan"
"Sudah sayang"
"Ya udah aku selesain kerjaan aku dulu ya mas lalu kita pulang"
"Iya sayang"
~ Mansion Kusumo ~
Saat ini Valeria yang merasa tubuhnya sudah membaik memilih untuk berjalan-jalan di taman belakang. Sampai di taman belakang ia lalu duduk di kursi sambil melihat bunga mawar kesukaannya.
Saat melihat bunga kesukaannya Valeria memikirkan kejadian waktu di mall. Bagaimana bisa di cctv merekam dirinya saat dompet tersebut hilang waktu ia beranjak dari sana.
"Gue ingat banget waktu itu gue cuma megang dompet itu dan ngak ngambil, tapi kenapa pas gue jalan dompet itu juga ikut menghilang" gumam Valeria penuh tanda tanya.
Valeria terus memikirkan kejadian waktu itu tapi tetap saja ia tidak menemukan jawabannya.
Gue bakal nyari buktinya dan buktikan ke ayah dan ibu kalau gue itu ngak salah, batin Valeria.
~ Keraton Winata ~
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan hari ini adalah hari natal. Sedari pagi semua keluarga besar Winata sudah berkumpul di keraton.
Rencananya malam ini mereka akan mengadakan syukuran natal bersama di keraton Winata. Bukan hanya acara syukuran saja tapi dari pihak keraton Winata juga membagikan sembako gratis sebagai hadiah natal.
Semua warga dengan antusias ingin mendapat sembako gratis dari keraton Winata. Tak henti-hentinya mereka mengucap syukur dan mendoakan semoga Raden dan Kanjeng Ayu bersama keluarga selalu bahagia.
Tak berselang lama 2 mobil mewah memasuki kawasan keraton yang di jaga ketat. Setelah mendapat ijin akhirnya 2 mobil tersebut masuk ke pelataran keraton.
Saat pintu mobil terbuka ternyata yang datang adalah keluarga Kusumo. Budi masuk ke dalam keraton sambil merangkul pinggang istrinya dengan posesif.
"Selamat datang putri Arinta dan pangeran Budi" ucap penjaga menyapa keduanya.
"Iya" ucap Arinta sambil tersenyum manis.
"Selamat datang nona muda dan nona Bianca"
"Iya paman" ucap keduanya dengan serentak.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Valeria dan keluarganya lalu masuk ke dalam keraton untuk bercengkrama dengan keluarga besar mereka. Valeria yang masih merasa sakit di tubuhnya memilih duduk di taman samping keraton.
"Kak Valeria" ucap Natan sambil berlari menghampirinya.
"Hati-hati dek nanti jatuh" ucap Valeria dengan lembut.
"Kakak ngapain disini" ucap Natan saat tiba di depan Valeria.
"Duduk dulu" ucap Valeria sambil menunjuk kursi di sampingnya.
"Ka Valeria belum jawab pertanyaan Natan" ucap Natan bocah kelas 5 SD itu dengan mengemaskan.
"Kakak bosan aja di dalam dek" ucap Valeria sambil mencubit pipi Natan dengan gemas.
"Ihhh........sakit ka" dengus Natan dengan wajah cemberut.
"Hehehe..........maaf dek habisnya pipi Natan sangat mengemaskan pengen di cubit terus" ucap Valeria sambil tertawa.
"Cih! Nanti Natan laporin ke ayah" ucap Natan sambil menatap tajam Valeria.
Bukannya takut dengan tatapan tajam Natan malah Valeria terkekeh melihat tatapan Natan yang menurutnya mengemaskan. Keduanya lalu bercanda tawa di sana tak perduli dengan acara kumpul keluarga.
Berbeda dengan Valeria yang memilih menjauh dari keramaian, Bianca sedari tadi terus berdiri di samping eyang putri mencari perhatian dari tamu yang hadir.
Sandra yang melihat kedekatan Bianca dan sang eyang merasa sangat cemburu karena lagi-lagi Bianca lebih unggul darinya. Sejak Bianca menemani eyang putri ke acara sosialisasi kedekatan keduanya sudah seperti perangko.
Bahkan tak jarang eyang putri selalu membawa Bianca ke setiap acara yang di hadirinya. Arinta yang melihat kedekatan keduanya membiarkan saja selagi tidak mempermalukan nama keluarga Kusumo.
"Napa thu muka" ucap Edo sambil menggoda Sandra yang sedari tadi jutek.
"Lagi bete" ucap Sandra ketus.
"Jangan galak-galak jadi cewek nanti ngak ada yang mau loh"
"Biarin mending ka Edo pergi deh dari pada bikin gue tambah kesel"
"Ngak mau ah kakak pengen nemenin adik kakak yang paling cantik ini"
"To the point aja ka. Gue udah tahu kok kakak ada maksud terselubung" ucap Sandra dengan kesal.
"Hehehe.........tahu aja loe" ucap Edo sambil terkekeh.
Sandra memutar malas matanya melihat tampang sang kakak yang menurutnya sangat menyebalkan. Meskipun begitu ia tetap melakukan apa yang di minta sang kakak seperti saat ini.
Sandra harus berkenalan dengan gadis incaran Edo yang sudah di incar dari tadi. Setelah mendapat apa yang ia mau Edo segera pergi meninggalkan Sandra sendiri disana.
"Dasar sepupu sialan" umpat Sandra dengan kesal.
"Kenapa loe?" tanya Bianca yang tiba-tiba datang.
"Urus aja urusan loe ngak usah ikut campur urusan gue" ucap Sandra dengan emosi.
"Terserah loe" ucap Bianca dengan ketus.
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, sesuai jadwal jika malam ini akan di adakan acara natal bersama di keraton Winata segera di mulai.
Acara demi acara sudah selesai dengan sukses dan lancar. Saat ini keraton Winata sedang menjamu makan malam untuk para tamu undangan.
Valeria yang merasa bosan memilih naik ke panggung untuk memainkan piano. Dentingan tuts piano mulai terdengar dengan merdu membuat semua orang di sana mengalihkan pandangannya ke sumber bunyi.
Valeria memainkan sebuah musik instrumen sedih dari Yiruma yang berjudul Kiss The Rain. Dentingan tuts piano terdengar sangat indah membuat semua yang mendengarnya merasakan kesedihan.
Alunan bunyi piano yang dimainkan oleh Valeria saat ini seolah menggambarkan suasana hatinya yang sedang sedih. Hanya dengan piano Valeria bisa mengekspresikan perasaannya saat ini.
Tes...........
Air mata Arinta menetes mendengar permainan piano sang anak. Ia sadar jika selama seminggu ini ia tidak ada waktu untuk melihat keadaan sang anak yang sedang sakit.
Mata Arinta bertatap dengan mata Budi seakan memberitahu jika saat ini sang anak sedang melampiaskan emosinya lewat permainan piano.
Apa yang sudah ku lakukan kenapa aku bisa lupa dengan masalah anakku sendiri, batin Budi penuh penyesalan.
βββββ
To be continue...........
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€