
π»Mengalah bukan berarti kamu lemah tapi mengalah membuktikan bahwa kamu lebih baik dari padanyaπ»
.
.
.
.
Valeria terus menatap Amel dengan tatapan datar tak ada senyum sedikit pun. Amel yang melihat tatapan datar dan penuh wibawa dari Valeria menebak jika Valeria berasal dari kalangan atas.
"Apa masih capek?" tanya Valeria.
"15 menit lagi" ucap Amel.
"Heeemmm"
Valeria memilih duduk sambil menunggu **coach**nya melepas lelah. Tak lama ada 3 murid cowok yang menghampiri Amel dan Valeria saat melihat wajah cantik Valeria sedari tadi.
"Hay cewek. Loe murid baru ya" ucap salah satu cowok dari 3 cowok tersebut yang bernama Juan.
"Jangan ganggu latihan kami. Mending kalian latihan sana dengan coach kalian" ucap Amel dengan suara tegas.
"Woww.........ada coach baru guys" ucap Deni dengan senyum menggoda.
"Boleh kenalan ngak coach?" tanya Aris sambil tersenyum manis.
"Pergi ke tempat latihan kalian sana" ucap Amel dengan suara tinggi.
"Jangan galak-galak coach nanti cantiknya berkurang loh" ucap Deni sambil terkekeh.
"Kalian pergi ngak dari sini sekarang" bentak Amel dengan emosi.
"Coach makin cantik aja deh kalau lagi marah" ucap Aris sambil mencolek dagu Amel.
"Kamu dimana sopan santunmu! Hah!" bentak Amel sambil menunjuk Aris.
Ketiga murid itu malah tertawa melihat wajah Amel yang merah padam. Amel yang ingin memukul mereka menahan emosinya karena tak ingin kehilangan pekerjaannya di sini.
Amel tahu bahwa 3 orang di depannya adalah anak orang kaya. Di lihat dari pakaian dan barang yang mereka pakai saat ini.
"Ckk! Sampah" cibir Valeria yang sedari tadi melihat kelakuan 3 orang tersebut.
"Apa lo bilang? Sampah?" tanya Juan dengan emosi saat mendengar cibiran Valeria barusan.
Valeria menatap Juan dengan datar tidak ada ketakutan sama sekali. Melihat tatapan Valeria yang seperti mengejeknya seketika Juan menjadi emosi.
"Sepertinya loe musti di kasih tahu siapa yang paling berkuasa disini" ucap Juan dengan rahang yang mengeras.
"Emang loe siapa disini. Kita sama-sama murid di perguruan ini" ucap Valeria dengan suara dingin.
"Loe ngak tahu siapa gue" ucap Juan dengan sombong sambil menunjuk dirinya.
"Emang penting buat gue harus tahu siapa loe" ucap Valeria dengan santai.
"Minta di hajar ni cewek" ucap Aris yang ikut emosi mendengar ucapan Valeria.
"Kalian bertiga mending pergi ke tempat latihan kalian. Jangan buat keributan disini" ucap Amel dengan suara tinggi.
"Tutup mulut loe perempuan tua" bentak Juan yang semakin emosi.
Amel dan Valeria kaget saat mendengar ucapan Juan barusan yang tidak menghargai orang lain. Karena suara mereka yang sangat berisik akhirnya semua murid yang sedang berlatih menghentikan latihan mereka dan melihat perdebatan mereka.
"Kamu" tunjuk Amel dengan emosi.
"Coach mending diam aja dari pada kehilangan pekerjaan coach saat ini" bentak Aris.
Amel seketika diam tidak berkutik lagi saat di hubungkan dengan pekerjaannya. Melihat hal itu Valeria merasa kecewa karena menurutnya Amel tidak protes saat harga dirinya yang di injak-injak.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Bro gimana kalau kita beri pelajaran ke dua perempuan ini" bisik Deni di telinga Juan.
"Boleh juga ide loe" ucap Juan sambil tersenyum sinis.
"Berhubung ini perguruan gimana kalau kita adu kemampuan kita untuk melihat siapa yang paling kuat disini" ucap Juan.
"Cih! Buang-buang tenaga saja" ucap Valeria dengan sinis.
Valeria lalu membalikan tubuhnya berlalu pergi karena sudah tidak mood lagi untuk berlatih. Melihat Valeria pergi Juan semakin emosi karena Valeria sudah membuat harga dirinya jatuh di depan murid perguruan Raya.
"Bilang aja loe takut" ucap Juan dengan mengejek.
"Pastilah bro cewek kayak dia mana kuat berlatih di sini, palingan kalau nangis sembunyi di ketek ibunya" ucap Aris sambil tertawa.
"Anak mami mending ngak usah berlatih di sini" ucap Deni.
"Eits......jangan bilang gitu ntar dia beneran lapor maminya deh" ucap Aris.
"Laporin aja palingan ibunya perempuan lemah yang tak berdaya" ucap Juan dengan cemooh.
Seketika langkah Valeria terhenti saat mendengar ucapan Juan barusan. Ia tidak perduli jika ada orang yang mengejeknya tapi tidak dengan kedua orang tuanya.
Valeria berbalik menatap ketiganya dengan tatapan tajam. Ketiganya seketika merinding melihat tatapan tajam Valeria bahkan auranya membuat mereka sangat di intimidasi.
"Loe semua boleh hina dan ejek gue tapi jangan pernah hina kedua orang tua gue" bentak Valeria dengan suara tinggi.
"Val sudah tenangkan diri loe jangan ladeni ucapan ketiganya" ucap Amel menahan Valeria yang mulai emosi.
"Lepas gue bakal buat perhitungan sama mereka" ucap Valeria dengan tatapan membunuh.
"Ckk! Cewek lemah belagu banget" cibir Juan.
"Mending loe bertiga bubar deh sebelum dia patahin tulang loe semua" ucap Amel memberi peringatan.
"Diam loe perempuan sialan ngak usah sok ikut campur deh!" bentak Aris.
"Anak mami pulang aja sana ke ketiak ibu loe buat ngadu jangan disini" ucap Deni dengan sinis.
"Gue pengen lihat ibu loe apa selemah itu kayak anaknya, tapi kalau cantik boleh deh gue kasi ke tukang kebun gue" ucap Juan sambil tertawa.
Kesabaran Valeria seketika hilang saat mendengar ucapan Juan yang merendahkan nama sang ibu. Valeria lalu memukul tangan Amel dengan kuat sampai cekalannya terlepas.
Bugh........bugh........bugh........bugh.........bugh...
Tanpa berlama-lama pukulan Valeria sudah mendarat di tubuh Juan. Juan yang tak siap di pukul Valeria seketika jatuh di lantai karena pukulan Valeria yang sangat kuat.
Valeria seperi kesetanan memukul Juan dengan brutal tanpa memberinya kesempatan. Melihat temannya di pukul Aris dan Deni lalu maju untuk membantu Juan.
Bukannya membantu malah keduanya juga di pukul habis-habisan oleh Valeria. Semua murid yang melihat kejadian itu tidak berniat untuk melerai mereka karena takut dengan keganasan Valeria.
Krekk............
Arrgghhh...........
Teriak ketiganya saat tangan mereka di patahkan Valeria tanpa berperasaan. Bunyi patah tulang dan pukulan terdengar nyaring di dalam ruang latihan mua thay.
"Valeria hentikan" teriak Rendi yang baru saja datang.
Ia tadi sepulang dari tempat magang memilih singgah di perguruan ingin mengambil bukunya yang tertinggal di loker saat kemari minggu lalu.
Tapi saat datang ia malah di kejutkan oleh aksi Valeria yang sedang memukul 3 orang murid cowok dengan brutal. Bahkan ketiga orang itu sudah tidak bisa bangun lagi karena tubuh mereka serasa remuk redam.
"Cukup Valeria tahan emosi loe" bentak Rendi sambil mencekal tangan Valeria.
"Lepasin gue lepasin" teriak Valeria sambil memberontak.
Tak ada pilihan lain lagi selain menelpon Bagas untuk menghentikan Valeria. Rendi dengan susah payah mengambil hpnya dan langsung menghubungi Bagas, beruntung pada dering pertama Bagas langsung menjawab panggilannya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Dek" ucap Bagas dari seberang.
^^^"Kangmas" ucap Valeria dengan gugup.^^^
"Apa yang kamu lakukan Valeria Anastasia Kusumo" ucap Bagas penuh penekanan.
Ia sempat melihat Valeria yang terus memberontak dan badan adiknya yang ada darah. Tanpa sengaja ia juga melihat ketiga orang cowok yang terbaring lemah di lantai saat Rendi mengarahkan kamera tadi.
^^^"Itu" ucap Valeria dengan menunduk tak berani mengangkat kepalanya.^^^
"Tenangkan dirimu kamu kangmas mau bicara sama Rendi"
^^^"Iya kangmas"^^^
Rendi lalu mengambil hpnya dan memberi isyarat kepada Amel untuk membawa Valeria pergi dari sana. Ia juga menyuruh beberapa murid untuk membawa ketiga orang tadi ke ruang kesehatan.
Rendi masih mengobrol dengan Bagas mengenai masalah barusan. Ia di beri perintah oleh Bagas untuk tidak membawa masalah ini sampai ke telinga orang tuanya.
Setelah itu Rendi segera mematikan panggilannya dan menanyakan apa yang terjadi dari awal. Tak lupa juga ia mengambil rekaman cctv biar lebih jelas mengetahui akar dari masalah ini.
"Loe pulang aja biar masalah ini gue yang urus" ucap Rendi saat menghampiri Valeria.
"Tapi ka bagaimana dengan kangmas?" tanya Valeria dengan gugup.
"Segitunya takut loe sama Bagas" ucap Rendi sambil terkekeh.
"Kakak kan tahu bagaimana saat kangmas marah"
"Hahahaha...........ya gue tahu bahkan kalian berdua itu duplikat banget kalau lagi emosi" ucap Rendi sambil tertawa.
"Ka Rendi" ucap Valeria dengan tatapan tajam.
"Oke oke jangan kasi gue tatapan itu soalnya seram banget"
"Hemmm"
"Loe pulang aja masalah ini gue yang urus"
"Benar ka?" tanya Valeria dengan mata berbinar.
"Heeemm! Serahin sama gue" ucap Rendi sambil mengelus kepala Valeria dengan lembut.
"Makasih ka" ucap Valeria dengan tulus.
"Sama-sama udah sana loe balik" ucap Rendi sambil tersenyum manis.
"Iya ka bye"
"Hati-hati ya Val"
"Iya ka"
Valeria segera beranjak dari sana, melihat Valeria sudah pergi tatapan Rendi yang tadinya hangat berubah menjadi datar dan dingin. Amel yang melihat perubahan Rendi menelan salivanya dengan susah.
Seram banget muka Rendi, batin Amel dengan takut.
Hari itu Rendi mengurus tuntas masalah Valeria hingga selesai. Awalnya ketiga orang tua dari anak yang di hajar Valeria tidak mau berdamai, mereka memilih untuk membawa masalah ini ke pihak berwajib.
Tapi saat Rendi menunjukkan cctv sebelum kejadian mereka mengurungkan niatnya, bahkan saat tahu siapa Valeria mereka seketika memilih mundur dan menutup masalah ini.
Bahkan Rendi juga membuat mereka tidak berbicara masalah ini ke orang lain. Setelah semuanya beres Rendi segera mengirim pesan kepada Bagas kalau semuanya sudah aman dan beres.
~ Oxford, Inggris ~
Setelah mendapat pesan dari Rendi tentang masalah adiknya Bagas sudah bisa bernapas dengan lega. Sejak tadi ia sangat kepikiran dengan masalah yang di buat oleh adiknya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Ia sangat tahu jika sampai kedua orang tuanya tahu bisa di pastikan keduanya akan mengamuk. Bagas yang sudah melihat video cctv dari Rendi tak mengambil pusing masalah ini lagi.
Bagas tahu dalam masalah ini Valeria ngak bersalah tapi tidak dengan orang tuanya. Menurut mereka tidak boleh ada hal sekecil apapun yang mencoreng nama baik keluarga.
"Kangmas ngak mau kamu di pukul sama ayah dek, karena ayah itu orangnya tempramental jika sudah sangat emosi" ucap Bagas.
Tanpa Bagas tahu jika Valeria sudah merasakan bagaimana kekejaman Budi saat emosi. Jika saja ia tahu bisa di pastikan saat itu juga ia akan menghancurkan semuanya bahkan kedua orang tuanya sekalipun.
Bagas lalu menelpon Valeria ingin memberitahu sang adik untuk tidak memikirkan masalah ini lagi.
"Halo kangmas" ucap Valeria dengan wajah takut dari seberang.
Bagas tersenyum karena tahu saat ini Valeria pasti sedang takut. Bukan takut kepada kedua orang tua mereka melainkan dengan kemarahan Bagas.
^^^"Kenapa nunduk! Hemm?" tanya Bagas dengan suara lembut.^^^
"Itu Valeria takut kangmas marah"
^^^"Angkat kepalamu dek ngak sopan kalau lagi ngomong sama orang kamu ngak lihat mukanya" ucap Bagas dengan suara tegas.^^^
Valeria seketika mengangkat kepalanya dan melihat wajah Bagas yang tak ada senyum di layar hpnya. Jantungnya berdetak dengan cepat menunggu apa yang akan di katakan oleh Bagas mengenai masalah tadi.
^^^"Kenapa kamu ngak robek aja mulut mereka dek" ucap Bagas dengan suara dingin.^^^
"Hah! Maksud kangmas" ucap Valeria dengan kaget.
^^^"Kamu tahu maksud kangmas dek"^^^
"Maaf kangmas"
^^^"Lain kali robek mulut mereka jika berbicara seperti itu"^^^
"Kangmas ngak marah" ucap Valera dengan wajah berseri-seri.
^^^"Apa adek mau kangmas marah?" tanya balik Bagas.^^^
"Ngak mau kangmas" ucap Valeria dengan manja.
^^^"Hehehehe............kangmas ngak marah dek, tapi lain kali kontrol emosimu jangan sampai kamu buat masalah kayak gini lagi dan ayah sama ibu tahu"^^^
"Apa ayah dan ibu tahu kangmas" ucap Valeria dengan wajah takut.
^^^"Kali ini kamu beruntung dek. Semuanya sudah di urus sama Rendi jadi jangan mikirin masalah ini lagi"^^^
"Yang benar kangmas"
^^^"Hemmmm"^^^
"Terima kasih kangmas"
^^^"Jangan di ulangi lagi dek, kangmas ngak mau kamu di pukul sama ayah dan ibu"^^^
Raut wajah Valeria seketika berubah mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Tak mau membuat Bagas curiga ia segera merubah raut wajahnya.
"Iya kangmas"
^^^"Ya sudah tidur sana dan belajar yang rajin dek"^^^
"Iya kangmas miss you"
^^^"Miss you too"^^^
"Bye kangmas"
^^^"Bye dek"^^^
Bagas lalu mematikan panggilannya. Ia bisa bernapas dengan lega setelah menitipkan sang adik ke Rendi untuk di jaga selama ia belum pulang.
"Miss you so much my lovely sister" gumam Bagas sambil menatap pemandangan kota Oxford dari apartemennya.
βββββ
To be continue...............
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€