
π»Ingatlah dari mana asalmu karena setinggi-tingginya statusmu kamu tidak bisa melupakan dari mana asalmuπ»
.
.
.
.
Arinta pulang ke mansion dengan amarah yang memuncak. Saat tiba di mansion ia keluar dari mobil dan membanting pintu dengan kuat, emosinya sudah tidak bisa di tahan lagi setelah menerima telpon dari tempat les sang anak.
Kamu sudah berani menipu ibu Valeria, batin Arinta yang sudah sangat emosi.
Brak............
Pintu kamar Valeria di buka dengan kuat hingga mengagetkan Valeria yang sedang berbaring. Tubuh Valeria seketika gemetar melihat tampang sang ibu yang terlihat sangat menyeramkan saat ini.
"I...bu" ucap Valeria dengan terbata-bata karena takut.
Plak..........
Tanpa berbicara satu katapun Arinta langsung melayangkan tamparan di pipi sang anak. Valeria kaget bukan main karena baru kali ini ia mendapat tamparan yang begitu kuat dari sang ibu.
"Puas kamu permalukan ibu Valeria" bentak Arinta dengan suara tinggi.
"Ib......u hiks hiks hiks........apa ma..ksud ibu" ucap Valeria sambil menangis.
"Selama ini kenapa kamu tidak mengikuti les seni mengambar Valeria" bentak Arinta dengan suara mengelegar.
Tubuh Valeria mematung mendengar ucapan Arinta barusan, otaknya blank tidak bisa berkata apa-apa karena sang ibu sudah mengetahui perihal ia tidak pernah lagi mengikuti les melukis.
Melihat sang anak yang hanya diam saja emosi Arinta kembali menjadi. Arinta lalu menarik lengan Valeria dari ranjang hingga terjatuh di lantai.
Brugh........
Valeria meringis merasakan sakit di lututnya yang bertemu dengan lantai. Arinta tak perduli lagi dan menarik Valeria keluar dari kamarnya, Valeria terus menangis meminta ampun tapi tidak di perdulikan oleh sang ibu.
"Hiks hiks hiks........ampun bu" mohon Valeria sambil menangis.
Bagas yang baru pulang sekolah dan mendengar tangisan sang adik segera berlari naik ke lantai dua. Tiba disana ia kaget melihat Valeria yang sedang ditarik dengan kasar oleh ibunya.
"Apa yang ibu lakukan" teriak Bagas dengan suara tinggi.
"Bi Susi" panggil Arinta tak memperdulikan ucapan Bagas.
"Iya nyonya" ucap bi Susi.
"Ambil rotan di kamarku" ucap Arinta.
"Hiks hiks........ampun bu........hiks hiks........maafkan aku bu........hiks hiks" pinta Valeria mengatup tangannya sambil menangis histeris.
"Ibu" teriak Bagas kaget mendengar ucapan sang ibu.
"Kamu diam Bagas! Adikmu ini harus di beri pelajaran karena sudah berani berbohong" ucap Arinta menatap tajam Bagas.
"Hiks hiks......bu aku minta maaf........hiks hiks hiks......aku mohon ampun bu" ucap Valeria sambil memohon
"Tapi ngak harus di pukul juga bu" ucap Bagas yang sangat kasihan pada sang adik.
"Cukup ibu tidak mau kamu ikut campur Bagas" bentak Arinta pada Bagas.
"Hiks hiks..........kangmas" ucap Valeria sambil menggelengkan kepalanya untuk tidak membantah sang ibu.
Bagas sangat kasihan melihat sang adik yang masih memikirkan dirinya. Bagas tahu bagaimana sifat sang ibu yang tidak suka di bantah jika sudah emosi.
Tak lama bi Susi datang sambil membawa rotan di tangannya. Arinta mengambil rotan tersebut dan langsung memukul kedua betis Valeria.
Crash.....crash...crash....crash....crash
Aargggh..........
Bunyi rotan menggelegar di lantai dua bercampur teriakan kesakitan Valeria.
Bagas menangis melihat sang adik yang sangat kesakitan, tak bisa melihat kesakitan sang adik lagi ia berlari dengan cepat memeluk tubuh Valeria.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Hiks hiks hiks..........cukup bu kasihan adek" ucap Bagas sambil menangis.
"Ampun bu........hiks hiks hiks.......ampun bu Valeria salah.........hiks hiks" ucap Valeria berderai air mata.
Hati Arinta sakit melihat pemandangan di depannya, ibu mana yang tak sedih melihat sang anak menangis tersedu-sedu. Ia tahu ia salah karena tak bisa menahan emosinya.
"Bawa adekmu ke kamar" perintah Arinta membuang muka ke arah lain.
Bagas memapah Valeria dengan pelan ke kamarnya. Bianca yang melihat semua kejadian itu tersenyum puas karena sudah berhasil membuat keluarga itu terpecah belah.
Ini baru permulaan tante, aku pastikan keluarga kalian akan hancur, batin Bianca sambil tersenyum penuh arti.
Di dalam kamar Arinta melihat kedua tangannya yang gemetaran. Baru kali ini ia memukul sang anak tanpa mendengar penjelasan Valeria dengan tidak berperasaan.
"Aku memang bukan ibu yang baik........hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis.
Penyesalan memang datang paling akhir, ia yang tadi di selimuti emosi tidak memikirkan sang anak hanya ingin meluapkan semua amarahnya.
Budi yang baru pulang dari kantor mengerinyitkan keningnya melihat sang istri yang menangis di sofa. Budi berjalan mendekat dan langsung duduk di samping Arinta.
"Mas.........hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis.
"Kamu kenapa sayang apa yang terjadi?" tanya Budi dengan suara lembut.
"Aku ibu yang jahat mas..........hiks hiks hiks"
Arinta terus menangis sambil memeluk tubuh Budi, ia terus menumpahkan semua penyesalannya di dalam dekapan hangat sang suami.
Budi membiarkan sang istri menumpahkan semua masalahnya, biarlah sebentar baru ia menanyakan apa yang terjadi. Setelah puas menumpahkan semua rasa sesak di dadanya akhirnya Arinta berhenti menangis.
"Cerita sama mas apa yang terjadi" ucap Budi sambil mengelap air mata Arinta.
Arinta menceritakan semua yang terjadi dari ia yang mendapat telpon di butiknya sampai ia memukul Valeria. Budi yang tahu sifat sang istri jika sudah sangat emosi hanya bisa diam.
"Aku tidak membela siapapun disini sayang tapi saat ini kamu dan Valeria memang sama-sama salah"
"Aku tahu mas"
"Coba bicara empat mata dengan Valeria biar bagaimanapun kamu ibunya"
"Iya mas"
"Nanti besok baru kita bicarakan semuanya biar selesai"
"Iya mas terima kasih"
"Heeemmmm"
Berbeda dengan di dalam kamar sang ibu saat ini di dalam kamar Valeria, ia masih terus menangis mengingat kejadian tadi. Ia akui memang ini kesalahannya tapi ia tak menduga akan mendapat perlakuan seperti ini dari sang ibu.
"Udah ya dek jangan nangis lagi" ucap Bagas membujuk sang adik.
"Kenapa ibu kayak gitu kangmas.......hiks hiks........apa ibu ngak sayang lagi sama Valeria........hiks hiks"
"Jangan ngomong kayak gitu dek karena ibu itu sangat sayang sama kita"
"Tapi tadi kangmas lihat sendirikan bagaimana perlakuan ibu"
"Dek ibu memang salah karena memukul adek tapi ini semua karena kesalahan adek juga"
"Iya Valeria tahu kangmas.........hiks hiks hiks"
"Besok minta maaflah sama ibu ya biar bagaimanapun ibu adalah ibu yang melahirkan kamu dek" ucap Bagas dengan lembut.
"Baik kangmas"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Tatapan mata yang tadinya hangat seketika berganti dengan tatapan dingin.
Meski ia memaafkan sang ayah dan menerima kehadiran Bianca di mansion ini, tapi ia tidak bisa mengakui keberadaan Bianca yang adalah adik tirinya.
"Kangmas" ucap Bianca dengan gugup.
"Hemmmm"
"Itu bagaimana keadaan Valeria?" tanya Bianca dengan gugup.
"Seperti yang loe lihat tadi tapi sekarang dia udah agak mendingan"
"Syukurlah kangmas" ucap Bianca sambil tersenyum manis.
"Hemmmm"
Bagas segera pergi dari hadapan Bianca dengan diam. Melihat hal tersebut senyum Bianca seketika sirna digantikan tatapan sinis dan benci.
Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa hari sudah berganti. Valeria yang masih merasakan sakit di betisnya memilih tidak ke sekolah hari ini dan beristirahat di kamarnya.
Tak lama pintu kamarnya terbuka dan masuklah Arinta sambil membawa nampan sarapan untuk Valeria. Tubuhnya seketika gemetar melihat sang ibu yang masuk ke dalam kamarnya.
"I......bu" ucap Valeria dengan gugup.
Hati Arinta sakit melihat tatapan mata sang anak yang gemetar dan takut. Ia tahu pasti Valeria masih trauma dengan kejadian kemarin.
"Ibu bawa sarapanmu" ucap Arinta menaruh sarapan di meja samping ranjang.
Valeria diam tidak berbicara satu katapun, ia hanya menunduk tidak ingin melihat wajah sang ibu yang dipikirnya masih emosi seperti kemarin.
Valeria tiba-tiba kaget mendapat usapan lembut di kepalanya, ia mengangkat mata dan langsung bertatap dengan mata Arinta yang sudah berderai air mata.
"Maafin ibu sayang.........hiks.........maafin ibu......hiks hiks"
Air mata Veleria seketika tumpah merasa sedih, ia memeluk sang ibu dengan erat sambil menangis seakan memberitahu jika ia sangat takut dan kesakitan.
"I..bu......hiks hiks hiks" ucap Veleria sambil menangis di pelukan Arinta.
"Maafin ibu sayang maaf"
"Ibu ngak salah Valeria yang salah karena sudah berbohong"
"Jangan diulangi lagi ya sayang karena ibu tidak suka dengan pembohong"
"Iya bu Valeria mengaku salah"
Kedua ibu dan anak itu saling memaafkan satu sama lain. Tak lupa juga Arinta menanyakan apa penyebab Valeria berbohong dan apa yang sang anak mau.
Hari itu Valeria memberitahu semua yang tidak disukainya dan yang ia sukai. Tak mau memaksa sang anak mengikuti keinginannya akhirnya Arinta memutuskan mengikuti keinginan Valeria untuk tidak mengikuti les seni mengambar.
Arinta juga menerima permintaan sang anak yang memintanya untuk mengijinkan Bianca terus mengikuti kursus seni dan desain seperti sebelumnya.
Bianca yang mendengar semua pembicaraan keduanya mengepal tangannya dengan emosi. Lagi-lagi ia gagal karena tak berhasil membuat perpecahan antara ibu dan anak itu.
"Kalau begitu sepertinya aku harus membuat tante Arinta menyukaiku lewat desain yang akan aku buat" ucap Bianca sambil tersenyum sinis.
2 Tahun Kemudian
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat semenjak kejadian Arinta memukul Valeria untuk pertama kalinya. Mulai saat itu Valeria tidak pernah lagi membohongi sang ibu mengenai semua kegiatannya.
Tak terasa juga Valeria dan Bianca sudah masuk sekolah menengah pertama atau SMP. Awalnya Valeria yang sejak SD berbeda sekolah dengan Bianca ternyata sekarang mereka satu sekolahan.
Tak ada yang tahu jika Valeria dan Bianca adalah saudara sedarah ayah. Semua orang tahu jika Bianca adalah sepupu Valeria anak dari kerabat ayah Valeria.
Bianca yang sudah merencanakan untuk mengambil hati Arinta akhirnya bisa tersenyum puas. Pasalnya sejak Bianca menunjukkan kemampuannya dalam mendesain Arinta langsung menyukai Bianca.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Menurutnya semua rancangan yang di buat oleh Bianca sangat sesuai dengan seleranya. Bahkan ia dengan khusus membuat ruangan studio buat Bianca di mansion.
Valeria yang melihat kedekatan sang ibu dan Bianca sangat senang. Pasalnya ia sangat suka jika merasa bisa hidup dalam keluarga yang harmonis meski berbeda ibu.
Tanpa semua orang tau jika rancangan Bianca adalah hasil pemikiran ide-ide dari Valeria. Valeria yang polos dan baik hati dengan senang hati memberi masukan tentang ide-ide desain yang di buat oleh Bianca.
~ SMP Kencana ~
Saat ini Valeria sedang berada di dalam kelas 7.1 bersama sahabatnya dari SD yaitu Sari dan Tika. Ternyata banyak teman sekelasnya dari SD yang masuk ke SMP Kencana, karena SMP kencana adalah salah satu SMP terfavorit di Solo.
"Loe ngapain Val?" tanya Sari.
"Biasa lagi baca buku nih" ucap Valeria sambil menunjukan buku yang sedang ia baca.
"Ngak bosan yah loe baca buku tiap hari"
"Ngaklah kan membaca itu bisa menambah ilmu"
"Bosan gue dengar kata-kata itu tiap hari" ucap Sari sambil berlalu pergi.
Valeria hanya menggelengkan kepalanya melihat sang sahabat yang sudah pergi. Tak lama temannya Rian yang dulu satu SD menghampirinya.
"Val" ucap Rian.
"Hemmm" deham Valeria dengan wajah datar.
"Entar jadi kan kerja kelompok buat tugas fisika"
"Jadi dong tapi kerjanya dimana"
"Di cafe depan sekolah aja"
"Ide bagus" ucap Valeria sambil tersenyum tipis.
"Hemmm"
Rian lalu pergi dan memberitahu teman sekelompoknya untuk mengerjakan tugas kelompok setelah pulang sekolah nanti.
Tanpa Valeria sadari ternyata Rian sudah menaruh perasaan lebih kepada Valeria semenjak mereka masih di kelas 5 SD.
Entah kenapa saat melihat Valeria perasaan hangat muncul di hatinya. melihat Valeria yang bersikap datar kepada siapapun yang mendekatinya, membuat rasa penasaran di hatinya semakin menjadi.
"Gue semakin tertarik sama loe Val" gumam Rian dengan suara pelan.
Berbeda dengan di kelas Valeria saat ini Bianca yang juga berada di kelasnya yaitu 7.4 sedang memamerkan barang mewahnya. Bianca yang mempunyai sifat sombong sering kali memamerkan barang-barang yang di pakainya.
"Gila loe Bianca sumpah jam loe bagus banget" ucap Riri teman sebangku Bianca.
"Ya pasti dong lagian ini kan jam mahal" ucap Bianca dengan sombong.
"Dapet dari mana sih loe jam sebagus ini" tanya Kelly.
"Dari tante Arinta" ucap Bianca.
"Wah gila! Loe punya tante yang tajir apa lagi kaya dan juga statusnya itu bangsawan coy" ucap Riri dengan decak kagum.
"Ya iyalah kan secara gue itu keponakan tersayangnya" ucap Bianca dengan suara agak keras.
Ia sengaja mengeraskan suaranya agar bisa di dengar oleh sepupunya dari pihak Arinta. Sandra yang tak lain anak dari Raden Aji dan Wina menahan rasa kesalnya saat mendengar ucapan Bianca.
Ia tak tahu jika ternyata Bianca adalah saudara tiri sepupunya dan hanya tahu ia anak dari keluarga Budi saja. Sandra sangat iri akan kedekatan Bianca dengan Arinta tantenya karena Arinta yang biasa memberikan barang mewah kepada Bianca.
Awas ya loe Bianca gue bakal hancurin loe suatu saat, batin Sandra yang merasa iri.
βββββ
To be continue.............
Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan ratingnya yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€