Love Struggle

Love Struggle
Chapter 152



🌻Menghindar bukan karena benci, diam bukan karena tidak suka, namun itulah cara orang yang sabar disaat ia kecewa🌻


.


.


.


.


Chloe dan Xavier lalu pamit pergi karena mengkhawatirkan Xander. Sedangkan Albert dan Thomas beranjak keluar membahas apa yang akan mereka lakukan nanti malam.


Valeria lalu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam ruangan rawat David. Wajahnya seketika berubah saat di dalam kamar mandi menahan suaranya agar tak keluar jika saat ini ia tengah merasakan sakit di bagian perut.


"Sakit banget perut gue" gumam Valeria dengan wajah semakin pucat.


Tok..........tok............tok...........


"Honey kamu didalam?" tanya Thomas sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya honey perutku sakit" ucap Valeria dari dalam.


"Aku pergi dulu bersama Albert honey. Kalau kamu capek kamu bisa pulang lebih dulu"


"Heeemnmm"


Setelah 10 menit kepergian suaminya, Valeria memaksa untuk keluar dari kamar mandi setelah memakai makeup untuk menutupi wajahnya yang semakin pucat.


"Val" panggil Mira.


"Gue pulang dulu karena bentar lagi gue ada meeting"


"Oke Val. Makasih ya udah jenguk anak gue"


"Heemmm"


Valeria segera keluar dan langsung di sambut oleh Rehan dan dokter Lauren setelah tadi ia mengirim pesan ke Rehan saat masih berada di dalam kamar mandi.


"Nyonya" ucap dokter Lauren dengan wajah panik.


"Helikopter?" tanya Valeria dengan suara lemah.


"Sudah siap master" jawab Rehan.


"Nyonya apa sebaiknya kita periksa saja keadaan nyonya disini" bujuk dokter Lauren.


"Apa loe ngak punya otak! Loe lupa rumah sakit ini punya siapa dan pastinya suami gue bakalan tahu jika gue di periksa disini" hardik Valeria.


"Tapi lebih baik tuan tahu nyonya. Saya takut nyonya kenapa-napa" ucap dokter Lauren dengan cemas.


"Gue ngak butuh pendapat loe sialan!" bentak Valeria.


"Maaf nyonya"


Valeria berlalu menuju lift sambil menahan rasa sakit di perutnya. Ketiganya lalu naik ke helikopter dan beranjak pergi menuju penthouse.


~ Kingdom Apartment ~


Sampainya di penthouse dokter Lauren segera memeriksa keadaan Valeria di dalam kamar. Valeria berbaring di atas ranjang dengan tubuh lemah tak bertenaga.


"Nyonya apa anda bisa bangun ke kemar mandi?" tanya dokter Lauren.


"Untuk apa?" tanya balik Valeria.


"Ini hanya perkiraan saya saja nyonya. Saya ingin memastikan apa perkiraan saya benar atau salah"


"Heemmm"


Sebelum masuk ke kamar mandi dokter Lauren memberikan sebuah kotak ke Valeria. Mata Valeria memicing melihat kotak tersebut dan langsung menatap dokter Lauren dengan tajam.


"Itu hanya perkiraan saya nyonya" ucap dokter Lauren dengan wajah penuh harap.


Valeria tak mengatakan apa-apa lagi dan segera mengambil kotak tadi dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan di luar kamar mandi dokter Lauren mondar-mandir penasaran karena sudah 20 menit Valeria belum juga keluar ingin bertanya tapi ia takut dimarahi oleh Valeria.


Ceklek.........


"Nyonya bagaimana?" tanya dokter Lauren tak sabar saat pintu kamar mandi terbuka.


Valeria menunjukkan tespek yang baru saja ia pakai di dalam sana. Mata dokter Lauren melotot melihat dua garis biru disana yang berarti positif.


"Yeay.........Selamat nyonya. Selamat nyonya sebentar lagi nyonya akan jadi seorang ibu" pekik dokter Lauren dengan histeris.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Panggil dokter kandungan dan bawa semua alat yang dibutuhkan kesini sekarang" perintah Valeria dengan suara tegas.


"Baik nyonya"


"Jangan beritahu siapapun mengenai hal ini termasuk tunanganmu" ucap Valeria memperingati dokter Lauren saat ia hendak keluar.


"Baik nyonya" jawab dokter Lauren.


Tes...........


Air mata Valeria jatuh saat dokter Lauren sudah keluar, hatinya bahagia mendengar kehamilannya. Valeria tak menyangka jika dia akan menjadi seorang ibu.


"Mommy sangat menyayangimu nak"


"Baik-baik ya di dalam perut mommy dan sebentar kita akan memberikan kejutan untuk daddy kamu" ucap Valeria sambil mengelus perutnya dengan lembut.


Ia tersenyum sangat manis dan hangat melihat perutnya yang masih rata di depan kaca.


1 Jam kemudian


Saat ini Valeria tengah berbaring di atas ranjang ditemani dokter Lauren dan dokter Vivian salah satu sahabat baik dokter Lauren saat keduanya masih kuliah.


"Janinnya sehat ya nyonya. Kandungan nyonya juga baik-baik saja dan umur kehamilan nyonya sudah 4 minggu" ucap dokter Vivian.


"Apa sudah bisa lihat jenis kehamilannya?" tanya Valeria melihat monitor di depannya.


"Belum bisa nyonya karena janinnya masih belum terbentuk"


"Apa nyonya merasa mual atau pusing?" tanya dokter Vivian.


"Nyonya apa sebelum perut nyonya keram apa anda baru selesai melakukan hubungan s**s"


"Heemmmm"


"Saya mohon nyonya dan suami bisa mengurangi frekuensi kegiatan suami istri dulu karena kandungan nyonya masih terlalu muda dan jika terlalu sering maka akan membahayakan janin nyonya"


"Jadi kami tidak bisa melakukan lagi dok?" tanya Valeria.


"Bisa nyonya tapi jangan terlalu sering dan usahakan posisinya aman untuk bayi dan ibu"


"Heemmm"


"Ini saya resepkan vitamin penguat kandungan dan obat anti mual jika nyonya mengalami mual nanti"


Setelah memberitahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dokter Vivian pun pamit pergi. Valeria tersenyum manis melihat foto USG yang tadi diberikan oleh dokter Vivian setelah diperiksa.


Valeria lalu memberitahu dokter Lauren untuk menebus vitamin dan tak lupa menyuruhnya membeli susu ibu hamil yang rasa coklat.


~ Queen Resto ~


Saat ini keluarga Kusumo sedang mengadakan jamuan makan malam di salah satu restoran bintang lima bersama keluarga calon menantu mereka yaitu keluarga Magenta.


"Wah jeng ternyata putri jeng sangat cantik ya" ucap Arinta memuji kedua putri Sandy Magenta.


Sandy Magenta adalah sahabat baik Budi waktu SMA dan juga ia seorang arsitek terbaik di Indonesia dan mempunyai perusahaan arsitek sendiri yaitu Magenta Company.


"Wah jeng terima kasih atas pujiannya" balas Rinda Magenta istri Sandy.


"Jadi bagaimana apa kalian berdua menerima perjodohan ini?" tanya Budi kepada Bagas dan putri pertama Magenta yang bernama Serli.


"Sayang bagaimana?" tanya Sandy menatap putrinya.


"Aku ikut mama sama papa. Karena aku yakin pilihan mama dan papa pasti terbaik untukku" ucap Serli dengan malu-malu.


Bagas yang melihatnya tersenyum smirk entah kenapa dia merasa jika Serli bukan wanita yang tepat untuknya dan dari wajahnya saja sudah bisa ditebak kalau dia itu munafik.


Tatapan mata Bagas lalu tertuju kepada putri bungsu Magenta yang berpenampilan cupu dan sedari tadi hanya menunduk saja tak berani mengangkat kepala.


"Bagas bagaimana?" tanya Arinta dengan senyum manis.


"Aku setuju tapi aku tidak mau calon istriku dia tapi harus dia" tunjuk Bagas ke arah perempuan yang duduk di samping Serli.


"Camelia" pekik Serli kaget.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Semua yang disana kaget mendengar ucapan Bagas yang tak mau dijodohkan dengan Serli tapi Camelia. Wajah Rinda menghitam melihat ke arah Camelia yang sedari tadi menunduk.


Dasar anak cupu sialan kenapa sih dia harus ikut segala dan menghancurkan perjodohan putriku, batin Rinda dengan emosi.


Camelia sendiri kaget tak menyangka jika ia yang akan dipilih oleh Bagas. Padahal penampilannya sangat berbeda jauh dengan sang kakak.


"Bagaimana Sandy? Anakku ternyata memilih putri bungsumu?" tanya Budi.


"Aku sih tidak masalah Budi tapi maaf semua keputusan ini aku serahkan ke putriku" ucap Sandy dengan wibawa.


"Nak bagaimana pendapat kamu tentang hal ini?" tanya Arinta dengan suara lembut tak ingin membuat Camelia tertekan.


Camelia melihat keluarganya meminta jawaban apa yang harus ia katakan.


Sandy menatap putri bungsunya sambil tersenyum manis menyerahkan semua keputusan kepadanya tapi berbeda dengan Rinda dan Serli yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Jika ini membuat papa senang maka aku menerimanya sebagai baktiku kepada papa" ucap Camelia.


Awas kau cupu sialan beraninya kamu merebut calon suamiku, batin Serli dengan tatapan penuh kebencian.


"Berarti sudah diputuskan perjodohan ini akan tetap berlangsung" ucap Sandy dengan bahagia.


"Selamat datang di keluarga ibu nak" ucap Arinta dengan tulus.


"Iya tante"


"Jangan panggil tante sayang tapi ibu karena sebentar lagi kamu akan jadi menantu ibu"


"Iya i...bu" ucap Camelia dengan gugup.


"2 minggu lagi pernikahan mereka akan digelar" ucap Budi.


"Apa" teriak Serli dengan kaget.


"Serli" tegur Sandy dengan tatapan tajam.


"Maafkan Serli pa. Aku hanya kaget saja tadi" ucap Serli dengan wajah polos tapi mengumpat dalam hati.


Bagas tersenyum menyeringai melihat ekspresi Serli yang sangat kelihatan jika dia tengah berbohong dan menahan emosinya.


Setelah berbincang-bincang dan menentukan dimana mereka akan melaksanakan pernikahan akhirnya kedua keluarga itu pun pamit pergi.


Saat di dalam mobil Bagas memilih pergi ke apartemen karena ingin menenangkan diri. Meski ia tidak mencintai calon istrinya tapi ia tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuanya meski mereka tidak memaksanya untuk menerima perjodohan itu.


Gue bakal berusaha mencintai loe meski kita menikah karena perjodohan, batin Bagas menerawang jauh.


Bagas lalu mengambil hpnya dan mencoba menelpon Valeria tapi panggilannya tak diangkat. Ia berharap jika saat ia menikah adiknya bisa turut ambil bagian.


~ Kingdom Apartment ~


Sedari tadi Valeria sudah menyiapkan kejutan untuk suaminya mengenai kehamilannya. Valeria yakin suaminya pasti akan pulang tengah malam karena mereka akan mengurus kecelakaan David tadi.


"Mommy udah ngak sabar pengen lihat ekspresi daddy kamu" ucap Valeria sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tak terasa Thomas belum pulang juga. Valeria yang sudah mengantuk akhirnya tertidur tak menunggu suaminya.


Ceklek.............


Pintu kamar terbuka setelah 10 menit Valeria tertidur dengan langkah pelan Thomas masuk lalu membuka pakaiannya dan masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Selesai mandi dia keluar hanya memakai bathrobe dan boxer saja. Thomas melempar bathrobe dan ikut bergabung bersama istrinya yang sudah pulas di atas ranjang.


Cup.............


❄❄❄❄❄


To be continue............