
π»Jangan pernah menaruh harapan lebih pada manusia, ingat hari ini kamu segalanya tapi besok kamu bukan segala-galanyaπ»
.
.
.
.
Suasana semakin menegangkan tidak ada yang bisa menghentikan Bagas saat ini. Arinta berharap suaminya cepat datang dan memisahkan keduanya sebelum Bianca mati tercekik di tangan Bagas.
"Sayang...........hiks hiks.........ibu mohon lepaskan Bianca...........hiks hiks" ucap Arinta sambil menangis.
Bagas tak memperdulikan ucapan sang ibu karena saat ini pikirannya hanya ingin menghabisi Bianca. Tadi saat pulang dari perusahaan ia berniat singgah ke mansion untuk mengambil beberapa berkas penting sebelum ke apartemen.
Tapi tak disangka sampai di mansion ia malah mendapati Bianca yang ingin masuk ke kamar sang adik. Tak mau membuang waktu ia langsung mencekik leher Bianca tidak perduli apa alasannya.
"Hiks hiks...........Bagas ibu mohon lepaskan Bianca nak.........hiks hiks" ucap Arinta dengan histeris.
"Berani-beraninya loe mau masuk ke kamar adik gue anak haram!" bentak Bagas dengan suara tinggi.
Budi yang baru datang segera masuk ke mansion bersama dengan Dion. Baru saja di ruang tamu ia sudah mendengar suara sang istri yang menangis di lantai dua.
Sampai di lantai dua Budi dan Dion kaget bukan main melihat Bagas yang sedang mencekik Bianca. Bukan itu saja Budi sangat panik melihat Bianca yang wajahnya sudah pucat karena tak bisa bernapas.
"Bagas Panji Kusumo" teriak Budi dengan suara menggelegar di dalam mansion.
Mendengar suara Budi tatapan mata Bagas langsung mengarah kepada sang ayah dengan tajam. Aura keduanya sangat mengerikan sampai membuat semua yang berada di dalam mansion merinding ketakutan.
"Mas..........hiks hiks hiks.......cepat pisahkan mereka mas........hiks hiks" ucap Arinta yang terus menangis.
"Lepaskan Bianca Bagas!" bentak Budi yang tersulut emosi melihat sang istri menangis histeris.
"Kenapa tuan Budi Kusumo! Kalau dia mati bukannya tidak ada aib lagi di keluarga ini!" ucap Bagas dengan sinis.
"Bagas ayah bilang lepaskan Bianca kamu ngerti ngak sih"
"Kalau aku ngak mau memangnya kenapa? Apa anda ingin memukulku! Hah!" bentak Bagas dengan emosi.
"Tuan muda saya mohon lepaskan nona Bianca anda bisa membunuhnya" pinta Dion berjalan mendekat ke arah Bagas.
"Jangan ikut campur masalah gue sama anak haram ini" ucap Bagas dengan suara tinggi.
"Tuan muda nona Bianca bisa mati"
"Gue ngak perduli! Malahan gue lebih senang kalau dia mati!"
"Bagas..........hiks hiks........ibu mohon cukup nak......hiks hiks" ucap Arinta.
"Pikirkan nona muda tuan muda. Jika nona muda tahu tuan muda membunuh nona Bianca ia akan sangat sedih karena kakaknya seorang pembunuh"
Seketika tangan Bagas terlepas dari leher Bianca saat mendengar ucapan Dion. Ia memikirkan apa yang akan Valeria pikirkan jika ia sampai membunuh Bianca, ia tidak mau Valeria mempunyai kakak seorang pembunuh.
Uhuukkkk.....uhhuukkkk........uhhhuuuukk......
Bianca terbatuk karena napasnya tercekat akibat cekikan Bagas barusan. Ia pikir ia akan mati di tangan Bagas tapi ternyata tidak, Bianca menatap Bagas dengan tatapan penuh kebencian dan dendam.
Gue bakal balas loe suatu saat, batin Bianca dengan emosi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Gue peringati ke kalian semua. Berani ada yang masuk ke kamar Valeria saat itu juga gue bakal bunuh dia!" ancam Bagas dengan tatapan membunuh.
Budi melihat Bagas dengan tatapan tajam dan Bagas membalas tatapan sang ayah tak kalah tajam. Keduanya saling menatap penuh permusuhan dan kebencian tidak ada tatapan seorang ayah atau anak lagi.
"Urus anak haram anda tuan Kusumo. Suruh dia jangan pernah menginjak kaki di kamar Valeria maupun gue!" bentak Bagas dengan suara tinggi.
Budi diam saja tak membalas ucapan sang anak ia masih ingat terakhir kali keduanya berkelahi karena perihal Valeria masuk rumah sakit. Ada perasaan marah, sedih, kecewa dalam hatinya karena tak di hormati oleh anak kandungnya sendiri.
Bagas segera berlalu menuju kamarnya mengambil berkas yang ia perlukan setelah itu ia segera pergi ke apartemen.
Dion lalu menelpon dokter Suci untuk memeriksa keadaan Bianca, Arinta yang melihat Bianca sudah di papah ke dalam kamar segera berlalu ke kamarnya.
"Dion suruh pengawal mengikuti Bagas jangan biarkan hal buruk terjadi padanya" ucap Budi dengan suara dingin.
"Baik tuan"
~ Grill Apartemen ~
Sampainya Bagas di apartemen ia kembali meluapkan emosinya dengan membanting dan memukul semua benda yang berada di dalam kamar apartemen.
Ahmad yang di beri perintah Dion untuk menjaga Bagas segera datang ke apartemen sang tuan.
Sampai di dalam ia kaget bukan main melihat apartemen Bagas yang sudah hancur berantakan. Bahkan ia lebih kaget lagi melihat tangan Bagas yang bercucuran darah di lantai.
"Tuan" ucap Ahmad dengan panik.
"Gue gagal Mad! Gue gagal jagain adik gue.......hiks hiks hiks" ucap Bagas sambil menangis dengan rapuh.
"Tidak tuan! Tuan tidak pernah gagal karena selama ini tuan selalu mencari keberadaan nona muda tuan" ucap Ahmad dengan prihatin.
"Hiks hiks..........kenapa mereka lebih pentingkan anak haram itu dibandingkan anak kandung mereka sendiri? Kenapa?" teriak Bagas dengan histeris.
Grep.............
Tubuh Bagas langsung di peluk oleh Rendi yang baru saja datang setelah di beritahu Dion. Ia tahu seberapa sakit dan kecewanya Bagas kepada dirinya sendiri.
"Loe harus kuat bro loe harus kuat buat Valeria" ucap Rendi.
"Hiks hiks hiks..............kenapa harus adik gue Rendi kenapa.......hiks hiks" teriak Bagas dengan histeris.
"Dimana Bagas yang ngak kenal takut! Hah! Kalau loe lemah kayak gini siapa yang bakal jagain adik loe dan nyari dimana adik loe berada!" bentak Rendi dengan suara tinggi.
Arghhhhhhh.........
Teriak Bagas kembali emosi dan mendorong Rendi, Ahmad yang ingin menghentikan Bagas langsung di tahan oleh Rendi. Ia memberi isyarat untuk membiarkan Bagas mengeluarkan semua emosinya saat ini.
1 jam kemudian
Bagas duduk di lantai dengan wajah berantakan dan darah yang terus menetes dari tangannya. Tidak ada rasa sakit sedikit pun di tangannya melainkan hatinya yang terasa sangat sakit.
"Ingat bro jika loe lemah siapa yang bakal lindungi adeik loe" ucap Rendi dengan suara tegas.
"Heeemmm"
"Jangan sakiti diri loe hanya untuk mereka. Saat ini yang paling penting kita cari keberadaan adik loe dan cari bukti tentang adik tiri loe itu" ucap Rendi.
"Apa maksud loe?" tanya Bagas dengan tatapan tajam.
"Orang gue nemu bukti ternyata Bianca waktu itu berada di club Remix"
"Bawa bukti itu ke gue sekarang"
"Heeemm! Obati tangan loe dulu baru kita bahas"
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Setelah Ahmad mengobati tangan Bagas mereka lalu membahas bukti yang baru saja Rendi bawa. Seketika emosi Bagas memuncak dan ingin kembali memberi pelajaran kepada Bianca tapi di tahan oleh Rendi.
Mereka akhirnya berembuk untuk menyelidiki lebih lagi siapa saja yang ada di belakang Bianca.
Bagas terpaksa mengikuti rencana Rendi untuk tak memberi pelajaran kepada Bianca saat ini, karena bisa saja mereka bisa kehilangan kesempatan untuk mencari tahu siapa saja dalang di balik ini semua.
~ Mansion Valeria ~
Setelah menempuh waktu selama 20 jam akhirnya Valeria beserta rombongan tiba di Jakarta. Valeria dan lainnya langsung bergegas menuju mansion dan di sambut oleh pak Dev dan para pelayan.
Valeria dan Ares tak membalas ucapan mereka dan berjalan dengan tatapan datar dan dingin. Para pelayan yang merasakan aura Valeria berdiri dengan gemetar, Valeria melihat mereka dengan senyum sinis.
Dasar lemah, batin Valeria.
Valeria dan Ares segera naik ke lift menuju lantai 3 sampai di sana Valeria masuk ke dalam kamar lalu Ares kembali turun ke lantai 2 menuju kamarnya.
Valeria membersihkan tubuhnya dan memakai piyama satin tipis sebelum tidur. Selang 2 jam kemudian Valeria seketika terbangun dengan tubuh bercucuran keringat karena lagi-lagi ia mimpi tentang masa lalunya.
Selama ini Valeria hanya bisa tidur selama 2 jam saja dan tidak bisa tidur kembali. Valeria memutuskan pergi ke ruang olahraga untuk melampiaskan emosinya.
Pak Dev yang tahu kebiasaan Valeria hanya menatap sang nyonya dengan wajah sedih.
"Semoga nyonya segera pulih dari traumanya" gumam pak Dev dengan tulus.
~ Markas Valeria ~
Saat ini Valeria sedang berhadapan dengan salah satu anak buah Andre yang menerima permintaan Bianca. Sesuai perintahnya anak buah Andre belum menerima permintaan Bianca karena menunggu perintah Valeria.
"Katakan" ucap Valeria dengan suara dingin dan tatapan tajam.
"Nona muda Kusumo meminta untuk mencari tahu keberadaan saudaranya master" ucap Kendi.
Hahahaha...........
Seketika tawa Valeria pecah mendengar ucapan Kendi barusan, ia tak menyangka Bianca akan mencari keberadaannya dengan meminta bantuan kepada anak buahnya sendiri.
"Loe udah lihat berkasnya kan?" tanya Valeria dengan senyum penuh arti.
"S....udah ma....ster" ucap Kendi dengan gugup.
"So loe pasti udah tahu siapa orang yang di cari perempuan itu kan" (Jadi)
"I...ya ma....s...te...r"
Valeria tersenyum smirk melihat Kendi yang sudah gemetar, ia lalu bangun dan berjalan menghampiri Kendi yang duduk di depannya.
Jantung Kendi berdetak dengan cepat hingga membuat tubuhnya gemetaran, suara sepatu Valeria yang semakin mendekat dan berdiri tepat di belakangnya membuat ia menelan saliva dengan susah.
Glek................
"So loe tahu siapa jati diri gue yang sebenarnya" bisik Valeria tepat di telinga Kendi.
"Ti...dak mas....t....er"
"Ckk! loe pikir gue ngak tahu kalau loe udah nyari tahu tentang informasi gue tapi belum dapat"
Bruk...........
"Master maafkan gue karena sudah berani lancang mencari tahu informasi pribadi master" ucap Kendi mengaku sambil berlutut.
"Gue paling benci yang namanya pengkhianat, apa lagi orang yang ngak dengar perintah gue an***g!" bentak Valeria tepat di muka Kendi.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Wajah Kendi seketika pucat melihat tatapan tajam Valeria yang sangat mengerikan. Bahkan tubuhnya seperti di tusuk pedang tepat di jantungnya napasnya mulai satu-satu seperti ada yang menyumbat.
"Berikan" ucap Valeria dengan suara dingin.
Ares lalu memberikan pisau milik Valeria yang berwarna hitam keemasan dengan lambang Black Shadow di gagangnya. Dengan senyum smirk seperti monster Valeria langsung menusuk pisaunya di perut Kendi.
Arrghhhhh................
Teriak Kendi kesakitan menggema di dalam sana, Rehan dan Raksa yang tadi ikut bersama Valeria seketika kaget bukan main. Apa lagi mereka harus melihat kekejaman Valeria kali ini.
Crash.........crash........crash........crash........
Tubuh Kendi sudah penuh dengan tusukan pisau akibat Valeria, mendengar suara jeritan Kendi semakin membuat Valeria tersenyum bahagia. Ia saat ini seperti monster yang sedang mencabik-cabik mangsanya.
"Am....pu....n ma.....st...er ini s....ak....it sekal..i" ucap Kendi dengan terbata-taba.
Crash..............
Valeria langsung menusuk Kendi tepat di jantungnya, Kendi seketika meregang nyawa dengan mata terbuka karena tusukan Valeria. Melihat hal tersebut Valeria merasa tak senang.
"Ckkk! Baru aja gue bersenang-senang dia udah mati" ucap Valeria dengan kesal.
Rehan dan Raksa menganga mendengar ucapan Valeria, keduanya tak habis pikir dengan ucapannya yang kesal karena belum bermain dengan mangsanya.
Gila master seperti psikopat, batin Rehan.
Apa ini master yang selama ini, batin Raksa.
"Bawa tubuh dia ke anak-anak gue" ucap Valeria sambil memberikan pisau mainannya ke Ares.
"Baik master" ucap Rehan.
"Raksa panggil Andre ke ruangan gue"
"Baik master"
Valeria segera berlalu menuju ruangannya dengan tubuh penuh darah. Anak buahnya yang berpapasan dengan Valeria kaget melihat tubuh sang master, mereka langsung tahu jika baru saja ada yang mati entah karena apa.
Tok.........tok..........tok.............
"Masuk" ucap Ares memberi perintah.
"Permisi master. Apa master manggil gue?" tanya Andre.
"Gue mau loe turun tangan langsung hendel klien kita yang ini" ucap Valeria sambil menunjukkan data Bianca.
"Baik master"
"Orang yang bakal loe cari informasinya adalah gue"
"Maksudnya master?" tanya Andre dengan bingung.
"Ares" ucap Valeria memberi isyarat kepada Ares.
"Anda akan menerima permintaan untuk mencari keberadaan saudara perempuannya. Dan orang yang akan anda cari adalah master sendiri " ucap Ares dengan tatapan datar.
"Apa" ucap Andre dengan kaget.
"Saat Anda menerima tawaran orang itu anda akan tahu siapa sebenarnya nyonya"
"Kenapa tidak kita tolak saja master" ucap Andre.
"Gue pengen main-main sama dia" ucap Valeria dengan santai.
"Bukannya gue bakal tahu identitas master yang sebenarnya"
"Gue yakin mulut loe itu ngak kayak mak-mak kompleks" cibir Valeria dengan suara dingin.
"Gue bakal rahasiakan semua itu dari siapapun master"
"Heemmm! Besok temui dia dan tunggu apa yang bakal gue kasi buat bayarannya"
"Baik master"
βββββ
To be continue................
Hay guys jangan lupa tinggalkan jejak yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€