
π»Sejahat-jahatnya manusia lebih jahat omongan manusiaπ»
.
.
.
.
Hari itu juga Vanesa dan Jeslyn memilih pulang kembali ke Meksiko karena percuma mereka berada disana sedangkan semua rencana kerja sama dengan VA Corp gagal total karena Alin.
Saat di atas pesawat Vanesa meneteskan air mata melihat bukti kejahatan sang mommy yang baru saja di kirim Ares sebelum ia naik ke pesawat.
Ia menangis dalam diam tak menyangka mommy yang sejak dulu ia hormati dan sayangi ternyata seorang iblis berkedok manusia.
"Nona yang sabar ya" ucap Jeslyn merasa kasihan.
"Sampai Meksiko kita langsung menuju ke kantor polisi sebelum pulang ke mansion" ucap Vanesa sambil menghapus air matanya.
"Apa nona yakin?" tanya Jeslyn.
"Sudah cukup selama ini aku diam dengan perbuatan bejat mommy. Aku lebih pilih tidak punya mommy dari pada harus mempunyai mommy berkedok iblis" ucap Vanesa sambil mengepal kedua tangannya.
Jeslyn tak bertanya lagi karena ia yakin Vanesa tak akan mengubah keputusannya lagi untuk memasukkan Alin ke dalam penjara.
~ Kastil Valeria ~
"Sudah puas honey?" tanya Thomas dengan tatapan tajam di atas ranjang.
"Sangat puas honey" jawab Valeria sambil terkekeh.
"Ckk!!" ketus Thomas dengan wajah kesal.
Valeria terkekeh sambil naik ke atas ranjang melihat wajah cemberut suaminya karena sedari tadi ia sibuk dengan laptop di sofa membuat Thomas berdecak kesal.
"Kenapa kesini!" ketus Thomas.
"Aku mau tidur di dada kamu honey" ucap Valeria dengan manja.
Thomas yang tadinya kesal kepada sang istri akhirnya mengalah karena ia tahu semalam istrinya tidak bisa tidur karena menjaganya di ruang kesehatan.
"Sini" ucap Thomas dengan suara lembut sambil melepas bajunya.
Valeria memeluk tubuh suaminya dengan erat sambil menghirup aroma tubuh Thomas yang sangat ia sukai sedari dulu.
Cup............
Thomas mengecup keningnya dengan lembut sambil mengelus punggung Valeria biar istrinya bisa beristirahat dengan nyaman.
Daddy sangat menyayangi kamu dan mommy nak, batin Thomas mengelus perut buncit sang istri.
~ Mansion Aiden ~
Vanesa dan Jeslyn tiba di mansion tepat pukul 14:00 waktu setempat. Sebelum itu keduanya sudah lebih dulu ke kantor polisi melaporkan kejahatan Alin dan memberikan bukti yang sangat memberatkannya nanti.
"Jeslyn kamu pulang saja" ucap Vanesa yang sudah keluar dari dalam mobil.
"Tidak nona! Saya akan menemani nona sampai semuanya beres" ucap Jeslyn dengan suara tegas.
"Terserah kamu saja Jeslyn"
"Iya nona"
Keduanya lalu masuk ke dalam mansion dan ternyata hari ini semua keluarganya sedang berada di ruang santai.
"Kakak sudah pulang?" tanya Niko yang langsung menyambut Vanesa dan memeluknya.
"Iya kerjaan kakak udah beres" ucap Vanesa.
"Bagaimana hasilnya Vanesa?" tanya Alin dengan cepat.
"Mommy biar Vanesa ambil napas dulu. Orang baru juga sampai udah ditanya" kesal Selina.
"Diam kamu! Kamu itu hanya tahu menghamburkan uang saja dan tidak mau pernah berpikir bagaimana capeknya adik-adikmu membantu perusahaan!" bentak Alin dengan suara tinggi.
"Ckk!!" dengus Selina dengan kesal menatap sang mommy.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Vanesa tak memperdulikan keduanya dan lebih memilih memeluk sang daddy. Seno yang kakinya lumpuh mengelus punggung putrinya merasa sangat bersalah sebagai kepala keluarga.
"Maafin Vanesa daddy" bisik Vanesa.
"Daddy dukung semua keputusanmu" lirih Seno dengan suara pelan.
"Vanesa ayok katakan hasilnya jangan buat mommy penasaran!" bentak Alin dengan suara tinggi.
Vanesa melepas pelukannya dengan Seno lalu mengambil proposal yang ia simpan di dalam tas. Seketika mata Alin kaget saat Vanesa dengan kasar melempar berkas proposal itu ke wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan Vanesa!" bentak Alin dengan suara tinggi.
Plak................
Semuanya kaget melihat Vanesa yang menampar Alin barusan. Bahkan Alin sendiri kaget tak bisa memikirkan apa-apa karena tak menyangka akan ditampar.
"Kamu nampar mommy?" tanya Alin dengan wajah merah padam.
"Ya mommy" teriak Vanesa dengan suara tinggi.
"Kenapa mommy harus permalukan aku di sana? Kenapa? Gara-gara mommy aku gagal dapat kerja sama itu!" tambahnya lagi di depan wajah Alin.
"Apa" pekik Alin kaget.
"Ini semua karena mommy. Kalau aja mommy tidak membuat proposal yang seperti itu aku tidak akan gagal dapat kerja sama dengan VA Corp dan aku juga tidak akan malu" hardik Vanesa dengan emosi.
"Itu karena kebodohan kamu jadi jangan lampiaskan ke mommy!" bentak Alin tak mau kalah.
"Karena aku?" tanya Vanesa sambil menunjuk dirinya.
"Mommy lupa kalau mommy yang buat proposal itu dengan cara licik untuk mengambil modal awal dari mereka dengan jumlah yang sangat banyak tak sebanding dengan keuntungan yang akan di peroleh" papar Vanesa dengan suara tinggi.
Alin tak berkutik karena memang yang dibilang putrinya barusan itu semua benar.
"Apa" ucap Selina dan Niko dengan kaget.
"Aku juga tidak menyangka kalau mommy akan menyadap hp aku tapi beruntung ada Jeslyn yang memberitahu aku"
"Kamu" tunjuk Alin dengan mata melotot ke arah Jeslyn.
"Jangan memarahi Jeslyn karena disini dia tidak bersalah!" bentak Vanesa.
"Kurang ajar kamu Vanesa. Apa ini balasan kamu ke mommy yang sudah melahirkan kamu" hardik Alin menggelegar.
"Aku berterima kasih kerena mommy sudah melahirkan aku. Tapi aku sangat menyesal mempunyai mommy seorang iblis pembunuh seperti mommy" ucap Vanesa dengan tatapan kecewa.
"Apa maksud kamu Vanesa?" tanya Selina dengan suara tinggi.
Vanesa tak berkata apa-apa dan menunjukkan bukti kejahatan sang mommy kepada kakak, adik, dan daddy mereka. Ketiganya syok melihat bukti-bukti tersebut.
"Keterlaluan kamu Vanesa" teriak Alin dengan emosi.
"Cukup selama ini aku diam dan mengalah mommy. Cukup mommy mengancam aku menggunakan daddy, Niko, dan ka Selina mommy"
Vanesa histeris mengatakan semua di depan wajah Alin membuat Alin tak bisa berkutik. Ketiganya menatap Alin dengan tatapan penuh kebencian dan dendam.
Plak...........plak........
Selina menampar mommynya dengan kuat tak menyangka ternyata selama ini mommy mereka sendiri tega mengancam adiknya menggunakan mereka.
"Kamu itu tidak pantas disebut mommy" hardik Selina di depan wajah Alin.
Tak...........tak..........tak...........rak......
Bunyi langkah kaki terdengar menuju ke arah mereka. Niko yang melihat kedatangan polisi langsung berdiri menatap mereka dengan bingung.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Ada apa ini?" tanya Niko dengan suara lantang.
"Nyonya Alin Aiden anda kami tangkap atas kasus pembunuhan 10 tahun lalu kepada ayah, ibu, dan kakak perempuan anda" ucap detektif Merlyn.
"Apa! Tidak jangan tangkap saya. Saya tidak bersalah ini semua fitnah" teriak Alin sambil memberontak.
"Bawa dia" ucap detektif Merlyn dengan suara tegas.
"Lepaskan! Lepaskan aku berengsek! Lepas aku bilang"
Alin berteriak seperti orang kesurupan tapi tidak digubris oleh polisi dan bahkan keluarganya sendiri tak membantunya saat ia dibawa polisi.
"Nona Aiden terima kasih atas bantuan anda sudah memberikan bukti kejahatan nyonya Aiden" ucap detektif Merlyn.
"Sama-sama detektif. Tolong hukum mommy saya sesuai perbuatannya" ucap Vanesa.
"Detektif tolong hukum perempuan monster itu dengan berat kalau perlu dia dihukum mati saja" ucap Selina dengan emosi.
Detektif Merlyn tak mengatakan apa-apa dan bergegas pergi dari sana membawa Alin ke kantor polisi untuk di proses.
Alin berteriak dan memaki Vanesa dengan sumpah serapah tapi Vanesa tak memperdulikan semua itu. Menurutnya ini adalah tindakan terbaik untuk menghukum sang mommy atas kejahatannya selama ini.
2 Bulan Kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan sudah 2 bulan berlalu sejak kejadian Thomas keracunan.
Saat ini Thomas dan Valeria sedang menunggu kelahiran bayi mereka yang diprediksi akan lahir 1 minggu lagi.
Thomas dan Valeria sudah menyiapkan kamar khusus untuk anak mereka tak lupa dokter Lauren dan dokter Vivian juga sudah stand by di ruang kesehatan yang sudah siapkan untuk persalinan Valeria.
"Sister eke udah ngak sabar pengen ketemu keponakan eke" ucap Yorla yang kebetulan dari kemarin ia sudah berada disana.
"Hey banci sialan mending kamu jauh-jauh sana dari istriku" hardik Thomas dengan ketus.
"Ckk!! You itu memang rajanya posesif" dengus Yorla dengan gaya gemulai.
"Pergi kamu bikin mata aku sakit aja" usir Thomas.
"Sister lihat nih ganteng. Masa dia ngusir eke" adu Yorla.
"Ya tinggal loe pergi aja kan beres" ucap Valeria dengan santai.
"Ckk! Pasangan menyebalkan" pekik Yorla dengan kesal.
Rooaarrr............Rooaarr............
Ketiganya kaget saat mendengar geraman Boy dan Girl yang tiba-tiba meraung seperti itu. Bryan yang baru saja sampai menatap kedua hewan peliharaan Valeria dengan bingung.
"Val" panggil Bryan.
"Brother you datang" pekik Yorla dengan histeris.
Valeria tiba-tiba merasa jantungnya berdetak dengan cepat dan merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Ia lalu berjalan ke arah kedua peliharaannya ingin menenangkan mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Valeria sambil mengelus kepala Boy dan Girl bergantian.
"Honey jangan terlalu lelah" ucap Thomas yang duduk di dekat tempat istrinya bermain dengan kedua hewan peliharaannya.
Aauummm.........
Boy dan Girl tiba-tiba mengaum membuat Valeria dan Thomas semakin bingung. Pasalnya jarang sekali kedua peliharaannya itu mengaum.
"Boy Girl" panggil Valeria.
Roaarr............
Valeria yang melihat Girl seperti gelisah menatapnya dengan bingung. Ia lalu bangun dan ingin menghampiri suaminya tapi naas entah air dari mana di depannya membuat Valeria seketika jatuh terpeleset.
Brugh..............
"HONEY" teriak Thomas menggelegar melihat istrinya jatuh di lantai dengan posisi perut lebih dulu.
βββββ
To be continue................