Love Struggle

Love Struggle
Chapter 180



🌻Sebagian orang diajarkan orang tuanya sejak kecil untuk tidak menjadi sampah🌻


.


.


.


.


Thomas menangis di samping brankar istrinya hingga pagi. Tak berselang lama dokter Lauren dan dokter Vivian masuk untuk mengecek kondisi Valeria dan putrinya.


"Selamat pagi tuan" ucap keduanya dengan serentak.


"Heeemmm" deham Thomas dengan tatapan kosong.


Dokter Lauren lalu memeriksa keadaan Valeria sedangkan dokter Vivian memeriksa keadaan putri Thomas dan Valeria.


"Keadaan nona muda baik-baik saja tuan dan masih harus selalu dipantau tuan" ucap dokter Vivian.


"Tuan" ucap dokter Lauren yang merasa heran dengan kondisi Valeria.


"Ada apa? Istriku baik-baik saja kan?" tanya Thomas dengan cepat.


"Secara keseluruhan keadaan nyonya baik-baik saja tuan. Tapi dari pemeriksaan saya nyonya koma karena ini berhubungan dengan alam bawah sadar nyonya"


"Maksud kamu?" tanya Thomas tak paham.


"Sepertinya nyonya menekan alam bawah sadarnya untuk tidak bangun tuan. Nyonya seperti menikmati tidur panjangnya dan merasa jika disana lebih baik tuan dan saya tidak tahu kapan nyonya akan sadar karena ini semua tergantung dari nyonya" papar dokter Lauren menjelaskan.


"Jadi maksudmu istriku tidak akan pernah bangun dari komanya!" bentak Thomas menggelegar.


"B......ukan itu maksud saya tuan" ucap dokter Lauren dengan gugup.


"Aku tidak mau tahu! Kalian cari cara agar istriku bangun dari komanya" hardik Thomas dengan wajah emosi.


"Ba.....ik tuan" ucap keduanya serentak dengan gemetar ketakutan.


Keduanya lalu bergegas keluar tidak ingin mendapat kemarahan Thomas karena tahu saat ini Thomas pasti sangat kacau dan emosinya tak terkontrol.


"Kenapa kalian?" tanya Kevin yang melihat wajah pucat keduanya saat keluar dari ruang rawat Valeria.


"Tuan Thomas mengamuk saat mendengar penjelasan mengenai kondisi nyonya Valeria dokter Kevin" jawab dokter Vivian dengan wajah pucat.


"Kalian pergilah biar aku yang urus Thomas" ucap Kevin sambil membuang napasnya dengan kasar.


"Baik dok" ucap keduanya segera pamit pergi.


Saat akan masuk ke dalam ruangan rawat Valeria ia melihat Xavier, Chloe, Albert, Mira, dan istrinya Rahel baru saja keluar dari lift.


Dini hari tadi mereka berniat ingin mengunjungi Valeria tapi saat itu Thomas sedang menangis di samping istrinya akhirnya mereka memilih untuk tak mengunjunginya.


Ceklek................


Pintu rawat Valeria terbuka dan mereka langsung disambut tatapan kosong Thomas yang menatap istrinya di atas brankar dari sofa.


"Hubby" panggil Chloe menatap Xavier dengan sedih.


"Aku akan berbicara dengan Thomas baby. Kamu temani Valeria dan anaknya ya baby" ucap Xavier dengan suara lembut.


"Iya hubby"


Chloe, Mira, dan Rahel memilih melihat putri Valeria dan Thomas membiarkan suami mereka menghibur Thomas yang saat ini pasti sangat terguncang.


"Dude" panggil Kevin dengan mata berkaca-kaca.


Baru kali ini ia melihat sosok Thomas yang seperti tidak ada gairah hidupnya lagi. Berbeda dengan Thomas yang selama ini ia kenal selalu semangat dan tak pernah menunjukkan kesedihannya di depan mereka.


"Ini semua karena aku sampai istri aku seperti ini" ucap Thomas sambil tersenyum getir.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tes..................


Air matanya jatuh tak kuasa menahan rasa sakit bercampur perasaan bersalah yang amat besar menyalahkan dirinya sendiri.


Xavier menepuk pundak Thomas dan menatapnya seakan memberitahu jika semua akan baik-baik saja.


"Bos..........hiks hiks hiks" tangis Thomas pecah menatap Xavier.


"Kamu harus kuat! Jika istrimu melihat kamu seperti ini dia tidak akan senang" tegas Xavier.


"Betul yang dibilang bos dude" tambah Albert.


"Aku merasa sangat bersalah bos! Jika saja waktu itu aku tidak pergi dari penthouse semua ini tidak akan terjadi" ucap Thomas menyalahkan dirinya.


"Apa dengan menyalahkan dirimu istri mu akan sadar dari komanya?" tanya Xavier dengan suara tinggi.


Oeek.......oeekk..........oeekk.........


"Hubby" ucap Chloe menatap suaminya memperingati.


Chloe dan lainnya mencoba mendiamkan anak Thomas yang menangis mendengar suara tinggi Xavier barusan.


Beruntung bayi itu kembali diam setelah dibujuk oleh Chloe membuat mereka merasa lega.


"Kamu lihat! Jika kamu seperti ini terus siapa yang akan menjaga putrimu yang baru lahir dan Mikhail?" tanya Xavier dengan suara dingin.


"Aku.......hiks hiks hiks" tangis Thomas pecah tak bisa menjawab ucapan Xavier.


"Benar yang dibilang bos dude. Seharusnya saat ini kamu harus kuat untuk menjaga istri dan kedua anakmu karena mereka membutuhkan kamu saat ini" ucap Kevin membenarkan ucapan Xavier barusan.


"Ya aku mengerti. Terima kasih bos" ucap Thomas merasa lebih baik.


"Ingat dude kamu tidak sendiri. Kita akan selalu ada buat kamu" ucap Albert sambil menepuk pundak Thomas.


"Thank's dude" balas Thomas menatap Albert sambil tersenyum.


"Heemmm"


"Perhatikan dirimu jangan sampai kamu jatuh sakit" tegas Xavier dengan suara dingin.


"Iya bos"


Selang 1 jam kemudian Xavier dan lainnya pamit pergi karena harus mengerjakan pekerjaan mereka seperti biasa meninggalkan Thomas bersama istri dan putrinya.


"Selamat datang di dunia putri daddy" ucap Thomas sambil memasukkan tangannya di lubang inkubator yang langsung di genggam sang putri.


Hatinya terasa hangat melihat hal itu apa lagi melihat wajah putrinya yang lebih banyak dominan sang istri dan ia hanya di bagian rambutnya saja.


"Kamu persis seperti mommy kamu baby. Daddy sudah tidak sabar kita akan berkumpul bersama" lirih Thomas sambil tersenyum manis.


~ Kingdom Apartment ~


Huuuawaaa.............


Tangis Mikhail bergema di dalam penthouse saat bangun tadi ia bergegas ke penthouse tapi tak mendapati kedua orang tuanya.


"Boy tenang ya. Uncle hubungi mommy sama daddy kamu dulu ya" bujuk Bryan dengan kepala pusing.


"Where is mommy.........hiks hiks hiks hiks......i want mommy and daddy.......hiks hiks hiks" teriak Mikhail sambil menangis histeris.


Prang............prang.............prang.............


Bryan mengurut keningnya yang tiba-tiba sakit mendengar suara pecahan di dalam penthouse. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Mikhail yang keras kepala dan akan menghancurkan barang jika sedang emosi.


"I want mommy and daddy.........hiks hiks hiks" (aku ingin mama dan papa) teriak Mikhail sambil menangis menggelegar.


"Iya kamu tenang dulu boy. Ini uncle lagi nelpon mommy sama daddy kamu" ucap Bryan tak tahu harus berbuat apa menenangkan Mikhail.


Sedari tadi Bryan menelpon Valeria dan Thomas tapi panggilannya tak dijawab. Saking paniknya ia lupa untuk menelpon Rehan karena kemana Valeria pergi pasti Rehan akan selalu menemaninya.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


"Omo!!! Apa barusan ada badai disini?" tanya Yorla dengan mata melotot melihat penthouse yang berantakan.


"Loe tahu ngak kemana Valeria sama Thomas?" tanya Bryan.


"Mana eke tahu brother! Eke kan baru saja datang" ketus Yorla.


"Ubur-ubur gagal loe itu emang ngak berguna" hardik Bryan dengan kesal.


"Brother" pekik Yorla dengan emosi.


"Beraninya loe ubur-ubur gagal" tunjuk Bryan dengan tatapan tajam.


Prang..........prang...........prang...........


Keduanya mematung saat hiasan meja berbentuk kaca pecah di depan keduanya. Mata mereka menatap ke arah Mikhail tak habis pikir dengan kelakuan setan kecil itu.


"Hiks hiks hiks hiks.............mommy!!! Daddy!!!" ucap Mikhail sambil menangis histeris.


"Mikhail tenang ya uncle akan mencari mommy sama daddy kamu secepatnya" bujuk Bryan.


"Brother tanya aja sama Rehan pasti dia tahu dimana sister"


Iya ya bodoh banget gue ampe lupa kalau Rehan pasti bersama Valeria dan Thomas, batin Bryan merutuki kebodohannya.


"Loe hubungi dia" titah Bryan.


"Oke brother"


Yorla dengan cepat mengambil hpnya dan menelpon Rehan. Pada dering ketiga panggilannya di jawab Rehan.


"Halo"


^^^"Tampan you dimana? Apa you lagi sama sister dan brother in law?" tanya Yorla to the point.^^^


"Master sama tuan berada di rumah sakit Wesly sekarang"


^^^"Apa? Siapa yang sakit?" pekik Yorla dengan suara tinggi.^^^


"Loe datang aja nanti loe lihat sendiri"


^^^"Halo! Halo tampan" teriak Yorla dengan kesal saat panggilannya dimatikan sepihak oleh Rehan.^^^


Bibirnya mengerucut seperti bebek merasa kesal dengan Rehan dan ingin sekali memukul kepalanya dengan sepatu.


"Gimana?" tanya Bryan dengan cepat.


"Mereka di rumah sakit Wesly brother. Tapi eke ngak tahu siapa yang sakit dan Rehan nyuruh kita segera ke sana" ucap Yorla dengan kening berkerut.


"Siapkan helikopter! Kita ke sana sekarang" titah Bryan dengan suara tegas.


"Heemmm"


Ketiganya bergegas pergi ke rooftop apartemen untuk naik helikopter menuju rumah sakit Wesly. Saat didalam helikopter entah kenapa perasaan Bryan tak tenang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit Wesly.


Kenapa perasaan gue ngak enak ya, batin Bryan dengan kening mengerut.


Mommy, batin Mikhail merasa sangat rindu dengan Valeria.


❄❄❄❄❄


To be continue...................