Love Struggle

Love Struggle
Chapter 40



🌻Tingkat kedewasaan seseorang bukan di ukur dari umurnya tapi di lihat dari perilakunya🌻


.


.


.


.


Suasana di mansion Agung Sata saat ini terasa sangat mencekam. Terlebih di dalam kamar Sari, ia yang tadi akan kembali menutup matanya tak menyangka jika ibunya akan kembali ke kamarnya.


Saat itu juga Arum memanggil suaminya dan memberitahu jika putri mereka sudah sadar. Agung yang penasaran dengan memar di tubuh Sari terus bertanya.


"Jawab papa Sari siapa yang memukulmu!" hardik Agung dengan emosi.


Sedari tadi ia sudah bertanya kepada Sari tapi lagi-lagi anaknya hanya diam. Sari memilih bungkam dari pada harus menceritakan kebenarannya.


Gue harus bilang apa nih. Mana papa ngak bakal puas kalau belum dapat jawabannya, batin Sari sambil berpikir.


"Sayang jujur sama kami siapa yang memukulmu? Biar kita cari orang itu" ucap Arum dengan nada lembut.


"Apa kamu di bully di sekolah?" tanya Agung.


"Ngak pa Sara ngak di bully di sekolah" ucap Sari dengan cepat.


"Kalau kamu tidak di bully bagaimana kamu bisa di pukul seperti itu bahkan sampai memar" ucap Agung.


"Itu sebenarnya" ucap Sari gugup karena memikirkan alasan yang tepat.


"Jujur saja sayang mama dan papa ngak akan marah kok" ucap Arum.


"Maaf ma, pa! Sebenarnya tadi Sari di pukul orang jahat karena nolongin seorang tante yang mau di jambret di supermarket" ucap Sari dengan gugup.


"Apa" teriak kedua orang tua Sari dengan kaget.


Sari melihat kedua orang tuanya sambil tertawa dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sudah pasrah jika papa dan mamanya tidak percaya dengan alasan yang ia katakan.


"Kamu kenapa ngak bilang dari tadi sih nak" ucap Arum dengan panik.


"Maaf ma! Sari pikir itu bukan hal yang penting" ucap Sari.


"Penting ngak penting nih lihat akibatnya kamu sendirikan yang menderita" omel Arum.


"Maaf ma" ucap Sari.


"Kamu ngak lagi bohong sama mama dan papakan?" tanya Agung dengan curiga.


"Ngak pa Sari udah jujur" ucap Sari dengan suara tegas agar papanya percaya.


"Papa salut sama tindakan kamu tapi ingat jaga diri kamu. Apa lagi kamu itu seorang gadis remaja" ucap Agung memilih percaya ucapan anaknya.


"Iya pa Sari bakal hati-hati ke depannya" ucap Sari.


"Heemmm! Ya sudah sekarang kamu makan dan minum obat biar cepat sembuh" ucap Arum.


"Iya ma"


Agung dan Arum segera keluar dari kamar sang anak setelah pelayan membawa nampan berisi makanan untuk Sari. Setelah melihat pintunya sudah tertutup Sari menghembuskan napasnya dengan lega.


"Untung mereka percaya kalau ngak bisa berabe nanti" ucap Sari.


~ Mansion Kusumo ~


Valeria yang tengah menikmati suasana malam di balkon kamarnya di kejutkan dengan dering hpnya. Ia lalu mengambil hpnya dan melihat siapa yang menelpon.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Ternyata yang menelponnya adalah Rendi Wijaya entah ada urusan penting apa.


Kenapa ka Rendi nelpon gue ya, batin Valeria.


^^^"Halo"^^^


"Halo Val gimana tadi" ucap Rendi to the point.


^^^"Gimana apanya ka?" tanya Valeria.^^^


"Ituloh yang tadi gue ngasih tau ke loe"


^^^"Oh itu ya ka"^^^


"Iya! So gimana tadi"


^^^"Gue mukul dia ampe babak belur ka" ucap Valeria dengan santai.^^^


"Apa! Loe gila ya" teriak Rendi dari seberang.


^^^"Telinga gue ngak budeg kali ka" ketus Valeria dengan kesal.^^^


"Sorry Val gue kaget tadi"


^^^"Heemmmm"^^^


"Loe ngak mukul thu cewek kayak 3 berandalan di perguruankan?" tanya Rendi.


^^^"Hehehe........hampir mendekati sih ka" ucap Valeria sambil terkekeh.^^^


"Aduh Val gimana kalau sampai pihak sekolah loe tahu terus mereka lapor ke ortu loe"


^^^"Ngak akan kok ka"^^^


"Bisa saja Val. Apa lagi itu di lingkungan sekolah"


^^^"Dia ngak bakal buka mulut ke siapapun ka bahkan ke orang tuanya sekalipun"^^^


"Jangan bilang loe ngancam dia" tebak Rendi dengan cepat.


^^^"Tebakan ka Rendi benar banget"^^^


"Ya ampun Val loe bisa-bisanya ngancam dia" ucap Rendi tak menyangka.


^^^"Well! Gue yakin dia ngak akan macam-macam ka karena masalah ini bisa buat dua perusahaan bermusuhan ka" ucap Valeria sambil mengingat informasi yang di kirim Rendi lewat email tadi.^^^


"Benar juga sih, apa lagi bapa thu cewek sialan klien ayah loe saat ini" ucap Rendi yang mengingat informasi yang sempat ia baca tadi.


^^^"Heeeemmm"^^^


"Jadi semuanya udah bereskan Val"


^^^"Udah ka. Btw thank's ya ka buat bantuannya"^^^


"Sama-sama Val loe itu udah gue anggap adik gue sendiri jadi jangan pernah sungkan minta bantuan gue lagi"


^^^"Iya ka"^^^


"Ya udah Val gue matiin ya gue tadi cuman mau nanya itu aja"


^^^"Iya ka"^^^


"Bye Valeria"


Panggilan lalu di matikan sepihak oleh Rendi. Valeria lalu mengedarkan pandangannya menuju taman belakang mansion.


"Gue ngak bisa buktikan ke ayah saat ini karena pasti berdampak pada perusahaan ayah" gumam Valeria sambil memijit keningnya yang terasa pusing.


3 Hari kemudian


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat, selama 3 hari Valeria hanya sendiri saja di mansion di temani oleh para pelayan.


Saat ini Valeria sedang berada di ruang keluarga menunggu siaran langsung acara fashion week yang di adakan oleh sang ibu. Dimana acara tersebut akan ditayangkan di salah satu stasiun tv nasional tanah air.


Tak lama acara pun sudah di mulai, Valeria menonton peragaan busana buatan terbaru ibunya dengan decak kagum. Ia sangat menyukai koleksi terbaru milik sang ibu.


"Wah koleksi ibu kali ini bagus banget" puji Valeria dengan senang.


"Benar non koleksi terbaru nyonya kali ini sangat menakjubkan" ucap bi Susi yang juga ikut menonton.


"Bibi sejak kapan di sini?" tanya Valeria dengan kaget.


"Maaf non bibi sudah di sini sejak acara baru di mulai" ucap bi Susi sambil tertawa memamerkan giginya.


"Heemmm"


Para pelayan lain yang melihat kepala pelayan mereka sangat serius menonton juga ikut menonton. Mereka tak kalah antusias melihat peragaan koleksi busana terbaru sang nyonya.


"Ini giliran Bianca bi" ucap Valeria saat mendengar nama Bianca di sebutkan.


"Iya non" ucap bi Susi.


Tak lama semuanya berdecak kagum melihat model yang baru saja keluar menggunakan pakaian rancangan Bianca. Valeria hanya menatap Bianca dengan perasaan kecewa.


Tak ada perasaan senang atau kagum sedikit pun saat melihat Bianca berlengak-lengok memamerkan rancangan utama Arinta. Tidak hanya itu saja Bianca juga terlihat sangat sombong saat menemani model yang menggunakan rancangannya.


"Kita sambut desainer utama kita yang paling berbakat saat ini yaitu nyonya Arinta Cahya Winata - Kusumo" ucap pembawa acara dengan lantang.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Valeria melihat sang ibu yang keluar di sambut tepuk tangan meriah dan conveti yang berjatuhan. Bahkan ayahnya juga turut naik ke panggung untuk memberikan bunga pertama untuk sang ibu.


"Uhhmm.......tuan sosweet banget" ucap para pelayan yang terpesona dengan aksi Budi.


Valeria menengok ke samping melihat para pelayan saat mengatakan hal barusan. Mereka semua seketika diam dan menunduk mendapat tatapan tajam dari nona muda mereka.


Valeria mengikuti pidato dari sang ibu yang tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada semuanya. Tiba-tiba jantung Valeria berdetak dengan cepat saat mendengar pertanyaan pembawa acara.


"Wah miss Bianca memiliki kemampuan yang sangat luar biasa pantas saja anda menjadi murid dari seorang desainer terkenal. Kalau boleh tahu apa hubungan miss Bianca dengan keluarga Kusumo?" tanya pembawa acara.


Semuanya menunggu jawaban dari Bianca tapi yang di tanya hanya diam saja dan lebih melihat ke arah Arinta dan Budi.


"Jadi apa Tuan Kusumo yang ingin menjawabnya?" tanya pembawa acara dengan tak sabar.


Budi menatap istrinya seakan bertanya lewat tatapan mata. Valeria yang melihat anggukan kepala dari sang ibu sudah sangat penasaran apa yang akan di katakan oleh ayahnya.


"Dia putri sepupu saya yang sudah meninggal tapi mulai saat ini Bianca akan menjadi putri kedua di keluarga Kusumo"


Prang.............


Valeria seketika bangkit berdiri dan tak sengaja menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Tubuhnya menegang mendengar ucapan sang ayah barusan.


Bahkan Valeria bisa melihat jika sang ibu yang sejak awal tak mengijinkan nama Bianca ada nama belakang Kusumo seperti menyetujui ucapan sang ayah.


"Apa-apaan ini" hardik Valeria dengan suara tinggi penuh emosi.


Bi Susi dan para pelayan yang mendengar ucapan nona muda mereka barusan kaget bukan main. Baru kali ini mereka melihat wajah dan tatapan Valeria saat emosi.


Valeria tak mendengar lagi pernyataan selanjutnya di tv. Saat ini pikirannya blank di penuhi dengan tanda tanya besar, kenapa bisa jadi seperti ini bukannya kedua orang tuanya tidak menyukai Bianca.


Valeria menelpon nomor sang ibu dan ayahnya tapi tidak di jawab. Ia tahu mereka masih sedang siaran langsung tapi semua itu ia tidak hiraukan karena ia butuh jawaban keduanya sekarang.


"Arrrghhh...........kenapa bisa jadi kayak gini" teriak Valeria dengan kesal.


Dulu mungkin ia akan senang mendengar ucapan ayahnya barusan, tapi untuk kali ini tidak lagi. Ia sudah terlalu kecewa dan sakit hati dengan semua perbuatan Bianca apa lagi saat mengetahui wujud asli sifat Bianca.


"Non tuan sama nyonya masih di tv pasti ngak bakalan jawab panggilan non" ucap bi Susi yang melihat kekesalan Valeria.


"Hemmm" deham Valeria sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.


Tiba-tiba hpnya berbunyi panggilan dari sang eyang putri. Valeria lalu segera menjawab panggilan dari eyang putri.


^^^"Halo eyang"^^^


"Halo sayang gimana kabarmu"


^^^"Kabar Valeria baik-baik saja eyang" ucap Valeria menahan rasa emosinya saat ini.^^^


"Oh baiklah. Eyang mau tanya apa kamu sedang menonton acara fashion ibumu?" tanya Putri dari seberang.


^^^"Iya eyang"^^^


"Eyang tau kamu sudah mendengar ucapan ayahmu, eyang cuma mau bilang kalau apa yang di ucapkan oleh ayahmu itu sudah di pikirkan matang-matang lebih dulu"


^^^"Apa maksud eyang?" tanya Valeria dengan bingung.^^^


"Uhmmm...........sebenarnya ini salah satu cara yang ayah dan ibumu pakai untuk menutup jati diri Bianca sayang"


^^^"Jadi eyang tahu kalau ayah dan ibu bakal umumkan hal ini?" tanya Valeria dengan kaget.^^^


"Iya sayang jadi eyang minta mulai sekarang kamu kenalkan Bianca ke teman-temanmu kalau dia adalah saudaramu bagian dari keluarga Kusumo ya nak"


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Mendengar ucapan sang eyang putri barusan Valeria seketika tersenyum sinis. Ia lalu mematikan panggilannya sepihak karena suasana hatinya sangat kacau.


Valeria menatap Arinta, Budi, dan Bianca dengan tatapan tajam di TV. Ia sangat kecewa kepada kedua orang tuanya yang sudah merencanakan hal ini tanpa memberitahunya dan Bagas.


Saking emosinya Valeria mengambil vas bunga di sampingnya dan melempar ke arah TV. Bi Susi dan para pelayan berteriak kaget melihat aksi nona muda mereka yang baru pertama kali mereka lihat.


Valeria menatap televisi dengan tatapan datar penuh emosi, sedari tadi ia terus merasa sangat emosi mendengar nama Bianca yang sudah di publikasi menjadi putri kedua dalam keluarga Kusumo.


Dulu ia akan senang mendengar hal ini tapi sekarang tidak lagi. Dan ternyata Valeria sudah mencari tahu semua kebusukan Bianca selama ini dan ia sudah tak sudi menjadi saudara Bianca lagi.


"Hiks hiks..........Valeria benci sama ayah dan ibu" ucap Valeria sambil menangis histeris.


"Non tenang non" ucap bi Susi mencoba menenangkan Valeria.


"Kenapa ayah dan ibu berubah bi? Kenapa mereka ngak lihat seberapa busuk Bianca bi?" tanya Valeria dengan tatapan sedih.


Meski bingung dengan ucapan Valeria barusan bi Susi tetap mencoba menenangkannya. Tak kuasa melihat tatapan Valeria bi Susi juga ikut menangis.


Ia tak tahu harus berkata apa karena selama ini yang paling mengerti Valeria hanya Bagas saja.


Tuan muda bibi mohon tuan muda segera pulang sebelum keluarga tuan muda hancur, batin bi Susi penuh harap.


❄❄❄❄❄


To be continue.............


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, komen, dan rating yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀