
π»Sebaik dan seburuk apapun kedua orang tuamu jangan pernah kamu sesali karena tanpa mereka kamu tidak ada di dunia iniπ»
.
.
.
.
Detik demi detik berlalu serasa sangat menyakitkan buat Valeria. Ia yang kesulitan untuk bernapas berusaha untuk bangun.
Melihat hal itu Bianca tersenyum dengan sinis ia lalu berjalan menuju pintu dan berteriak minta tolong.
"Tolong! Tolong!" teriak Bianca dengan kencang.
Bi Susi yang kebetulan akan ke kamar Valeria segera berlari naik dengan cepat. Sampai di depan kamar Valeria ia melihat Bianca yang berdiri sambil menangis.
"Nona Bianca apa yang terjadi?" tanya bi Susi dengan cepat.
"Hiks hiks.......Valeria bi......hiks hiks" ucap Bianca sambil menangis.
Bi Susi lalu segera masuk ke dalam kamar Valeria. Sampai di dalam ia kaget melihat Valeria yang sudah terkapar di lantai dengan tubuh memerah penuh ruam.
"Nona muda" teriak bi Susi dengan panik.
Valeria yang sudah tak kuat lagi hanya menatap bi Susi dengan tatapan kesakitan. Bianca yang ikut masuk berdiri di belakang bi Susi sambil pura-pura menangis.
"S...a...kit" ucap Valeria dengan terbata-bata.
"Non bertahan ya........hiks hiks hiks......kita ke rumah sakit sekarang ya non........hiks hiks" ucap bi Susi sambil menangis.
Bi Susi segera berlari keluar menyuruh pak Udin untuk menyiapkan mobil dan meminta bantuan satpam untuk mengangkat Valeria. Bianca lalu berjalan mendekat ke arah Valeria sambil tersenyum penuh arti.
"Belum saatnya loe mati Valeria jdi loe musti bertahan ya" bisik Bianca.
Valeria menatap Bianca dengan tatapan penuh kekecewaan dan marah. Ia berjanji akan membalaskan semua yang ia rasakan saat ini.
Tak lama langkah bunyi kaki terdengar dari luar sehingga membuat Bianca kembali berpura-pura menangis. Bi Susi yang datang bersama satpam segera mengangkat tubuh Valeria.
Pak Udin yang sudah berada di dalam mobil segera melajukan mobil menuju rumah sakit. Di dalam mobil hanya ada kepanikan dari bi Susi karena tubuh Valeria terus mengeluarkan keringat.
"Cepetan Pak Udin" ucap bi Susi dengan panik.
"Iya madam ini udah cepat" ucap pak Udin tak kalah panik.
Bianca yang duduk di samping pak Udin terus menangis memperlihatkan kalau dia sangat khawatir dengan Valeria. Di kursi belakang bi Susi kembali menangis melihat tubuh Valeria yang semakin dingin dan memerah.
"Non bertahan ya.......hiks hiks......bibi mohon" ucap bi Susi dengan khawatir.
"K...ang...mas" ucap Valeria dengan terbata-bata.
"Nanti bibi akan hubungi tuan muda jadi bibi mohon nona muda bertahan ya" ucap bi Susi.
Pak Udin yang melihat dari kaca spion semakin menjadi panik. Ia dengan cepat melajukan mobil menuju rumah sakit.
~ RH Hospital ~
Ceekiiit............
Decitan ban mobil terdengar di lobby RH hospital. Pak Udin dengan cepat keluar dan memanggil satpam dan suster untuk membantu bi Susi membawa Valeria.
Satpam dan suster langsung mengangkat tubuh Valeria ke atas brankar. Mereka lalu memeriksa kondisi tubuh Valeria sambil mendorong brankar menuju ruang UGD.
"Panggil dokter Suci" ucap seorang suster.
Mereka lalu masuk ke dalam ruang UGD bertepatan dengan kedatangan dokter Susi. Bi Susi yang melihat kedatangan dokter Susi segera menghampirinya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
"Dokter tolong nona muda.........hiks hiks hiks.....tolong selamatkan nona muda dok" ucap bi Susi sambil menangis.
"Baik bi tenang ya saya akan berusaha semaksimal saya" ucap dokter Suci dengan tenang.
Saat masuk ke dalam ruang UGD dokter Suci kaget bukan main melihat tubuh Valeria yang sudah banyak ruam memerah. Saat ia menyentuh tubuh Valeria dokter Susi semakin kaget.
"Bagaimana kondisi pasien?" tanya dokter Suci.
"Tekanan darah pasien menurun dok dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat dok" ucap salah satu suster.
Dokter Suci lalu mengecek tubuh Valeria dengan teliti. Setelah mengecek denyut nadi Valeria dan mengetahui masalahnya ia langsung menyuruh perawat menyiapkan ruang operasi.
Semua perawat segera berlari keluar dan menyiapkan ruang operasi. Dokter Suci lalu bersama perawat yang lain mendorong brankar Valeria keluar menuju ruang operasi.
"Bi Susi tolong hubungi kedua orang tua Valeria dan bilang kalau Valeria harus segera di operasi sekarang" ucap dokter Suci dengan suara tegas.
"Hiks.........iya dok.....hiks hiks hiks" ucap bi Susi sambil menangis.
Bi Susi, Bianca, dan pak Udin lalu berjalan mengikuti dokter Suci ke ruang operasi. Sampai di sana mereka lalu duduk di kursi tunggu menunggu operasi Valeria.
Bi susi lalu mengambil hpnya dan menghubungi Arinta. Sampai panggilannya berakhir Arinta tak menjawab panggilan tersebut.
Ia lalu mencoba menghubungi Budi dan pada dering ketiga panggilannya langsung di angkat.
"Halo"
^^^"Halo tuan ini saya bi Susi"^^^
"Hemm? Ada apa?" tanya Budi dengan suara dingin dari seberang.
^^^"Hiks hiks......tuan nona muda sekarang berada di rumah sakit dan sedang di operasi"^^^
"Apa" teriak Budi dengan kaget dari seberang.
Bi Susi yang mendengar teriakan sang tuan dari seberang kaget bukan main. Beruntung ia tidak jantungan saat mendengar teriakan Budi barusan.
"Apa yang terjadi dengan anakku dan di rumah sakit mana?" tanya Budi dengan panik dari seberang.
^^^"Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan nona muda tuan dan sekarang kita berada di RH hospital tuan"^^^
Tuutt.........tuut.........tuutt
Panggilan langsung di matikan sepihak oleh Budi saat mendengar ucapan bi Susi. Melihat panggilannya sudah di matikan bi Susi lalu mencoba menelpon Arinta tapi tetap saja panggilannya tidak di angkat.
~ Kusumo Group ~
Setelah menerima telfon dari bi Susi barusan, Budi langsung menjatuhkan hpnya di lantai. Pikirannya sudah blank tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain anaknya.
"Datang ke ruanganku sekarang" ucap Budi lewat interkom memanggil Dion.
Tok.............tok.........tok..........tok..........
"Masuk"
Mendengar ucapan sang tuan untuk masuk Dion segera membuka pintu dan masuk ke dalam. Saat masuk ke dalam Dion bisa melihat wajah panik dari sang tuan.
"Tuan memanggil saya"
"Siapkan mobil kita ke RH hospital sekarang"
"Baik tuan" ucap Dion meski bingung.
Keduanya lalu keluar setelah mendapat kabar dari anak buah mereka jika mobil sudah di siapkan. Sepanjang jalan Dion melihat Budi yang sangat gelisah entah memikirkan apa.
"Hubungi istriku dan suruh dia ke RH hospital saat ini juga"
"Baik tuan"
Dion lalu mengambil hpnya dan menghubungi sang nyonya, tapi panggilannya tidak di angkat. Ia lalu menelpon Ana asisten Arinta sekaligus tunangannya.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
^^^"Halo yang dimana nyonya sekarang"^^^
Budi yang mendengar ucapan Dion langsung melihatnya ke belakang dengan kening berkerut. Dion yang tahu maksud sang tuan langsung menjelaskan siapa yang ia hubungi.
"Nyonya sedang meeting bang"
^^^"Tolong beritahu ke nyonya untuk segera ke RH hospital"^^^
"Buat apa bang"
^^^"Abang ngak tahu tapi ini perintah tuan yang"^^^
Mendengar ucapan Dion barusan Budi langsung mengambil hpnya dengan cepat.
^^^"Suruh istriku ke rumah sakit sekarang karena saat ini Valeria sedang di operasi" ucap Budi dengan suara tegas.^^^
"Baik tuan" ucap Ana dari seberang.
Budi lalu mengembalikan hp Dion dengan tidak bersalah, keduanya lalu segera masuk ke dalam mobil menuju ke RH hospital.
Dion yang tadi mendengar ucapan sang tuan terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
Kenapa nona muda berada di rumah sakit? Apa yang sebenarnya terjadi, batin Dion dengan bingung.
~ Butik Arinta ~
Ana yang mendapat kabar mengenai Valeria barusan segera berlari menuju ruang meeting. Saat ia masuk tatapan tajam Arinta langsung menyambutnya.
"Apa yang kamu lakukan Ana" hardik Arinta dengan suara dingin.
Tak peduli tatapan tajam sang nyonya Ana langsung masuk dan membisikkan perihal Valeria ke Arinta. Saat mendengar bisikan Ana dunia Arinta seperti di jungkir balikan.
Ia tak perduli dengan klien yang di depannya yang sedang meeting dan langsung berlari keluar. Ana lalu menyuruh sekertaris Arinta untuk menghendel meeting saat ini.
"Apa yang terjadi Ana?" tanya Arinta dengan panik.
"Saya tidak tahu nyonya. Barusan Dion menghubungi saya dan memberitahu hal ini nyonya"
Arinta tak berpikir jernih lagi dan langsung berjalan keluar. Ana yang melihat hal tersebut lalu dengan cepat mengambil tas Arinta di ruangannya dan mengikuti Arinta yang sudah lebih dulu ke sana.
~ RH hospital ~
Budi dan Dion sudah sampai di RH hospital keduanya lalu masuk dan menuju ruangan operasi setelah bertanya kepada salah seorang suster.
Sampainya di ruang operasi Budi melihat ada bi Susi, Bianca, dan pak Udin yang sedang duduk di depan ruang operasi.
"Bagaimana keadaan anakku?" tanya Budi dengan khawatir.
"Tuan" ucap bi Susi dan pak Udin dengan serentak saat mendengar ucapan Budi.
"Ayah" ucap Bianca.
"Bagaimana keadaan Valeria?" tanya Budi lagi.
"Nona muda masih di operasi di dalam tuan" ucap bi Susi.
"Apa yang sebenarnya terjadi" bentak Budi dengan suara tinggi.
"Mas" ucap Arinta yang baru saja sampai bersama Ana.
Budi dan lainnya lalu menoleh ke belakang saat mendengar ucapan Arinta. Arinta berlari dengan wajah panik menuju mereka semua melihat istrinya datang dengan panik Budi langsung memeluknya.
"Apa yang terjadi dengan Valeria mas.....hiks hiks?" tanya Arinta sambil menangis.
"Mas ngak tahu sayang karena operasi Valeria belum selesai" ucap Budi.
Tak berselang lama lampu tanda operasi mati tandanya operasi sudah selesai. Dokter Suci lalu keluar dari ruang operasi dengan wajah lelah.
"Suci bagaimana keadaan anak aku?" tanya Arinta dengan cepat.
"Keadaan nona muda sudah stabil beruntung ia di bawa tepat waktu, kalau terlambat sedikit saja nyawa nona muda pasti tidak tertolong lagi" ucap dokter Suci.
Deg............
Jantung Budi dan Arinta serasa di pukul hamar saat mendengar ucapan dokter Suci. Keduanya bersyukur karena Valeria bisa di bawa dengan cepat ke rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan anakku?" tanya Budi dengan suara dingin.
"Tuan Kusumo saya minta lain kali tolong di perhatikan makan minum anak anda. Apa lagi yang berkaitan dengan makanan yang menjadi pantangannya" ucap dokter Suci dengan ketus.
...γ γ γ π π π π γ γ γ...
Dokter Suci hingga saat ini masih tidak menyukai Budi karena perlakuan Budi waktu itu ke Valeria. Mendengar ucapan dokter Suci semuanya menjadi bingung terkecuali Bianca.
"Apa maksud kamu Suci?" tanya Arinta dengan bingung.
"Alergi nona muda kambuh karena ia memakan jamur. Beruntung nona muda di bawa dengan cepat jadi kita bisa menyedot semua makanan yang berisi jamur dalam tubuh nona muda sebelum jamur itu menyebar ke seluruh organ tubuh nona muda" papar dokter Suci menjelaskan
"Apa jamur?" pekik Arinta dengan kaget.
"Iya dan untuk ke depannya tolong lebih di perhatikan makanan untuk nona muda, jika tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi" ucap dokter Suci.
"Baik dokter terima kasih" ucap Budi.
"Sama-sama tuan Kusumo. Sebentar lagi nona muda akan di pindahkan ke ruang rawat"
"Baik dok" ucap Budi.
"Kalau begitu saya permisi" ucap dokter Suci.
"Iya dok" ucap semuanya serentak.
Tak lama brankar Valeria di dorong oleh perawat menuju ruang VVIP di lantai 5. Budi lalu melihat Dion dan memberinya isyarat untuk mencari tahu masalah ini.
Sampai di dalam ruangan rawat Valeria, Arinta menatap sang anak dengan perasaan bersalah. Ia tak tahu jika Valeria akan mengalami hal seperti ini.
"Sudah jangan menangis lagi sayang" ucap Budi.
"Bagaimana bisa aku tenang mas sedangkan anakku sedang berjuang melawan maut" ucap Arinta dengan sedih.
"Kamu harus kuat jangan lemah di depan anak kita sayang"
"Mas bagaimana bisa Valeria memakan jamur. Padahal semua pelayan dan koki sudah tahu makanan apa yang tidak boleh di makan Valeria" ucap Arinta dengan bingung.
"Aku sudah menyuruh Dion untuk mencari tahu semuanya. Jadi kamu jangan memikirkan yang lain cukup fokus sama anak kita saja"
"Iya mas"
Tak lama pintu ruangan Valeria terbuka dan masuklah Bianca sambil membawa makanan untuk Arinta dan Budi. Melihat kedatangan Bianca keduanya lalu duduk di sofa.
"Tante dan ayah makan dulu Bianca ngak mau kalian sampai sakit" ucap Bianca.
"Iya nak makasih" ucap Arinta dengan tulus.
"Sama-sama tante" ucap Bianca sambil tersenyum manis.
Arinta dan Budi lalu memakan makanan yang di bawa Bianca. Sedangkan Bianca melihat Valeria dengan tatapan benci karena Valeria masih bisa di selamatkan.
Kali ini loe beruntung Val meski gue tadinya berharap loe itu koma atau setidaknya organ tubuh loe rusak, batin Bianca dengan perasaan kesal.
βββββ
To be continue...............
Hay guys Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, rating, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guysπβ€