Love Struggle

Love Struggle
Chapter 19



🌻Sehebat apapun dirimu semua tidak berarti tanpa doa dari ke dua orang tuamu🌻


.


.


.


.


Tak berapa lama setelah Valeria kembali ke kelasnya, bunyi bel pulang langsung berbunyi. Valeria yang hari ini mempunyai jadwal les piano memilih absen karena ia sedang tidak mood.


Di lobby sekolah Valeria sempat berpapasan dengan Kelly, Riri, dan Bianca tapi ia tidak memperdulikan mereka. Bianca yang akan pulang bersama dengan Valeria segera menyusulnya setelah pamit ke sahabatnya.


"Loe ngak kenapa-napa kan Val?" tanya Bianca saat di dalam mobil.


"Gue baik-baik aja Ca"


"Tadi gue udah dengar cerita dari Kelly"


"Ngak usah bahas itu. Lagian bukan gue yang nyuri dompet teman loe bahkan masalah tadi udah kelar"


"Iya tadi Kelly udah cerita kok"


"Heemmm"


"Loe ngak ke tempat les Val"


"Malas gue hari ini" ucap Valeria sambil menutup mata sejenak.


Bianca yang melihat Valeria menutup mata tidak bertanya lagi. Dalam hatinya dia merasa kesal karena ternyata orang tua Valeria tidak marah.


Kayaknya besok gue harus sebarkan gosip tentang Valeria deh, batin Bianca memikirkan ide lain lagi.


~ Mansion Kusumo ~


Valeria akhirnya tiba di mansion setelah mengantar Bianca ke tempat les. Bi Susi yang melihat nona mudanya sudah pulang segera menyambut Valeria.


"Selamat datang non" ucap bi Susi.


"Iya bi Susi. Tolong siapkan makan siang buat Valeria ya bi" pinta Valeria sambil tersenyum hangat.


"Baik non"


Valeria lalu menuju lantai dua untuk berganti pakaian. Setelah menganti baju seragam ia segera turun ke bawah karena perutnya sudah minta di isi.


"Dek udah pulang" ucap Bagas yang akan naik ke lantai dua.


"Iya kangmas"


"Kangmas tunggu di kamar ya dek"


"Buat apa kangmas" ucap Valeria dengan bingung.


"Jelasin kejadian di sekolah kamu dek"


"Oke kangmas"


Valeria segera beranjak pergi ke meja makan, sampai di sana ia langsung mengambil makanan yang sudah di siapkan bi Susi dan memakannya dengan lahap.


"Ahh.......kenyangnya" ucap Valeria setelah menyantap habis makanannya.


"Apa makanannya enak non?" tanya sang koki.


"Sangat enak paman. Masakan paman ngak kalah enak dari masakan restoran mahal paman" ucap Valeria sambil mengangkat jempolnya.


"Ah! Non bisa aja" ucap koki dengan malu-malu.


"Beneran paman masakan paman thu enak banget"


"Terima kasih atas pujiannya non"


"Iya sama-sama paman" ucap Valeria sambil tersenyum manis.


Valeria lalu beranjak menuju ke kamar Bagas menemui kangmasnya dan bercerita mengenai kejadian tadi. Seperti biasa Valeria selalu saja membuka kamar Bagas tanpa mengetuk pintu dulu.


"Dek biasakan masuk itu ketuk dulu" ucap Bagas dengan lembut.


"Malas kangmas" ucap Valeria langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Bagas hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik. Sudah berkali-kali ia mengatakan hal tersebut tapi jawaban Valeria masih tetap sama.


"Gimana bisa kamu di tuduh mencuri dek" ucap Bagas dengan penasaran.


"Ngak tahu juga kangmas. Tiba-tiba aja dompet Kelly ada dalam tas Valeria"


"Kok bisa"


Valeria lalu menceritakan semua kronologinya dari kelas mereka di razia sampai kedatangan kedua orang tuanya. Ia tidak memberitahu perihal Rian karena tidak ingin membuat kangmasnya marah.


"Kangmas yakin ada yang ngejebak kamu"


"Valeria juga berpikir kayak gitu kangmas, tapi siapa?"


"Mungkin teman sekelas kamu atau orang yang ngak suka sama kamu dek. Apa lagi Kelly itu bukan teman sekelas kamu dek jadi pasti pelakunya lebih dari satu orang"


"Mungkin juga kangmas! Valeria juga ngak bisa nuduh sembarang karena ngak ada bukti" ucap Valeria sambil membuang napas dengan kasar.


"Mulai sekarang kamu harus selalu waspada dan hati-hati ya dek" ucap Bagas dengan khawatir.


"Iya kangmas"


"Hemmm"


"Kangmas kalau Valeria ikut belajar bela diri gimana?" tanya Valeria sambil menatap Bagas.


"Buat apa?" tanya Bagas dengan bingung.


"Ya buat jaga diri aja kangmas. Lagian bentar lagi kangmas bakal pergi ke luar negeri dan selamanya Valeria ngak bisa ngandelin kangmas terus"


Bagas memikirkan ucapan adiknya dan ia berpikir ada benarnya juga. Valeria itu seorang perempuan dan bukan tidak mungkin suatu saat ia akan berada dalam bahaya.


"Menurut kangmas itu ide yang bagus"


"Beneran kangmas"


"Heemmm! coba nanti adek ngomong hal ini sama ibu"


"Baiklah kangmas entar Valeria bakal bicara sama ibu"


"Kalau ibu sudah setuju nanti kangmas ajak kamu ikut latihan di tempat kangmas aja" ucap Bagas sambil mengelus kepala Valeria dengan lembut.


"Iya kangmas" ucap Valeria sambil tersenyum manis.


~ Cafe Smith ~


Saat ini Bianca yang sudah selesai mengikuti les menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Rian di cafe. Keduanya sudah janjian untuk membahas perihal tentang Valeria.


"Sorry gue telat" ucap Rian yang baru saja datang.


"Ngak kok gue juga baru nyampe 5 menit yang lalu"


"Hemmmm"


"Valeria ngak dimarahin sama om dan tante" ucap Bianca to the point.


"Kok bisa?" tanya Rian dengan bingung.


"Tante sama om gue ngak percaya kalau Valeria itu mencuri, karena hal itu mustahil apa lagi barang milik Valeria lebih mahal dan bermerek di bandingkan punya Kelly"


"Sial! Berarti kita salah milih rencana!" ucap Rian dengan kesal.


"Gue berencana buat menjatuhkan nama Valeria di sekolah besok" ucap Bianca sambil tersenyum penuh arti.


"Caranya"


Bianca lalu membisikan idenya di telinga Rian, seketika senyum di bibir Rian terangkat mendengar penjelasan ide Bianca.


"Ide loe boleh juga"


"Tapi kita butuh seseorang untuk jalankan rencana ini"


"Serahin sama gue" ucap Rian sambil tersenyum penuh arti.


"Baiklah" ucap Bianca sambil tersenyum manis.


Setelah membicarakan rencana mereka keduanya lalu berpisah menuju rumah masing-masing. Rian yang sudah berada di mobilnya segera menelpon seseorang untuk menjalankan rencana mereka.


^^^"Tenang aja loe bakal dapat jatah dari gue"^^^


"Sip! Kalau gitu kapan gue mulai" ucap seseorang dari seberang.


^^^"Malam ini juga"^^^


"Oke beres"


^^^"Heeemm"^^^


Rian segera mematikan panggilannya dan duduk di kursi penumpang sambil tersenyum sinis. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok.


~ SMP Kencana ~


Saat mobil yang mengantar Valeria dan Bianca sampai keduanya segera keluar untuk masuk ke sekolah. Saat berjalan Valeria merasa risih karena sedari tadi ia terus di pandang oleh para murid.


Bahkan banyak yang berbisik-bisik satu sama lain saat melihatnya.


Mereka kenapa liatin gue kayak gitu ya, batin Valeria yang penasaran.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Meski sangat penasaran tapi ia terus melangkahkan kakinya menuju kelas. Bahkan sampai di dalam kelas ia bisa melihat teman sekelasnya terus melihatnya sambil berbisik.


"V.....al" ucap Tika dengan napas satu-satu.


"Loe kenapa?" tanya Valeria dengan bingung.


"I...tu .........hosh hos hos"


"Foto loe sama Kelly waktu kemarin di ruang BP ada yang nempel di mading sekolah" ucap Tika.


"Hah! Loe ngak bercandakan" pekik Valeria dengan kaget.


"Benar yang di bilang Tika Val. Bahkan bukan hanya di mading tapi di forum sekolah kita juga" ucap Sari sambil menunjukkan hpnya.


Valeria mengambil hp Sari dan membaca berita tentangnya di forum sekolah. Ia tersenyum sinis melihat tulisan dan foto yang memberitahu kalau ia adalah seorang pencuri.


"Bentar lagi juga beritanya hilang" ucap Valeria dengan santai.


"Loe kok santai gitu sih" ucap Tika.


"Buat apa gue mikirin hal ngak jelas kayak gitu. Ngak ada gunanya" ucap Valeria dengan santai.


"Tapi Val satu sekolah pada ngehina nama loe" ucap Sari.


"Biarin aja mereka ngomong ampe puas, lama kelamaan mereka bakal berhenti sendiri kok" ucap Valeria.


"Serah loe deh baiknya gimana" ucap Tika tak perduli lagi dengan masalah Valeria.


"Hemmmm"


Valeria seakan tidak perduli dengan apa yang terjadi, bahkan ia anggap semua itu hanya angin lalu saja. Menurutnya itu sangat merepotkan jika harus mengurus masalah tersebut.


2 Bulan kemudian


Hari berganti hari terus berlalu dengan cepat dan tanpa terasa sudah 2 bulan berlalu saat nama Valeria menjadi sangat viral di sekolahnya.


Sampai sekarang nama Valeria masih saja menjadi trending topik di sekolahnya. Meski Kelly sudah mengklarifikasi kalau masalah itu sudah selesai, tapi yang namanya gosip tidak akan pernah reda begitu saja.


Sejak saat itu Valeria selalu saja mendapat teror berupa ayam bangkai, tikus mati, bahkan buku pelajarannya sampai di sobek.


Valeria hanya menanggapi semua itu dengan kepala dingin tidak takut sedikit pun. Bahkan masalah ini ia tidak pernah ceritakan kepada keluarganya.


Valeria yang waktu itu ingin belajar bela diri akhirnya di ijinkan sang ibu untuk mengikuti latihan bela diri.


~ Adi Soedarmo Interntional Airpot ~


Tak terasa seminggu lalu pengumuman kelulusan Bagas dan saat ini ia sedang bersama dengan kedua orang tuanya dan Valeria berada di bandara.


Jet pribadi milik Budi sudah terparkir rapi di landasan pribadi milik Budi di Adi Soedarmo International Airpot di kota Solo. Bagas yang akan melanjutkan kuliahnya di London memilih pergi menggunakan jet milik sang ayah.


"Kamu jaga diri di sana ya nak. Ingat semua nasihat ayah dan ibu" ucap Arinta.


"Iya bu Bagas akan ingat semuanya" ucap Bagas.


"Son ayah hanya minta satu dari kamu, buatlah ayah dan ibu bangga menjadi orang tuamu" ucap Budi sambil menepuk pundak Bagas.


"Pasti ayah" ucap Bagas dengan suara tegas.


"Kangmas........hiks hiks hiks" ucap Valeria sambil menangis.


"Hehehe.........adek kangmas yang paling cantik kenapa menangis......hem!" ucap Bagas sambil terkekeh.


"Valeria bakal kangen sama kangmas nanti.......hiks hiks" ucap Valeria terus menangis.


Bagas dan kedua orang tuanya terkekeh melihat Valeria yang masih saja menangis. Ia seakan tidak ingin jauh dari Bagas dan tak biasanya seorang Valeria menangis seperti ini.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Cup.........cup.........cup.......


"Adek kangmas yang paling cantik jangan nangis lagi ya. Kan adek bisa hubungi kangmas kapan aja kalau kangen" ucap Bagas.


"Beneran kangmas?" tanya Valeria sambil mengelap air matanya.


"Beneran dek" ucap Bagas sambil memeluk Valeria.


"Udah-udah Valeria kamu jangan kayak anak kecil lagi. Kangmasmu itu pergi buat menuntut ilmu bukan main-main" ucap Arinta dengan suara tegas.


"Iya maaf bu" ucap Valeria.


"Hemmmm! Ayo Bagas sudah waktunya berangkat" ucap Arinta dengan suara lembut.


"Iya bu" ucap Bagas.


"Sampai disana jangan lupa kabarin ibu dan ayah" ucap Budi.


"Iya ayah" ucap Bagas.


Bagas kembali memeluk ketiganya sebelum ia masuk ke dalam jet. Bagas masih sempat melambaikan tangan melihat ketiganya dari pintu jet.


Entah kenapa perasaan Bagas seakan tidak rela meninggalkan sang adik. Ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi saat ia pergi menuntut ilmu di luar negeri.


Kamu jaga diri ya dek selama kangmas ngak ada di samping kamu, batin Bagas sambil melihat Valeria dengan sedih.


Setelah melihat jet yang di tumpangi Bagas sudah pergi, ketiganya lalu pulang ke mansion. Sepanjang jalan Valeria hanya diam di kursi penumpang sambil menatap keluar.


~ Mansion Kusumo ~


Tak lama kedua mobil mewah yang di naiki Budi, Arinta, dan Valeria tiba di mansion. Dion segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk tuan dan nyonya.


Valeria yang sudah masuk terlebih dahulu segera menuju ke kamarnya. Sedangkan Arinta ia memilih pergi ke kamar untuk beristirahat.


"Apa kamu bawa berkasnya?" tanya Budi.


"Bawa tuan" ucap Dion.


"Heemm! Kita ke ruang kerjaku"


"Baik tuan"


Dion dan Budi segera menuju ke ruang kerjanya untuk membahas beberapa pekerjaan. Setelah membahas semua berkas klien dan laporan perusahaan, tiba-tiba Dion menyerahkan laporan kartu kredit dan atm dari semua penghuni mansion.


"Apa itu laporan tagihan kartu kredit aku dan istriku?" tanya Budi.


"Iya tuan juga kartu kredit milik tuan dan nona muda"


"Heeemmmm"


Budi mengambil laporan tersebut dan membacanya dengan teliti. Selama membaca laporan pengeluaran, Budi mengernyitkan keningnya melihat laporan pengeluaran milik Valeria.


"Dion apa ini laporannya tidak salah" hardik Budi dengan suara dingin.


"Tidak tuan semua laporannya benar dan itu laporan tagihan dan pengeluaran yang di berikan oleh pihak bank" ucap Dion dengan suara tegas.


"Apa? Lalu bagaimana mungkin pengeluaran Valeria bulan ini lebih dari 200 juta Dion" bentak Budi.


"Maaf tuan kalau itu saya tidak tahu"


"Panggil Valeria ke sini" ucap Budi dengan emosi.


"Baik tuan"


Dion segera keluar untuk memanggil Valeria, sampai di luar ia berpikir untuk memberitahu sang nyonya karena saat ini tuannya sedang dalam keadaan emosi.


...》 》 》 😘 😘 😘 😘 》 》 》...


Tok.....tok.....tok.....tok....


Arinta yang mendengar pintu kamarnya di ketuk segera membukanya. Saat dibuka Arinta kaget melihat Dion yang sudah berada di depan kamarnya.


"Maaf menganggu waktu istirahat nyonya" ucap Dion sambil menunduk.


"Tidak apa-apa Dion. Apa ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Arinta.


"Saya mohon nyonya segera ke ruang kerja tuan karena saat ini tuan dalam keadaan sangat emosi"


"Memangnya apa yang terjadi dengan suamiku Dion?" tanya Arinta penasaran.


"Sebaiknya nyonya segera ke sana tidak ada waktu untuk saya menjelaskan"


"Baiklah"


Dion segera pergi dan menuju kamar Valeria, setelah memberitahu maksudnya keduanya lalu pergi ke ruang kerja Budi. Saat masuk ke dalam Valeria langsung di sambut tatapan tajam dari sang ayah.


"Aya...h manggil Val..eria" ucap Valeria dengan gugup.


"Apa saja yang kamu beli selama sebulan?" tanya Budi dengan suara dingin.


"Valeria hanya membeli beberapa buku dan novel ayah"


"Benar kamu hanya membeli buku dan novel" ucap Budi dengan suara geram.


"Benar ayah. Hanya itu yang Valeria beli"


Budi lalu bangun dari kursi kerjanya dan berjalan ke arah Valeria dengan langkah tegap. Sampai di depan Valeria, ia menatap tajam Valeria seakan ingin menerkamnya.


"Ayah tanya sekali lagi, apa saja yang kamu beli selama sebulan Valeria?" tanya Budi sekali lagi.


"Valeria hanya membeli buku dan novel ayah" ucap Valeria yang merasa hanya itu yang ia beli.


Plak.......


Bunyi tamparan kuat bergema di dalam sana, bahkan saking kuatnya tamparan Budi bibir Valeria sampai sobek. Valeria menegang di tempat tidak bisa memikirkan apa-apa lagi.


Syok dan tak bisa berkata apa-apa itulah yang di rasakan oleh Valeria. Pikirannya terus berkeliaran memikirkan apa maksud sang ayah menamparnya.


"Berani kamu berbohong sama ayah Valeria" bentak Budi dengan suara tinggi.


"Ayah nampar Valeria?" tanya Valeria tidak membalas pertanyaan Budi.


"Valeria jujur sama ayah apa yang kamu beli selama sebulan ini" desis Budi dengan tatapan tajam.


"Udah Valeria bilang yah, Valeria hanya membeli buku dan novel saja ayah"


Karena kesal anaknya tidak mau jujur dengan kebohongannya, Budi kembali mengangkat tangannya ingin menampar Valeria tapi gerakannya terhenti mendengar suara istrinya.


"Mas apa yang kamu lakukan" ucap Arinta dengan suara tinggi.


"Tanya pada anakmu yang sudah berani berbohong" ucap Budi sambil menatap tajam Valeria.


❄❄❄❄❄


To be continue.............


Jangan lupa beri dukungan kalian lewat vote, like, dan komen yang sebanyak-banyaknya ya guys😘❀